MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri apakah gereja itu. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri apakah gereja itu. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

16 Sep 2016

Kaum Berkerudung di Sekitar Altar Tuhan

Kaum Berkerudung di Sekitar Altar Tuhan

“Mari ber-mantilla bagi Tuhan!” Begitulah seruan kami anak-anak Misdinar St. Tarsisius Paroki Singkwang demi mengajak Anda terutama para wanita Katolik untuk berpakaian sopan dan sederhana serta memakai atau membangkitkan kembali ‘tradisi tua’ dalam Gereja Katolik ini. Usaha sosialisasi ini kami awali dengan menghadap Bapa Uskup untuk mendapatkan izin, lalu dilanjutkan dengan membuat foto dan video project yang kami unggah ke laman Instagram kami @ppasttarsisiusskw dan laman youtube kami, Misdinar St. Tarsisius Singkawang. Tentu ini mendapat respon yang menyenangkan, baik dari umat Paroki Singkawang maupun umat dari berbagai pulau seberang. Sering sekali kami melihat baik wanita maupun pria Katolik ketika menghadiri misa menggunakan pakaian yang tidak pantas. Hal ini sangat perlu untuk diperhatikan karena secara khusus apa yang kita kenakan ketika menghadap Allah, tidak lagi memberikan kesan bahwa Allah hadir di tengah-tengah kita. Namun, ada juga umat yang pergi misa walaupun memakai pakaian yang pantas, tetapi hati dan pikirannya melayang jauh dari misa kudus. Misa akhirnya tampak tidak lagi berbeda seperti acara-acara sosial lainnya. Akibatnya, perayaan Ekaristi menjadi kehilangan maknanya sebagai misteri yang kudus dan agung.

Mungkin kebanyakan orang tidak mengetahui apa itu mantilla atau mungkin ada tanggapan dari orang “Ngapain sih ikut-ikutan agama sebelah pakai kerudung segala?” Ups, jangan berpikiran sempit! Mantilla adalah kerudung atau tudung kepala yang dipakai oleh wanita Katolik saat akan menghadiri perayaan Ekaristi kudus yang terbuat dari bahan brokat yang ringan. Tradisi ini sudah cukup lama ada dalam gereja kita dan mempunyai julukan “Kerudung mempelai Kristus” dimana kita memakainya hanya saat Misa. Jadi, kerudung tidak hanya milik saudara-saudara kita umat Muslim, tetapi di dalam gereja kita cukup mengenal dekat dengan tudung kepala yang satu ini. Kerudung Misa merupakan salah satu bahkan mungkin satu-satunya devosi yang sangat spesifik untuk perempuan. Berkerudung Misa adalah sebuah kehormatan bagi para perempuan dan ini memampukan mereka untuk  memuliakan Allah dengan seluruh keperempuanan mereka serta dengan cara-cara yang khas dan feminin. Kerudung Misa adalah tradisi tua, tradisi kuno yang indah, dan ia menunjukkan nilai dan pentingnya wanita. Itu bukan alat untuk merendahkan wanita atau mengecilkan mereka; itu adalah sebuah kehormatan.

Pemakaian mantilla sendiri pernah diwajibkan oleh Gereja Katolik dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK tahun 1262).Namun setelah direvisi dalam Konsili Vatikan ke II, mantilla pun akhirnya tidak diwajibkan pemakaiannya namun tidak melarang bagi umat yang hendak memakainya (dianjurkan). Sehingga masih ada umat di beberapa belahan dunia  yang masih memegang dan mempertahankan tradisi ini. Kerudung Misa adalah alat devosi pribadi yang dapat membantu kita lebih dekat dengan Yesus dan sebagai tanda ketaatan dan tanda memuliakan TUHAN.Wanita yang memakai kerudung Misa, mengingatkan kita semua bahwa Ekaristi bukanlah pertemuan sosial biasa, bukan acara untuk ramah tamah terhadap sesama kenalan kita. Mantilla tidak hanya dipakai oleh Putri Altar saat bertugas, tetapi juga bisa dipakai oleh wanita Katolik lainnya.
 
Penggunaan mantilla terus berkembang seiring masuknya perayaan Misa Formaekstraordinaria (Misa Latin) di tanah air. Dalam misa tersebut, para wanita diharuskan memakai mantilla, sedangkan dalam misa yang sering kita rayakan ini, tidak ada kewajiban penggunaannya namun sangat dianjurkan bagi kaum hawa. Karena tradisi ini dipandang sangat baik dan tidak bertentangan dengan nilai iman sejati, maka tradisi ini pun mulai dibangkitkan kembali kepada umat Katolik di Indonesia. Namun Yesus adalah Yesus yang sama, maka mantilla bisa dipakai dalam misa apapun, tidak terbatas dalam misa latin saja melainkan bisa juga di dalam misa biasa yang sering kita rayakan di gereja. Wanita yang menudungi kepalanya, secara simbolis menyampaikan pesan berharga kepada para lelaki: ‘tubuhku adalah bait Allah yang kudus, karenanya perlakukanlah tubuhku dengan rasa hormat yang besar. Tubuh dan kecantikanku bukanlah objek yang bertujuan memuaskan hasrat yang tidak teratur yang ada pada dirimu. Aku adalah citra Allah, oleh karena itu hormatilah dan hargailah aku.’ Kerudung Misa mengingatkan pria akan perannya sebagai penjaga kesucian, seperti St Yosef yang selalu melindungi dan menjaga Bunda kita, Perawan Maria. Dengan demikian, Allah dapat kita muliakan dengan cara menghormati dan melindungi keindahan dan keagungan martabat wanita. 

Menggunakan kerudung juga merupakan suatu cara untuk meneladani Maria, dialah yang menjadi role model (panutan) bagi seluruh wanita. Bunda Maria, Sang Bejana Kehidupan, yang menyetujui untuk membawa kehidupan Kristus ke dunia, selalu digambarkan dengan sebuah kerudung di kepalanya. Seperti Bunda Maria, wanita telah diberikan keistimewaan yang kudus dengan menjadi bejana kehidupan bagi kehidupan-kehidupan baru di dunia. Oleh karena itu, wanita mengerudungi dirinya sendiri dalam Misa, sebagai cara untuk menunjukkan kehormatan mereka karena keistimewaan mereka yang kudus dan unik tersebut.

Pemakaian mantilla memiliki dasar bibliah yaitu terdapat di dalam 1 Korintus 11:3-16;“Pertimbangkanlah sendiri: patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya” “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.”Ayat inilah yang menjadi salah satu dasar sosialisasi penggunaan kembali mantilla juga alasan dari umat yang mempertahankan tradisi ini. Paulus dalam suratnya tersebut sebenarnya ingin menegur cara berpakaian Jemaat di Korintus mengenai pakaian saat di gereja dan budaya yang sedang berkembang di sana pada saat itu, dimana wanita yang tidak menudungi kepalanya akan dicap sebagai ‘wanita nakal’ dan ‘orang-orang yang tidak ber-Tuhan.’ Namun, tidak ada salahnya bukan jika tradisi kuno yang indah ini kita gunakan kembali dalam Perayaan Ekaristi?

Seorang wanita yang berkerudung Misa pada dasarnya sedang menunjukan eksistensi Allah. Sebuah tanda kerendahan hati seorang wanita, yang ingin menudungi mahkotanya (rambut) di hadapan Allah. Karena ia tidak berkerudung di tempat lain, ia hanya berkerudung di hadirat Sakramen Maha Kudus. Seperti halnya Tabernakel (Kemah Roti/lemari yang berisi Hosti Kudus) yang menjadi pusat di dalam gereja kita. Jika di dalam Tabernakel tersebut berisi Hosti yang sudah dikonsekrasi, tentu akan diselubungi dengan kain. Selain itu, jika Sibori yang di dalamnya terdapat hosti kudus, akan selalu diselubungi dengan kain yang menandakan bahwa ada Tubuh Tuhan di dalamnya. Piala yang berisi Darah Kristus, akan ditudungi dengan kain. Meja Altar ditutupi kain (kecuali saat perayaan Jumat Agung, dimana Hosti Kudus tidak ditempatkan dalam Tabernakel di gereja). Begitu juga bagi perempuan yang menudungi dirinya dengan tudung kepala saat Misa. Ia menunjukan hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, yang hadir dalam Perayaan Ekaristi. Jadi kerudung Misa adalah tanda yang paling jelas bahwa ada sesuatu yang spesial, indah, dan kudus yang sedang terjadi di tempat itu, yaitu tanda bahwa Allah sungguh-sungguh hadir!



Sebenarnya, menudungi hati dan kepala dengan mantilla tidaklah menyembunyikan kecantikan seorang perempuan, melainkan memancarkannya dengan cara yang istimewa dan penuh kerendahan hati, seperti halnya dengan para ciptaan kudus lainnya dari Allah yang menudungi kepala mereka (St Perawan Maria, St Bernadete, St Theresia dari Lisieux, Bunda Theresa, biarawati yang menjadi Santa, dll). Tetapi, bermantilla merupakan ekspresi iman bukan sekedar fashion kekinian.

Banyak wanita yang benar-benar telah menudungi hati, pikiran dan kepala mereka saat misa, merasakan damai, beban duniawi terasa pergi menjauh, ketenangan dan cinta yang lebih besar dan lebih mendalam kepada Tuhan. Mereka merasakan suatu kebebasan dimana mereka bisa menghayati dan lebih fokus pada Perayaan Ekaristi. Memang terkadang pikiran kita saat misa suka melenceng kemana-mana: apakah saya harus pergi ke supermarket, jemuran sudah kering atau belum, menu apa yang ingin saya masak saat makan siang? Tetapi, ketika Anda masuk ke gereja dengan berkerudung, itu bagaikan suatu petunjuk untuk berhenti. Semua pikiran itu harus disingkirkan dan Anda harus memberikan seluruh perhatian Anda kepada Tuhan. Ada sebuah keheningan dalam jiwa saat kita mengenakan kerudung Misa. Kerudung itu menarik kita kepada Yesus. Kerudung menarik kita ke dalam suasana doa. Ia membuat kita ingin menjadi kudus. Ia menarik kita kepada apa yang berada jauh di dalam diri kita, sebuah inti feminim yang dimiliki oleh para wanita.

Jika seandainya Anda adalah seorang wanita yang memakai mantillamu saat misa, dan Anda menjadi takut dan malu karena dilihat, dicibir bahkan ditegur oleh orang banyak di dalam gereja karena dianggap ikut-ikutan agama lain, INGATLAH! Bahwa apa yang mereka katakan bukanlah tujuanmu sama sekali. Kamu harus tahu, siapa yang ingin kamu lihat di gereja. Kamu datang bukan untuk melihat orang-orang itu. Tetapi kamu datang untuk melihat Tuhan! Anda tidak perlu peduli dengan apa yang orang pikirkan, tetapi Anda harus peduli pada apa yang Tuhan pikirkan tentang dirimu. Tetaplah fokus pada cinta dan keimananmu kepada Tuhan. Ini bukan tentang, “Hei, lihat saya! Saya lebih suci daripada kamu!” Tidak!. Ini adalah tentang saya menunjukkan penghormatan, ketundukan, dan cinta kepada Yesus. Itulah tujuannya!

Memang benar, memakai mantilla saat Misa memerlukan pertimbangan dan  kesiapan batin yang begitu mendalam. Tetapi, hal itu merupakan langkah awal yang bagus dengan memaknai maksud dan arti dari mantilla itu sendiri. Kami Misdinar St Tarsisius mendoakan Anda semua semoga suatu saat dapat menemukan keberanian untuk memakainya dan menikmati kasih Tuhan lebih mendalam lagi. Dan terus ikuti perkembangan sosialisasi ini dengan mem-follow laman instagram kami di @ppasttarsisiusskw. Ayo bermantilla bagi Tuhan! (Nicolas Gratia Gagasi)
 

1 Des 2016

Hitam Putih di Balik Kerudung Misa

Hitam Putih di Balik Kerudung Misa


Sudah sejak tanggal 10 Juli 2016, Putri Altar Paroki Singkawang mengenakan mantilla setiap kali melayani di altar dan dalam perayaan liturgi lainnya demi menyadarkan umat betapa kudusnya misa yang kita rayakan. Ada berbagai banyak kalangan yang sangat mendukung ini karena ada alasan historis, teologis dan psikologis dalam penggunaan mantilla. Namun, tak sedikit yang menentang dan mempertanyakan devosi tradisional ini. Kami merasa bahwa, mereka yang menentang ini bukan bermaksud untuk berniat jahat, melainkan karena minimnya katekese (pengajaran) mengenai devosi yang satu ini. Kali ini kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan kepada kami supaya tidak ada hitam-putih dibalik mantilla serta memberi pertanggungjawaban atas pengharapan yang ada pada kami (bdk 1 Petrus 3:15) 

1. Siapa yang memberi izin kepada kalian untuk menggunakan mantilla?

Kami meminta izin ‘langsung’ kepada Mgr. Agustinus Agus setelah pulang dari tugas pelayanan altar dari upacara pemberkatan gedung Gereja St. Mikhael yang baru di Pangmilang pada hari Sabtu, 18 Juni 2016. Beliau sangat mengharapkan dengan adanya mantilla, umat Paroki Singkawang bisa semakin khusyuk, menghormati dan menghargai misa, serta lebih militan (setia) kepada Yesus dan Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.

2. Apa dasar kalian untuk membangkitkan mantilla?


Mantilla adalah tradisi tua gereja kita. Dasar kami untuk membangkitkan mantilla adalah dari 1 Korintus 11:1-16 di mana St. Paulus meminta perempuan untuk berkerudung saat menghadap Tuhan. Jika kita lebih meneliti dari setiap ayat pada perikop tersebut, St. Paulus mengatakan bahwa rambut panjang yang diberikan kepada perempuan itu untuk menjadi penudung bagi dirinya. Namun jika demikian, mengapa St. Paulus meminta perempuan untuk berkerudung padahal ia mengatakan bahwa rambut diberikan oleh Tuhan sebagai penudung? Alasannya sama dengan alasan mengapa pasangan menikah menggunakan cincin kawin, padahal Sakramen Perkawinan sah-sah saja tanpa cincin. Ini karena manusia membutuhkan tanda kelihatan dari realita yang tidak kelihatan. Manusia adalah makhluk jasmaniah yang sangat merespon terhadap simbol-simbol yang terlihat. Menggunakan mantilla saat misa, menunjukan bahwa Allah sungguh hadir dalam Misa Kudus, di mana surga turun ke bumi demi menghormati Tuhan dalam rupa roti dan anggur. Inilah tanda bahwa kerudung mantilla menunjukan kenyataan dari realita yang tidak kelihatan. Selain itu juga berdasarkan Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1262 “…akan tetapi, wanita harus menudungi kepalanya dan harus berbusana santun, terutama ketika mereka mendekati Altar Tuhan.” Putri Altar mempunyai tugas yang sama dengan Putra Altar. Karena itu ketika Putri Altar mendekati apalagi melayani di Altar, mereka senantiasa menudungi diri dengan mantilla, walaupun hal tersebut bukanlah lagi suatu kewajiban setelah berlakunya KHK 1983. 

3.Nah, kalau bukan kewajiban kenapa harus memakainya?
 
    Iman Katolik memiliki aturan-aturan dasar dan dogma-dogma fundamental yang wajib diimani oleh siapapun yang merasa diri sebagai Katolik. Namun, ada lebih banyak lagi hal-hal yang tidak diwajibkan namun sangat baik untuk dilaksanakan. Misalnya berpuasa satu jam saja sebelum menerima Komuni Kudus atau melakukan puasa dan pantang di luar masa prapaskah. Semenjak diberlakukannya KHK 1983, mantilla berada di nasib yang sama seperti kedua contoh diatas. Memang bukan kewajiban, namun bukan berarti dikesampingkan begitu saja. Lantas, apa yang menjadi dasar pemakaian mantilla? Kasih yang dalam kepada Yesus! Kasih yang sejati tidak akan melakukan hal yang minimal, melainkan ia akan melakukannya lebih dan lebih lagi. Bermantilla di hadapan Sakramen Mahakudus adalah salah satu cara untuk mencintai Kristus dengan cara “ekstra”, melampaui batas-batas minimal yang ditetapkan gereja.

4.Ngapain bermantilla? Lagian Tuhan memandang hati dan saya sudah mencintai-Nya dengan hati saya!


Argumen “Yang penting Allah melihat hati (bdk 1 Samuel 16:7)” selalu terngiang-ngiang saat membahas ungkapan-ungkapan iman yang bersifat jasmaniah. Mempelajari iman Katolik? Ah iman tak perlu diperdebatkan yang penting hatinya. Berusaha menjalankan liturgi dengan benar? Ah Tuhan melihat hati, buat apa berliturgi tapi hatinya jahat. Bermantilla? Ndak usah aneh-anehlah! Macam orang Islam! Yang penting Tuhan melihat hati. Kita harus berhati-hati dalam mengutip atau menggunakan ayat-ayat suci sebagai pembenaran atas kemalasan pribadi atau ketidaksukaan dengan praktik ini. Saat akan mengutip, perhatikan juga ayat selanjutnya. Seloroh yang “penting hatinya” seolah mengatakan kalau jiwa dan tubuh manusia tidak berjalan berbarengan. ‘yang penting hati’ ini bisa jadi betul, asalkan hati tersebut sudah dimurnikan oleh Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat dan hidup kudus.
 
Tuhan telah bersabda “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesama mu manusia seperti dirimu sendiri” (bdk Mat 22:37). Ia menuntut kita untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi. Gelora kasih yang sungguh sejati dan bukan gombal tentu akan mendorong tubuh untuk melakukan segala sesuatu demi yang terkasih. Mengenakan Mantilla hanyalah salah satu usaha kecil dan sederhana untuk memenuhi tuntutan kasih yang tinggi itu.

5. Putri Altar kita mengenakan semacam ‘hijab’! Apakah mantilla hanya dipakai oleh anak PPA yang putri?

Ini adalah keberatan yang mereduksi tradisi berkerudung sebagai kebiasaan Islami saja, tanpa berpikir bahwa berkerudung dalam ibadah merupakan praktik yang umum dilakukan oleh komunitas-komunitas Yahudi, Kristen Ortodoks, Hindu dan lain-lain. Sebagai devosi Ekaristis, wanita Katolik hanya mengenakannya di hadapan Sakramen Mahakudus, entah itu saat Misa, adorasi, pengakuan dosa, dan lain-lain. Selain itu, sangat jelas kalau bentuk mantilla sangat berbeda dengan hijab Muslim. Mantilla tidak hanya dipakai oleh Putri Altar, namun dapat digunakan oleh semua wanita Katolik tanpa terkecuali. Putri Altar mengenakan mantilla ingin menegaskan bahwa misa yang kita rayakan itu kudus adanya. Oleh sebab itu, sebagai umat beriman, hendaknya menaruh hormat yang besar kepada Yesus yang hadir dalam perayaan Ekaristi sehingga Misa tidak menjadi suatu ajang pertemuan sosial dengan kenalan kita.

6. Gereja selalu memperbaharui diri. Mantilla itu tradisi kuno!
   
Memang benar zaman telah berubah dan terus berkembang. Bahkan dalam kehidupan realitas di negara kita, banyak orang tetap mempertahankan kebudayaan mereka tanpa mesti hanyut dalam perkembangan zaman. Begitu juga dengan mantilla. Mantilla mempunyai nilai-nilai  Katolik yang mencangkup penghormatan yang pantas kepada Allah, kemurnian, perjuangan menuju kekudusan, kerendahan hati dan martabat perempuan. Apabila itu semua terdengar asing, kuno dan radikal dan mantilla dianggap melawan arus modern, itu bukan karena nilai-nilainya yang salah melainkan karena budaya zaman ini yang banyak menyeleweng.
 
7.Busana apa yang cocok saat dipadukan dengan Mantilla? Apakah kerudung misa harus mantilla? Apakah Mantillanya harus diberkati terlebih dahulu?

Dari sudut pandang fashion, mantilla tidak cocok dipadukan dengan baju yang terlalu santai, terlalu ramai, terbuka, atau terlalu ketat. Maka coba luangkan waktu untuk memikirkan pakaian apa yang pantas untuk menghadiri misa kudus. Kalau bisa, kenakan rok yang santun dan tidak ketat dengan panjang di bawah lutut. Memang memilih pakaian untuk misa sudah seharusnya sedikit merepotkan. Jika kita sendiri sering ribet dengan pakaian untuk pesta buatan manusia, mengapa kita sendiri tidak mau repot untuk menghadiri pesta perkawinan kita sendiri dengan Kristus?
 
Bagi Anda yang sudah tergerak untuk memuliakan Kristus secara khusus dengan bermantilla namun tidak bisa beli secara online maupun tidak sempat membuat sendiri, kerudungnya tidak harus mantilla. Anda dapat menggunakan kain-kain lainnya seperti syal, pashmina, atau bandana besar. Tidak ada keharusan untuk meminta berkat imam atas mantilla yang akan dikenakan, tetapi tentu hal tersebut sangat baik. Perlu diingat bahwa mantilla yang sudah diberkati tentu harus diperlakukan dengan hati-hati.

8. Bukankah tradisi berkerudung hanya dipakai di Misa Latin saja?
 
Betul, kebiasaan berkerudung merupakan warisan dari Misa Latin Tradisional/Traditional Latin Mass (TLM), yang kini banyak dikenal sebagai Misa Forma Ekstraordinaria. Namun Yesus yang kita sembah, baik dalam TLM maupun Misa Novus Ordo (tata cara misa yang sekarang) adalah Yesus yang sama dan seharusnya kita mengenakannya dalam bentuk misa apapun, tidak terbatas dalam TLM 

9.Apabila kebiasaan berkerudung, terutama dalam lingkup peribadatan, sudah lama menjadi tradisi Katolik, apalagi didukung oleh landasan bibliah (1 Korintus 11:1-16) dan tulisan  para Bapa Gereja, bahkan pernah disuratkan secara eksplisit dalam KHK 1262, mengapa Hukum Kanonik yang baru (KHK 1983) tidak lagi mencantumkannya? Bukankah Gereja Katolik menghormati tradisi para rasul? Bukankah hal tersebut seolah-olah terputusnya sebuah warisan tradisi yang sudah berjalan hampir 2000 tahun, nyaris setua usia gereja itu sendiri? Adakah kaitannya dengan menurunnya rasa hormat kepada Ekaristi?
 
Pertanyaan-pertanyaan di atas sungguh tidak mudah dijawab. Banyak yang mengaitkannya dengan fenomena revolusi seksual yang terjadi tahun 1960-1970an di belahan bumi barat di mana lahirnya ideologi feminisme radikal, serta normalisasi kontrasepsi, aborsi dan seks bebas. Ada juga yang mengkaitkan dengan “hanya” pergeseran budaya akibat moderenisasi di segala bidang, terutama dalam hal keagamaan. 

Sampai sekarang, pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menjadi bahan permenungan bagi kita. Jika kita sudah mengerti bahwa Allah sendiri yang mengkehendaki wanita untuk berkerudung (bdk 1 Korintus 11:2-16) mengapa kita yang sudah mengetahuinya tidak mau melakukan kehendak Allah? Mantilla adalah sarana devosi pribadi bukan sebuah aksesoris yang menunjukan rasa rendah hati dan kesederhanaan di hadapan Tuhan. Namun hanya mengenakan mantilla saja tanpa dibarengi kedisiplinan rohani lainnya, maka mantilla tersebut tidak ada artinya lagi.

Meskipun kini praktik berkerudung dalam misa bukan lagi kewajiban secara kanonik, namun mengingat sejarah ajaran dan penggunaannya yang begitu panjang serta bukan tanpa alasan, maka praktik ini sangatlah baik untuk dihidupkan kembali sebagai devosi pribadi seperti halnya Saudara Seiman kita di Korea Selatan dan Negara Eropa lainnya yang mempertahankan tradisi ini. Mari mengungkapkan iman kita dengan bermantilla dan cintailah tradisi! (PPA St. Tarsisius Paroki Singkawang)


1 Nov 2017

Transitus Santo Fransiskus dari Assisi

Transitus Santo Fransiskus dari Assisi
Reported by: Fr. Agusto Tshang, OFM Cap. dan Fr. Inigo Banyu Segara, OFM Cap.

Pada Selasa sore tanggal 3 Oktober 2017, sungguh tidak seperti sore-sore hari biasanya. Banyak orang datang, memasuki dan memenuhi gereja St. Fransiskus Asisi di Singkawang. Ini menarik dan jarang terjadi, karena hari itu bukan hari Minggu. Rupanya, saat itu Keluarga Fransiskan Singkawang (KEFAS) yang terdiri dari para saudara Kapusin, Suster-Suster Klaris Kapusines, Suster-Suster SFIC, anggota OFS (Ordo Fransiskan sekular) dan Bruder-Bruder MTB, berkumpul untuk mengadakan Ibadat Sore bersama. Usut punya usut, ternyata hari itu adalah pesta peringatan wafatnya St. Fransiskus dari Assisi. Secara umum, pesta peringatan ini dikenal sebagai Transitus.
Perayaan Transitus dipimpin oleh Pater Stepanus Gathot Purtomo,OFMCap., selaku Pastor Kepala paroki Singkawang dan diiringi oleh koor gabungan dari KEFAS serta beberapa umat paroki. Perayaan ini terbuka untuk umum, sehingga umat selain anggota KEFAS-pun boleh mengikutinya. Tahun ini para frater dari Novisiat Kapusin Gunung Poteng diminta untuk menganimasi perayaan (dalam bentuk dramatisasi dan semi-tablo) menjelang dan saat wafatnya St Fransiskus Assisi. Tujuannya, agar umat yang hadir dalam perayaan dapat mengetahui dan mengalami secara nyata gambaran saat-saat terakhir hidup Fransiskus Asisi yang dapat menginspirasi umat beriman dalam memaknai “kematian”, penghujung hidup duniawi dan jelang pintu surgawi.
 Dalam kata pengantarnya, Rm. Gathot  menjelaskan pandangan Gereja Katolik dan St. Fransiskus tentang kematian. Kematian bukan-lah sesuatu yang harus ditakuti. Kematian  dipandang sebagai syarat untuk sampai kepada penggenapan janji Allah terhadap manusia. Karena tanpanya, manusia tak dapat memperoleh kehidupan kekal sebagaimana Yesus janjikan. Setelah pengantar, Rm. Gathot kemudian mempersilahkan para Frater Novis untuk memulai drama.
***
“Ringkasan Drama dalam Transistus”
Ya, itulah rombongan Fransiskus dan para muridnya memasuki kota Assisi. Diterangi cahaya obor yang tidak begitu terang, mereka berjalan perlahan untuk sampai ke Gereja Portiuncula. Tiba-tiba, Fransiskus meminta para muridnya berhenti, katanya: “Tunggu, tunggu dulu”. Ia menanyakan kepada para muridnya, apakah mereka sudah sampai di Assisi dan setelah mengetahui secara pasti bahwa itu benar ia pun kembali berkata: “Assisi, oh, assisi ! Disanalah semua bermula . . . . Mari kita mulai, sebab kita belum berbuat apa-apa”. Bunyi lonceng kembali terdengar dan perlahan namun pasti Assisi sudah sejangkauan mata.
Di dalam Gereja Portiuncula, mereka membaringkan Fransiskus dan mengelilinginya. Raut wajah sendu menghiasi paras para saudara Fransiskus. Ketika itulah, Fransiskus mencurahkan segala yang telah ia rasakan dan alami pada awal pertobatan setelah perjumpaannya dengan Kristus yang tersalib. Setiap perkataan dari mulutnya adalah petuah dan wasiat berharga bagi para muridnya. Bagaimana ia merasa jijik kala berjumpa orang kusta namun kemudian berubah menjadi kemanisan yang tiada terkatakan. Kekayaan dan jabatan tidak lagi menggiurkannya. Laksana pria yang jatuh cinta kepada seorang gadis pada pandangan pertama, Fransiskus begitu cinta akan putri kemiskinan yang dihadiahkan Kristus kepadanya. Semua seolah diwakilkan dengan permintaannya kepada para saudara untuk menanggalkan jubahnya. Walau hal itu ditentang, ia tetap bersikukuh. Kini, kesetian terbukti dan ketaatan terjaga.
Keagungan dan kebesaran Allah selalu hadir pada orang-orang yang percaya dan taat kepadaNya. Menjelang kematiannya Fransiskus malah membaluti diri dengan kemiskinan teramat suci. Kedatangan saudari maut disambutnya dengan penuh suka cita dan damai. Kematian baginya adalah penyatuan diri kepada Allah serta puncak dan tujuan dari hidupnya yang keras dan radikal. Hal inilah yang menguatkan para muridnya untuk berbuat lebih, lebih dan lebih lagi. Sebab apa yang telah mereka perbuat saat itu belum menghasilkan apa-apa. Kesedihan yang tadinya dirasakan berubah menjadi kedamaian di hati setiap pengikut Fransiskus. Kembali dengan sunyi senyap dan tenang mereka menandu Fransiskus yang telah berpulang menuju tempat peristirahatan untuk raganya yang telah ia wasiatkan sebelumnya. Hari itu bukanlah akhir melainkan awal dari segalanya bermula. Demikian ringkasan cerita Transitus.
***
Makna singkat Transitus
Setelah drama dibawakan, menyusul renungan singkat yang dibawakan oleh Rm. Gathot. Rm. Gathot menjelaskan bahwa suasana saat terakhir hidup St. Fransiskus tidak se-sedih peristiwa kematian pada umumnya. St. Fransiskus beranggapan bahwa kematian bukan-lah akhir dari segalanya, melainkan sebuah batu pijakan untuk memperoleh hidup baru. Maka dari itu, St. Fransiskus menyambut kematian dengan bahagia dan penuh rasa syukur. Berangkat dari hal ini, umat yang hadir diajak untuk tidak merasa was-was dan takut karena kematian bukanlah hal yang menakutkan. St. Fransiskus bahkan menggelarinya “saudari maut” karena ia sadar bahwa kematian menjadi hal mutlak yang harus dilalui untuk sampai kepada kesempurnaan sebagai pengikut Kristus. St. Fransiskus dengan gembira menyambut kedatangan maut dengan sapaan: “Selamat datang saudariku maut !”Jadi, tidak ada alasan untuk mengatakan kematian adalah malapetaka dan kesia-siaan.
Di akhir acara, dibagikan roti tak beragi yang menjadi makanan favorit St. Fransiskus kala ia hidup sebagai pentobat dari Assisi. Umat berbaris rapi dan teratur maju menyambut roti itu. Layaknya pada saat hendak menerima Tubuh dan Darah Kristus.  Ya perjalanan kita, sebagai peziarah di dunia ini semesti diwarnai dalam “berbagi Roti Hidup” dan akan paripurna ketika bersatu dalan “perjamuan Anak Domba”. “Cukup sederhana namun meninggalkan kesan yang mendalam” ujar salah seorang umat yang hadir. Semoga Pesta peringatan wafatnya St. Fransiskus ini dapat membawa pada kesadaran akan pertobatan yang terus menerus untuk sampai pada kesempurnaan dan tidak lagi menganggap bahwa  kematian itu suatu yang “mengerikan”, seolah tiada pengharapan, justru sebaliknya suatu “saat” sukacita karena akan berjupa dengan sang Kehidupan itu sendiri. “Hai maut dimana sengatkahmu kini….?!”. Semoga, ya semoga, amin.


“Deus meus et omnia”

2 Nov 2017

MENDOAKAN JIWA ORANG-ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

MENDOAKAN JIWA ORANG-ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

Sumber:ericopieter.blogspot.co.id

Ada pernyataan bahwa kita tidak usah berdoa untuk jiwa-jiwa yang sudah meninggal, karena itu menjadi urusan Tuhan sendiri dan doa kita tidak akan berguna bagi mereka. Benarkah demikian? Gereja Katolik mengajarkan bahwa Tuhan berkuasa menentukan apakah seseorang yang meninggal itu masuk surga, neraka, atau jika belum siap masuk surga, dimurnikan terlebih dulu di Api Penyucian. Umat Kristen non-Katolik yang tidak mengakui adanya Api Penyucian, mungkin menganggap bahwa tidak ada gunanya mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Namun Gereja Katolik mengajarkan adanya masa pemurnian di Api Penyucian, silakan membaca dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Bapa Gereja tentang hal ini, http://katolisitas.org/624/bersyukurlah-ada-api-penyucian, sehingga doa-doa dari kita yang masih hidup, dapat berguna bagi jiwa-jiwa mereka yang sedang dalam tahap pemurnian tersebut. Bahkan, dengan mendoakan jiwa-jiwa tersebut, kita mengamalkan kasih kepada mereka yang sangat membutuhkannya, dan perbuatan ini sangat berkenan bagi Tuhan (lih. 2 Mak 12:38-45).
Sebenarnya, prinsip dasar ajaran Gereja Katolik untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal adalah adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut. Rasul Paulus menegaskan “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39).
Kuasa kasih Kristus yang mengikat kita semua di dalam satu Tubuh-Nya itulah yang menjadikan adanya tiga status Gereja, yaitu 1) yang masih mengembara di dunia, 2) yang sudah jaya di surga dan 3) yang masih dimurnikan di Api Penyucian. Dengan prinsip bahwa kita sebagai sesama anggota Tubuh Kristus selayaknya saling tolong menolong dalam menanggung beban (Gal 6:2) di mana yang kuat menolong yang lemah (Rm 15:1), maka jika kita mengetahui (kemungkinan) adanya anggota keluarga kita yang masih dimurnikan di Api Penyucian, maka kita yang masih hidup dapat mendoakan mereka, secara khusus dengan mengajukan intensi Misa kudus (2 Mak 12:42-46).
Memang, umat Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab Makabe ini dalam Kitab Suci mereka. Juga, bagi mereka, keselamatan hanya diperoleh melalui iman saja (sola fide), yang sering dimaknai terlepas dari perbuatan, dan hal mendoakan ini dianggap sebagai perbuatan yang tidak berpengaruh terhadap keselamatan. Sedangkan ajaran iman Katolik adalah kita diselamatkan melalui iman yang bekerja oleh perbuatan kasih (Gal 5:6), maka iman yang menyelamatkan ini tidak terpisah dari perbuatan kasih. Dengan memahami adanya perbedaan perspektif Katolik dan non- Katolik ini, kita dapat mengerti bahwa umat Kristen non- Katolik menolak ‘perbuatan’ mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa perbuatan-perbuatan kasih yang didasari iman sangatlah berguna bagi keselamatan kita (baik yang didoakan maupuan yang mendoakan). Jika “kasih” di sini diartikan menghendaki hal yang baik terjadi pada orang lain, dan jika kita ketahui bahwa maut tidak memisahkan kita sebagai anggota Tubuh Kristus (lih. Rom 8:38-39), maka kesimpulannya, pasti berguna jika kita mendoakan demi keselamatan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sebab perbuatan kasih yang menghendaki keselamatan bagi sesama, adalah ungkapan yang nyata dalam hal “bertolong-tolonglah dalam menanggung bebanmu” (Gal 6:2).
Jangan lupa bahwa yang kita bicarakan di sini adalah bahwa doa- doa yang dipanjatkan untuk mendoakan jiwa-jiwa orang-orang yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian, sehingga mereka sudah pasti masuk surga, hanya sedang menunggu selesainya saat pemurniannya. Dalam masa pemurnian ini mereka terbantu dengan doa-doa kita, seperti halnya pada saat kita kesusahan sewaktu hidup di dunia ini, kita terbantu dengan doa-doa umat beriman lainnya yang mendoakan kita. Sedangkan, untuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat, sehingga masuk ke neraka, memang kita tidak dapat mendoakan apapun untuk menyelamatkan mereka. Atau untuk orang -orang yang langsung masuk ke surga (walaupun mungkin tak banyak jumlahnya), maka doa-doa kita sesungguhnya tidak lagi diperlukan, sebab mereka sudah sampai di surga. Namun masalahnya, kita tidak pernah tahu, kondisi rohani orang-orang yang kita doakan. Pada mereka memang selalu ada tiga kemungkinan tersebut, sehingga, yang kita mohonkan dengan kerendahan dan ketulusan hati adalah belas kasihan Tuhan kepada jiwa-jiwa tersebut, agar Tuhan memberikan pengampunan, agar mereka dapat segera bergabung dengan para kudus Allah di Surga.
Pengajaran tentang Api Penyucian termasuk dalam ajaran iman De fide (Dogma):
“The Communion of the Faithful on earth and the Saints in Heaven with Poor Souls in Purgatory:
The living Faithful can come to the assistance of the Souls in Purgatory by their intercessions (suffrages).”
Terjemahannya:
Persekutuan umat beriman di dunia dan Para Kudus di Surga dengan Jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian:
Para beriman yang [masih] hidup dapat membantu jiwa-jiwa di Api Penyucian dengan doa-doa syafaat (doa silih).
Silih di sini diartikan tidak saja doa syafaat, tetapi juga Indulgensi, derma dan perbuatan baik lainnya, dan di atas semua itu adalah kurban Misa Kudus. Ini sesuai dengan yang diajarkan di Konsili Lyons yang kedua (1274) dan Florence (1439).
Jadi meskipun umat Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab Makabe, namun sesungguhnya mereka secara obyektif tidak dapat mengelak bahwa tradisi mendoakan jiwa orang yang telah meninggal sudah ada di zaman Yahudi sebelum Kristus. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para rasul, seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika mendoakan Onesiforus yang sudah meninggal, “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya [Onesiorus] pada hari-Nya.” (2 Tim 1:18). Tradisi mendoakan jiwa orang yang sudah meninggalpun dicatat dalam tulisan para Bapa Gereja, seperti:
1) Tertullian, yang mengajarkan untuk menyelenggarakan Misa kudus untuk mendoakan mereka pada perayaan hari meninggalnya mereka setiap tahunnya. 
2) St. Cyril dari Yerusalem dalam pengajarannya tentang Ekaristi memasukkan doa-doa untuk jiwa orang-orang yang sudah meninggal.
3) Sedangkan St. Yohanes Krisostomus dan St Agustinus mengajarkan bahwa para beriman dapat mendoakan jiwa orang-orang yang meninggal dengan mengadakan derma.
Karena hal mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal telah diajarkan dalam Kitab Suci dan telah dilakukan oleh Gereja sejak awal mula, terutama dalam perayaan Ekaristi maka, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
KGK 1032 Ajaran ini juga berdasarkan praktik doa untuk orang yang sudah meninggal tentangnya Kitab Suci sudah mengatakan: “Karena itu [Yudas Makabe] mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya” (2 Mak 12:45). Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi Bdk. DS 856. untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.
“Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya Bdk. Ayb 1:5., bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka” (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41,5).
KGK 1371 Kurban Ekaristi juga dipersembahkan untuk umat beriman yang mati di dalam Kristus, “yang belum disucikan seluruhnya” (Konsili Trente: DS 1743), supaya mereka dapat masuk ke dalam Kerajaan Kristus, Kerajaan terang dan damai:
“Kuburkanlah badan ini di mana saja ia berada: kamu tidak perlu peduli dengannya. Hanya satu yang saya minta kepada kamu: Di mana pun kamu berada, kenangkan saya pada altar Tuhan” (Santa Monika sebelum wafatnya, kepada santo Augustinus dan saudaranya: Agustinus, conf. 9,11,27).
“Lalu kita berdoa [dalam anaforal untuk Paus dan Uskup yang telah meninggal, dan untuk semua orang yang telah meninggal pada umumnya. Karena kita percaya bahwa jiwa-jiwa yang didoakan dalam kurban yang kudus dan agung ini, akan mendapat keuntungan yang besar darinya… Kita menyampaikan kepada Allah doa-doa kita untuk orang-orang yang telah meninggal, walaupun mereka adalah orang-orang berdosa… Kita mengurbankan Kristus yang dikurbankan untuk dosa kita. Olehnya kita mendamaikan Allah yang penuh kasih sayang kepada manusia dengan mereka dan dengan kita” (Sirilus dari Yerusalem, catech. myst. 5,9,10).
KGK 1414 Sebagai kurban, Ekaristi itu dipersembahkan juga untuk pengampunan dosa orang-orang hidup dan mati dan untuk memperoleh karunia rohani dan jasmani dari Tuhan.
Maka memang, mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal bagi orang Katolik merupakan salah satu perbuatan kasih yang bisa kita lakukan, terutama kepada orang-orang yang kita kasihi yang telah mendahului kita. Ini adalah salah satu dogma yang semestinya kita jalankan, sebagai orang Katolik. Tentu saja, kita tidak bisa memaksakan hal ini kepada mereka yang tidak percaya. Namun bagi kita yang percaya, betapa indahnya pengajaran ini! Kita semua disatukan oleh kasih Kristus: kita yang masih hidup dapat mendoakan jiwa-jiwa yang di Api Penyucian, dan jika kelak mereka sampai di surga, merekalah yang mendoakan kita agar juga sampai ke surga. Doa mereka tentu saja tidak melangkahi Perantaraan Kristus, sebab yang mengizinkan mereka mendoakan kita juga adalah Kristus, sebab di atas semuanya, Kristuslah yang paling menginginkan agar kita selamat dan masuk ke surga. Jadi doa para kudus saling mendukung dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Kita tergabung dalam satu persekutuan orang-orang kudus, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus yang diikat oleh kasih persaudaraan yang tak terputuskan oleh maut, sebab Kristus Sang Kepala, telah mengalahkan maut itu bagi keselamatan kita.
Sumber: katolisitas.org

3 Mar 2017

Pengalaman Natalku di Stasi Aris

Pengalaman Natalku di  Stasi Aris


Hujan lebat yang mengguyur tepat di hari natal membuat nyaliku menjadi ciut. Spontan pikiranku segera melayang ke peristiwa dua bulan sebelumnya. Waktu itu turne-ku ke Stasi Aris terpaksa harus dibatalkan gara-gara hujan yang juga sangat lebat. Aris adalah nama stasi yang paling jauh dari pusat Paroki Singkawang. Selain jauh stasi ini juga mempunyai “nilai plus” karena medan jalannya yang sangat menantang. Penimbunan jalan ke Aris dengan tanah kuning belum rampung dikerjakan. Bisa dibayangkan usai diguyur hujan, medan jalan akan berubah bak arena balapan sepeda motor: penuh lumpur, licin, dan  pasti tidak bisa dilalui oleh sepeda motor biasa. Itulah yang membuatku merasa gundah.

Pagi itu, di hari natal kedua kegundahanku makin menjadi-jadi. Sang matahari yang kuharapkan bersinar cerah ternyata malah malu-malu menampakkan dirinya. Dia justru bersembunyi di balik peraduannya. Sebaliknya mendung hitam menggelanyut di langit. Aku sudah siap dengan ransel turne-ku yang selama ini selalu setia menemaniku. Namun ada rasa enggan untuk segera beranjak. Tidak seperti biasanya, kali ini terselip rasa cemas. Doa dengan nada kecewa kusampaikan kepada-Nya, “Tuhan, cobalah tadi malam tidak hujan. Kan hari ini aku harus ke Aris. Bisa-bisa aku batal lagi merayakan hari kelahiran-Mu”. Sepenggal doa itulah yang kupanjatkan sebelum akhirnya kupacu juga sepeda motorku menuju Aris.

Apa yang kubayangkan sebelumnya kini hampir menjadi kenyataan. Di hadapanku terbentang begitu panjang hamparan lumpur tanah kuning. Di beberapa tempat malah tanah itu masih dibiarkan teronggok dan belum diratakan sehingga menghalangi jalan. Aku pun langsung lemas.  Di hampir semua ruas jalan kulihat kubangan-kubangan air yang berwarna coklat. Kuperhatikan baik-baik siapa tahu ada bekas ban sepeda motor. Tetapi tak kutemukan. Berarti tidak ada sepeda motor yang melintas di jalan itu. Nyaliku semakin ciut. Kupaksakan melintasi genangan pertama. Astaga, rupanya kedalaman mencapai 20 centimeter. Kedua ban sepeda motorku terbenam dan tidak bergerak sama sekali. Terpaksa aku turun untuk mengangkat sepeda motorku keluar dari lumpur. Kucari jalan alternatif  yang lain. Tetapi nasibnya tak lebih baik. Sepeda motorku pun kembali amblas. Kali ini malah lebih dalam lagi. Akhirnya aku menyerah. Muncul keraguan dalam hatiku: apakah mau lanjut atau putar haluan, alias pulang. Kalau lanjut aku harus berjalan kaki. Perlu waktu lumayan lama. Belum lagi sepeda motor harus kutinggalkan di tengah jalan yang masih agak hutan. Bukan tidak mungkin, nanti bisa hilang. Tetapi kalau aku pulang, umat di Aris pasti kecewa karena mereka sudah menunggu kedatanganku. Apalagi sempat kujanjikan untuk menerimakan sakramen permandian di hari natal kedua. Perang batin yang cukup menyita perhatianku sampai akhirnya kuputuskan untuk tetap lanjut ke Aris.

Di sepanjang jalan aku harus melompat ke sana kemari untuk menghindari beberapa genangan air. Tak seorang manusia pun kujumpai pada turne-ku kali ini. Mungkin mereka sedang merayakan natal. Atau barangkali memang tahu bahwa jalan ini tak bisa dilalui. Peluh yang meleleh di wajahku tak kuhiraukan lagi. Tujuanku cuma satu: segera sampai ke Aris untuk merayakan natal bersama umat. Setelah itu segera pulang dan menemukan sepeda motorku masih dalam keadaan utuh. Maklumlah sepeda motor itu milik keuskupan yang boleh aku pakai.

Setelah 30 menit berjalan melintasi area berlumpur, akhirnya aku tiba di jalan yang sudah selesai dikerjakan. Perjalanan terasa lebih nyaman karena tidak perlu menghindari lumpur. Entah darimana asalnya, tiba-tiba saja kudengar bunyi sepeda motor dari arah belakangku. Aku segera menepi dan memberi jalan kepadanya.  Tetapi sepeda motor itu malah berhenti tepat di sampingku. 

“Ayo, Pastor, biar aku antar saja”, kata sang pengendara sepeda motor kepadaku.

“Wah terima kasih banyak,” jawabku. Tanpa menunggu tawaran dua kali, aku pun segera naik di belakangnya.

“Inilah, Pastor, kondisi jalan di daerah kami. Katanya sudah merdeka sekian puluh tahun, tetapi jalan masih rusak. Parahnya lagi istrik pun belum masuk ke kampung kami. Pokoknya susahlah hidup di daerah seperti ini, Pastor”. Begitulah “tukang ojekku” menumpahkan keluh kesahnya. Aku sendiri hanya mengamininya sambil menata nafasku yang terengah-engah. Maklumlah aku sudah jarang lagi berjalan kaki sejauh itu.

“Pak, aku turun di sini saja ya. Aris kan gak jauh lagi,” kataku kepadanya begitu kami tiba di sebuah tanjakan yang cukup tinggi.

“Jangan Pastor. Saya bisa antar sampai ke Aris bah”, katanya sambil membujukku.

“Gak usah, Pak. Terimakasih banyak. Sampai di sini saja,” jawabku sambil turun dari sepeda motornya. Dengan agak berat hati bapak itu pun akhrinya membolehkan aku turun dan melanjutkan perjalananku ke Aris. Sejatinya bukan karena sudah dekat, tetapi karena tanjakan itu menyisakan pengalaman traumatis buatku. Sudah 3 kali aku terjungkal dari sepeda motor gara-gara tanjakan ini. Padahal ada pepatah, keledai saja tidak mungkin jatuh dalam lobang yang sama. Makanya aku tidak mau mengulangi pengalaman “pahit” itu untuk keempat kalinya.

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya menara kapel Aris pun mulai kelihatan. Ada pemandangan yang agak berbeda dari turne-turne-ku sebelumnya.  Aku lihat beberapa anak berdiri terpaku di halaman gereja. Sepertinya mereka sedang menantikan kedatanganku. Begitu melihatku, ada yang langsung berteriak, “Pastor udah atangk!” Mendengar teriakan itu tak ayal lagi anak-anak yang ada di dalam kapel pun segera menghambur keluar. Tergambar sukacita pada wajah-wajah mereka.

“Untunglah Pastor bisa datang. Kami sudah cemas menunggu dari tadi. Takut pastor gak datang lagi bah,” kata pengurus umat Stasi Aris sambil mempersilakan aku singgah dulu ke rumahnya. Mendengar itu aku hanya bisa tersenyum malu. 

Perayaan ekaristi di Aris ditunda beberapa menit karena keterlambatanku. Tetapi umat bisa memahaminya. Perayaan Ekaristi kali ini terasa sangat istimewa. Umat merancangnya habis-habisan. Karena memakai tari-tarian yang harus diiringi dengan musik, mereka berusaha menyambung listrik kepada umat yang memiliki genset.  Anak-anak yang didapuk untuk menari sudah berhias sejak pagi hari. Belum lagi dengan calon baptisan baru. Mereka sudah siap menyambut anugerah yang sangat istimewa: Sakramen Baptis dan Tubuh Kristus yang untuk pertama kalinya akan mereka sambut. Kesiapan mereka paling tidak terlihat dari pakaian putih yang dikenakannya. Pengurus Stasi Aris sendiri pun sudah merancang pesta nasi bungkus sebagai kelanjutan dari pesta natal. Sengaja mereka menunggu jadwal perayaan ekaristi di stasi demi terselenggaranya makan bersama seluruh umat bersama sang gembalanya. Begitulah mereka mencoba memaknai pesta natal dengan berbagi nasi bungkus. Menunya sangat sederhana, tetapi tersimpan makna istimewa di dalamnya. Ada rasa haru menyelinap di hatiku. Bersyukur aku bisa tiba di Aris untuk merayakan ekaristi bersama mereka. Andaikata aku egois, hanya mementingkan diri sendiri dan memutar haluan untuk pulang ke rumah hanya karena jalan becek dan berlumpur, ceritanya pasti lain. Betapa kecewanya umat di Stasi Aris karena para penari tidak bisa mempersembahkan tarian mereka untuk kanak-kanak Yesus, para baptisan baru terpaksa belum bisa menerima karunia baptisan dan Tubuh Kristus. Belum lagi pesta nasi bungkus akan terasa hambar karena tidak didahului oleh ekaristi yang merupakan pesta sesungguhnya. Terimakasih Tuhan, atas peristiwa yang terjadi di hari kelahiran-Mu. Medan yang cukup sulit untuk dijangkau, telah menghadirkan pesan natal yang sungguh bermakna untukku. (Gathot)
































































13 Mei 2017

PERAYAAN 100 TAHUN PENAMPAKAN BUNDA MARIA DI FATIMA PORTUGAL

PERAYAAN 100 TAHUN PENAMPAKAN BUNDA MARIA DI FATIMA PORTUGAL


Hari ini, 13 Mei 2017, Gereja Katolik memperingati 100 tahun penampakan Bunda Maria kepada 3 gembala cilik di Fatima, Portugal. Dalam penampakannya di tahun 1917, Bunda Maria menyampaikan banyak sekali pesan dari Tuhan sambil mengajak kita semua untuk bertobat dan berbuat silih bagi dunia.
"Setiap orang, mulai dari dirinya sendiri, harus berdoa rosario dengan lebih khidmat .....
dan benar-benar mempraktekkan yang kuanjurkan yaitu devosi Sabtu Pertama setiap bulan."
Pesan Bunda Maria kepada Lucia di Fatima 1 Mei 1917
Fatima adalah sebuah kota kecil sebelah utara kota Lisbon di Portugal. Pada tahun 1917 Bunda Maria menampakkan diri di Fatima kepada tiga orang anak gembala. Mereka adalah Lucia dos Santos berumur 10 tahun, sepupunya bernama Fransisco Marto berumur 9 tahun dan Jacinta Marto berumur 7 tahun.
Penampakan Maria didahului tiga penampakan Malaikat setahun sebelumnya yang mempersiapkan anak-anak ini untuk penampakan Bunda Maria. Malaikat mengajarkan kepada anak-anak, dua doa penyilihan yang harus didoakan dengan hormat yang besar. Pada penampakan terakhir di musim gugur 1916, Malaikat memegang sebuah piala. Ke dalam piala ini meneteslah darah dari sebuah Hosti yang tergantung di atasnya. Malaikat memberi ketiga anak itu Hosti sebagai Komuni Pertama mereka dari piala itu. Anak-anak tidak menceritakan penampakan ini kepada orang lain. Mereka melewatkan waktu yang lama dalam doa dan keheningan.
13 Mei 1917 Pesta Bunda Maria dari Sakramen Mahakudus. Ketiga anak itu sedang menggembalakan ternaknya di Cova da Iria, sebuah padang alam yang amat luas, kira-kira satu mil dari desa mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah kilatan cahaya dan setelah kilatan yang kedua, muncul seorang perempuan yang amat cantik. Pakaiannya putih berkilauan. Perempuan yang bersinar bagaikan matahari itu berdiri di atas sebuah pohon oak kecil dan menyapa anak-anak:
"Janganlah takut, aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku datang dari surga. Allah mengutus aku kepada kalian. Bersediakah kalian membawa setiap korban dan derita yang akan dikirim Allah kepada kalian sebagai silih atas banyak dosa -sebab besarlah penghinaan terhadap yang Mahakuasa- bagi pertobatan orang berdosa dan bagi pemulihan atas hujatan serta segala penghinaan lain yang dilontarkan kepada Hati Maria yang Tak Bernoda?"
"Ya, kami mau," jawab Lucia mewakili ketiganya. Dalam setiap penampakan, hanya Lucia saja yang berbicara kepada Bunda Maria. Jacinta dapat melihat dan mendengarnya, tetapi Fransisco hanya dapat melihatnya saja.
Perempuan itu juga meminta anak-anak untuk datang ke Cova setiap tanggal 13 selama 6 bulan berturut-turut dan berdoa rosario setiap hari.
13 Juni 1917 ketiga anak itu pergi ke Cova. Pada kesempatan itu Bunda Maria mengatakan bahwa ia akan segera membawa Jacinta dan Fransisco ke surga. Sedangkan Lucia diminta tetap tinggal untuk memulai devosi kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Ketika mengucapkan kata-kata ini, muncullah dari kedua tangan Maria sebuah cahaya. Di telapak tangan kanannya nampak sebuah hati yang dilingkari duri, Hati Maria Yang Tak Bernoda yang terhina oleh dosa manusia.
"Yesus ingin agar dunia memberikan penghormatan kepada Hatiku yang Tak Bernoda. Siapa yang mempraktekkannya, kujanjikan keselamatan. Jiwa-jiwa ini lebih disukai Tuhan, dan sebagai bunga-bunga akan kubawa ke hadapan takhta-Nya."
"Janganlah padam keberanianmu. Aku tidak akan membiarkan kalian. Hatiku yang Tak Bernoda ini akan menjadi perlindungan dalam perjalananmu menuju Tuhan."
13 Juli 1917 "Berkurbanlah untuk orang berdosa. Tetapi teristimewa bila kalian membawa suatu persembahan, ucapkanlah seringkali doa ini: Ya Yesus, aku mempersembahkannya karena cintaku kepada-Mu dan bagi pertobatan orang-orang berdosa serta bagi pemulihan atas segala penghinaan yang diderita Hati Maria yang Tak Bernoda."
Kemudian Bunda Maria memperlihatkan neraka yang sangat mengerikan. Begitu ngeri sampai anak-anak itu gemetar ketakutan.
"Bila kelak, pada suatu malam kalian melihat suatu terang yang tak dikenal, ketahuilah bahwa itu adalah 'Tanda' dari Tuhan untuk menghukum dunia, karena banyaklah kejahatan yang telah kalian lakukan. Akan terjadi peperangan, kelaparan dan penganiayaan terhadap Gereja dan Bapa Suci."
"Untuk menghindari hal itu, aku mohon, persembahkanlah negara Rusia kepada Hatiku yang Tak Bernoda serta komuni pemulihan pada Sabtu pertama setiap bulan."
"Bila kalian berdoa Rosario, ucapkanlah pada akhir setiap peristiwa: Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka dan hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu. Amin."
13 Agustus 1917 anak-anak tidak bisa datang ke Cova karena mereka semua digiring ke pengadilan oleh penguasa daerah setempat. Mereka diancam akan dimasukkan ke dalam minyak panas. Anak-anak dijebloskan ke dalam penjara selama 2 hari. Pada tanggal 19 Agustus Bunda Maria menampakkan diri pada saat anak-anak sedang menggembalakan ternak mereka di Valinhos.
"Berdoalah, berdoalah dan bawalah banyak korban bagi orang berdosa. Sebab betapa banyak yang masuk api neraka karena tidak ada yang berdoa dan berkorban bagi mereka."
13 September 1917 Bunda Maria mendesak lagi tentang betapa pentingnya doa dan kurban. Ia juga berjanji akan datang bersama St. Yusuf dan Kanak-kanak Yesus pada bulan Oktober nanti.
"Dalam bulan Oktober aku akan membuat suatu tanda heran, agar semua orang percaya."
13 Oktober 1917 Bersama anak-anak, sekitar 70.000 orang datang ke Cova untuk menyaksikan mukjizat yang dijanjikan Bunda Maria. Pagi itu hujan deras turun seperti dicurahkan dari langit. Ladang-ladang tergenang air dan semua orang basah kuyub. Menjelang siang, Lucia berteriak agar orang banyak menutup payung-payung mereka karena Bunda Maria datang.
Lucia mengulangi pertanyaannya pada penampakan terakhir ini, "Siapakah engkau dan apakah yang kau kehendaki daripadaku?" Bunda Maria menjawab bahwa dialah Ratu Rosario dan ia ingin agar di tempat tersebut didirikan sebuah kapel untuk menghormatinya. Ia berpesan lagi untuk keenam kalinya bahwa orang harus mulai berdoa Rosario setiap hari.
"Manusia harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas dosa-dosanya."
Kemudian dengan wajah yang amat sedih Bunda Maria berbicara dengan suara yang mengiba:
"MEREKA TIDAK BOLEH LAGI MENGHINA TUHAN YANG SUDAH BEGITU BANYAK KALI DIHINAKAN."
Bunda Maria kemudian pergi ke pohon oak sebagai tanda penampakan berakhir. Awan hitam yang tadinya bagaikan gorden hitam menyingkir ke samping memberi jalan matahari untuk bersinar. Kemudian matahari mulai berputar, gemerlapan berwarna-warni, berhenti sejenak dan mulai berputar-putar menuju bumi. Orang banyak jatuh berlutut dan memohon ampun. Sementara fenomena matahari terjadi, ketiga anak melihat suatu tablo Keluarga Kudus di langit. Di sebelah kanan tampak Ratu Rosario. Di sebelah kirinya St. Yosef menggandeng tangan Kanak-kanak Yesus dan membuat tanda salib tiga kali bagi umatnya. Menyusul visiun yang hanya tampak oleh Lucia seorang diri: Bunda Dukacita bersama Tuhan berdiri di sampingnya dan Bunda Maria dari Gunung Karmel dengan Kanak-kanak Yesus di pangkuannya. Matahari meluncur seolah-olah akan menimpa orang banyak, tiba-tiba ia berhenti dan naik kembali ke tempatnya semula di langit. 70,000 orang yang berkerumun di Cova itu menyadari bahwa pakaian mereka yang tadinya basah kuyub oleh hujan lebat, tiba-tiba menjadi kering. Demikian pula tanah yang tadinya becek dan berlumpur akibat hujan tiba-tiba menjadi kering. Mukjizat matahari selama 15 menit itu disaksikan bukan hanya oleh orang-orang di Cova da Iria saja, tetapi juga oleh banyak orang di sekitar wilayah itu sampai sejauh 30 mil.

TAHUKAH ANDA? INI DIA 5 DOA FATIMA YANG HARUS ANDA KETAHUI!
Salah satu warisan terbesarnya adalah 5 Doa Fatima yang diberikan selama penampakan berlangsung. Mau tahu apa saja? Yuk kita simak!
1. DOA FATIMA / YA YESUS
"Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka dan hantarkanlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu. Amin."
Doa ini diberikan Bunda Maria sendiri kepada para gembala cilik. Dalam pesannya, Bunda Maria meminta mereka mendoakan doa ini setiap selesai mendaraskan 10x doa Salam Maria dan Kemuliaan.
2. DOA MOHON PENGAMPUNAN
"Ya Allahku, aku percaya, aku menyembah, aku berharap, dan aku mengasihi-Mu! Aku mohonkan ampun bagi mereka yang tidak percaya, tidak menyembah, tidak menyerahkan diri, dan tidak mengasihi-Mu."
Doa ini diberikan Malaikat kepada para gembala cilik di tahun 1916, tepat setahun sebelum Bunda Maria menampakkan diri.
3. DOA MALAIKAT
"Oh Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putra, Roh Kudus, aku menyembah-Mu dengan khusyuk dan mempersembahkan kepada-Mu Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian Yesus Kristus, yang sungguh hadir di semua tabernakel di muka bumi, demi penebusan atas semua kekejaman, pencemaran, dan sikap masa bodoh yang melukai Diri-Nya. Melalui jasa-jasa tak terhingga dari Hati-Nya Yang Maha Kudus dan Hati Ibu Maria Yang Tak Berdosa, aku memohonkan pertobatan bagi semua orang berdosa yang malang."
Doa ini juga diberikan malaikat kepada para gembala cilik. Pada penampakan terakhir di musim gugur 1916, Malaikat memegang sebuah piala. Ke dalam piala ini meneteslah Darah dari sebuah Hosti yang tergantung di atasnya. Malaikat memberi ketiga anak itu Hosti sebagai Komuni Pertama mereka dari piala itu.
4. DOA EKARISTI
"Tritunggal Maha Kudus, aku menyembah-Mu! Ya Tuhanku, ya Tuhanku, aku mengasihi-Mu dalam Sakramen Maha Kudus."
Ketika Bunda Maria menampakkan diri kepada mereka untuk pertama kalinya pada 13 Mei 1917, ia berkata, "Kalian akan mengalami banyak sekali penderitaan, tapi hanya dalam rahmat Tuhanlah kalian akan menemukan ketenangan". Berdasar kesaksian Lucia, salah seorang dari gembala cilik, sebuah cahaya yang amat terang datang dan menyinari mereka semua, dan tanpa berpikir panjang, mereka langsung mendaraskan doa ini.
5. DOA SILIH / PENGORBANAN DIRI
"Ya Yesus, aku mempersembahkan semua ini demi cintaku kepada-Mu dan bagi pertobatan orang-orang berdosa serta bagi pemulihan atas segala penghinaan yang diderita Hati Maria yang Tak Bernoda."
Bunda Maria memberikan doa ini kepada para gembala cilik pada tanggal 13 Juli 1917, bersamaan dengan Doa Fatima/Ya Yesus. Doa ini didaraskan ketika kita mau mempersembahkan seluruh penderitaan kita kepada Tuhan.
Mari kita semarakkan perayaan agung ini dengan berdoa bersama Bunda Maria demi perdamaian dunia dan pertobatan jiwa-jiwa malang!

Sumber:
http://www.catholicnewsagency.com
http://yesaya.indocell.net

13 Jan 2017

BIARAWATI KATOLIK

BIARAWATI KATOLIK


Menjadi seorang Biarawati Katolik atau di Indonesia dikenal dengan sebutan SUSTER (Belanda: Zuster, saudara perempuan. Inggris: Sister, saudari) adalah sebuah panggilan ilahi. Tak seorangpun tahu secara pasti sejak awal bahwa ia benar-benar dipanggil Tuhan. Itu sebabnya proses persiapan dan pembinaan memakan waktu yang tidak singkat. Ada tahap-tahap pembinaan dan evaluasi berkelanjutan yang harus dilalui hingga secara definitif diakui sebagai seorang Biarawati Katolik atau Suster.
Sebelum membahas tahap-tahap menjadi seorang Biarawati Katolik, terlebih dahulu saya menjelaskan secara ringkas mengenai Biarawati Katolik.
Biarawati dalam agama Katolik adalah perempuan yang tergabung dalam suatu tarekat atau ordo religius dan yang mengucapkan Tiga Kaul (janji): Kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Setiap tarekat atau ordo memiliki konstitusi atau regula (semacam UUD). Segala sesuatu mengenai hidup sebagai Biarawati sudah diatur dalam konstitusi atau regula tersebut. Para suster biasanya berkarya di bidang pendidikan (formal dan nonformal), kesehatan, dan pelayanan sosial di lingkungan gereja atau masyarakat umum. Ada juga beberapa tarekat religius biarawati yang khusus berkarya dalam pelayanan religius melalui doa (dalam gereja Katolik dikenal dengan istilah suster kontemplatif).
Nah, untuk menjadi biarawati Katolik, ada beberapa tahap pembinaan (formation) yang harus dilalui. Mengenai lamanya tahap-tahap pembinaan biasanya sudah diatur dalam konstitusi atau regula masing-masing tarekat atau Ordo. Tetapi secara umum kurang lebih seperti berikut.

1. MASA ASPIRAN

Masa aspiran adalah tahap pertama. Seorang perempuan (sehat jasmani dan rohani) yang mau menjadi Biarawati biasanya sudah lulus SMA atau kuliah. Para calon yang masuk dalam tahap ini disebut ASPIRAN (Orang yang ingin). Para Aspiran belum terikat dengan tarekat atau ordo. Masa Aspiran merupakan masa dimana para aspiran masuk dalam tahap paling dini dan mulai diperkenalkan dengan kehidupan membiara; mengenai ritme dan acara harian dalam Hidup membiara, diajak untuk mengenal diri atau kepribadian, belajar doa Harian (Brevir), belajar “Kerja Tangan” dan keterampilan lain, juga menjadi kesempatan bagi para Pembina (formator) untuk melihat keseriusan para Aspiran. Masa ini berkisar satu sampai dua tahun (tergantung aturan atau regula tarekat atau ordo). Di beberapa tarekat, masa ini dikenal dengan istilah ‘Come and see’.

2. MASA POSTULAT

Masa postulat adalah tahap ke dua. Para calon dipanggil dengan sebutan POSTULAN (orang yang melamar, calon). Masa ini memakan waktu satu sampai dua tahun. Masa Postulat merupakan masa peralihan dan perkenalan bagi calon agar dapat berorientasi dan mengenal kehidupan membiara. Masa Postulat dimaksudkan agar calon semakin mengenal diri dan mengolah kepribadiannya, belajar Kitab Suci dasar dan pengetahuan agama Katolik, moral, etika dan teologi dasar sederhana serta mengikuti irama doa pribadi, doa bersama, sejarah Gereja, Lembaga Hidup Bakhti dan menghayati hidup sacramental Gereja.

3. MASA NOVISIAT

Masa novisiat adalah tahap ke tiga. Para calon dipanggil dengan sebutan NOVIS (orang baru). Masa ini ditandai dengan penerimaan jubah dan ‘krudung’ biara. Masa novisiat berlangsung kurang lebih dua tahun. Pada tahap ini, seorang Novis dibimbing untuk mengolah hidup rohani, memurnikan motivasi panggilan, mengenal secara mendalam tarekat atau ordo dan Konstitusinya, mengenal khasana iman Gereja, kaul-kaul Religius dan juga praktek-praktek terpuji sebagai seorang religius dalam Gereja.

4. MASA YUNIORAT

MASA YUNIORAT adalah tahap ke 4. Pada tahap ini, seorang yang telah melewati masa novisiat dipanggil dengan sebutan SUSTER. Masa Yuniorat ditandai dengan pengikraran “Kaul sementara”: Kemiskinan, Kemurnian dan Ketaatan. Masa Yuniorat berlangsung selama 6-9 tahun (tergantung aturan konstitusi atau regula). Biasanya para SUSTER mulai kuliah ilmu-ilmu khusus secara mendalam atau mengambil khursus atau mulai berkarya dan sudah menghidupi nilai-nilai dari Kaul-kaul yang sudah diucapkan secara public.

5. KAUL KEKAL

KAUL KEKAL adalah tahap ke lima dan ongoing formation. Pada tahap ini, seorang suster secara resmi menjadi anggota tarekat atau ordo, yaitu dengan mengucapkan KAUL KEKAL PUBLIK (Kemiskinan, kemurnian dan ketaatan) dan hidup secara utuh sebagai suster. Karya dan pelayanan senantiasa dilandasi oleh Kaul Kekal yang sudah diikrarkan sebagai mempelai Kristus. Selain itu, para suster juga mengikuti ongoing formation (Pembinaan lanjutan) hingga akhir hayat.
Dengan demikian, menjadi seorang Kiarawati Katolik seorang harus melewati tahap demi tahap. Melalui tahap-tahap tersebut, seorang selain mengolah diri, ia dibantu untuk menemukan panggilannya apakah menjadi Suster secara definitif atau tidak. Semua tahap ini dimaksudkan agar seorang secara yakin menyadari bahwa Panggilan itu memang berasal dari Tuhan.
Harus diakui, dalam melewati tahap-tahap, seseorang bisa saja memutuskan untuk keluar. Orang katolik lalu mengenal istilah mantan aspiran, mantan postulan, mantan novis, mantan suster/biarawati. (Sama seperti seorang frater yang keluar disebut mantan frater, bukan mantan pastor, karena dia belum sampai pada tahap menjadi pastor). Jadi kalau ada mantan aspiran atau mantan postulan mengaku sebagai mantan suster atau biarawati, maka sebenarnya ia adalah biarawati palsu.

Sumber: Rm. Joseph Pati Mudaj, MSF


3 Okt 2017

KATAKESE BULAN OKTOBER: BULAN ROSARIO

KATAKESE BULAN OKTOBER: BULAN ROSARIO


"Berdoalah Rosario setiap hari... Berdoa, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa... Akulah Ratu Rosario... Pada akhirnya Hatiku yang Tak Bernoda akan menang."
-Pesan Bunda Maria dalam penampakan kepada anak-anak di Fatima-

“Sebagai doa damai, rosario selalu dan akan selalu menjadi doa keluarga dan doa untuk keluarga. Ada saatnya dulu, bahwa doa ini menjadi doa kesayangan keluarga, dan doa ini yang membawa setiap anggota keluarga menjadi dekat satu sama lain…. Kita perlu kembali kepada kebiasaan doa keluarga bersama berdoa untuk keluarga-keluarga…. Keluarga yang berdoa bersama, akan tetap tinggal bersama. … Para anggota keluarga, dengan mengarahkan pandangan pada Yesus juga akan mempu memandang satu sama lain dengan mata kasih, siap untuk berbagi, untuk saling mendukung, saling mengampuni dan melihat perjanjian kasih mereka diperbaharui oleh Roh Allah sendiri.” (Rosarium Virginis Mariae, 41, Paus Yohanes Paulus II)

BAGIAN VIII: KESAYANGAN DALAM HIDUPKU

BAB 35: ROSARIO

"Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia."(Luk 1:48)

Setiap kali kita berdoa rosario, kita sesungguhnya menggenapi nubuat Bunda Maria tersebut sekurang-kurangnya lima puluh kali. Kita menyebut Santa Perawan Maria "berbahagia," dengan menggunakan kata-kata yang tercatat di dalam Kitab Suci yang mendapatkan ilham ilahi. Kita menyapa Bunda Maria dengan salam malaikat Gabriel, "Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu." (Luk 1:28). Kita memaklumkan karunia-karunia istimewanya dengan menggunakan kata-kata Elizabeth, saudaranya, "Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu!" (Luk 1:42). Saat kita mendaraskan kata-kata tersebut sangat menyenangkan, karena kata-kata itu kaya akan makna, dan diperkaya oleh cakrawala biblis yang merupakan fokus permenungan kita.

Rosario adalah cara doa meditatif yang sudah teruji oleh zaman. Selama berabad-abad para Paus menganjurkannya, dan para Kudus mendoakannya setiap hari. Doa rosario dicintai oleh para pekerja, anak-anak, dan oleh orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya, dan orang-orang yang genius dalam ilmu pengetahuan. Rosario adalah doa kesayangan ahli biologi termasyur Louis Pasteur.

Dengan berdoa rosario, kita mengulangi sejumlah doa sambil merenungkan peristiwa-peristiwa (misteri-misteri) tertentu dalam kehidupan Yesus dan Maria, dan kita menghitung pengulangan doa kita dengan menggunakan biji-biji yang dirangkai dalam kelompok-kelompok yang masing-masing berjumlah sepuluh biji. Tetapi sama seperti banyak devosi yang lain, rosario adalah suatu bentuk devosi yang memungkinkan adanya variasi. Rosario "Tujuh Kedukaan" misalnya memiliki tujuh kelompok biji-bijian yang masing-masing terdiri atas tujuh biji. Sejumlah orang mengakhiri doa rosario dengan suatu nyanyian bertemakan Maria; sementara orang yang lain mengakhiri rosario dengan mendaraskan Litani Santa Perawan Maria, dan sejumlah orang lain mengakhiri dengan serangkaian doa bagi Bapa Suci. Sejumlah orang bahkan mendaraskan semua devosi Maria. Ada juga variasi etnik terkait doa rosario. Misalnya orang-orang Jerman yang saleh memiliki kebiasaan menyisipkan misteri tertentu dalam setiap doa Salam Maria. Misalnya, saat merenungkan "Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel," mereka berdoa, "terpujilah buah tubuhmu, Yesus...Sabda yang menjelma menjadi manusia." Saat merenungkan "Yesus wafat di salib" mereka biasa berdoa, "terpujilah buah tubuhmu, Yesus....yang mati demi dosa-dosa kita."

Secara resmi, Gereja Katolik mengakui dua puluh peristiwa-peristiwa yang sesuai untuk direnungkan dalam doa rosario. Hendaklah kita mencari dan menemukan semua peristiwa-peristiwa itu dalam Kitab Suci supaya dapat merenungkan dengan lebih banyak manfaat :

Peristiwa Gembira

Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38) Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya (Luk 1:39-45) Yesus dilahirkan di Bethlehem (Luk 2:1-7) Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah (Luk 2:22-40) Yesus diketemukan dalam Bait Allah (Luk 2:41-52)

Peristiwa Terang

Yesus dibaptis di Sungai Yordan (Mat 3: 13-17) Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-12)Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (Mat 3:2, 4:17-23, Mrk 1:15)Yesus menampakkan kemuliaan-Nya (Mat 17:1-9) Yesus menetapkan ekaristi (Mrk 14:22-23, Luk 22:19-29)

Peristiwa Sedih

Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut (Luk 22:39-46)Yesus didera (Yoh 19:1) Yesus dimahkotai duri (Yoh 19:2-3) Yesus memanggul salib-Nya ke gunung Kalvari (Luk 23:26-32) Yesus wafat di salib (Luk 23:44-49)

Peristiwa Mulia

Yesus bangkit dari antara orang mati (Luk 24:1-12) Yesus naik ke surga (Luk 24:50-53) Roh Kudus turun atas Para Rasul (Kis 2:1-13) Maria diangkat ke surga (1Kor 15:23; DS 3903) Maria dimahkotai di surga (Why 12:1; DS 3913-3917)

Paus Yohanes Paulus II menganjurkan agar setiap rangkaian peristiwa didaraskan pada hari-hari tertentu dalam tiap pekannya: Peristiwa-persitiwa Gembira: Pada hari Senin dan Sabtu; pada masa Adven dan Natal. Peristiwa-peristiwa Sedih: Pada hari Selasa dan Jumat; pada masa Puasa. Persitiwa-peristiwa Mulia: Pada hari Rabu, Sabtu dan Minggu; pada masa Paskah. Peristiwa-peristiwa Terang: Pada hari Kamis.

Ada juga serangkaian peristiwa yang direnungkan secara tidak resmi yang merupakan hasil dari permenungan berkala tentang kesalehan biblis dan Marianis. Selama bertahun-tahun saya (Scott Hahn, author buku ini-red) telah menyaksikan banyak contoh misalnya: peristiwa Ekaristi, peristiwa penyembuhan dan peristiwa Gereja. Tidak pernah saya menemukan peristiwa yang tidak saya sukai meskipun untuk doa pribadi, saya cenderung menggunakan dua puluh peristiwa-peristiwa dasariah biblis.

Rosario bekerja pada tahap insani sebab doa ini melibatkan seluruh pribadi kita. Rosario melibatkan kata-kata dan pendengaran kita. Rosario menyibukkan pikiran dan merangsang emosi kita. Rosario memberikan pekerjaan kepada ujung jari-jari kita, suatu bagian tubuh kita yang memiliki indera perasa yang sangat peka. Apabila kita mendoakan rosario di depan patung kudus, kita juga memperkuat doa kita dengan indera badani, penglihatan. Inilah cara Tuhan Yesus meneguhkan iman para murid-Nya, "Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaKu." (Luk 24:39) Tidak cukup bagi kita untuk hanya mendengarkan Dia, juga tidak cukup hanya membaca Sabda-Nya. Kita ingin Dia memenuhi seluruh indera kita dalam doa rosario.

Dan Tuhan melaksanakan dan memenuhi hal tersebut. Terima kasih atas cinta ibunda-Nya. Dalam Kitab Suci, Maria adalah pertama-tama merupakan murid Kristus. Ketika orang-orang bukan Yahudi (Tiga Raja dari Timur) datang dari jauh untuk mencari Yesus yang baru lahir, mereka menemukan, "Seorang bayi bersama Maria, ibu-Nya." (Mat 2:11). Ketika melihat orang lain mengalami kekurangan, Maria memohon kepada Yesus untuk mereka yang kekurangan (Yoh 2:3). Ketika Yesus wafat di salib dan ditinggalkan oleh sahabat-sahabat-Nya, Maria tetap setia menemani Yesus; dan Yesus mempercayakan dan memberikan Maria kepada " murid yang dikasihi-Nya" (yaitu anda dan saya), dengan berkata, "Lihatlah ibumu." (Yoh 19:27). Demikianlah Bunda Maria membantu kita dengan menjadi pengantara yang unik yang dapat ia lakukan. Bunda Maria menolong kita sebagai Ibu Yesus, demikian yang disampaikan oleh seorang saksi mata yang menyaksikan seluruh hidup Yesus. Tetapi Maria juga memberikan pertolongan sebagai Ibu kita, ibu yang diberikan oleh Yesus kepada kita, ibu yang selalu mengasihi kita dengan kasih yang hanya diberikan oleh seorang ibu.

Bersama Bunda Maria, dalam doa rosario kita menyaksikan bersama peristiwa-peristiwa keselamatan kita sebagaimana dinyatakan oleh peristiwa-persitiwa tersebut. Kita membenamkan diri dalam doa rosario dalam suatu pengalaman multiinderawi. Apakah orang akan menjadi jenuh apabila berdoa rosario dan harus berusaha keras untuk menguasai berbagai bagian doa rosario sekaligus: mengucapkan doa, mendasarkan biji rosario, dan merenungkan peristiwa-peristiwa Injl dengan sangat khidmat yang merupakan peristiwa historis yang nyata?

Tidak! Rosario akan bekerja paling baik justru kalau kita berhenti bekerja, kalau kita berhenti memikirkan banyak tugas dan merebahkan diri kita ke dalam pangkuan Bunda Maria, ibu kita seperti yang dilakukan oleh anak-anak ketika mereka bersama-sama dengan ibunya. Cara yang terbaik untuk menjadi santai saat mendaraskan rosario ialah justru dengan mendoakan rosario itu sendiri. Beberapa tahun sebelum terpilih menjadi Paus Benediktus XVI, Kardinal Joseph Ratzinger berkata kepada orang yang mewawancarainya, "pengulangan adalah cara untuk menghanyutkan diri ke dalam irama ketenangan. Yang paling penting bukanlah memusatkan perhatian secara sadar pada makna masing-masing kata, melainkan membiarkan diri hanyut dalam ketenangan pengulangan dan irama yang teratur. Semakin kita mampu berbuat demikian akan semakin baik, sebab teks doa tersebut tidak akan kehilangan maknanya. Rosario membangkitkan gambaran-gambaran dan penglihatan-penglihatan yang agung dan terutama menampilkan figur Bunda Maria dan kemudian lewat Maria menampilkan figur Yesus di hadapan mataku dan jiwaku."

Tidak ada doa yang sia-sia sehubungan dengan pengulangan seperti itu. Berdoa rosario ini sungguh menyenangkan Tuhan yang berkata kepada murid-muridNya, " Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." (Mat 6:7). Sebaliknya orang-orang Kristiani tidak akan pernah lelah mengulangi doa-doa yang terangkai dalam rosario, yang kalimat di dalamnya merupakan kalimat penggenapan nubuat Bunda Maria.

Tempat yang paling baik untuk berdoa rosario adalah keluarga. Saat Pastor Patrick Peyton berkata, "Keluarga yang berdoa bersama akan tetap bersatu." Sesungguhnya ia sedang berbicara tentang doa rosario. Paus Yohanes Paulus II adalah orang yang tidak kenal lelah menganjurkan doa rosario dalam keluarga. Ia bahkan memberikan gelar "Ratu Keluarga" kepada Santa Perawan Maria, gelar yang ia tambahkan pada akhir Litani Santa Perawan Maria. Semua prakarsa itu tentunya menyenangkan hati Ratu kita. Sesudah Bunda Teresa dari Kalkuta mengalami penglihatan yang mengerikan tentang Kalvari, ia mendengarkan Bunda Maria meneguhkan dia, "Jangan takut. Ajarlah mereka untuk berdoa rosario, rosario keluarga, dan semuanya akan baik."

Memang, rosario keluarga adalah suatu rahmat yang teruji oleh jaman. Tetapi pengalaman rosario adalah suatu hal yang sangat pribadi. Kemampuan umat untuk berdoa tertentu sangat berbeda, sebagaimana kita saling berbeda dalam hal-hal lain. Hal ini berlaku juga untuk para Paus. Paus Yohanes Paulus II dikenal sebagai Paus yang mendaraskan doa rosario setiap hari. Paus Benediktus XVI mengakui bahwa kadang-kadang intensitas renungan atau meditasi selama tiga puluh Salam Maria sangat melelahkan, dan ia harus menghentikan devosi ini.

Tetapi setiap orang akan bisa mengalami doa rosario dengan kondisi seperti itu. Sejumlah dari kita memiliki waktu yang sungguh-sungguh cukup untuk tetap memusatkan perhatian bahkan dengan semua indera kita.

Tetapi kiranya merupakan dosa kesombongan jika meninggalkan doa yang sedemikian sederhana ini karena alasan kita tidak mendoakannya dengan baik. Ketika anak-anak saya masih sangat kecil, mereka sering menghadiahkan kepada saya suatu karya seni yang sesungguhnya tidak lebih daripada coretan-coretan seperti cakar ayam. Tetapi bagi saya, semua itu adalah "karya unggul", dan lebih dari itu: semua itu adalah sakramen kasih. Hidup saya kiranya akan menjadi miskin kalau semua anak saya meninggalkan kebiasaan memberikan hadiah tersebut. Karena pada usia 4 tahun, mereka tidak mampu melukiskan Monalisa.

Bagi Allah dan bagi Santa Perawan Maria, semua usaha kita untuk berdoa sangatlah berharga. Jika kita bertekun dalam doa rosario, kita menjadi "seperti anak-anak kecil" (Mat 18:3), anak-anak Bunda Maria dan juga anak-anak Bapa kita di surga.

Paus Yohanes XXIII, seorang putera Maria yang mirip anak kecil, memberikan nasihat yang baik bagi mereka yang frustasi karena hilangnya konsentrasi mereka saat berdoa dan mendaraskan rosario. Orang seperti itu menyerah, dengan alasan bahwa mereka lebih baik tidak berdoa rosario daripada berdoa dengan tidak baik. Paus Yohanes XXIII menasihati mereka dengan berkata bahwa, "tidak ada rosario yang buruk selain rosario yang tidak didoakan."

"Per Mariam ad Jesum"

Sumber: Scott Hahn: Signs of Life: 40 Kebiasaan Katolik dan Akar Biblisnya, Penerbit Percetakan Dioma, Malang.

Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.
Doakanlah kami anak-anakmu.
Amin.

26 Nov 2016

Pengalaman Pertama Donor Darah yang Menegangkan

Pengalaman Pertama Donor Darah yang Menegangkan


Hallo pembaca Buletin Likes yang budiman. Anda jika mendengar donor darah, mungkin pernah bertanya “Seperti apa sih rasanya donor darah?”, “Sakit ga sih?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seringkali muncul di benak orang-orang yang belum pernah melakukan donor darah. Wajar saja, karena hampir semua hal yang berhubungan dengan darah memiliki kaitan erat dengan rasa sakit. Apalagi jika darah kita yang keluar dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut saya akan berbagi cerita tentang pengalaman pertama saya melakukan donor darah.

Sebelum masuk lebih lanjut  lagi, kita perlu mengetahui apa sih itu donor darah dan apa tujuannya. Donor darah adalah proses pengambilan darah untuk disimpan di dalam bank darah sebagai stock darah bagi orang-orang yang membutuhkan transfusi darah. Hal ini sangat penting sekali mengingat ketersediaan darah untuk transfusi akan sangat membantu untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang membutuhkannya.

Pada tanggal 28 Agustus 2016, Gereja Paroki Santo Fransiskus Assisi mengadakan aksi donor darah yang diadakan di pelataran Gua Maria. Acara ini diselenggarakan oleh Orang Muda Katolik yang bekerjasama dengan PMI Kota Singkawang. Banyak sekali umat yang mendaftarkan diri untuk mengikuti aksi donor darah tersebut. Saya sendiri pada saat itu bertugas sebagai panitia yang mengurus pengisian formulir untuk para pendonor. Pada saat itu saya sama sekali tidak berpikiran untuk mendonorkan darah saya karena di dalam kepala saya sudah banyak sekali ketakutan-ketakutan yang ditimbulkan oleh berbagai macam pertanyaan seperti di awal bacaan tadi. Belum lagi saya pernah mendengar isu yang belum tentu jelas kebenarannya bahwa ada pendonor yang darahnya tidak bisa berhenti mengalir setelah melakukan aksi donor dan ada juga pendonor yang luka bekas jarum donornya memancurkan darah ketika mengangkat benda berat setelah melakukan aksi donor darah. Pokoknya saya tidak mau melakukan donor darah.

Tetapi Tuhan berkata lain, mungkin karena tahu kalau saya takut untuk mendonorkan darah, diam-diam seorang teman saya yang pada saat itu juga menjadi panitia (Paulina Puspitasari) mengambil sebuah formulir pendaftaran donor darah dan mengisinya dengan data saya. Setelah data tersebut terisi penuh dengan santainya ia memberikan formulir tersebut untuk saya bubuhi tanda tangan. Sontak melihat hal tersebut saya menolak untuk melakukannya. Perdebatan pun terjadi. Saya tetap kukuh menolak untuk menandatangani formulir tersebut. Di sisi lain teman saya dengan gigih berusaha meyakinkan saya bahwa donor darah tidak seseram yang saya bayangkan. Entah ia ingin mengerjai saya dengan menyodorkan rasa takut akan donor darah di depan wajah saya atau ia memang ingin meyakinkan saya.

Sejenak saya terdiam dan bertanya dalam hati. “Jika donor darah menyeramkan, mengapa banyak umat yang mendaftar? Jika donor darah berbahaya, mengapa gereja memfasilitasinya dan  mengapa orang-orang kesehatan sangat menganjurkan untuk melakukan donor darah?” Akhirnya dengan berat hati saya pun membubuhkan tanda tangan saya di atas formulir tersebut. Toh hidup hanya sekali, apa salahnya saya mencoba hal yang  cukup menantang seperti ini celetuk saya di dalam hati bertujuan untuk menguatkan mental. 

Tidak lama setelah mengumpulkan formulir, saya pun dipanggil tim dokter untuk melakukan check up. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah saya layak atau tidak untuk melaukan donor darah dari segi kesehatan dan kekuatan fisik. Tensi dan tekanan darah saya pun diukur oleh para dokter tersebut dan TERNYATA saya layak untuk melakukan donor darah. Sebuah jawaban yang bertentangan dengan hati kecil saya yang sebenarnya mengharapkan hasil sebaliknya. Namun semuanya sudah terlambat dan saya harus melanjutkan ke proses berikutnya yaitu masuk ke dalam ruang donor darah.

Ketika saya memasuki ruangan donor darah, saya melihat sebuah tumpukan yang mirip dengan kantong infus yang berisikan darah para pendonor sebelum saya. Sebelum berbaring di tempat tidur saya sempat bertanya kepada seorang perawat. “Kak bagaimana jika ternyata darah di dalam kantong darah ini milik seseorang yang memiliki penyakit berbahaya yang bisa ditularkan melalui transfusi darah?” Saya menanyakan hal tersebut karena sebelumnya tidak ada test untuk mengetahui apakah para pendonor yang akan mendonor memiliki penyakit yang bisa ditularkan melalui transfusi darah atau tidak. Perawat tersebut menjawab “Nanti setelah terkumpul, darah-darah ini akan diperiksa di lab dan jika ditemui penyakit di dalamnya, maka si pemilik darah akan dihubungi melalui kontak yang  tertulis di dalam formulir donor darah.” Saya pikir bagus juga, hitung-hitung cek kesehatan gratis.

Akhirnya saat-saat yang paling menyeramkan pun tiba. Saya harus berbaring di tempat tidur dan bersiap untuk melakukan transfusi darah. Teman saya yang dengan jahilnya menulis data saya di dalam formulir tadi juga ikut mendampingi saya pada saat itu. Seperti kata-kata orang pada umumnya ia mengatakan “Ga sakit kok, cuma seperti digigit semut.” Tapi saya tidak semudah itu percaya ketika melihat jarum yang sudah terhubung dengan kantong darah yang siap menampung darah saya mendekat. Beberapa kali saya meronta untuk mengelak dari jarum tersebut. Hingga akhirnya perawat tersebut mengatakan bahwa saya harus tenang supaya tidak terluka oleh gerakan saya sendiri. Saya akhirnya pun pasrah karena sadar bahwa tidak ada jalan untuk melarikan diri lagi dari semua ini. Ketika jarum tersebut mendekat, saya menutup mata dan bertanya “Sudah ditusuk belum?” mendengar pertanyaan saya tadi, perawat tersebut tertawa dan mengatakan bahwa jarumnya sudah menancap di tangan saya dan darah segar mulai mengalir melalui selang ke dalam kantong darah.

Tidak ada rasa sakit sama sekali. Bahkan digigit semut masih jauh lebih sakit jika dibandingkan dengan rasa ditusuk jarum donor. Mulai saat itu segala rasa takut saya terhadap donor darah hilang seketika. Saya juga merasa telah melakukan sebuah hal besar dalam hidup saya dan berencana untuk melakukan donor darah lagi di periode berikutnya. Begitulah pengalaman pertama saya melakukan donor darah. Selang beberapa lama setelah mendonor saya merasakan bahwa badan saya terasa lebih ringan, segar dan juga lebih sehat. Ayo jangan takut untuk mendonorkan darah! Setetes darahmu nyawa bagi sesama. (Gebot)