MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri istilah gereja. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri istilah gereja. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

14 Sep 2016

Berbelas Kasih Seperti Bapa

Berbelas Kasih Seperti Bapa

 

Siang itu selesai melayani sakramen perminyakan orang sakit saya langsung kembali ke pastoran. Terik matahari yang tak kenal kompromi, membuat saya mempercepat langkah supaya segera tiba di rumah. Di halaman pastoran saya melihat rekan pastor sekomunitas baru saja memarkir mobilnya. 

“Ah kebetulan”, pikir saya dalam hati. “Saya harus menyampaikan berita ini kepada beliau karena yang baru saja saya layani adalah ‘pasien’nya”.  Saya membuat istilah pasien untuk menyebut orang sakit yang setiap bulan mendapat kunjungan dari saudara saya ini dan menerima komuni suci dari tangannya.

“Selamat siang, Pater”, sapa saya begitu sampai di dekatnya.

“Hei, selamat siang juga. Pastor dari mana?” tanyanya ramah kepada saya.

“Dari rumah sakit. Tadi ada permintaan pelayanan sakramen minyak suci. Oh ya Pater, barusan saya menerimakan sakramen orang sakit  kepada ‘pasien’ yang Pater layani dalam komuni suci,” kata saya sambil memberikan informasi kepadanya.

“Oh. Siapa kira-kira ya? Tahu namanya? Sekarang dia masih bisa menyambut komuni apa tidak? Di ruang apa dan nomor berapa ya?” deretan pertanyaan yang begitu banyak langsung ditujukan kepada saya.

“Mohon maaf Pater saya gak tanya namanya.  Saya pun gak ingat di ruang apa dan nomor berapa. Tapi dia pasti bisa menyambut komuni karena tadi masih bisa diajak bicara. Saya pun lupa mengantarkan komuni suci kepadanya.”

“Oh gak papa. Terimakasih informasinya ya,” jawabnya singkat.

Saya pun menjawabnya dengan anggukan kepala. Dengan langkah cepat, saudaraku ini langsung menuju kamarnya. Tak sampai hitungan menit, dia pun sudah keluar lagi dengan membawa piksis (sibori kecil tempat hosti kudus) di tangannya. Dan dia terus melangkah. Saya tahu arah yang akan ditujunya. Pasti akan segera ke rumah sakit untuk mengunjungi ‘pasien’nya dan menerimakan komuni suci kepadanya.

“Harus secepat itukah?” pikir saya penuh rasa heran dan kaget. “Bukankah beliau baru saja kembali dari stasi yang cukup jauh? Harusnya kan istirahat dan makan siang dulu (maklumlah beliau  hanya mau makan kalau di pastoran). Lagipula menerimakan komuni suci kan bisa ditunda sampai nanti sore atau besok”. Terbersit rasa bersalah juga dalam diri saya karena waktu yang tidak tepat menyampaikan berita ini kepadanya. Tetapi saya pun hanya diam dan terpaku. Tiba-tiba rasa haru membuncah dalam hati saya melihat saudaraku yang selalu siap melayani. Bahkan pelayanannya tidak setengah-setengah. Dia melayani sampai tuntas, walaupun tanpa ada pemintaan. Dia tahu apa yang harus dilakukannya.

Dalam ketenangan dan kesendirian saya mencoba merenungkan dan memaknai apa yang telah dilakukan oleh saudaraku ini. Sikap tanggapnya dan tanpa menunda-nunda waktu mengingatkan saya akan motto Tahun Kerahiman Ilahi yang sedang  dirayakan oleh dunia, Berbelas Kasih seperti Bapa. Dengan tindakannya yang sangat sederhana saudaraku ini telah menghidupi apa yang disampaikan oleh Bapa Suci, Paus Fransiskus dalam ajaran-ajarannya. Sikapnya yang selalu mau melayani menjadi bukti bagaimana dia mengambil tindakan nyata untuk memperlihatkan wajah Allah yang berbalas kasih itu kepada sesama.

Berulang kali Paus Fransiskus selalu mengingatkan agar Gereja berani meninggalkan ‘zona aman’ untuk pergi dan menjumpai manusia, terutama mereka yang lemah dan sakit. Gereja tidak boleh berdiam diri melihat penderitaan umat manusia. Mau tidak mau, Gereja harus hadir dan terlibat secara aktif dalam setiap kegembiraan dan kesedihan umat manusia. Dan siapa Gereja itu sebenarnya? Tidak lain adalah kita semua yang berhimpun dan percaya akan Yesus Kristus.

Inspirasi dari tindakan berbelas kasih ini adalah tindakan Allah sendiri. Dia yang tidak bisa berdiam diri untuk selalu mencintai umat manusia. Dialah Allah yang tidak tahan untuk tidak mencintai manusia. Meskipun berulang kali ditolak oleh manusia,  Dia tetap mendekati dan memanggil manusia untuk datang kepada-Nya. Keterbukaan hati Allah yang selalu siap menerima disimbolkan dengan pintu suci yang juga ada di paroki kita. Dan wajah belas kasih Bapa itu menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus. Dialah penampakan wajah Allah Bapa yang tidak kelihatan. Dia datang kepada umat manusia bukan untuk menghukum dan mengadili. Tetapi untuk merangkul dan menerima manusia, terlebih mereka yang sedang menderita sakit dan disingkirkan.

Seiring dengan sikap Allah yang berbelas kasih itulah, Bapa Suci mengajak Gereja untuk memperlihatkan wajah belas kasih Allah ini sehingga sebanyak mungkin orang bisa mengalami belas kasih-Nya. Sudah bukan zamannya lagi Gereja menghakimi dan menghukum orang lain. Tetapi Gereja harus berani membuka diri, menerima setiap orang yang datang sehingga Gereja sungguh-sungguh menjadi tempat di mana belas kasih Allah ini sungguh dialami. Dan sikap itu sudah dipraktekkan oleh saudara sekomunitasku. Dengan cara yang sangat sederhana tetapi sarat makna, dia sudah memberikan teladan bagaimana menerima manusia. Tanpa diminta dia telah menghantar “Tuhan Yesus” kepada ‘pasien’nya yang sedang menderita.

Terimakasih, Saudara. Anda telah menjadi inspirasi bagi kami bagaimana mewujudnyatakan belas kasih Allah dalam pelayanan konkrit tanpa mengenal waktu. Kapanpun dan dimanapun selalu siap melayani mereka yang menderita.(Gathot)


13 Jan 2017

BIARAWATI KATOLIK

BIARAWATI KATOLIK


Menjadi seorang Biarawati Katolik atau di Indonesia dikenal dengan sebutan SUSTER (Belanda: Zuster, saudara perempuan. Inggris: Sister, saudari) adalah sebuah panggilan ilahi. Tak seorangpun tahu secara pasti sejak awal bahwa ia benar-benar dipanggil Tuhan. Itu sebabnya proses persiapan dan pembinaan memakan waktu yang tidak singkat. Ada tahap-tahap pembinaan dan evaluasi berkelanjutan yang harus dilalui hingga secara definitif diakui sebagai seorang Biarawati Katolik atau Suster.
Sebelum membahas tahap-tahap menjadi seorang Biarawati Katolik, terlebih dahulu saya menjelaskan secara ringkas mengenai Biarawati Katolik.
Biarawati dalam agama Katolik adalah perempuan yang tergabung dalam suatu tarekat atau ordo religius dan yang mengucapkan Tiga Kaul (janji): Kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Setiap tarekat atau ordo memiliki konstitusi atau regula (semacam UUD). Segala sesuatu mengenai hidup sebagai Biarawati sudah diatur dalam konstitusi atau regula tersebut. Para suster biasanya berkarya di bidang pendidikan (formal dan nonformal), kesehatan, dan pelayanan sosial di lingkungan gereja atau masyarakat umum. Ada juga beberapa tarekat religius biarawati yang khusus berkarya dalam pelayanan religius melalui doa (dalam gereja Katolik dikenal dengan istilah suster kontemplatif).
Nah, untuk menjadi biarawati Katolik, ada beberapa tahap pembinaan (formation) yang harus dilalui. Mengenai lamanya tahap-tahap pembinaan biasanya sudah diatur dalam konstitusi atau regula masing-masing tarekat atau Ordo. Tetapi secara umum kurang lebih seperti berikut.

1. MASA ASPIRAN

Masa aspiran adalah tahap pertama. Seorang perempuan (sehat jasmani dan rohani) yang mau menjadi Biarawati biasanya sudah lulus SMA atau kuliah. Para calon yang masuk dalam tahap ini disebut ASPIRAN (Orang yang ingin). Para Aspiran belum terikat dengan tarekat atau ordo. Masa Aspiran merupakan masa dimana para aspiran masuk dalam tahap paling dini dan mulai diperkenalkan dengan kehidupan membiara; mengenai ritme dan acara harian dalam Hidup membiara, diajak untuk mengenal diri atau kepribadian, belajar doa Harian (Brevir), belajar “Kerja Tangan” dan keterampilan lain, juga menjadi kesempatan bagi para Pembina (formator) untuk melihat keseriusan para Aspiran. Masa ini berkisar satu sampai dua tahun (tergantung aturan atau regula tarekat atau ordo). Di beberapa tarekat, masa ini dikenal dengan istilah ‘Come and see’.

2. MASA POSTULAT

Masa postulat adalah tahap ke dua. Para calon dipanggil dengan sebutan POSTULAN (orang yang melamar, calon). Masa ini memakan waktu satu sampai dua tahun. Masa Postulat merupakan masa peralihan dan perkenalan bagi calon agar dapat berorientasi dan mengenal kehidupan membiara. Masa Postulat dimaksudkan agar calon semakin mengenal diri dan mengolah kepribadiannya, belajar Kitab Suci dasar dan pengetahuan agama Katolik, moral, etika dan teologi dasar sederhana serta mengikuti irama doa pribadi, doa bersama, sejarah Gereja, Lembaga Hidup Bakhti dan menghayati hidup sacramental Gereja.

3. MASA NOVISIAT

Masa novisiat adalah tahap ke tiga. Para calon dipanggil dengan sebutan NOVIS (orang baru). Masa ini ditandai dengan penerimaan jubah dan ‘krudung’ biara. Masa novisiat berlangsung kurang lebih dua tahun. Pada tahap ini, seorang Novis dibimbing untuk mengolah hidup rohani, memurnikan motivasi panggilan, mengenal secara mendalam tarekat atau ordo dan Konstitusinya, mengenal khasana iman Gereja, kaul-kaul Religius dan juga praktek-praktek terpuji sebagai seorang religius dalam Gereja.

4. MASA YUNIORAT

MASA YUNIORAT adalah tahap ke 4. Pada tahap ini, seorang yang telah melewati masa novisiat dipanggil dengan sebutan SUSTER. Masa Yuniorat ditandai dengan pengikraran “Kaul sementara”: Kemiskinan, Kemurnian dan Ketaatan. Masa Yuniorat berlangsung selama 6-9 tahun (tergantung aturan konstitusi atau regula). Biasanya para SUSTER mulai kuliah ilmu-ilmu khusus secara mendalam atau mengambil khursus atau mulai berkarya dan sudah menghidupi nilai-nilai dari Kaul-kaul yang sudah diucapkan secara public.

5. KAUL KEKAL

KAUL KEKAL adalah tahap ke lima dan ongoing formation. Pada tahap ini, seorang suster secara resmi menjadi anggota tarekat atau ordo, yaitu dengan mengucapkan KAUL KEKAL PUBLIK (Kemiskinan, kemurnian dan ketaatan) dan hidup secara utuh sebagai suster. Karya dan pelayanan senantiasa dilandasi oleh Kaul Kekal yang sudah diikrarkan sebagai mempelai Kristus. Selain itu, para suster juga mengikuti ongoing formation (Pembinaan lanjutan) hingga akhir hayat.
Dengan demikian, menjadi seorang Kiarawati Katolik seorang harus melewati tahap demi tahap. Melalui tahap-tahap tersebut, seorang selain mengolah diri, ia dibantu untuk menemukan panggilannya apakah menjadi Suster secara definitif atau tidak. Semua tahap ini dimaksudkan agar seorang secara yakin menyadari bahwa Panggilan itu memang berasal dari Tuhan.
Harus diakui, dalam melewati tahap-tahap, seseorang bisa saja memutuskan untuk keluar. Orang katolik lalu mengenal istilah mantan aspiran, mantan postulan, mantan novis, mantan suster/biarawati. (Sama seperti seorang frater yang keluar disebut mantan frater, bukan mantan pastor, karena dia belum sampai pada tahap menjadi pastor). Jadi kalau ada mantan aspiran atau mantan postulan mengaku sebagai mantan suster atau biarawati, maka sebenarnya ia adalah biarawati palsu.

Sumber: Rm. Joseph Pati Mudaj, MSF


16 Sep 2016

Kerudung Mantilla: Satu Dari Sejuta Tradisi Iman Katolik

Kerudung Mantilla: Satu Dari Sejuta Tradisi Iman Katolik


Kerudung adalah   kain yang berfungsi untuk menutupi kepala seorang perempuan. Pada gambar di atas, ada banyak kerudung yang dipakai oleh para wanita dengan tujuan dan maksud  yang mulia. Mantilla adalah kerudung yang dipakai oleh Wanita Katolik setiap akan menghadiri Adorasi maupun Misa Kudus. Pemakaian Mantilla pernah diwajibkan pada praKonsili Vatikan II kemudian direvisi dan diganti menjadi anjuran sehingga tidak ada salahnya jika ada umat yang memakainya di gereja saat misa atau pun melayani di altar. Dasar Kitab Suci mengenai penggunaan kerudung dalam liturgi terdapat dalam 1 Korintus 11:2-16 dimana dikatakan “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat… Pertimbangkanlah sendiri: patutkah seorang perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” Walaupun dalam suratnya tersebut, St Paulus  ingin menegur jemaat di Korintus tapi tidak ada salahnya bukan jika tradisi ini dibangkitkan kembali.

Tak bisa dimungkiri bahwa tradisi pemakaian Mantilla pernah hidup dalam Gereja Katolik dan pernah menjadi kewajiban. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi ini mulai terlupakan. Akhirnya kebanyakan mindset atau pola pikir seseorang beranggapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan kerudung, pasti berkaitan dengan Wanita Muslim. Bahkan ada celotehan yang mengatakan Mantilla itu Jilbab dan mirip nenek-nenek. Padahal wanita-wanita Yahudi, wanita Katolik di Korea Selatan dan Amerika Latin, para biarawati, wanita Hindu-India dan dari banyak Negara juga memakai penudung kepala sehingga tidak ada istilah “ikut-ikutan” di antara semuanya ini. Bahkan, Bunda Maria sering digambarkan dengan memakai kerudung dan jika kita memperhatikan pada lukisan Dewi Kwan Im dalam agama Buddha Ia pun digambarkan mengenakan kerudung. Maka, sesungguhnya kerudung adalah hal yang lumrah yang sudah begitu lama dikenal di peradaban manusia.

Berdasarkan kegunaannya antara Mantilla dan  Jilbab memang sangat berbeda. Secara umum, jilbab dipakai dengan menutupi kepala, leher sampai dada dan penggunaannya untuk setiap hari. Sedangkan mantilla hanya dipakai untuk menutupi kepala seorang perempuan Katolik saat di hadapan Sakramen Maha kudus dimana ia (yang memakai Mantilla) menekankan feminimitas dan keindahan dirinya, namun ia secara bersamaan juga menunjukan dengan cara yang sedemikian rupa sehingga membangkitkan kesadaran bahwa Allah yang ada di atas Altar jauh lebih indah dari pada dirinya. Suatu sikap kerendahan hati yang ingin memperlihatkan Allah. Kerudung Misa menjadi sebuah tanda bagi orang lain, karena kerudung itu menyatakan bahwa ada sesuatu yang berbeda yaitu: bahwa Allah sungguh hadir di tengah kita. Dan apapun yang dapat kita lakukan untuk membantu memusatkan perhatian kepada-Nya, untuk menunjukkan bahwa Misa itu spesial, bahwa Misa itu khidmat, bahwa Misa itu sesuatu yang harus kita perlakukan dengan serius, dan bahwa kita perlu mempersiapkan seluruh diri kita untuk Misa Kudus. Kemudian  memakai kerudung misa dapat mengajak umat lainnya untuk berpakaian yang pantas saat akan pergi ke gereja. Selain itu, kerudung misa dapat membuat Anda untuk lebih focus dalam Perayaan Ekaristi dan membantu Anda untuk melepas sejenak beban duniawi untuk menikmati kasihTuhan dalam perayaan Ekaristi.

Mantilla menyerupai kerudung pengantin, karena yang memakainya adalah para mempelai Kristus yang sungguh merasakan kehadiran-Nya yang penuh mesra; dimana Ia menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya bagi dunia. Ah, betapa beruntungnya para biarawati yang seumur hidup menggunakan gaun dan kerudung pengantin mereka.
 
Di paroki kita, selain Putri Altar pertama yang memakai Mantilla di Kalimantan, ternyata Tuhan juga telah mengetuk hati seorang wanita yang baru setahun menjadi Katolik; dimana Tuhan memanggilnya untuk lebih dekat, lebih mendalami kasihNya dan lebih militant dalam gereja-Nya. Dia akrab disapa dengan nama Maria Venny. Ia merasa terpanggil untuk memakai Mantilla setelah ia melihat postingan foto dimana dua orang idolanya memakai Mantilla untuk lebih menghormati Tuhan saat Misa dan panggilan tersebut semakin kuat saat ia melihat Putri Altar memakainya saat bertugas. Saat memakai Mantilla untuk pertama kalinya di MisaPertama, ia tidak merasa malu, karena ia sudah siap di dalam hatinya dan terbukti baginya bahwa Mantilla membantunya untuk lebih focus saat misa. Dan ini sudah menjadi minggu ke-lima ia bermantilla bagi Tuhan. Ia tidak peduli dengan keadaan orang sekitarnya, dimana mungkin banyak yang melihat atau mungkin mencibirnya karena memakai semacam ‘jilbab’ di kepalanya karena tujuan awalnya untuk datang ke gereja yaitu hanya untuk bertemu dan mendengarkan Tuhan; bukan untuk mendengarkan apa kata orang, sehingga dia enjoy saat memakainya.
 
Mantilla adalah simbol ketaatan, kemurnian dan kesederhanaan. Hal tersebut itu harus dimengerti dan dihayati, tidak sekadar dipakai. Selain itu juga harus tercermin dalam ucapan dan tindakan dalam membangun persaudaraan sejati dan perdamaian dengan sesama. Ketika simbol hanya menjadi simbol dan tidak berbicara dalam hidup, maka ia menjadi simbol yang mati. Bagi Anda yang sudah siap bermantilla, Anda bias mendapatkannya di Instagram @twideemantilla atau kunjungi website  twideemantilla.blogspot.co.id. Semoga dengan hadirnya kembali mantilla dalam p perayaan Ekaristi di paroki kita, makna Misa sebagai misteri yang kudus tetap terjaga. Tuhan menunggu mempelai-Nya dalam Misa Kudus. Ayo bermantilla bagi Tuhan!
(Putri Altar St Tarsisius Paroki Singkawang)

28 Nov 2016

BKSN Paroki Singkawang: Outbond Ajang Olahraga, Rekreasi Rohani, dan Pendalaman Iman

BKSN Paroki Singkawang:

Outbond Ajang Olahraga, Rekreasi Rohani, dan Pendalaman Iman

 


Semangat umat Katolik mengucur di Gunung  Sari Singkawang,  Minggu 25/9/2016 dalam kegiatan outbond yang diselengarakan oleh Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang sebagai salah satu rangkaian lomba Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2016. 

Semarak BKSN Paroki tahun ini sungguh menyita perhatian umat Paroki Singkawang dan tentunya mengalami peningkatan peminat yang begitu drastis dari tahun sebelumnya secara khusus pada lomba outbond Rohani. Luar biasa! Peserta Outbond kali ini diikuti oleh 35 tim yang berasal dari stasi, kring, OMK, Misdinar Paroki Singkawang, Biarawati, Asrama Katolik, dan dewan guru serta siswa/i  SMP hingga SMA Katolik yang berada di Kota Singkawang. 

Outbond sendiri merupakan salah satu agenda baru bagi Paroki Singkawang sebagai rangkaian acara BKSN. Banyak makna positif yang dapat diperoleh dalam kegiatan ini. Selain sebagai ajang olahraga juga sekaligus sebagai media rekreasi rohani  dan sarana pendalaman iman bagi umat Katolik khususnya di Paroki Singkawang.

Kegiatan lomba outbond diawali dengan Misa di Gereja Paroki Singkawang yang dipimpin oleh Romo Agus S. OFM.Cap. Dalam homilinya tak lupa beliau memberi semangat kepada para peserta lomba yang terlihat sumringah menyesaki setiap sudut gereja. Seusainya Misa seluruh peserta diarahkan menuju lokasi kegiatan yang berpusat di Persekolahan SMP St. Tarsisius Singkawang.


Selang setengah jam halaman SMP St Tarsisius langsung dipenuhi puluhan peserta. Peserta yang tergabung dalam tim terlihat tak sabar untuk  unjuk kebolehan dan kekompakkan mereka dalam menyelesaikan tiap tantanggan yang sudah menanti. Tentu saja panitia yang sejak pagi sudah stand by menyambut hangat kedatangan mereka. 

Tiap tim mengantri giliran berdasarkan nomor urutnya lalu mendapatkan pengarahan umum sebelum menuju pos-pos outbond agar nantinya setiap kelompok dapat melaksanakan kegiatan dengan aman dan lancar. Selain diberikan pengarahan tiap kelompok dibekali kudapan dan air mineral oleh panitia karena medan yang akan ditempuh cukup menantang. Tak kalah penting, tiap tim juga menerima tanggung jawab yang harus dijaga  dengan baik hingga berakhirnya kegiatan, yaitu berupa sebutir telur mentah yang diserahkan langsung oleh Suster Monika, SFIC.  

Satu per satu tiap tim bergerak menuju pos-pos yang disiapkan panitia. Adapun rute perjalanan dimulai dari persekolahan St Tarsisius, SMKN 1 (STM) kemudian menuju RS Alverno, Gunung Sari, RS Alverno, dan kembali lagi menuju Persekolahan St Tarsisius melalui jalur Gang Bambu yang berada tepat di sebelahnya.  Para peserta harus melewati berbagai tantangan seperti melewati jalan setapak, menyusuri hutan, mendaki gunung, berjalan di medan yang cukup curam, dan menembus pemukiman penduduk sekitaran Gunung Sari Singkawang. Tak hanya itu, setiap jalur yang dilewati dengan jarak bervariasi para peserta akan menyelesaikan tantanggan berupa kuis dan permainan di pos-pos outbond. 

Setidaknya  sembilan pos outbond yang harus dilalui para peserta. Pos pertama yaitu pos tebak gerak berdasarkan kalimat yang tertulis, pos kedua yakni pos merayap melewati rintangan, pos ketiga dengan permaian sambung menyambung menjangkau lilin, pos keempat meniup bola, pos kelima yang dinamai pos mengapai cita dengan mendaki medan berbukit. Kemudian, menuju pos keenam berupa permainan membidik sararan mengunakan ketepel, dilanjutkan pos ketujuh yang mana peserta ditantang untuk mengangkat sebuah bola plastik secara bersama menggunakan seutas tali, lalu pos kedelapan dengan tema “Air Sumber Kehidupan” sebuah permainan membawa segelas  air menggunakan selembar kain, dan pos  terakhir yaitu permainan tradisional pangkak gasing. Semua jenis permainan  tersebut tentunya memiliki makna tersendiri terutama untuk menguji kekompakan, kreativitas, pengorbanan, serta ketepatan tiap peserta dan menjadi dasar penilaian bagi panitia dalam menentukan pemenang lomba. Selain melakukan permaian, peserta juga diuji pengetahuan dan pemahamannya melalui soal-soal tes lisan terutama mengenai isi Kitab Suci, pengetahuan umum Gereja Katolik (Tata Perayaan Ekaristi), Sakramen maupun istilah-istilah dalam gereja yang menjadi intisari lomba outbond BKSN.

Pastor Paroki Singkawang Stefanus Gathot OMF.Cap. tampak hadir di antara para  peserta. Seolah tak mau kalah oleh anak-anak muda dan para umat, beliau begitu antusias mengikuti outbond BKSN. Sesekali terdengar keriuhan dan gelak tawa para peserta ketika tiba di pos permainan. Meski tampak ngos-ngosan para peserta tetap bersemangat apalagi saat mereka menyanyikan yel-yel andalan masing-masing sembari menari dan bertepuk  tangan.


Kegiatan outbond diakhiri dengan rekap nilai oleh panitia setelah seluruh peserta berhasil melewati tiap pos permaian. Hasil perhitungan memutuskan tiga pemenang di antaranya Kring Leo Agung sebagai juara I, tim Siswa SMP Pengabdi Singkawang menempati juara II, dan tim dari Kring Santa Maria sebagai juara ke-III. Selamat kepada para pemenag lomba maupun kepada peserta yang belum berhasil semoga semakin giat meneladani dan mewartakan sabda Tuhan lewat Kitab Suci. Salam jumpa di kegiatan outbond BKSN Paroki Singkawang tahun depan! Tuhan memberkati. 
(Yudistira, S.Pd.)

15 Jan 2016

ISTIMEWANYA MENJADI ANAK PPA

ISTIMEWANYA MENJADI ANAK PPA



Suasana sore yang begitu bersahabat menyertai perjumpaan saya dengan salah satu anggota dari Putra-Putri Altar (PPA), atau yang sering disebut misdinar yang dalam istilah gerejaninya disebut Alkolit (latin). Nama PPA ini sudah tidak asing lagi di telinga Umat kristiani. 

PPA atau misdinar dikenal sebagai para remaja yang berjiwa sosial yang dapat dijumpai pada saat perayaan misa dengan pakaian yang khas  dan menjadi penuntun jalan bagi imam yang memimpin perayaan liturgi. Dengan semangat yang membara dalam perbincanganya ketua PPA Santo Fransiskus Assisi Singkawang, dengan pemilik akun BlackBerry Messanger (BBM) yang bernama Nikolas Gratia atau lebih akrab disapa Gagas, berbagi cerita selama menjadi Putra-Putri Altar. Menurut Gagas sendiri Putra-Putri Altar atau misdinar itu sudah menjadi bagian dalam dirinya karena sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Ia sudah bergelut dengan misdinar karena menurut Gagas untuk menjadi anggota PPA itu merupakan panggilan dari Tuhan. Salain itu menjadi misdinar suatu kebangaan tersendiri dengan mengunakan baju warna-warni sesuai dengan fungsinya tidak semua anak dapat melayani Tuhan seperti yang dilakukan oleh PPA.

Selain membantu para Imam dalam melayani misa, anggota PPA yang notabene merupakan anak usia remaja SD dan SMP pada umumnya juga  mempunyai banyak potensi seperti di bidang tarik suara dan memainkan alat musik. Hal itulah yang menjadi salah satu nilai plus bagi anak-anak PPA karena selain melayani Tuhan mereka juga dapat mengembangkan bakat mereka. Dalam perbincangan, Gagas lebih menekankan untuk adik-adik PPA dapat menjaga sikap pada saat ibadat atau kebaktian liturgi khususnya perayaan ekaristi,  serta mewajibkan mereka tahu fungsi dan peran dalam bertugas dan memahami apostolik dari PPA itu sendiri.



Oleh sebab itu keinginan yang sangat besar untuk dapat menggerakkan pemuda,  remaja khususnya untuk melayani gereja dalam ibadat atau kegiatan liturgi karena gereja sangat membutuhkan generasi penerus remaja PPA yang sebentar lagi akan bermetamorfosis menjadi anak-anak dewasa agar gereja tidak menjadi kering. 

Adapun kegiatan rutin yang sering dilakukan anak PPA seperti rapat dan latihan setiap usai perayaan misa kedua dengan tujuan penentuan tugas pada perayaan liturgi yang akan datang contohnya untuk saat ini seperti latihan tablo untuk pemberkatan Gerbang Kerahiman Ilahi di depan pintu utama gereja. Harapan ke depannya PPA dapat berkembang dan lebih maju serta dapat dikenal lebih luas lagi dan tidak dipandang remeh meskipun kebanyakan angotanya anak-anak remaja. PPA Santo Fransiskus Asisi juga mempunyai akun instragram tersendiri yang dapat diakses di PPASTTARSISIUSSKW. (Adrian)





14 Mar 2016

Dari Assisi, untuk Kehidupan dan Kemanusiaan di Singkawang

Dari Assisi, untuk Kehidupan dan Kemanusiaan di Singkawang

 


Jika baru-baru ini kita mendengar hiruk pikuk penggalangan suara demi terlaksananya Pilkada serentak di beberapa Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat, berbeda dengan yang terjadi di Kota Singkawang. Menilik lebih dekat, di Jln P. Diponegoro No. 1 ini bukan aksi penggalangan suara melainkan kegiatan penggalangan darah lewat aksi donor darah. 

Ya, tepatnya tanggal 20 Desember 2015 kemarin, di Gereja Santo Fransiskus Assisi Singkawang sedang diadakan kegiatan donor darah. Kegiatan rutin tahunan yang digawangi oleh kolaborasi WKRI dan OMK Santo Fransiskus Assisi Singkawang, di bawah panji Seksi Sosial Panitia Natal Santo Fransiskus Assisi Singkawang. Aksi kemanusiaan menyumbang darah tersebut menjalin kerjasama dengan PMI Kota Singkawang sebagai satu-satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan tugas kepalangmerahan.

Dalam dua tahun terakhir, Gereja Santo Fransiskus Assisi Singkawang memang selalu menjalin kerjasama dengan organisasi bermotto “Setetes Darah Anda, Nyawa Bagi Sesama” tersebut. Kegiatan yang diketuai langsung oleh dr. Liem Jong Chun tersebut berhasil mengetuk hati 28 sukarelawan. Sebuah tindakan tanpa pamrih yang sangat luar biasa.

Hadir juga dalam kegiatan tersebut ketua Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) Kota Singkawang Ibu Malika Awang Ishak. Ketua PDDI Singkawang yang memiliki nama asli Tjhai Nyit Khim itu secara langsung menyatakan sangat mendukung kegiatan sosial donor darah ini. “PPDI adalah sebuah organisasi yang berisi para sukarelawan. Nah, para pejuang-pejuang sosial ini bekerja tanpa dibayar dan terdiri dari semua unsur pekerja dan suku. Jadi siapapun yang ingin terjun dalam aksi sosial donor darah adalah anggota PDDI,” jelasnya. 

Organisasi yang memiliki anggota inti sejumlah 10 orang ini berperan dalam menginisiasi adanya kegiatan donor darah baik di kalangan PNS Kota Singkawang, sektor swasta, dunia sekolah terutama SMA, hingga tempat-tempat religius seperti tempat peribadatan. “Jika Kebutuhan darah di Kota Singkawang terpenuhi tentu hal ini akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Singkawang itu. Bahkan jika memungkinkan kita bisa mengirim stock darah di Singkawang ke beberapa kabupaten tetangga.”  

Hal senada juga diungkapkan oleh oleh ketua Seksi Sosial Hermanto Halim. Ia mengatakan akan terus mengadakan aksi kemanusiaan seperti ini minimal dua kali setahun demi mendukung terpenuhinya kebutuhan darah di Kota Singkawang. “Dalam dua tahun, ini adalah keempat kali kami mengadakan aksi donor darah. Setahun dua kali biasanya saat 17 Agustus dan menjelang Natal,” tambah pria yang berkecimpung dalam dunia usaha tersebut.

Di tengah gencarnya aksi kemanusiaan pengumpulan darah, ternyata sayup-sayup kita masih saja mendengar adanya istilah “cangkau darah” yang menurut beberapa orang dikatakan sebagai aksi tidak manusiawi. Sejatinya, darah yang telah disumbangkang demi keselamatan nyawa seseorang justru diperdagangkan demi keuntungan pribadi.

Menyadari masih adanya orang-orang “nakal” seperti itu, ibu Malika Awang Ishak menanggapi keras hal tersebut. Ia manyadari hal seperti itu memang ada dan dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. “Hal seperti itu biasanya terjadi jika kita menyerahkan orang lain yang mengurus kebutuhan darah untuk kita atau keluarga kita. Mereka akan meminta bayaran. Karena itulah kami menyiapkan sejumlah intel untuk mendeteksi hal ini. Semua pendonor terintegrasi  baik dengan bank data yang kami miliki,” tegas wanita yang mengetuai organisasi itu sejak Februari 2015.Di satu sisi kita melihat ada kegiatan donor darah yang bisa dikatakan berisi orang-orang yang berpengalaman dalam bidangnya. Lalu tidak ada salahnya kita melihat sisi lain kegiatan donor darah tersebut.

Masih pada kegiatan yang sama dan diruangan yang sama, sesuatu yang mungkin luput dari pengamatan adalah sumbangsih dari WKRI dan OMK Santo Fransisku Assisi Singkawang. Hanya segelintir anak muda yang secara langsung terjun dalam kegiatan tersebut dibantu seorang wanita yang akrab dengan sapaan “Bu De”. Paling tidak itu adalah yang terlihat saat kegiatan sedang berlangsung. 

Sebuah ironi yang memang nyata ada, sebuah nama kelompok yang berarti besar mewakili sekian banyaknya orang. Namun dalam kegiatannya hanya beberapa pasang tangan saja yang bekerja. Atau mungkin kita bisa mencoba melihat secara terbalik? Sebuah kelompok besar yang pada saat acara berlangsung muncul dengan berbagai atribut pakaiannya namun menghilang di saat harus menyelesaikan “sisa-sisa” hasil “acara”.

Terlepas dari visualisasi sesaat itu, angkat topi harus diberikan kepada seluruh pihak yang berperan aktif dalam kegiatan tersebut. Tanpa menyebut nama dan kelompok semua yang kita lakukan adalah demi kemajuan dan kebersamaan umat di Santo Fransiskus Asisi Singkawang, demi gereja kita bersama dan terutama demi kehidupan.  (Sabar Panggabean)

 

4 Jun 2017

“Ceng Beng” di Pemakaman Katolik Singkawang

“Ceng Beng” di Pemakaman Katolik Singkawang

 

 

Setelah memarkir sepeda motor atau mobilnya, satu per satu umat Katolik berjalan menuju patung dan salib yang menjadi sentral pemakaman Katolik Singkawang. Tangan mereka dipenuhi dengan aneka barang bawaan; rangkaian bunga segar atau bunga tabur, air mineral dalam kemasan, dan lilin. Barang bawaan itu dimaksudkan sebagai sarana untuk merayakan ibadat arwah di makam. Sebelum dibawa ke makam barang bawaan tersebut mereka letakkan di bawah kaki salib untuk diberkati. Sementara itu tiga gawang tenda hijau sudah terpasang mengelilingi salib sebagai tempat bagi umat untuk berhimpun. Maklum cuaca kota Singkawang sedang tidak bersahabat. Panasnya kadang sangat menyengat, atau tiba-tiba bisa saja hujan mengguyur dengan hebat.

Sore itu, Selasa 4 April 2017 memang terlihat adanya pemandangan berbeda di pemakaman Katolik Singkawang. Umat Katolik dari berbagai penjuru, bahkan beberapa ada yang berasal dari ibukota Jakarta, menyempatkan diri untuk hadir di pemakaman dengan satu tujuan yang sama; mendoakan arwah sanak keluarga yang sudah meninggal dan dimakamkan di pemakaman Katolik Singkawang. Menurut informasi yang sempat digali cikal bakal peringatan arwah ini ditemukan dalam tradisi orang Tionghoa yang merayakan sembahyang kubur atau yang biasa dikenal dengan istilah Ceng Beng. Pada perayaan tersebut banyak orang Tionghoa dari berbagai tempat pulang kembali ke Singkawang untuk berziarah ke pemakaman yang tersebar di kota Singkawang. Gereja Katolik Singkawang secara khusus memandang baik bahwa pada saat yang sama juga dirayakan ibadat arwah di pemakaman katolik Singkawang supaya para arwah yang disemayamkan di pemakaman Katolik juga didoakan. Perayaan ini memang tidak ditemukan dalam penanggalan liturgi Gereja Katolik sehingga bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk kearifan lokal Paroki Singkawang. 

Tepat pukul tiga sore ibadat arwah dimulai. Perayaan kali ini dipimpin oleh Pastor Stephanus Gathot. Dalam kotbahnya yang mengacu pada kisah kebangkitan Lazarus, Pastor Paroki Singkawang ini menunjukkan adanya harapan akan kebangkitan orang mati. Bahwa hidup manusia tidak hanya berakhir di dunia ini. Bagi orang beriman ada kelanjutan hidup ‘di seberang sana’, dan itulah hidup yang sebenarnya. Keyakinan iman ini didasarkan pada sabda Tuhan sendiri yang menunjuk diri-Nya sebagai kebangkitan dan kehidupan. Barangsiapa percaya kepada-Nya akan memiliki hidup abadi.

“Untuk itulah kita datang dan berziarah ke makam ini. Kita mau mengungkapkan iman akan kebangkitan dan kehidupan bagi saudara-saudari kita yang telah berpulang. Kita mengetuk pintu belas kasih-Nya supaya mengikutsertakan mereka dalam keabadian. Apa yang kita bawa sebenarnya merupakan simbol akan penghayatan iman tersebut. Bunga menjadi simbol akan keharuman amal saudara-saudari kita. Lilin-lilin yang nanti akan kita nyalakan merupakan harapan kita akan kehidupan kekal yang senantiasa bernyala. Dan air yang diberkati melambangkan sakramen permandian yang telah diterima oleh saudara-saudari kita,” kata Pastor Gathot mengakhiri kotbahnya.
Ibadat dilanjutkan dengan pemberkatan bunga, lilin dan air mineral. Lagu penutup menjadi tanda pungkasan ibadat.  Umat pun segera mengambil barang bawaannya yang telah diberkati. Dengan tertib mereka segera menuju ke makam saudara-saudarinya. Di hadapan nisan saudara-saudarinya mereka menghaturkan doa; memohon belas kasih Allah bagi saudara-saudari yang telah berpulang. 

“Ceng beng” di pemakaman Katolik Singkawang menjadi ritual tahunan yang senantiasa dirayakan. Harapan yang selalu dilambungkan adalah semoga arwah saudari-saudari menikmati kehidupan kekal. (Sgp)




26 Nov 2016

TRANSITUS DAN PERAYAAN SYUKUR ST. FRANSISKUS DARI ASSISI, BAPA PELINDUNG PAROKI

TRANSITUS DAN PERAYAAN SYUKUR

ST. FRANSISKUS DARI ASSISI, BAPA PELINDUNG PAROKI 

Senin, 3 Oktober 2016 seperti tahun-tahun sebelumnya terlihat suasana yang berbeda di Gereja Pusat Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang, terutama menjelang Hari Raya St. Fransiskus Assisi. Peristiwa ini disebut oleh Keluarga Fransiskan-Fransiskanes sebagai “Transitus St. Fransiskus Assisi”. Apakah yang dimaksud dengan ‘Transitus’? Transitus adalah suatu istilah untuk mengilustrasikan beralihnya jiwa si miskin dari Assisi, dari dunia fana menuju surga penuh kemuliaan. 

Keluarga Fransiskan-fransiskanes Singkawang (suster SFIC, bruder MTB, Saudara Kapusin, Suster Klaris Kapusines, OFS (Ordo Fransiskan Sekular) dan Suster KFS), anak-anak asrama asuhan Bruder MTB dan suster SFIC serta umat se-paroki Singkawang memperingati Transitus St. Fransiskus Assisi dengan ibadat bersama. Ibadat bersama ini dipimpin oleh P. Gabriel Marcel, OFMCap dibarengi dengan permenungan mendalam dan khusyuk melalui drama singkat Transitus St. Fransiskus. Drama ini diperankan oleh para saudara Novis Kapusin Gunung Poteng. 

Adapun butir-butir renungan Ibadat Transitus disimpulkan oleh P. Gabriel dengan melihat kembali pengalaman hidup Fransiskus mulai dari pertobatannya sampai ia sendiri menghadapi kematian badani. P. Gabriel kembali menegaskan bahwa hidup St. Fransiskus adalah menepati Injil secara sederhana tetapi sempurna. Inilah yang menghantar dia ke negeri orang-orang yang hidup. Inilah yang membuka matanya pada pandangan sempurna akan Allah. Inilah yang mengangkat Fransiskus masuk ke persekutuan paling akrab dengan Allah Tritunggal, yang dirindukannya di atas segala-galanya. St. Fransiskus setia dalam menepati Injil sampai akhir hidupnya. Di akhir permenungan, P. Gabriel juga mengajak Keluarga Fransiskan-fransiskanes agar tetap setia pada janji yang telah diucapkan seturut “Ajakan Bapa Kita St. Fransiskus,” melakukan yang kita janjikan dan mendambakan yang dijanjikan kepada kita. Nikmat singkat, siksa kekal. Penderitaan tak berarti, kemulian tak terbatas. Banyak orang dipanggil, sedikit dipilih, semua orang mendapat balasan. 

Setelah mengakhiri permenungan singkat ini, acara dilanjutkan dengan  pembaharuan janji setia para Saudara-saudari Fransiskan kepada Tuhan dan sesama. Janji setia yang telah diucapkan ini menjadi tanda kesetiaan, keikutsertaan mereka dalam melakukan kehendak Allah, mewujudnyatakan karya keselamatan di tengah-tengah gereja dan dunia zaman ini. Dan Ibadat Transitus ditutup dengan pembagian roti St. Fransiskus sebagai tanda pemberian diri total para pengikutnya kepada Allah dan berbagi kasih terhadap sesama. 

Demikian proses Ibadat Tansitus berjalan dengan baik menyongsong perayaan besar St. Fransiskus Assisi keesokan harinya. Perayaan ini dimulai pada Selasa, 4 Oktober 2016 pukul 18.00 WIB dengan Misa Syukur Hari Raya St. Fransiskus Assisi. Misa syukur dipimpin oleh P. Gabriel Marcel, OFMCap sebagai selebran utama dan sebagai konselebran P. Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap, P. Yeremias, OFMCap dan P. Felix Triono, OFMCap. Perayaan ini diikuti oleh seluruh umat Paroki Singkawang dengan khidmat dan penuh sukacita. (Fr. Diego)

12 Sep 2016

Istimewanya Menjadi Misdinar

Istimewanya Menjadi Misdinar


Misdinar St Tarsisius Paroki Singkawang telah mengadakan rekoleksi yang bertemakan “Istimewanya Menjadi Misdinar” yang diadakan dari tanggal 8 s/d 9 Maret 2016 di GerejaParoki St Fransiskus Assisi Singkawang, tepatnya di Gedung Sekretariat Paroki. Acara rekoleksi kali ini diikuti oleh anggota Misdinar sebanyak 104 orang, Big Brothers Team, dan Frater Hendri.

Acara reoleksi tersebut ditujukan untuk semua anggota misdinar Paroki Singkawang untuk menyadari betapa istimewanya mereka menjadi seorang misdinar. Keistimewaan tersebut tentunya tidak bias dirasakan oleh semua anak didunia, bahkan anak-anak di sekitaran paroki kita pun belum tentu dapat merasakannya. Keistimewaan tersebut antara lain dapat melayani Tuhan secara lebih dekat dan akrab dalam Ekaristi Kudus, menjadi umat pertama yang menerima Tubuh Tuhan saat komuni, berkesempatan memakai pakaian liturgi, bisa berdiri, duduk, dan berlutut di sekitaran Altar Tuhan/Panti Imam, menjadi teladan atau contoh bagi umat dan lain-lain.

Rekoleksi dibuka dengan berdoa Rosario bersama di Goa Maria Paroki. Ujud-ujud yang disampaikan pun tak lepas dari kehidupan sehari-hari antara lain bagi para Misdinar, bagi orang sakit, bagi orang tua, bagi pendidikan para peserta, bagi Bapa Suci dan kaum biarawan/biarawati, bagi jiwa-jiwa di Api Pencucian,  dan bagi para pendosa yang belum tergerak hatinya untuk bertobat. Setelah itu, para peserta akhirnya dipecah menjadi    sembilan kelompok yang namanya diambil dari nama-nama peralatan saat Misa yang tentu nama tersebut tidak asing di telinga para Misdinar,  yaitu kelompok Tabernakel, Monstran, Ampul, Piala, Candella, Lonceng, Gong, Wiruk, dan Patena. Setelah pembagian kelompok,  acara dilanjutkan dengan santap malam bersama kemudian dilanjutkan dengan malam keakraban. Dengan dikomando oleh Big Brothers Team malam keakraban bias dilaksanakan dengan begitu menyenangkan di antaranya penampilan yel-yel tiap kelompok, beberapa permainan yang mengasah otak, dan lain-lain. Untuk menutup malam keakraban, acara dilanjutkan dengan refleksi dan ibadat malam yang dipimpin oleh Frater Hendri.

Antusias peserta terhadap acara rekoleksi sangat tinggi. Hal ini terbukti ketika jam tiga subuh para peserta sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti kelanjutan rangkaian acara rekoleksi, padahal panitia sedianya menyediakan waktu untuk mempersiapkan diri mulai pukul 05.00 pagi.

Setelah persiapan pribadi, acara dilanjutkan denga ibadat pagi yang dipimpin oleh Frater Hendri, kemudian dilanjutkan dengan sarapan bersama. Setelah itu para peserta diajak untuk masuk ke dalam gedung paroki untuk menerima materi yang akan disampaikan oleh Frater Hendri seputar keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh seorang misdinar. Tentunya di sela-sela materi para peserta diajak untuk menyanyi dan menari bersama atau yang dikenal dengan istilah Ice Breaking demi memecah suasana yang mungkin saja menimbulkan rasa kantuk. Setelah menerima materi, panitia mengajak semua kelompok untuk menuliskan komitmen mereka pada sebuah kertas warna-warni dan menempelnya pada sebuah karton, kemudian harus dihias dengan menarik. Waktu yang diberikan oleh panitia sangat singkat, sehingga membuat para peserta sangat geregetan. Namun, hasilnya lumayan juga.

Setelah menuliskan komitmen mereka, dimulailah arak-arakan menuju gereja dengan membawa lilin bernyala dan meletakannya pada papan-papan di bawah Arca Maria Bunda Allah. Tahun Kerahiman Ilahi pun dimanfaatkan oleh para panitia. Hal tersebut terlihat dengan penerimaan sakramen tobat secara pribadi yang dibantu oleh tiga orang pastor yaitu Pastor Gathot, Pastor Marius dan Pastor Yeri.

Acara rekoleksi tahun 2016 ditutup dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh Pastor Gathot. Setelah Misa, para peserta dipersilakan untuk berkemas-kemas. Semoga dengan acara rekoleksi tahun ini, para Misdinar di paroki kita semakin giat bertugas dan tidak takut salah ketika bertugas. Misdinar St. Tarsisius, Istimewa! (Nicolas Gratia Gagasi)


15 Jan 2016

SETAHUN BERSAMA, LIKES SEBAGAI MEDIA DAN JURNAL PEMULA

SETAHUN BERSAMA, LIKES SEBAGAI MEDIA DAN JURNAL PEMULA




“………………………………..
Pena dan penyair keduanya mati, berpalingan.”

(Chairil Anwar dalam Nocturno (fragment))


Desember 2014 Edisi Perdana, Awal Tahap Belajar Bersama

Penggalan puisi di atas jika ditinjau dari kacamata sastra menunjukkan adanya keterkaitan besar pada kedua objeknya, pena dan penyair. Sekadar meminjam istilah saja, ketika hal serupa dihubungkan dengan penulis dan media. Seseorang belum dianggap penulis jika tulisannya belum dibaca orang lain. Persoalan tulisan yang dihasilkan berbobot atau tidak, maka kembali pada kemampuan penulisnya sendiri dalam mengemas pemikiran atau hal yang diberitakan dan merangkainya dengan estetika bahasa menjadi satu kesatuan yang layak baca. Hal serupa berlaku pula pada media yang memuat karya penulis. Suatu media akan diperhitungkan jika mampu memberikan kontribusi yang dibutuhkan guna memuaskan dahaga informasi pembacanya. Masih ada kaitan dengan penulis dan karyanya, media dan isinya, pada Desember 2014 lalu, menjadi satu langkah nyata dari sekelompok orang yang disatukan dalam ide pengejawantahan media informasi seputar paroki. Hanya dalam hitungan pekan, bermodal tekad dan kemauan, edisi perdana LIKES diluncurkan. Kala itu awak redaksi digawangi sebelas sukarelawan. Masing-masing dipercaya untuk menangani bidangnya. LIKES sendiri bagi redaksi tak lain sebagai wadah belajar dan media penyalur hobi menulis. Perkara edisi perdana muncul pada Desember 2014, LIKES lebih menekankan pada berbagai kegiatan gereja di masa Natal. 

Maju Bersama dalam Dinamika

Bukan perkara mudah menyatukan pemikiran dari beberapa kepala, bukan hal gampang mencocokkan waktu bertemu dengan beberapa individu, bukan masalah ringan membagi jadwal liputan dan kapling tulisan mengingat masing-masing personil memiliki beragam kesibukan. Mendewasa dalam dinamika, menyeimbang dalam sikap saling pengertian, menjadi eksis dalam kesadaran tentang konsistensi kebersamaan, hal tersebut menjadi landasan kuat untuk selalu mewujudkan setiap edisi buletin paroki. Berbagai  rintangan kecil menjadi aral penerbitan LIKES. Gejolak paling menjadi riak dalam proses penerbitan LIKES timbul manakala bongkar pasang personil yang menangani  pe-layout-an harus dilakukan. Dalam kurun waktu satu tahun, pada tujuh edisi yang telah diterbitkan, tercatat sudah empat layouters menanganinya. Hal tersulit dihadapi kala harus kehilangan selama-lamanya personil  layouters  untuk edisi kedua yang  berasal dari kalangan profesional. Kekalutan sempat benar-benar  melanda segenap awak redaksi LIKES, namun berkat Tuhan kiranya selalu melingkupi niat baik yang lantas dijawab-Nya dengan hadirnya layouters yang baru.           

Berat Sama Dipikul, Ringan Berdampak ‘Ampul’

LIKES, media sederhana wadah belajar bagi para penulis pemula, kini di usianya yang baru satu tahun  digawangi oleh 12 orang awaknya. Ada banyak keterbatasan yang dimiliki sebelas orang pencetus awalnya hingga dengan berbagai pertimbangan, redaksi mengajak rekan-rekan lain yang memiliki hobi dan potensi serupa penunjang kokohnya sebuah media untuk bergabung di dalamnya. Bongkar pasang personil menjadi hal tak asing bagi media yang tak dimungkiri masih penuh kekurangan di sana-sini.  Dengan digarap 12 orang kru, rasanya pekerjaan redaksi dalam mewujudkan eksistensi  informasi paroki semakin teratasi. Ya, beban berat yang sama dipikul tentunya akan berdampak ‘ampul’ (kecil dan ringan).     

Menyuguhkan Berita, Membaca  Pembaca

Selama setahun, berbagai hal berkaitan aktivitas lingkup Paroki Singkawang diberitakan. Tercatat enam edisi sebelum edisi terakhir yang kini berada di tangan pembaca ini diluncurkan. Dalam dinamikanya, sekali dalam sebulan awak redaksi dikumpulkan guna membahas isi buletin ke depan. Berbagai informasi yang diperoleh dari pastor paroki menjadi modal dasar lingkup pemberitaan kami. Tidak hanya itu, informasi kegiatan dari pembaca di seputar paroki pun menjadi ‘undangan’ khusus bagi  kru redaksi untuk mewujudkan suatu informasi.   

Tak Ada Gading yang Tak Retak, Tak Ada Donatur LIKES Tak Naik Cetak

Sebagai media berumur batita (bawah tiga tahun), LIKES tidak pernah lepas dari kekeliruan maupun kesalahan. Salah cetak, luput dari proses pengeditan, kekinian berita yang kadang  dipertanyakan,  hingga konsistensi waktu penerbitan sebuah media yang sifatnya berkala. Meski tercatat pernah satu kali mengalami keterlambatan penerbitan namun dengan segenap hati, tenaga dan pikiran, redaksi selalu berusaha menjumpai pembaca setia tepat pada waktunya. Tak dapat dimungkiri pada edisi perdana LIKES, kekurangan masih terserak di sana-sini, baik dari segi isi maupun tampilan, melalui tahapan mendengarkan masukan, saran dan kritikan dibarengi perbaikan, maka perubahan perlahan-lahan lantas dilakukan. Edisi perdana juga terbit berkat kegigihan dari seksi usaha dana yang harus ‘bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Mencari pemasang iklan dahulu, barulah terbit kemudian.’ Dalam setahun perjalanan, lagi-lagi seksi usaha danalah yang menggeliat dalam sepak terjang. Ranum dan manis hasil yang didapatkan. Hingga tujuh edisi berjalan segala yang berkaitan dengan pendanaan disokong sepenuh-penuhnya oleh para donatur yang berperan. Di usianya yang pertama LIKES telah mengukuhkan diri sebagai salah satu bagian dari paroki.       

Di Kemudian Hari Ada Regenerasi

Menuntaskan dahaga informasi pembaca yang tak kenal batas ruang dan waktu sungguh menjadi kenikmatan tersendiri bagi redaksi. Terdapat kepuasan mana kala LIKES ditunggu dan dipertanyakan tentang waktu penerbitan oleh pelanggan, itu artinya kehadiran kami sungguh dinantikan. Namun tetap ada yang mengganjal mengingat keberlangsungan media yang terbit dua bulanan ini digawangi oleh generasi yang secara usia dapat dikatakan matang. Memang usia tidak bisa menjadi alasan untuk produktivitas seseorang, namun sungguh, mimpi kami dari pihak redaksi di kemudian hari  ada regenerasi, agar media informasi paroki berbanderol LIKES ini tetap kokoh berdiri. 

Pembaca Tak Hanya Membaca  

LIKES adalah media dan jurnal pemula. Sejak awal berdiri, redaksi tak putus-putus mengundang pembaca untuk ikut berkarya di dalamnya. LIKES bukan hanya milik redaksi. Seluruh pembaca memiliki hak berkarya di dalamnya. LIKES merupakan wadah penampung kreativitas, tempat belajar, dan media penyampai informasi. Didasari tujuan awal terbentuknya, maka redaksi mengajak pembaca untuk tidak hanya membaca, namun terlibat secara aktif dalam mewujudkan eksistensi media informasi tercinta kita ini. (Hes)   



1 Nov 2015

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG, SUDAH KENAL TAK JUGA SAYANG

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG, SUDAH KENAL TAK JUGA SAYANG

Google Images.Jpg

Sebagian orang menganggap bahwa sebuah perkenalan adalah hal yang biasa. Benar-benar biasa hingga dapat dilakukan lain waktu, sebatas bersalaman dan tersenyum, mengatan Hi atau Hello lalu menghilang. Tapi kita tidak sedang bermain ‘salah-salahan’ atau pembenaran/justifikasi  terhadap hal itu. Terkadang memori menuntun kita untuk menjaga jarak terhadap dunia dan orang-orang yang baru kita temui. Ada juga orang yang lebih nyaman dengan dirinya sendiri dan puas dengan temannya saat ini, atau yang lebih mengerikan, ketakutan untuk bertemu dengan orang baru. 

Namun sejatinya, dalam perkenalan harus ada yang namanya tarik ulur. Bayangkan perkenalan terbaru sahabat being adalah dengan seorang pria/wanita yang  belum pernah sahabat being lihat di ‘dunia nyata’, mungkin pernah dilihat namun memori tentang dia mengendap terlalu dalam di alam bawah sadar. Sahabat being mendengar dari orang lain tentang namanya dan kebetulan dia menekuni hal yang being suka. Keinginan untuk mengetahui siapa sosok itu langsung merangsang hasrat sahabat being untuk bertemu dengannya. Apa yang akan sahabat being lakukan?

Ketika sahabat being berkenalan dengan seseorang, sahabat being biasanya mulai mempelajari nama orang tersebut. Sama benarnya berkenalan dengan Yesus. “Apa arti sebuah nama? Itu yang kita sebut sebuah mawar/ Dengan kata lain akan beraroma manis,”  tulis Shakespeare. 

Berkenalan dengan Yesus sama halnya berkenalan dengan orang lain. Sahabat being berani menyebut bahwa Yesus adalah anak Allah.  Setidaknya jika sahabat being  mengakui kepercayaan teistik. Lalu siapa yang berani menyebut bahwa kita semua bukan anak Allah? Ketika kita ingin mengenal Yesus, kita memberikan semua yang kita punya. Berserah seutuhnya. Meskipun di depan-Nya terkadang kita menampilkan atau menambahkan sejumput kepribadian lain yang sebenarnya bukan diri kita. Sadar atau tidak kita melakukannya. Kehadiran orang lain, persepsi sekitar, rasa simpatik dan hal-hal duniawi lain terasa lebih kuat sehingga di depan-Nya kita harus menampilkan topeng. Padahal Dia tahu betul siapa kita. Pernahkah sahabat being menyadari hal itu? Saya menyadarinya saat ini,..hehehe….

Begitu juga ternyata hal yang kita lakukan kepada sesama. Figur dan persepsi awal yang hinggap di sisi lain kepala ini memengaruhi intensi sahabat being untuk menerima atau menolak perkenalan. Baik secara verbal maupun lewat bahasa tubuh. Sahabat being melakukan itu sadar atau tidak. Seperti cerita di awal tadi, penolakan bisa saja terjadi terhadap keinginan sahabat being untuk berkenalan. Tidak semua orang bisa membuka diri dengan perkenalan. Persepsi awal yang sahabat being bangun sangat memengaruhi jalannya perkenalan. 

Berkenalan dengan anak-anak Allah yang lain sama halnya kita berkenalan dengan Yesus. Sahabat being  mengenal dulu namanya. Siapa itu Yesus? Dia divisualisasikan sebagai pria berambut panjang berwarna coklat, wajah teduh dan jambang serta kumis yang tumbuh di wajahnya. Kenapa digambarkan demikian? Padahal siapapun belum belum pernah melihat-Nya. Bolehkah sahabat being memvisualisasikan jika Yesus adalah sosok pria yang pendek, tambun, dengan potongan rambut rapi dan wajah bersih? Figur tentang sosok Yesus yang pertama begitu terpatri di dalam diri kita sehingga kita seolah-olah mengenal-Nya walaupun hanya dengan melihat gambar-Nya. Ada masa-masa ketika kita mempertanyakan pengaruh Yesus dalam diri kita, terutama ketika jatuh. Rasa tidak puas hadir ketika hasil yang kita dapatkan tidak sesuai dengan usaha dan doa yang kita lakukan. Persepsi awal kita tentang kebesaran-Nya terlalu tinggi sehingga kita hanya berharap hal yang baik saja yang datang pada diri kita. Inikah bentuk kalau kita sudah berkenalan dengan Yesus? 

Seorang teman pernah berkata “Salib itu ada untuk dipikul. Bukan untuk di jadikan beban. Dengan memikul salib kita akan terjatuh dan dalam dalam kejatuhan itu kita merasakan betapa besar kasih-Nya. Bukan ketika kita bahagia. Ketika Yesus terjatuh banyak yang ingin membantu-Nya, di situlah kita merasakan persaudaraan. Bukan ketika kita mampu berdiri tegak.” Sosoknya sederhana, namun dedikasinya untuk kehidupan sosial dan gereja, patutlah kita angkat topi.

Sahabat being, sebelumnya saya berusaha membayangkan seperti apa sosok Pemred “Likes”. Saya berusaha menggugah idealisme yang dimilikinya untuk menarik perhatiannya. Sayang, saya tidak bisa melakukannya pada Yesus, karena Dia telah mengambil ruang di dalam diri ini sehingga Dia tahu siapa saya, lebih daripada saya mengenal diri sendiri. 

Tak kenal maka tak saying, bahkan setelah berkenalanpun belum tentu sayang. Berkenalan dengan anak-anak Allah mungkin harus dilakukan perlahan. Sejatinya sedikit demi sedikit sahabat being akan membuka diri, bahkan ditambahkan dengan sedikit kamuflase jika perlu. Namun semuanya tetap harus dilakukan dengan tulus. Tujuannya bahwa kita ingin membiarkan orang lain menjadi bagian dari diri kita. Sehingga hidup ini menjadi bermakna. Seperti kata Pastor Paroki kita yang ganteng, “Jika tidak bisa menjadi pensil untuk menulis kebahagian orang lain, jadilah penghapus untuk menghapus kesedihan orang lain.”  Yang menjadi pertanyaan adalah, “Kenapa pensil? Kenapa bukan pena, Pastor?”

Kita semua bagian dari Yesus. Jika sahabat being membiarkan Yesus ada di dalam diri sahabat being dan sahabat being ada di dalam Dia, maka sahabat being juga harus siap menjadi bagian dari orang lain dan sebaliknya. Berkenalan dengan Yesus tidak bisa perlahan-lahan namun harus total. Tidak ada istilah menarik diri dari perkenalan dengan Yesus. Yesus sudah mengenal sahabat being dengan sangat baik namun masih butuh waktu yang panjang sampai sahabat being menyadari bahwa ternyata sahabat being  juga mengenal Yesus. Jika begitu kenapa tidak dicoba sambil berkenalan dengan anak-anak Allah yang lain? Meskipun anak Allah yang sedang sahabat being kenal itu tidak sesuai yang sahabat being bayangkan. Mungkin lewat  jalan itu kita bisa lebih kenal dengan Yesus. Dia hadir dalam baik dan buruknya dunia ini, manis dan pahitnya pengalaman, tulus dan liciknya manusia. Sebab Dia itu Tuhan. (Sabar Panggabean)

2 Jul 2015

‘BULAN MADU’ SANG IMAM BARU

                                  ‘BULAN MADU’ SANG IMAM BARU

 


“Lebih susah bikin janji wawancara dengan Pastor ya, dari pada dengan Walikota.”

Demikian seloroh saya pada imam yang baru saja ditahbiskan pada akhir Januari 2015 itu. Sebenarnya hal ini cukup bisa dimaklumi mengingat para imam yang baru ditahbiskan biasanya mengalami masa ‘bulan madu’ dengan tugas imamatnya . Unik memang istilah bulan madu, seolah pengantin baru yang baru saja mengikat janji pernikahan dan disibukkan dengan aktivitas yang beraroma memetik sari manis kehidupan awal berumah tangga, demikian pula para imam yang baru ditahbiskan. Mereka menjalani aktivitas sebagai imam seusai mengucap kaul kekal untuk panggilan awal kegembalaan. 

Ada kisah menarik di balik wawancara saya dengan profil  imam yang pada edisi Likes kali ini diangkat menghiasi rubrik sosok. Pada awal penugasan, saya hanya diberitahu nama imam yang harus saya wawancarai. Sosok imam tersebut bernama Andreas Harmoko, OFMCap. Dari namanya, segera yang terlintas dalam benak saya adalah ingatan tentang seorang berkulit sawo matang, dengan sisiran rambut klimis, dan suaranya menggema  melalui TVRI atau RRI membacakan harga sembako, bawang merah serta cabe keriting dengan logat Jawa kental. Ya, yang terlintas saat itu adalah sosok menteri penerangan era Suharto. Otomatis paradigma saya yang terbentuk saat itu, saya akan dihadapkan pada sosok imam dari pulau seberang. Namun, di luar dugaan, ketika pertama kali saya menghubungi  via telepon imam yang harus saya angkat profilnya, suara beliau jauh dari kesan logat Jawa yang biasanya meskipun dipaksakan untuk terdengar normal tetap mengalami ‘keseleo’ pada pengucapan kata-kata tertentu. Untuk pertama, janji wawancara urung dilakukan karena pastor Harmoko memiliki mobilitas yang sangat tinggi dalam mempersembahkan misa perdana dari paroki satu ke paroki lain berkait tugas ‘bulan madu’ kegembalaan yang beliau emban. Lebih dari sebulan saya menunggu kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan beliau. Akhirnya pada suatu malam di bulan Mei, saya berkesempatan menjumpai  pastor yang terlahir di Seringkong pada 30 Oktober 1984 itu di pastoran Paroki Singkawang, itu pun setelah dibantu temu janji oleh Pastor Gathot selaku pastor paroki.

Wajah beliau tersenyum hangat saat pertama kali tangannya saya jabat. Perbincangan santai lantas bergulir ditemani oleh pastor paroki dan seorang bruder yang saat itu sedang tidak bertugas melayani umat. Pada saat yang sama, saya mengutarakan kesan yang sebelumnya terlintas dalam pemikiran saya mengenai nama beliau. Jawaban yang cukup menggelitik lantas saya dapatkan. Dengan ringan beliau memaparkan sejarah nama yang disematkan pada dirinya memang ada kaitannya dengan sosok Harmoko yang pada era ’90-an menjabat sebagai menteri penerangan. Ya, kedua orang tua Pastor Harmoko, Bapak Petrus Tam dan Ibu Susana Serawati ini dulunya memang kader partai berbendera kuning tersebut. Jika oleh khalayak nama Harmoko seringkali diplesetkan sebagai akronim dari ‘Hari-hari omong kosong’, maka kita boleh berbangga bahwasanya gembala baru kita juga memiliki penjabaran akronim sendiri atas namanya yakni,  Harmoko; ‘Hari-hari omong kemuliaan ordo.’

Ketertarikan pastor yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara terhadap kehidupan membiara diawali saat SMA. Ia dibuat terpesona pada kesederhanaan Salib Tau yang dikenakan oleh para biarawan. “Salib itu dipakai dengan tali yang bersimpul-simpul, bukan dengan rantai,” ujarnya. Masih tentang awal ketertarikannya terhadap kehidupan membiara alasan lain yang cukup unik pun dilontarkannya, “Saya tertarik dengan orang-orang yang berjubah coklat itu. Penasaran bagaimana rasanya memakai jubah. Bayangkan saat jubah dipakai pastor dan berkibar-kibar ditiup angin, menimbulkan kesan dramatis,” ujarnya bersemangat. Diakuinya, ketika  memasuki  kehidupan membiara penuh dengan pertimbangan yang matang. “Selama setahun  setelah lulus SMA saya benar-benar berusaha mengenali arah yang saya tuju, pada akhirnya  dengan bantuan seorang bruder MTB saya disarankan menemui pastor paroki, pada saat itu Pastor Amandus Ambot. Oleh Pastor Ambot, saya dibimbing untuk menulis surat lamaran sebagai imam kepada Propinsial. Saya lantas  memberanikan diri mengirim surat lamaran, memantapkan pilihan memenuhi panggilan.  Puji syukur kepada Tuhan, surat lamaran saya dibalas dan saya terima tepat pada hari raya Pantekosta, 29 Mei 2003. Saat itu sangat luar biasa rasanya.”

Setelah menjadi bagian dari Ordo Kapusin, pastor yang memiliki hobi mengoleksi dan membaca buku-buku filsafat serta teologi ini menuturkan di setiap fase baik ketika menempuh pendidikan maupun saat bergelut dengan kehidupan dan komunitas membiara  penuh dengan tantangan. Ketakseragaman pola pikir antar individu sesama kapusin, mundurnya beberapa teman calon biarawan yang seangkatan karena satu dan lain hal, serta keberagaman budaya geografis tempat tinggal, menjadi sekian dari beberapa alasan mendasar yang dianggap tantangan. Berbagai tantangan tersebut lantas disikapi dengan kedewasaan. Memantapkan hati terhadap pilihan menjadi biarawan, menolerir berbagai hal dengan berusaha menempatkan juga membawa diri dalam komunitas, menyamakan persepsi serta mengesampingkan idealisme.  “Kami dituntut harus mampu mengerem diri. Apa yang kami kerjakan tidak hanya cukup berdasarkan teori yang diterima saat sekolah, kami dituntut hidup dan ‘hadir’ bersama komunitas namun tetap menjadi diri sendiri. Kami harus lebih banyak belajar dari yang tua, mendengar mereka karena para pembimbing dalam komunitas  sudah lama hidup dalam ordo, sudah langsung menjalani  kehidupan membiara dan karena pembimbing dalam komunitas tugasnya berat dalam membimbing kami.”, ujar  imam yang dulu sempat menjadi pembina pramuka itu penuh bijaksana.

Suaranya sempat menjadi lebih pelan, dan pandangannya sedikit menerawang  saat mengisahkan terdapat teman lama serta umat yang memandang dirinya secara berbeda karena label imam yang telah melekat pada dirinya. Ia berharap tak dipandang secara ekslusif dan bisa menjalani hari-hari selayaknya, tak  ‘berjarak’ dengan umat.

Masih di kesempatan yang sama, ketika ingatannya seolah diajak pulang ke masa pentahbisan, sinar matanya berpendar. “Saya harus berterima kasih pada warga Paroki Kuala Dua. Dengan kerja keras umat yang meskipun di kampung, namun mereka mengusahakan prosesi pentahbisan imam dengan sangat meriah. Saat itu saya dan kedua orang tua saya diarak menggunakan mobil yang dibentuk menjadi miniatur gereja.”, kenangnya.

Di akhir obrolan yang cukup menyenangkan, pastor yang memiliki motto ‘Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati,’ ini menuturkan harapannya. “Semoga panggilan imamat ini tetap dan kekal, semoga umat selalu mendoakan para imamnya dalam menjalankan karya kegembalaan, dan semoga umat dengan rela hati memberikan diri ataupun putera dan puterinya menjadi biarawan dan biarawati,” pungkasnya. (Hes) 

Riwayat pendidikan dan kegembalaan.
SDN Kuala Dua (1990-1996)
SMPK Kuala Dua (1996-1999)
SMUN 1 Kembayan (1999-2002)
Tahun Orientasi Panggilan (Nyarumkop, 2003-2004)
Postulat (St. Leopold Mandic - Sanggau Kapuas, 2004-2005)
Novisiat (St. Padre Pio, Gunung Poteng - Singkawang, 2005-2006)
Kaul Perdana (26 Juli 2006)
Post Novisiat (Tirta Ria - Pontianak, 2006-2007)
Sekolah Filsafat (STFT St. Yohanes - Pematang Siantar, 2007-2011)
Pelantikan Lektor dan Akolit (Biara Kapusin St. Fransiskus Assisi, 2010)
Tahun Orientasi Pastoral (Paroki Pusat Damai, 2011-2012)
Sekolah Teologi (STT Pastor Bonus, 2012-2014)
Kaul Kekal (Novisiat St. Padre Pio, 2 Agustus 2013)
Tahbisan Diakon (Sanggau Ledo, 24 Juli 2014)
Masa Diakonat (Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop)
Tahbisan Imam (Kuala Dua, 31 Januari 2015)
Tugas saat ini (Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop)