MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta Pembaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta Pembaca. Tampilkan semua postingan

9 Jun 2017

Merajut Cinta Si Kupu - Kupu Percakapan Imajiner

 Merajut Cinta Si Kupu - Kupu
Percakapan Imajiner

Sang surya terpaksa beristirahat lebih awal karena barisan awan gelap datang berbondong-bondong menyelimuti senja dan akhirnya hujan turun begitu lebat sepanjang malam.

Namun esok paginya, Sang Surya telah muncul di ufuk timur, melepas kerinduan, menyapa bumi yang selalu menanti. Pucuk-pucuk dedaunan merasakan sapaan lembut Sang Surya dengan penuh kehangatan, setelah semalaman mereka mengginggil kedinginan diguyur hujan.

Suasana yang sedemikian damai telah mampu menghantarkan penghuni taman untuk tidak hanya merenungkan, tetapi sekaligus merasakan keagungan Sang Pencipta. Tiba-tiba suasana menjadi ramai tak terkendali ketika dari kejauhan terbang mendekat seekor kupu-kupu dengan lincah dan gagah, berkelit di antara bunga-bunga di taman. Dari cara terbangnya yang lembut, pakaian  di sayapnya pun tampak serasi dipadu dengan dasi di lehernya dan hal ini membuat bunga-bunga salah tingkah. Si Kupu-kupu hinggap di sepotong ranting mangga kering yang masih menempel di cabangnya.Semua bunga memaksakan diri untuk segera membuka kelopaknya, memamerkan keindahan dan kelebihan mereka masing-masing. Rupanya bunga-bunga di taman begitu terpesona melihat ketampanan sang Kupu-kupu yang baru datang di taman itu. 



Dengan suaranya yang manja merayu, bunga-bunga di taman berusaha mengajak Si Kupu-kupu untuk berkenan singgah sejenak di taman hatinya.

“Singgahlah kemari, sayang, dan jangan kau bertualang lagi, Kupu-kupu pujaan hati,” si Bunga Kanthil mendahului rayuannya. “Bukankah warna bungaku yang putih bersih merupakan dasar dari segala keindahan warna yang ada? Seluruh ciptaan Tuhan akan mengagumimu kalau kau bersamaku, sebab akulah lambang kesucian. Lihatlah, banyak manusia yang mau merelakan apa saja yang dimilikinya demi mengejar kesucian. Yah, dunia akan hancur kalau tidak ada ciptaan yang mau mencariku, sebab apa arti semua yang ada di dunia ini kalau tidak ada ciptaan Tuhan yang mau membawa yang lain kepada kesucian?” kata si Bunga Kanthil mencoba meyakinkan si Kupu-kupu untuk singgah dalam hatinya.

“Kupu-kupu yang manis, ciptaan manapun tidak akan mampu mewujudkan kesucian kalau dalam hidupnya ia tidak berani mewujudkan cintanya. Manusia lebih suka mencariku karena warna merah bungaku merupakan lambang keberanian dari ciptaan yang hendak menyatakan cintanya. Lihatlah, bibir gadis-gadis di kota pun diberi lipstik merah merekah seperti warna mahkotaku, menatap dunia penuh keberanian!” timpal si Bunga Mawar Merah.

“Walau warna merah lebih menggairahkan dari pada warna putih yang pucat, tetapi kesemuanya itu tidak seberapa dibandingkan dengan penampilanku. Dengan warna kuningku, aku merupakan lambang ciptaan Tuhan yang siap mengabdi. Apa artinya mencintai kalau tidak diwujudkan dalam pengabdian? sela si Bunga Matahari.

“Huh, apa artinya pengabdian kalau semuanya itu selalu kau gembar-gemborkan! Kau pandai berkata-kata tentang pengabdian, tetapi kau tak pernah memperjuangkannya secara konkret, sebab hidupmu jauh dari keagungan itu sendiri.

Bersamalah denganku saja Kupu-kupu! Hidupmu akan menjadi begitu agung karena aku tidak pernah membosankan dan aku selalu tampil anggun dan sederhana, tampil bersahaja,”  Anggrek Ungu juga tak mau kalah ambil bagian dalam rayuan. 

Sang Surya di sudut sana mendengarkan argumen-argumen mereka dengan baik dan kadang-kadang dia tersenyum. Masing-masing mereka selalu memuji dirinya sendiri,
“Langit biru, laut biru, gunung biru semua ciptaan yang perkasa berwarna biru.
Aku mampu mengubah semua wajah menjadi sangat cantik, asri dan tampak ceria!” ungkap si Anggrek Ungu sambil menatap mesra si Kupu-kupu.



“Semua warna bunga di taman ini sangat baik, namun sebaliknya, justru penampilan kalianlah yang membuat kalian tampak buruk, karena keegoisan kalian itulah, kalian tidak bijak dalam memberikan penilaian, sebab baik dan buruk yang kalian ungkapkan itu lahir dari kelekatan pada anggapan kalian sendiri-sendiri,” sang Kupu-kupu yang sedari tadi tidak berbicara kini mulai mengeluarkan isi hatinya sambil masih tetap hinggap di ranting kering cabang pohon mangga tersebut.

“Kalian  cenderung mengatakan orang lain sebagai sesuatu yang jelek. Berhati-hatilah, sebaiknya kalian tidak menilai diri kalian terlalu tinggi lantas menilai yang lain terlalu rendah dan karena itu kalian akan mudah jatuh dalam sikap sombong ataupun congkak.”

Mereka semua hanya diam, tidak menjawab atau menyanggah apa yang dikatakan oleh si Kupu-kupu tentang diri mereka.

“Memang kalau tidak hati-hati, baik dan buruk akan keluar karena perasaan egois semata,” si Kupu-kupu melanjutkan. “Pada waktu senang, apapun yang ada kalian anggap baik, sementara pada waktu kalian sedih apa saja kalian anggap jelek. Padahal baik maupun buruk bukanlah terletak pada perasaan. Karena digerakkan oleh rasa senangmu, kalian menyuruhku untuk singgah di bunga kalian. Bila demikian, hal yang sama pun akan kalian perbuat kepadaku, kalian akan mengusirku disaat kalian menjadi merasa bosan dengan kehadiranku!” Si Kupu-kupu menyudahi lontaran rasa kekecewaannya. Sang Surya yang sejak tadi mengikuti dengan cermat percakapan imajiner tersebut, puas dengan paparan si Kupu-kupu dan Sang Surya tersenyum sendiri di pojok langit.

Singkawang, awal  April 2017.

CINTA

CINTA


Kita benar-benar harus memahami orang yang ingin kita cintai.
Jika cinta hanyalah kemauan untuk memiliki, itu bukanlah cinta.
Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, jika hanya mengetahui kebutuhan diri sendiri, dan mengabaikan kebutuhan orang lain, kita tidak bisa mencintai.
Kita harus melihat dalam-dalam agar bisa melihat dan memahami kebutuhan, cita-cita, dan duka orang yang kita kasihi. Inilah landasan cinta sejati. Anda tidak bisa tidak mencintai seseorang tatkala Anda benar-benar memahami orang tersebut.

Dari waktu ke waktu,  duduklah di dekat orang yang Anda cintai, peganglah tangannya, dan tanyakanlah,; Sayang, apa aku cukup memahamimu? Atau aku membuatmu menderita? Tolong beri tahu aku supaya aku bisa belajar mencintaimu dengan layak. Aku tak ingin membuatmu menderita, dan jika aku melakukannya karena ketidaktahuanku, tolong beri tahu aku agar aku bisa lebih baik mencintaimu, supaya kamu bisa bahagia.
Jika Anda mengatakan itu dengan suara yang mengomunikasikan keterbukaan sejati Anda untuk memahami, orang itu mungkin bisa menangis. Itu pertanda yang baik, karena itu berarti pintu pemahaman sedang terbuka dan segala sesuatu akan menjadi mungkin lagi.

Mungkin seorang ayah tidak punya waktu atau tak cukup berani menanyai putranya pertanyaan seperti itu. Maka cinta antara mereka tidak akan sepenuh yang bisa terjadi.
Kita memerlukan keberanian untuk menanyakan pertanyaan tersebut, namun jika kita tidak bertanya, semakin kita mencintai, semakin kita menghancurkan orang yang berusaha kita cintai.
Cinta sejati memerlukan pengertian. Dengan pengertian, orang yang kita cintai niscaya akan mekar.

Jika Anda mencintai seseorang, pasti Anda ingin ia bahagia. Jika ia tidak bahagia, maka Anda pasti tidak bahagia juga.
Kebahagiaan bukanlah masalah pribadi.

Cinta sejati membutuhkan pengertian yang mendalam. Pada dasarnya, cinta adalah nama lain dari pengertian.
Jika Anda tidak mengerti, Anda tidak dapat mencintai dengan semestinya.
Tanpa pengertian, cinta Anda hanya menjadi penyebab penderitaan bagi orang lain.

Untuk mencintai dengan cara yang benar, Anda harus memiliki pengertian. Pengertian maksudnya dapat melihat kegelapan, kesakitan, dan penderitaan orang lain.
Jika tidak dapat melihatnya, apapun yang Anda lakukan demi dia, hanya akan menambah penderitaannya.

Meskipun memiliki keinginan baik, Anda dapat membuat pasangan Anda tidak bahagia.
Belajarlah untuk menciptakan kebahagiaan. Belajarlah untuk mencoba mengerti, dan berikanlah cinta kasih dan welas asih yang tanpa syarat, mau merawat dan membantu pasangan Anda berkembang dan menjadikan kebahagiaan sesuatu yang nyata.

Goresan Pena : Herry Kusuma

Dengan Iman Kristiani, Cermat dalam Mengolah Isu Sara

Dengan Iman Kristiani, Cermat dalam Mengolah Isu Sara


Palu hakim telah diketuk dengan vonis 2 tahun penjara untuk Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Namun drama itu belum berakhir. Di berbagai kota di Indonesia muncul aksi lanjutan sebagai bentuk ekspresi masyarakat terhadap putusan atas Ahok. Kekhawatiran munculnya efek domino negatif di berbagai daerah seperti bom waktu yang siap meledak kapan pun. Akar rumput yang tidak kasat mata sudah mulai menimbulkan riak dan benih-benih konflik yang tidak bisa dianggap sepele. Apalagi dengan mudahnya akses media sosial dan informasi rawan untuk dijadikan alat provokasi. Tidak terkecuali di Kota Singkawang.

Lalu bagaimana pandangan Kristiani akan hal ini? Tanpa kita sadari ternyata kasus Ahok yang keberadaannya ribuan kilometer dari sini secara perlahan namun pasti mengangkat sentimen kita. Membuat kita ingin berpendapat dan tanpa disadari kita melakukannya. Bahkan kita mengadopsinya dalam lingkungan gereja. Apa yang dirasakan oleh Ahok seperti mewakili perasaan umat Kristiani di Indonesia. Dianggap kafir, minoritas dan menistakan agama yang notabene mayoritas. Tuduhan berlabel Suku Agama Ras dan Antorgolongan (SARA) disematkan padanya. Lalu perlukah dukungan gereja dan umat Kristen terhadap Ahok? 

Ketika kata ‘kafir’ yang memang ada di dalam kitab suci agama Islam diangkat di ranah publik kemudian diucapkan berkali-kali dan terus menerus, tentu saja melukai perasaan umat dengan agama yang berbeda. Begitu pula dengan kata ‘minoritas’ dan ‘mayoritas’. Saya sendiri merasa tidak ada kata ‘minoritas’ dan ‘mayoritas’ di negara ini. Sebab sejak dahulu sampai sekarang negara Indonesia terbentuk karena keberagaman, bukan karena ‘siapa yang lebih banyak’. Setiap orang dilindungi hak-hak hidup dan berpolitiknya. 

Semua orang mungkin tahu kalau Pilkada DKI telah dieksploitasi menjadi isu SARA demi keuntungan segelintir orang. Berdampak pada Gerakan Bela Islam hingga berjilid-jilid meminta Ahok dihukum. Lalu muncul pertanyaan perlukah ada dukungan khusus  buat Ahok sebagai penyeimbang Gerakan Bela Islam tersebut dari umat Kristiani?

Menurut saya, Gereja tidak perlu terpancing dalam polarisasi dukung mendukung. Tidak perlu melakukan aksi dan mengeluarkan pernyataan yang justru akan memunculkan masalah baru dan berakibat pada perpecahan di Singkawang. Mungkin kita perlu membuka lagi Tri Kerukunan Umat Beragama yang telah lama terlupakan dan menghayatinya kembali.

Sentimen-sentimen balasan akan aksi lilin yang marak diberbagai kota mulai sedikit terasa. Tentu saja pada akhirnya sayup terdengar kalimat minor yang dapat berubah menjadi pemicu aksi provokasi. Saat ini bangsa kita seperti sedang dirongrong menjelang seabad berdirinya Negeri Rayuan Pulau Kelapa. Terorisme dan aksi separatis tidak ada habisnya, korupsi merajarela dan narkoba menyebabkan kondisi negara darurat. Kenapa tidak berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat untuk semua daripada hanya mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan. Kalau kita ingat bagaimana negeri kita didirikan dengan darah nenek moyang kita sendiri, lalu apa harus kita hancurkan dengan perang saudara yang juga meneteskan darah kita dan keturunan kita? 

Seharusnya kita sudahi segala aksi tolak menolak dan dukung mendukung dengan kekerasan. Kita dapat menyelesaikan semuanya dengan musyawarah. Saling mendinginkan satu dengan yang lain. Palu telah diketuk, putusan telah dibacakan dan lilin-lilin sebagai gambaran ekspresi telah dinyalakan. Saatnya bersih-bersih dan kembali jaga keutuhan dan keberagaman.    

Gereja memandang bahwa bisa saja sikap dukung mendukung akan mudah dipolitisasi pihak lain dengan kekuatan media sosial lalu dibelokkan sesuai kepentingan kelompok tertentu yang tidak ingin Indonesia maju. Gereja harus lebih tenang, objektif, dan perbanyak jaringan dengan kelompok agama lain dan komunitas lain yang memiliki visi misi sama dalam menguatkan keutuhan NKRI.

Kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Tidak menjadi kelompok atau pribadi eksklusif yang tertutup dengan orang lain yang berbeda, tapi jadilah inklusif dan membangun jejaring sebanyak mungkin. Umat Kristen tidak perlu ikut-ikutan ke jalan, cukuplah kita berdoa. Kalau berdoa masuklah dalam kamar. Sejenak kita perlu diam dan hening supaya dapat menemukan yang sejati, pokok, inti dalam hidup dengan kepedulian dan kesederhanaan.

Menilik ke belakang, dalam beberapa kasus Gereja sering terbawa arus, terbawa isu SARA. Sebab itu Gereja sebaiknya tidak menghangatkan isu SARA, apalagi ikut merespon atau membalas media sosial yang tujuannya tidak baik dan melakukan aksi-aksi yang provokatif. Sebagai umat Gereja yang diajarkan untuk mengasihi dan mengampuni sesama, penting bagi kita menjaga netralitas ke-nabi-an Gereja bagi perkembangan demokrasi nasional. 

Semoga dengan netralitas Gereja kita tidak perlu masuk dalam ranah politik praktis dan mencampurnya dengan kehidupan gerejawi. Mari bersama kita jaga keutuhan dan kesatuan NKRI dengan kebhinekaan yang menjadi ciri khas kita dan toleransi antar umat beragama dalam iman Kristiani. (Sabar Panggabean)

7 Jun 2017

BERBICARA PADA HENINGMU

BERBICARA PADA HENINGMU




Di atas hamparan bukit kecil dengan segala sunyinya
Basah dingin curam membaca
Setiap syair bermekar kuntum
Tetaplah mekar

Berjalanlah sampai pagi menyentuh heningmu
Kan selalu ada puisi yang menemani dirimu

Di balik bulan purnama terdapat kawanan bintang
Pejamkanlah matamu
Rasakan dengan hatimu
Rasakan hangatnya setiap kedip cahaya
Semua perwujudan cinta

Hati yang luas bagaikan langit
Masalah hadir bagai halilintar
Mampukah kilatan itu meninggalkan luka pada dada langit?

Waktu bagaikan tamu
Setelah lewat dia tak akan kembali
Tertinggal hanyalah memori

Hati sekuntum mawar
Merawat luka seperti menyentuh duri ditangkai bunga
Sentuhlah dengan lembut dan hati-hati
Maka tak akan ada yang terlukai

Ingatlah
Bahwa kita mampu merawat luka dengan sabar
Maka luka akan terobati

Dengan satu kalimat yang indah Gibran sang Penyair  Lebanon pernah menuliskan;
"Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa, semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan"

Aku tidak dapat menjelmakan kalimat yang indah
Seperti yang kamu minta pada pujangga
Namun satu bait ingin aku titipkan di bukit sunyimu yang teduh

Pahamilah duka seperti memahami suka
Usaplah kesedihan serupa dengan membelai kesenangan
Terimalah kehidupan secara utuh
Inilah kebahagiaan.


(Goresan Pena : Herry Kusuma)


















Sakramen Tobat

Sakramen Tobat




Ketika pusat hidupku menjadi kain yang ternoda
karena buah apel yang tersaji,
pusat diriku menjadi asing dengan dirinya sendiri
karena jiwa menjadi leher yang tercekik
dan menjadi kapal di tengah badai lautan

Itu karena jiwa tertipu oleh ilusi
Seakan yang bertumbuh dan hati dalam keutuhannya
ada dalam kemauannya
ada dalam genggamannya

Ketika pusat hidupku menjadi kain yang ternoda,
hatinya mendamba pulang kembali ke rumahnya
Pada saat itulah Sang Ada melalui gereja-Nya
memberikan jalan pembebasan dari jerat

Melalui sakramen tobat
diakuinyalah kelemahan kita
Melalui sakramen tobat
dimaklumkanlah uluran air pelepas dahaga-Nya

Ketika jiwa saling berpelukan
ia menjadi lahir kembali
yang siap hati dibakar oleh api-Nya dan membasuh kaki yang lain
memang itulah yang menjadi citra dirinya

(FCW, Roma 10 Oktober 2004)

Doa Salam Maria dan Komentarnya

Doa Salam Maria dan Komentarnya




Jangan katakan : Salam Maria, jika engkau dalam hidupmu tidak pernah sungguh menghormatinya.
Jangan katakan : Penuh rahmat, jika engkau sendiri terus bertegar hati dalam dosa-dosamu.
Jangan katakan : Tuhan sertamu, jika engkau hanya memikirkan dirimu sendiri.
Jangan katakan : Terpujilah engkau di antara wanita, jika engkau suka melecehkan kaumnya.
Jangan katakan : Terpujilah buah tubuhmu, Yesus, jika engkau tidak sungguh mengikuti jejak Yesus, puteranya.
Jangan katakan : Santa Maria, jika cara hidupmu sungguh tercela.
Jangan katakan : Bunda Allah, jika engkau tidak mau menempatkan dirimu sebagai anaknya.
Jangan katakan : Doakanlah kami yang berdosa ini, jika engkau tidak pernah mau berdoa bersamanya.
Jangan katakan : Sekarang dan waktu kami mati, jika selama hidupmu engkau memang tidak sungguh bertobat.
Jangan katakan : Amin, jika engkau tidak serius berdoa “Salam Maria”

                    (Sang Musafir, 12 Maret 2001)

Baju Baru Nayla

Baju Baru Nayla

“Nayla....!” panggil ibu dari dapur, bergegas ia keluar dari kamarnya menuju dapur. ”Belikan ibu garam di warung ya, itu uangnya” ucap ibu. Nayla segera mengambil uang itu lalu pergi ke warung. Setelah membeli garam ia berjalan sangat lambat sambil memikirkan percakapannya dengan teman-temannya tadi di sekolah. Semua temannya sudah membeli baju baru untuk hari raya Paskah sedangkan dia masih belum memilikinya. Ia tahu bahwa ibunya sedang sibuk sekali karena pada hari Paskah ini semua keluarga besar akan berkumpul di rumahnya.

Sesampainya di rumah Nayla langsung menuju ke dapur, sambil meletakkan garam di meja Nayla pun bertanya “Bu... aku mau beli baju baru. Teman-temanku saja sudah membeli baju baru,” sambil melihat Nayla ibu berkata ”Nay, maaf ibu belum sempat setiap pagi ibu harus merapikan rumah, kamu tahukan nanti keluarga besar kita akan berkumpul di sini, jadi tunda dulu ya beli bajunya,” ucap ibu Nayla. 

Nayla pun kembali ke kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang tapi masih saja Nayla memikirkan baju barunya, perkataan teman-temannya masih saja bergema di kepala Nayla. Tiba-tiba telepon rumah berdering, kring...kring... segeralah Nayla beranjak dari kamarnya menuju telepon rumah yang berada di ruang keluarga. Segera Nayla mengangkat telepon itu. 

“Selamat siang” ucap si penelpon dengan ramah. Nayla pun menjawab “Selamat siang ini siapa ya?” 

”Ini Ibu Rika, ibu guru Sekolah Minggu” ucap si penelpon lagi, 

“Ooo... Ibu Rika mau bicara dengan siapa, Bu” ucap Nayla ramah. 

Maka si penelpon menjawab ”Saya mau bicara sama nak Nayla” 

”Iya ini saya sendiri, ada apa, Bu ada yang bisa saya bantu?” 

Maka si penelpon pun menjelaskan maksud menelpon Nayla. 

”Begini nak Nayla ibu perlu bantuan mu. Untuk menjadi MC di acara Paskah anak-anak nanti, maukah Nayla membantu Ibu?”

”Tentu, Bu, kapan latihannya?” tanya Nayla lagi. 

Bu Rika menjawab ”sore ini nak pukul 15.00 di gereja ya. Nanti kamu akan menjadi MC bersama Tata”

”Ooo....siap, Bu”, ucap Nayla mantap. 

”Baiklah, Nak itu saja yang ingin ibu sampaikan. Sudah dulu ya. Sampai bertemu di gereja.” 

“Iya, Bu” ucap Nayla mengakhiri telepon.

Nayla seakan-akan lupa tentang baju baru. Sekarang sudah menunjukan pukul 14.00, aku harus siap-siap ujar Nayla dalam hati. Dia segera berganti pakaian lalu menyiapkan bekal minum yang akan dia bawa. Setelah itu dia langsung menuju ke dapur tempat di mana ibu dari tadi  sibuk mengiris sayur dan daging. Nayla pun berkata,

”Bu... tadi, Bu Rika telepon, beliau meminta bantuanku untuk menjadi mc di acara paskah anak-anak nanti. Antar aku latihan ya Bu, di Gereja” ujar Nayla. Ibu pun menjawab ”Nay..., bukan ibu tak mau mengantarmu tapi lihatlah ibu masih harus berkemas-kemas, jadi kamu naik sepeda aja ya, kan dekat” ujar ibu menjawab. Nayla pun berkata ”Ya, sudah kalau begitu Nayla pamit, ya Bu” sambil menyalami ibu. Nayla pun segera berangkat ke gereja dengan mengayuh sepedanya.

Sesampainya di gereja dia langsung di sambut oleh Bu Rika dan juga Suster pembimbing Sekolah Minggu, serta teman-teman Sekolah Minggu yang lain. Mereka tidak membuang waktu. Mereka langsung latihan. Waktu terus berjalan, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 maka berakhirlah latihan menjadi mc untuk hari ini. Tata teman sekolah minggu Nayla memperlihatkan baju barunya lewat foto yang ada di smartphone-nya dengan bangga.  Tata pun dijemput maka sekarang Nayla lah yang harus pulang. Tapi ternyata ia masih duduk melamun di bawah pohon rindang di halaman gereja. Pastor yang bingung melihat tingkah Nayla yang tak seperti biasa pun menyapa Nayla 

”Selamat sore Nayla, kenapa kok murung gak kayak biasanya?” ucap pastor dengan ramah. 

Nayla yang baru menyadari bahwa sedari tadi ada pastor yang menyapanya pun terkejut 

”Eeeh pastor...maaf, tapi Nayla gk ada mikir apa-apa kok” ucap Nayla menyangkal 

”Ayo jangan bohong keliatan tahu kalau anak Tuhan sedang bohong. Ayo cerita, siapa tau pastor bisa membantu” ucap pastor sambil bercanda dan mencairkan suasana.

Nayla pun menjawab 

”Begini Pastor, sebentar lagikan hari raya Paskah, apalagi besok sudah memasuki Tri Hari Suci, tapi Nayla belum membeli baju baru sedangkan teman-teman saja sudah pada beli. Mama sedang sibuk beres-beres rumah sedangkan papa sibuk bekerja, yah bagaimana dengan baju baruku?” ucap Nayla sambil menghela napas panjang. 

Sekarang pastor mengerti kenapa Nayla murung. Maka pastor pun berkata,
”Tidak semua orang bisa bahagia seperti Nayla mereka tidak mungkin punya baju baru, bahkan untuk makan sehari-hari pun susah. Tapi lihatlah mereka bahkan bisa tertawa bahagia, karna apa? karna mereka tahu Tuhan selalu mendampingi mereka dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Tuhan rela mengorbankan nyawanya untuk menebus semua dosa manusia. Jadi syukurilah apa yang sudah kamu miliki Nayla” ucap pastor dengan lembut.

Segera Nayla berpamitan dengan pastor lalu pulang kerumahnya ia merasakan bahwa dia sudah benar-benar puas akan apa yang sudah dia miliki. Sesampainya di rumah Nayla langsung mandi dan belajar di kamar, tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamar Nayla. 

”Ya” ucap Nayla.  

”Boleh ibu masuk, Nak?”

”Tentu, Bu” Nayla menjawab 

“Nak maaf ya ibu belum sempat membelikanmu baju baru, ibu sangat sibuk jadi susah cari waktu untuk belanja,” ucap ibu mengawali pembicaraan 

”Tak mengapa, Bu, bukan baju baru yang penting untuk menyambut hari Paskah tapi hati yang penuh suka cita karena Tuhan Yesus bangkit di antara orang-orang yang mati untuk menyelamatkan kita semua” ucap Nayla mantap. 

Ibu sangat bangga mendengar jawaban Nayla, ibu pun memeluk Nayla dengan bahagia.

By. Georgia Laura Viwanda.

3 Mar 2017

Pembuatan Kolam Ikan Wujud Pemberdayaan Umat Stasi Aris ( Bagian-1 )

Pembuatan Kolam Ikan Wujud Pemberdayaan Umat Stasi Aris( Bagian-1 )


Ada banyak cara untuk berdayakan umat, khususnya di Stasi Gereja St. Yosep - Aris, Paroki Singkawang yang telah membentuk kelompok kerja budidaya kolam ikan dengan tujuan pemberdayaan umat agar umat dapat tumbuh dan berkembang baik dari segi kreativitas dan finansial untuk memenuhi dan menambah pemasukan serta dengan memperjuangkan kesejahteraan bersama. Pada Minggu, 16 Oktober 2016 pengurus umat dan umat mengadakan pertemuan dan membentuk kelompok budidaya kolam ikan, di mana pelaksanaan pertemuan ini setelah umat merayakan Ibadat Hari Minggu bersama di gereja. Pertemuan menghasilkan kesepakatan dan untuk sementara terbentuklah satu kelompok budidaya kolam ikan yang diketuai oleh bapak Antonius Ajun dengan anggota dua belas orang.

Lahan yang sudah dipersiapkan untuk kolam ikan dikerjakan bersama oleh kelompok dan akan dipelihara ikan nila dan ikan mas. Dengan penuh semangat dan keceriaan kelompok melapangi lahan, menggali tanah dengan cangkul dan alat seadanya, mengangkat dan membuang tunggul-tunggul kayu dan lumpur, membuat saluran air masuk dan air keluar serta membarau kolam dengan batang-batang kayu agar tebing-tebing kolam tidak longsor. Cukup sederhana namun tidak menyurutkan semangat kerja tim yang berkubang dengan lumpur.

Upaya ini disambut baik dan didukung oleh Pastor Paroki untuk memberdayakan umat karena pada umumnya umat di Stasi Aris memiliki semangat kerja dan semangat untuk mengembangkan potensi diri. Dengan adanya pemberdayaan budidaya kolam ikan ini nantinya diharapkan bisa memberi kontribusi dalam peningkatan pendapatan umat, memperluas kesempatan kerja dan kesempatan usaha, serta dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan rumah tangga.

Pemberdayaan ini akan berhasil apabila kelompok yang sudah terbentuk menyadari perlunya proses baik dari segi waktu, usaha, kesabaran, dan daya juang. Semoga saudara-saudari kita yang lain termotivasi dan ikut terlibat langsung untuk tugas ini. Masih ada cara lain asalkan ada kemauan dan pemberian diri yang tulus dalam bekerja. 
Semangat! (Anton Martono)  

30 Nov 2016

Retret Guru dan Karyawan Yayasan Pengabdi untuk Sesama Manusia “Yesus Sang Guru Sejati”

Retret Guru dan Karyawan Yayasan Pengabdi untuk Sesama Manusia

“Yesus Sang Guru Sejati”

Yayasan Pengabdi untuk Sesama Manusia (YPSM) kembali mengadakan retret seluruh guru dan karyawan YPSM yang berlangsung pada tanggal 8-10 September 2016 di Pusat Damai Wisma Tabor Bodok Kabupaten Sanggau. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 207 peserta dan didampingi 14 Suster SFIC yang berkarya di bidang pendidikan. Peserta merupakan gabungan guru, karyawan dan staf 11 unit sekolah naungan YPSM yang ada di Pontianak, Singkawang, Darit dan Pahuman. Wilayah Singkawang sendiri meliputi TK/PG Epiphania, SD Suster, SMP Pengabdi, dan SMA St. Ignasius. Peserta begitu antusias mengikuti kegiatan yang bertemakan “Berbudaya: Berani Memperbaharui Diri dalam Iman, Harapan dan Kasih” tersebut. 

Misa Pembukaan dipimpin oleh Pastor Vincensius Darmin Mbula, OFM yang juga sebagai pemateri utama kegiatan. Beliau mengajak semua guru yang hadir untuk meneladani Tuhan Yesus Kristus sebagai Sang Guru Sejati dalam tugasnya mencerdaskan dan mendidik anak bangsa yang telah dipercayakan. Suster Kepala YPSM, Sr Susana, SFIC dalam sambutannya mengatakan bahwa Ia sangat mengapresiasi kehadiran para peserta. Selain itu, Ia juga berpesan dan mengajak  semua guru yang turut mengabdikan diri bersama YPSM untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam menciptakan generasi yang berkarakter. 

"Saudara-saudari sebangsa dan setanah air yang terdidik dan terkasih, saya sangat mengapresiasi kehadiran bapak/ibu dalam kegiatan kita ini di Wisma Tabor walaupun harus menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan," ujarnya. Beliau juga sempat menyinggung peristiwa dalam Kitab Suci mengenai perjalanan murid-murid Yesus ke Bukit Tabor. “Kehadiran bapak/ibu mengingatkan kita akan peristiwa murid-murid Tuhan Yesus yang datang dari berbagai tempat berbondong-bondong mengikuti Tuhan Yesus Kristus ke Bukit Tabor. Kami berharap dalam kegitan ini membuahkan hal-hal baik yang dapat kita bawa dan terapkan ketika kembali ke tempat masing-masing,” katanya.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu berjalan dengan lancar. Materi-materi yang pada umumnya menyinggung perihal dunia pendidikan Katolik disampaikan oleh Romo Darmin Mbula, OFM. Beliau adalah  Ketua Majelis Pendidikan Katolik Indonesia dan juga dosen di beberapa perguruan tinggi. Melalui pengalaman dan pergulatannya di dunia pendidikan, Ia tampak begitu menguasai materi yang disampaikan. Beliau mengemasnya dengan sangat apik apalagi diselingi dengan beberapa simulasi permainan sehingga peserta tak merasa jenuh.



Salah satu materi yang disampaikan yakni mengenai “Shalom”, yaitu suatu salam yang berarti damai. Merefleksikan apakah guru-guru yang mengabdi bersama YPSM sudah sepenuhnya bekerja dengan hati yang damai. Damai yang diwujudkan dalam semangat yang diperbaharui serta berbudaya kasih persaudaraan. Romo Darmin Mbula, OFM., menyampaikan bahwa pada hakikatnya pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia agar berbuat kebaikan dan gerakan literasi dalam pendidikan merupakan suatu gerakan yang membawa seseorang berbudi pekerti. Ia menerangkan bahwa pendidikan Katolik mengacu pada budaya-budaya Katolik itu sendiri.
 
Budaya Katolik yang dimaksud di antaranya adalah bukan hasil tapi cara hidup, cara hidup yang bukan berupa dokumen atau buku teks tetapi mengajarkan pengalaman hidup/cara hidup. Cara hidup menurutnya tidak dapat dibeli, cara hidup berakar dari pribadi Tuhan Yesus yang ditulis dalam Injil. Hal utama pertama menjadi cara hidup adalah iman, pelayanan, keberanian, keadilan, harapan, kasih dan rekonsiliasi/ shalom (damai), dan komunitas/ persaudaraan.

Iman dalam pendidikan Katolik menjadi hal yang utama. Iman bagi sekolah Katolik ialah mencari kebenaran. Ia menuturkan setiap guru seyogyanya mengajarkan kebenaran dan pelayanan. Pelayanan yang pertama dalam pendidikan Katolik yaitu berkomitmen dan tidak bersungut-bersungut dengan memeperhatikan kompetensi dan ketrlibatan/ tindakan (action) seperti komitmen  dalam pribadi Yesus Kristus sendiri.

Di akhir kegiatan seluruh peserta retret YPSM ditugaskan untuk menyusun komitmen yang nantinya dibawa dan diterapkan di unit kerja (sekolah) masing-masing. Adapun komitmen-komitmen kelompok kerja dibuat ialah berdasarkan tradisi sekolah Katolik yang meliputi budaya Injil, budaya tumbuh bersama, budaya teamwork, budaya kinerja dan budaya profesionalisme. Di sesi terakhir ini juga Kepala YPSM Sr. Susana SFIC berpesan kepada seluruh guru agar menjadikan kelas sebagai ruang pengampunan dan ruang suka cita bagi peserta didik. Kegiatan ditutup dengan Misa penutup, makan siang bersama dan sayonara, lalu seluruh peserta meninggalkan lokasi kegiatan. 

(Oleh: Yudistira, S.Pd. salah satu guru yang mengabdi bersama YPSM)

28 Nov 2016

Penutupan Bulan Kitab Suci Nasional 2016

Penutupan Bulan Kitab Suci Nasional 2016

Minggu, 2 Oktober 2016 menjadi hari yang dinanti-nanti oleh seluruh peserta BKSN 2016. Pada hari itu, acara Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) resmi ditutup dengan pengumuman dan pembagian hadiah kepada para pemenang dari setiap bidang perlombaan yang diadakan. “Meskipun melelahkan, namun BKSN kali ini lebih ramai dan seru ketimbang tahun yang lalu, karena kali ini pesertanya tidak hanya dari utusan siswa sekolah atau dari organisasi rohani lainnya,  tapi ada juga dari guru-guru dan orang tua yang turut serta dalam perlombaan kali ini. Selain itu, perlombaannya lebih menantang dari tahun yang lalu,” ujar salah seorang peserta ketika ditemui usai acara penutupan BKSN 2016 di Gua Maria Paroki Singkawang.

Selain perlombaan LCT, Mazmur, Lektor, Outbond dan mewarnai, ada satu perlombaan yang kembali diadakan dalam BKSN 2016 di paroki kita kali ini; yaitu lomba Biblio Kitab Suci. Lomba Biblio Kitab Suci merupakan perlombaan yang tidak perlu mengucapkan dialog antar pemain, namun lebih menitikberatkan kepada ekspresi wajah, gerak-gerik tubuh dan tata panggung. Setiap kring, sekolah dan organisasi rohani lainnya pun tidak mau melewatkan perlombaan yang satu ini. Ada 7 kelompok peserta perwakilan dari masing-masing kring, sekolah dan organisasi rohani lainnya dan perlombaannya diadakan pada hari Sabtu, 24 September 2016.

Wajah bahagia dan sumeringah terpancar dari wajah-wajah para pemenang BKSN 2016 saat menerima piala dan hadiah. Namun, bukan hadiah yang menjadi tolak ukur dalam perlombaan ini melainkan menjadi warga gereja yang aktif dan antusias.  (Grace)
   
   

BKSN Paroki Singkawang: Outbond Ajang Olahraga, Rekreasi Rohani, dan Pendalaman Iman

BKSN Paroki Singkawang:

Outbond Ajang Olahraga, Rekreasi Rohani, dan Pendalaman Iman

 


Semangat umat Katolik mengucur di Gunung  Sari Singkawang,  Minggu 25/9/2016 dalam kegiatan outbond yang diselengarakan oleh Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang sebagai salah satu rangkaian lomba Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2016. 

Semarak BKSN Paroki tahun ini sungguh menyita perhatian umat Paroki Singkawang dan tentunya mengalami peningkatan peminat yang begitu drastis dari tahun sebelumnya secara khusus pada lomba outbond Rohani. Luar biasa! Peserta Outbond kali ini diikuti oleh 35 tim yang berasal dari stasi, kring, OMK, Misdinar Paroki Singkawang, Biarawati, Asrama Katolik, dan dewan guru serta siswa/i  SMP hingga SMA Katolik yang berada di Kota Singkawang. 

Outbond sendiri merupakan salah satu agenda baru bagi Paroki Singkawang sebagai rangkaian acara BKSN. Banyak makna positif yang dapat diperoleh dalam kegiatan ini. Selain sebagai ajang olahraga juga sekaligus sebagai media rekreasi rohani  dan sarana pendalaman iman bagi umat Katolik khususnya di Paroki Singkawang.

Kegiatan lomba outbond diawali dengan Misa di Gereja Paroki Singkawang yang dipimpin oleh Romo Agus S. OFM.Cap. Dalam homilinya tak lupa beliau memberi semangat kepada para peserta lomba yang terlihat sumringah menyesaki setiap sudut gereja. Seusainya Misa seluruh peserta diarahkan menuju lokasi kegiatan yang berpusat di Persekolahan SMP St. Tarsisius Singkawang.


Selang setengah jam halaman SMP St Tarsisius langsung dipenuhi puluhan peserta. Peserta yang tergabung dalam tim terlihat tak sabar untuk  unjuk kebolehan dan kekompakkan mereka dalam menyelesaikan tiap tantanggan yang sudah menanti. Tentu saja panitia yang sejak pagi sudah stand by menyambut hangat kedatangan mereka. 

Tiap tim mengantri giliran berdasarkan nomor urutnya lalu mendapatkan pengarahan umum sebelum menuju pos-pos outbond agar nantinya setiap kelompok dapat melaksanakan kegiatan dengan aman dan lancar. Selain diberikan pengarahan tiap kelompok dibekali kudapan dan air mineral oleh panitia karena medan yang akan ditempuh cukup menantang. Tak kalah penting, tiap tim juga menerima tanggung jawab yang harus dijaga  dengan baik hingga berakhirnya kegiatan, yaitu berupa sebutir telur mentah yang diserahkan langsung oleh Suster Monika, SFIC.  

Satu per satu tiap tim bergerak menuju pos-pos yang disiapkan panitia. Adapun rute perjalanan dimulai dari persekolahan St Tarsisius, SMKN 1 (STM) kemudian menuju RS Alverno, Gunung Sari, RS Alverno, dan kembali lagi menuju Persekolahan St Tarsisius melalui jalur Gang Bambu yang berada tepat di sebelahnya.  Para peserta harus melewati berbagai tantangan seperti melewati jalan setapak, menyusuri hutan, mendaki gunung, berjalan di medan yang cukup curam, dan menembus pemukiman penduduk sekitaran Gunung Sari Singkawang. Tak hanya itu, setiap jalur yang dilewati dengan jarak bervariasi para peserta akan menyelesaikan tantanggan berupa kuis dan permainan di pos-pos outbond. 

Setidaknya  sembilan pos outbond yang harus dilalui para peserta. Pos pertama yaitu pos tebak gerak berdasarkan kalimat yang tertulis, pos kedua yakni pos merayap melewati rintangan, pos ketiga dengan permaian sambung menyambung menjangkau lilin, pos keempat meniup bola, pos kelima yang dinamai pos mengapai cita dengan mendaki medan berbukit. Kemudian, menuju pos keenam berupa permainan membidik sararan mengunakan ketepel, dilanjutkan pos ketujuh yang mana peserta ditantang untuk mengangkat sebuah bola plastik secara bersama menggunakan seutas tali, lalu pos kedelapan dengan tema “Air Sumber Kehidupan” sebuah permainan membawa segelas  air menggunakan selembar kain, dan pos  terakhir yaitu permainan tradisional pangkak gasing. Semua jenis permainan  tersebut tentunya memiliki makna tersendiri terutama untuk menguji kekompakan, kreativitas, pengorbanan, serta ketepatan tiap peserta dan menjadi dasar penilaian bagi panitia dalam menentukan pemenang lomba. Selain melakukan permaian, peserta juga diuji pengetahuan dan pemahamannya melalui soal-soal tes lisan terutama mengenai isi Kitab Suci, pengetahuan umum Gereja Katolik (Tata Perayaan Ekaristi), Sakramen maupun istilah-istilah dalam gereja yang menjadi intisari lomba outbond BKSN.

Pastor Paroki Singkawang Stefanus Gathot OMF.Cap. tampak hadir di antara para  peserta. Seolah tak mau kalah oleh anak-anak muda dan para umat, beliau begitu antusias mengikuti outbond BKSN. Sesekali terdengar keriuhan dan gelak tawa para peserta ketika tiba di pos permainan. Meski tampak ngos-ngosan para peserta tetap bersemangat apalagi saat mereka menyanyikan yel-yel andalan masing-masing sembari menari dan bertepuk  tangan.


Kegiatan outbond diakhiri dengan rekap nilai oleh panitia setelah seluruh peserta berhasil melewati tiap pos permaian. Hasil perhitungan memutuskan tiga pemenang di antaranya Kring Leo Agung sebagai juara I, tim Siswa SMP Pengabdi Singkawang menempati juara II, dan tim dari Kring Santa Maria sebagai juara ke-III. Selamat kepada para pemenag lomba maupun kepada peserta yang belum berhasil semoga semakin giat meneladani dan mewartakan sabda Tuhan lewat Kitab Suci. Salam jumpa di kegiatan outbond BKSN Paroki Singkawang tahun depan! Tuhan memberkati. 
(Yudistira, S.Pd.)

Perayaan Bulan Kitab Suci Tahun 2016 di SMP Bruder Singkawang

Perayaan Bulan Kitab Suci Tahun 2016 di SMP Bruder Singkawang


Sudah sejak lama gereja menyadari perlunya umat beriman untuk semakin mencintai dan menghidupi Kitab Suci sehingga mereka pantas untuk bersaksi dan mewartakan-Nya baik secara pribadi maupun keluarga. Dalam ajaran Konsili Vatikan II diungkapkan keinginan agar jalan menuju Kitab Suci dibuka lebar-lebar bagi kaum beriman (Dei Verbum 22). Pembukaan jalan menuju Kitab Suci ini dilakukan dengan menerjemahkan Kitab Suci ke dalam banyak bahasa lokal. 

Ktab suci telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, namun umat Katolik Indonesia belum mengenal dan memahaminya, dan belum mulai membacanya. Mengingat hal itu, Lembaga Biblika Indonesia (LBI), yang merupakan Lembaga dari KWI untuk kerasulan Kitab Suci, mengadakan sejumlah usaha untuk memperkenalkan Kitab Suci kepada umat dan sekaligus mengajak umat untuk mulai membaca Kitab Suci. Hal ini dilakukan antara lain dengan mengemukakan gagasan sekaligus mengambil prakarsa untuk mengadakan Hari Minggu Kitab Suci secara Nasional. LBI mengusulkan dan mendorong agar Keuskupan-Keuskupan dan Paroki-Paroki seluruh Indonesia mengadakan ibadat khusus dan kegiatan-kegiatan sekitar Kitab Suci pada Hari Minggu tertentu.

Dalam sidang MAWI 1977 para uskup menetapkan agar satu Hari Minggu tertentu dalam tahun gerejani ditetapkan sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Hari Minggu yang dimaksudkan adalah  Hari Minggu Pertama bulan September. Dalam perkembangan selanjutnya keinginan umat untuk membaca dan mendalami Kitab Suci semakin berkembang. Satu minggu dirasa tidak cukup lagi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seputar Kitab Suci. Maka, kegiatan-kegiatan ini berlangsung sepanjang Bulan September dan bulan ke-9 ini sampai sekarang menjadi Bulan Kitab Suci Nasional.

Pada bulan September, Gereja Katolik Indonesia memasuki bulan Kitab Suci Nasional.  Pimpinan Gereja menganjurkan umat Katolik menjadi lebih akrab dengan Kitab Suci dengan berbagai cara, sehingga dengan demikian umat semakin mendalami imannya dalam menghadapi kerumitan dan kesulitan hidupnya.

Tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2016 adalah Keluarga Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah “Hendaknya Terangmu Bercahaya” (Matius 5:16). Tema ini mengajak semua orang beriman untuk menjadi pewarta Sabda Tuhan dan memberikan kesaksian itu dalam kehidupan kita. Satu di antaranya adalah melalui tindakan cinta kasih kepada keluarga, sesama dan gereja agar mampu memahami ajaran Gereja katolik.

Keberadaan Bulan Kitab Suci ini mempunyai makna yang penting sebagai upaya untuk menyadarkan umat akan pentingnya mencintai Kitab Suci. Untuk mengisi  Bulan Kitab Suci Nasional di setiap keuskupan dilakukan berbagai kegiatan mulai dari lingkungan, wilayah, paroki, maupun di sekolah- sekolah.  Di SMP Bruder Singkawang khususnya dalam merayakan bulan Kitab Suci diawali dengan perarakan  khusus Kitab Suci dan mendengarkan bacaan Kitab Suci,  serta renungan singkat setiap pagi  sebelum pembelajaran selama bulan September. Selain itu, SMP Bruder Singkawang  juga mengadakan berbagai lomba. Adapun yang dilombakan adalah : Lektor, Mazmur,  Pantomin  Kitab Suci, LCT, Kriya, dan Vokal Grup. Kegiatan lomba diadakan 2 hari di minggu ketiga bulan September. 

Dalam berbagai lomba peserta didik dapat berbaur dengan teman-teman tanpa membedakan agama. Mereka begitu kompak dan saling bekerjasama untuk memenangkan lomba. Masing-masing kelas mempersiapkan diri untuk menampilkan yang terbaik. Kegembiraan terpancar di wajah mereka, meskipun tidak begitu meriah tetapi menimbulkan kesan yang sangat mendalam bagi peserta didik. 

Tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk mengenal menumbuhkan cinta terhadap Kitab Suci serta sebagai wahana  bersaksi dan mewartakan Sabda Allah di tengah keluarga, masyarakat dan gereja. Dengan demikian, melalui Bulan Kitab Suci peserta didik menjadi semakin rajin membaca dan merenungkan Sabda Allah, peserta didik semakin dapat menghayati dan mengamalkan Sabda Allah dalam kehidupan sehari-hari, serta selalu didasarkan pada Sabda Allah dan senantiasa selaras dengan kehendak Allah.

Semoga usaha sekolah dan peserta didik seluruhnya diberkati Tuhan dan iman peserta didik semakin dewasa dengan sering membaca kitab Suci.(Dian Lestari, S.Pd)


29 Mei 2016

BULIR PADI - MELEPAS BAJU



BULIR PADI - MELEPAS BAJU

 

          


Pak Tegar adalah seorang pekerja keras, petani yang ulet. Sawah yang diusahakannya dengan membanting tulang memeras keringat, membuat sawahnya selalu menepati janji memberi kehidupan, tetapi juga memberikan kemurahan hingga panenan tahun ini sungguh berhasil dengan baik. Pak Tegar bersama istri dan anaknya berjalan riang, menapaki pematang sawah. Mereka melangkah menuju ke sawahnya. Kicauan burung menyambut mentari pagi yang bersinar cerah, mengiringi langkah mereka yang mulai menuai hamparan padi yang telah menguning. Mereka hendah menuai hamparan padi yang telah menguning.

Mentari yang bersinar keputih-putihan, bekerja keras sepanjang hari tanpa mengenal lelah membantu Pak Tegar dan juga para petani yang lain, mengeringkan padi mereka yang dijemur. Senda gurau dan derai tawa Pak Tegar dan keluarganya menghiasi kerja mereka disaat menumbuk padi, anak-anaknya, baik yang laki maupun yang perempuan.

Hentakan alu mereka yang tidak selalu ditujukan pada bulir-bulir padi, tetapi sekali-kali alu mereka dipukulkan ke bibir lesung atau pun beradu dengan alu yang lain, menimbulkan suatu irama musik alami yang menghasilkan suara yang merdu layaknya musik di sebuah pesta mengiringi dengan setia lenggak-lenggok gerak badan penari yang hendak mengungkapkan kebahagiannya.



“Istirahat dulu, Pak,” kata istrinya. “Sekarang saya akan membersihkan buliran beras, karena sudah banyak buliran padi yang telah terkelupas dari kulitnya,” istrinya melanjutkan.

“Baik,  terima kasih, Mak,” jawab Pak Tegar sambil menyeka keringatnya lalu dia berjalan ketempat yang lebih teduh, diikuti oleh si Sarmo anak laki-lakinya.

“Ayah dan kakak memang hebat ya, Mak! Mereka menumbuk padi sangat kuat sehingga sebentar saja sudah banyak bulir padi yang terkelupas kulitnya,” si Sarmi, anak perempuannya memuji.

“Eh, Sarmi, terkelupasnya kulit pada itu bukan semata-mata karena kekuatan ayah dan kakakmu, dalam menumbuknya,” sahut emaknya.

“Lalu kalau bukan karena itu, karena apa, Mak?” si Sarmi protes karena merasa kerja ayah dan kakaknya tidak dihargai.

“Gini lho, selain tumbukan dari alu ayahmu dan kakakmu, biji padi yang kita letakkan dalam lesung ini sebenarnya antara mereka sendiri, antara bulir-bulir padi itu saling bergesekan, saling membantu antara bulir yang satu  dengan bulir lainnya sehingga kulitnya bisa terlepas,” jawab ibunya sambil terus menampi.

“Demikian juga dengan apa yang ada dalam hidup ini, Nak. Setiap pertemuan dan perjumpaan antara orang yang satu dengan yang lain juga akan mengakibatkan terjadinya gesekan dan benturan dalam berbagai hal,” timpal ayahnya, Pak Tegar,  sambil menghampiri mereka, karena mendengar percakapan antara istri dan anak gadisnya.

“Apa maksudnya itu, Ayah?” tanya Sarmi.

“Setiap orang di dalam pergaulan itu bisa saling memperkembangkan!” sela emaknya

“Wuah, kalau demikian perjumpaan dan pergaulan kita dengan orang lain dalam hidup ini juga dapat membantu kita untuk mencapai cita-cita secara bersama ya, Mak?” si Sarmi makin ingin tahu.

“Betul Sarmi, tetapi kamu dan teman-temanmu tidak sesederhana bulir-bulir padi ini. Banyak mempunyai kemiripan tetapi juga banyak perbedaan.

“Lho kok gitu, Mak?” kata Sarmi.


“Iya, kamu dan teman-temanmu itu mempunyai bakat, kemampuan, minat, sifat dan sebagainya yang sangat mungkin berbeda, karena kalian masing masing memiliki keunikan. 

Manusia itu adalah makhluk yang unik!” emaknya menjelaskan.

“Apakah keunikan itu dapat juga menjadi penghalang dalam pergaulan, Ayah?” tiba-tiba Sarmo, anak laki-lakinya ikut nimbrung dalam pembicaraan.

“Memang, keunikan itu kalau tidak disadari akan menimbulkan gesekan-gesekan, karena satu sama lainnya berfikir dan berbuat sesuai dengan latar belakang kehidupannya. Tetapi kalau disadari justru keunikan satu sama lainnya itu dapat saling melengkapi, bekerja sama membedah keegoisan diri.

Maka kita harus sadar, bahwa tidak ada manusia sebagai makhluk sempurna. Kita manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekuarangan masing-masing. Oleh sebab itu, satu dengan yang lainnya perlu menjadi sahabat, sahabat yang tidak hanya memuji ataupun mencela, sebaliknya menjadi sahabat yang mau menegur sahabatnya yang berbuat salah karena cinta, dan mau mendukung bila melihat sahabatnya tengah berjuang meraih kebijaksanaan ataupun kebenaran hidup! Sahabat itu adalah telinga yang mau mendengar dan hati yang siap berbagi maupun tangan yang siap menolong!” Pak Tegar mengakhiri wejangan pada anak-anaknya.

Singkawang, akhir April 2016.



Kejenakaan Telur Paskah

Kejenakaan Telur Paskah

 

Agama yang menarik adalah agama yang mampu menerjemahkan kultur sebagai bagian dari ruang gerak keimanan. Dalam agama apapun juga, kultur adalah bagian dari 'bahasa penerimaan' mereka di tengah masyarakat.

Seperti misalnya orang Islam di Jawa mengenalkan ketupat sebagai simbol dalam perayaan Idul Fitri, atau Hindu di Bali mengenalkan pada Ogoh-ogoh sebagai simbol refleksi ruang kemanusiaan yang terpancar dalam dirinya.

Begitu juga dengan umat Kristiani yang tak lepas dari memadukan antara kultur dengan simbol-simbol proses ketika manusia menemui Tuhan-nya, ketika ruang kemanusiaan masuk ke dalam alam Ke-Tuhanan, di sini banyak sekali simbol yang ada, baik itu simbol yang misterius penuh teka teki seperti yang sering kita baca dalam sejarah tradisi Kristen ataupun simbol yang disenangi dengan cara yang lugas, menyenangkan dan mudah dimengerti seperti: pohon Natal dan telur Paskah.

Telur Paskah sendiri merupakan sebuah irama yang menyenangkan ketika anak-anak Kristiani merayakan hari Paskah. Bagi kaum Kristiani, Paskah adalah lambang 'mulainya kehidupan batin' atau 'dimulainya hidup dengan pencerahan'. Paskah bermula pada Yesus Kristus dibangkitkan ke langit, melayang ke angkasa dan menemui ruang Tuhan, ruang keabadian, di sini manusia dan Tuhan luruh dalam keabadian, tak ada lagi waktu, tak ada lagi dimensi keterbatasan. Peristiwa ini kerap dianggap sebagai 'permulaan hidup baru' bagi manusia ketika manusia menemui pencerahannya tentang 'Alam Ketuhanan'.

Pencerahan ini kemudian di banyak tempat diadopsi dengan telur. Telur serupa benda mati, ia kemudian pecah dan tiba-tiba ada kehidupan. Begitulah manusia, ketika 'hatinya beku', ketika 'hatinya menjadi terpaku pada duniawi yang mandeg' tiba-tiba tersadarkan ketika 'sentuhan ke-Tuhanan' mengubah dirinya. Maka 'lahirlah' kehidupan.

Telur yang pecah, adalah kehidupan itu sendiri. Momen telur pecah ini bukan saja bermula pada ketika Jesus diangkat ke langit, tapi sudah lama menjadi bagian kultur masyarakat lama. Telur bagi masyarakat Persia kuno sering dihadiahkan pada permulaan musim semi. Orang Yunani yang sedari dulu cinta dan benci pada bangsa Persia mengadopsi hal ini. Lantas ratusan tahun kemudian masyarakat Indo-Eropa juga mulai menggunakan telur sebagai simbol kehidupan.

Di Irlandia, permainan anak-anak lomba mencari telur bermula sekitar tahun 1200-an , kemudian diikuti oleh tradisi permainan anak-anak Belanda yang dibawa ke negeri jajahan mereka di Indonesia. Di Norwegia mereka menciptakan permainan yang disebut 'Knekke' . Di Amerika Serikat perayaan Paskah menjadi meriah ketika negara koloni Inggris berhasil mengusir pasukan Inggris dari daratan Amerika Serikat. Adalah George Washington yang merayakan paskah dengan merebus banyak telur dan mengadakan lomba pertandingan gelinding telur dari atas bukit di belakang rumahnya di Virginia. Thomas Jefferson, Presiden Amerika Serikat menyatakan permainan telur gelinding sebagai permainan resmi negeri itu, hal ini sama persis seperti panjat pinang ketika Indonesia merayakan hari kemerdekaannya.

Pada hakikatnya, permainan anak-anak dalam mencari telur ini merupakan simbol bahwa ‘anak-anak manusia mencari kehidupan, mencari telurnya di dalam dirinya, dalam konsep "pecah telur" dunia kanak-kanak maka akan masuk ke dalam pengertian mereka tentang jalannya dunia yang baik'. Permainan anak-anak kerap menginspirasi banyak sastrawan berbasis agama dalam menyebarkan pengertian manusia dengan Tuhan, seperti jika Islam di Jawa, Sunan Kalijaga mengenalkan tembang Lir-Ilir, yang yang menjadi tembang anak-anak padahal merupakan sebuah lagu yang amat dalam makna spiritualnya. Begitu juga pada 'pencarian telur Paskah', permainan ini juga merupakan permainan yang memiliki bahasa spiritual yang amat dalam bagi manusia dan Tuhan yang diterjemahkan dalam permainan kanak-kanak dengan sikap jenaka.

-Selamat Paskah-.
ANTON DH NUGRAHANTO.







23 Mar 2016

Putri Malu Yang Menutup Diri

                             

                        Putri Malu Yang Menutup Diri                     
   



Pagi itu angin berhembus lembut menggerakkan ranting pohon dan dedaunan yang menghijau yang telah disegarkan oleh embun pagi, melambai manja menjanjikan sebuah harapan. Kupu-kupu yang sudah memperelok dirinya, terbang melepas rindu bertemu dengan bunga-bunga yang juga merindukannya.Dari angkasa burung-burung berkicau, mengidungkan lagu pujian dengan penuh rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Namun suasana yang begitu bersahabat penuh kedamaian itu tidak dapat dinikmati oleh si Putri Malu. Dia merasa kesepian karena tidak ada satu makhlukpun yang mau mendekatinya. Onggokan rumput yang tinggal bersama dengan Si Putri Malu pun tidak mau menegurnya. Suasana yang sedemikian sedih yang dirasakan Si Putri Malu ini dilihat oleh Pak Tegar yang sedang berjalan di dekatnya.

Dengan lembut pak Tegar mendekati dan menyapa si Putri Malu

“Wahai Putri Malu, mengapa engkau murung dan kelihatan sedih dalam kesendirianmu. Mari kita nikmati hari ini dengah penuh keceriaan.”

“Bagaimana mungkin saya dapat hidup ceria,” sahut Si Putri Malu sambil menarik nafas panjang. 
“Seluruh makhluk lain membiarkan aku hidup dalam kesendirian,” lanjut Si Putri Malu

“Lho, kok bisa begitu?” pak Tegar menimpali.

“Coba, Pak Tegar lihat. Tidak ada satupun kupu-kupu, serangga atau burung yang mau mendekatiku apalagi  menegurku. Hanya Pak Tegar saja yang kebetulan lewat di dekatku,” sahut Si Putri Malu.

“Putri Malu, coba kau lihat dirimu terlebih dahulu. Mungkin semua ini terjadi karena kesalahanmu sendiri.”

Putri Malu menyahut agak keras, dia nampaknya marah, mendapat kritikan yang pedas dari pak Tegar. “Kesalahanku? Mana mungkin aku berbuat salah kepada mereka. Selama ini aku kan nggak bertegur sapa dengan mereka, Pak!”

“Justru itulah letak kesalahanmu Putri,” sahut pak Tegar. “Setiap serangga, kupu-kupu maupun burung yang ingin mendekat kepadamu untuk menjalin persahabatan denganmu selalu kecewa,” pak Tegar melanjutkan kritikannya.

“Kecewa?! Karena apa, Pak?” jawab Putri Malu.

“Karena setiap mereka mendekat padamu, kamu selalu menutup diri, mengatupkan daun maupun bungamu, seolah menolak tawaran persahabatan mereka. Sebaliknya, apa yang kau berikan hanyalah duri-duri tajam yang selalu menyelimuti dirimu.”

“Iya. Itu betul. Memang aku sering mengatupkan bunga dan daunku, tetapi itu semua aku lakukan karena aku takut dan malu menghadapi pergaulan bersama mereka,” jawab Putri Malu.

“Malu dan takut itu hal yang baik, bahkan merupakan satu yang utama dalam kehidupan, teristimewa dalam hal berbuat kejahatan. Tetapi kalau malu dan takutmu itu hanya untuk membungkus kelemahanmu, maka sebenarnya yang muncul adalah kesombongan yang merupakan penghalang utama dalam sebuah persahabatan.” Pak Tegar berhenti sejenak, mengambil nafas panjang dan akhirnya melanjutkan ucapannya, “Kesombongan itulah yang telah membentengi dirimu dengan duri sehingga makhluk lain tidak dapat mendekatmu. Tindakan menutup diri itu hanya akan merugikan makhluk lain dan juga merugikan dirimu sendiri.”

“Benarkah menutup diri itu akan merugikan dan bahkan membahayakan hidupku?” Putri Malu bertanya dengan suara lembut.

“Benar,” kata pak Tegar. “Kalau  dirimu terus menerus bersikap demikian, kau akan terus menerus diselimuti rasa curiga. Persahabatan teman-temanmu kau curigai sebagai sesuatu yang jelek. Rasa amanmu akan selalu bergeser, sehingga kau akan selalu diombang-ambingkan oleh perasaan. Dalam menyikapi sebuah peristiwa yang muncul, kau hanya berdasar pada keuntungan diri, dan berpusat pada apa yang akan kudapat, apa yang kubutuhkan. Dunia yang kau pandangpun hanya sejauh menguntungkan dirimu saja, sehingga kau tidak pernah punya kekuatan dalam pergaulan yang banyak menawarkan hubungan yang saling menerima dan memberi. Putri Mal
u hanya mengangguk-angguk seolah mengerti, arti sebuah kehidupan. Semoga.

Singkawang, awal Februari 2016.


MENJADI PEREMPUAN KRISTIANI ADALAH UNTUK BERPROSES

MENJADI PEREMPUAN KRISTIANI ADALAH UNTUK BERPROSES


Merupakan anugerah yang amat besar untuk siap menyongsong hari pembukaan Tahun Kerahiman yang bertepatan dengan peringatan 110 Tahun Misi Kapusin di gereja Singkawang. Dalam kesempatan ini saya ingin menyapa kaum perempuan secara khusus. Sudah layak dan sepantasnya Anda semua dan saya mensyukuri atas karunia hidup sebagai perempuan yang secara fisiologis memiliki rahim dan secara spiritualitas diharap mampu memiliki sifat kerahiman seperti Allah karena kita diciptakan menurut citra gambar Allah. Kita dari Allah, dalam Allah, menuju Allah. 

Inilah waktu dan kesempatan sangat baik untuk kembali menyadari, merenungkan dan belajar tak kunjung henti membatinkan nilai-nilai luhur sebagai eksistensi perempuan Kristiani, agar hidup dan tumbuh berkembang dalam naungan kerahiman Allah sekaligus mewarisi sifat-sifat kerahiman Allah. Siapapun kita perempuan dipanggil untuk menjadi bahagia, dan siapa yang bahagia? Tidak hanya ibu yang mengandung, melahirkan, dan menyusui bayinya tapi Yesus berkata, “Yang berbahagia adalah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya.” (Luk 11:28) Ini pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh semua murid-Nya. Kita semua memiliki peranan penting/vital dalam hidup yaitu mengambil bagian menjadi tulang punggung kehidupan dan keselamatan. Sebagai apa kita dipanggil, semua adalah baik adanya. Meski demikian gereja amat membutuhkan perempuan-perempuan yang rela untuk mendedikasikan diri seutuhnya bagi kerajaan Allah dalam hidup bakti (membiara).

Amat besar harapanku semoga ada banyak pemudi hanya tertambat hatinya kepada kasih setia-Nya yang besar dan mau mengikuti-Nya kemana Dia mau dari hidup dan keselamatan sebanyak mungkin jiwa-jiwa.

Bagi kita semua baik yang berkeluarga maupun yang menjalani hidup bakti akan sungguh bahagia jika senantiasa menyangkal diri memanggul salib dan mengikuti-Nya. Dari saat ke saat menjawab “Ya” dan melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Maka kita akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi perempuan Kristiani sejati menjadi perempuan matang tangguh bertanggung jawab secara konsisten terhadap pilihan hidup kita masing-masing. Siap menjadi ibu bagi keluarga, gereja, masyarakat secara seimbang, ulet, dewasa dan bijak, berani jatuh bangun, malang melintang menerjang badai dan ombak demi keselamatan hidup. 

Dulu sering kudengar pepatah mengatakan, “Surga ada di telapak kaki ibu,” karena memang mereka sanggup berada, melayani dengan penuh cinta tulus dan murni bersahaja, ikhlas seperti Allah yang rahim dan penuh belas kasih. Sekecil apapun, sesederhana apapun yang kita buat dan kerjakan, berharga di hadapan-Nya.    

Tentu kita semua menghadapi kadar kesulitan,  tantangan serta kesakitannya masing-masing. Namun dengan penuh percaya semua pergumulan akan teratasi, karena kita sudah biasa menderita kesakitan secara alamiah. Seperti seorang ibu melahirkan bayinya, mereka semua menanggung kesakitan sendirian, orang lain sebatas menemani atau memberikan pertolongan. Pengalaman itu menempa dirinya menjadi memiliki kesanggupan menghadapi segala tantangan secara tegar, ulet, tangguh, dan tawakal penuh iman.

Sr. Faustina menyebut pukul 15.00 adalah waktu yang merupakan kerahiman puncak derita Yesus disalib sampai wafat. Dia wafat demi hidup dan keselamatan semua manusia. Telah amat biasa kita tahu, seperti biji ditabur mati, lalu tumbuh, hidup, dan berbuah. Pekerjaan kita percaya sekaligus masuk dalam proses mati demi hidup dan keselamatan. Mari kita terus saling mendukung dalam berproses menjadi murid Kristus yang handal. Roh kudus akan selalu menaungi dan mengajar kepada seluruh kebenaran baik dalam keberadaan, sepak terjang perjuangan hidup maupun dalam karya. 

Kita satu dalam doa, dalam pergumulan iman, harapan dan kasih dalam Allah yang senantiasa memberkati kita, Dia takkan meninggalkan kita satu detik pun, Dia mengerti dan sungguh peduli akan segala lekuk liku hidup kita semua sampai ke relung-relung hati yang terdalam. Sebab kita amat berharga di mata-Nya.

Untuk itu perlu membiasakan diri menciptakan hati wening agar dapat melihat, mendengarkan, merasakan, memahami, dan berdialog pada Sang Guru Yesus Kristus, pada sepanjang jalan hidup-Nya sampai dengan tergantung di ketinggian salib dan dan wafat, dan pada Ibu Maria, ibu Yesus dan ibu kita semua yang mengalami proses mengandung, melahirkan, mengasuh, mendampingi Yesus, hadir berdiri tegak di bawah salib-Nya, menerima jenazah-Nya, kebersamaan dengan para murid-Nya, hingga kini bersama kita para murid. Di sana kita akan menemukan kamus kehidupan untuk belajar ambil bagian dalam membatinkan nilai-nilai Kristiani dan untuk menghidupinya sampai mati.

Semoga, ya, semoga kita tidak menyimpang dari jalan-Nya, tetapi kalau toh jatuh, marilah kembali lagi, memulai lagi.

Saudariku dan diriku sendiri selamat berproses sampai detik akhir, sambil senantiasa percaya bahwa hanya Dialah andalan dan penyelenggara hidup kita. Dia akan memampukan kita untuk menempuh jalan hidup di belakang-Nya. Sebab hanya pada-Nya ada jalan kebenaran dan hidup. 

“Selamat, dan profisiat!” 

13 November 2015
Salam dan doaku, 
Sr. Pia OSCCap            

DOA

DOA


Karya Pena : Sr. Maria Magdalena OSCCap


Doa…menyapa, memanggil, berbicara
Diungkapkan semua yang ada di jiwa
Tiada segan, tiada sungkan
Karena doa bagaikan cinta dua insan

Yang selalu ingin berjumpa
Enggan pula untuk berpisah
Karena hati berbunga-bunga
Segalanya serba indah

Jiwa pun turut berkobar-kobar
Terbakar asmara cinta yang mengagumkan
Karena diarahkan pandangannya untuk Dia
Yang menjadi pujaan hati dan jiwa seluruh kehidupan

Sedikit kesempatan doa, merupakan keuntungan
Bagai intan permata terpendam ditemukan
Sungguh menyenangkan dan membahagiakan
Tinggal bersama Dia senantiasa

Walau akhirnya tiada kata yang terucap
Hanya diam seribu bahasa di hadapan-Nya
Namun banyak makna tersingkap oleh-Nya
Karena Ia tahu segalanya

Yang kuperlukan dan kubutuhkan
Bahkan! Apa yang tak kuminta, ia berikan
Segalanya sungguh menakjubkan memesonakan
Hingga padang gurun yang tandus menjadi alam surgawi

Oh! Mengagumkan, semua berubah karena doa
Ini karya ajaib Sang Pencipta
Hingga apa lagi yang harus aku ucapkan
Hanya syukur dan terima kasih aku haturkan kepada-Mu Tuhan

 

15 Jan 2016

SI KAKTUS YANG KESEPIAN



SI KAKTUS YANG KESEPIAN


Matahari menatap padang gurun tiada berkedip. Sinarnya yang putih menyilaukan mata, seakan ingin melumat ciptaan Tuhan yang ada dalam jangkauan tatapannya. 

Akar-akar tanaman mulai lapuk karena tidak berhasil mencari sari makanan, batang-batang kehilangan rantingnya, daun daun menjadi kering berjatuhan. 

Walau tanaman telah menjerit, mengaduh minta pertolongan namun kehidupan tetap saja membisu. Tantangan alam yang sedemikian besar membuat tetumbuhan di padang gurun tersebut tidak mampu untuk tetap bertahan.

Suasana padang gurun terasa lebih gersang saat si Kaktus berdiri termangu sepanjang hari. Batangnya mulai berkeriput tidak kuasa menanggung beban angannya yang melayang menembus batu-batu cadas. Awan yang tengah berbaris berjalan santai menikmati petualangannya, sekonyong-konyong ia mempercepat langkahnya setelah tanpa sengaja melihat sebatang kaktus di bawahnya sedang berdiam diri.

Memang…., tidak semua penderitaan akan membuat ciptaan lain mau bersimpati. Terlebih lagi penampilan Kaktus yang semakin kusut setelah angin kencang menghamburkan debu menerpa wajahnya.

Untunglah, Si Embun tidak ikut-ikutan mengeluh terhadap situasi padang gurun yang gersang tersebut. Bahkan si Embun dengan setia menjalankan tugasnya menyapa di setiap pagi dengan kesegarannya, termasuk tugasnya memberi kesejukan kepada si Kaktus, melindungi dan menyegarkan kesendiriannya. 

Tetapi angan si Katus yang senantiasa bergolak, membuat dia terus berdiam diri terhadap sapaan si Embun yang senantiasa ingin mendekatinya. 
Sampai pada suatu hari :

“Sobat, mengapa kau biarkan murung hidupmu, hingga ujung batangmu kini layu, berkeriput seperti ini?” tanya si Embun.

“Aku merasa hidup harianku tidak berguna lagi.” Sahut si Kaktus. Lihatlah, tidak ada tanaman lain yang mau menemani aku hidup di sini. Tak seekor burungpun yang mau menengokku. Aku merasa hidup sendiri. Alangkah indahnya kalau aku hidup di sebuah sungai yang mengalir deras airnya, ditumbuhi berbagai tanaman dan bunga-bungaan penuh dengan sahabat-sahabat yang bisa aku ajak bicara, berbagi pengalaman dalam perjalanan hidup ini. Sehingga aku tidak kesepiaan lagi,” si Kaktus mencurahkan isi hatinya kepada si Embun.

“Berhentilah berangan-angan, Sobat, sebab anganmulah yang justru membuat hidupmu sepi,” jawab si Embun.

“Bagaimana mungkin aku melepaskan anganku, kalau hanya itulah  yang menjadi obat hidupku,” sahutnya.

“Sobat, anganmu justru menjadi penyakit dalam hidupmu sendiri, karena hidup ini bukan hanya sebuah angan-angan tetapi kenyataan. Coba bayangkan kalau engkau hidup di sekitar sungai, maka kau akan segera dijemput ajal. Bukankah akarmu akan mudah busuk, karena banyak kandungan air yang sebenarnya tidak terlalu engkau butuhkan yang terpaksa harus engkau serap? Disamping itu, berteman dengan beraneka tanaman dan bunga-bunga seperti yang engkau harapkan juga tidak akan membantu hidupmu, kalau semuanya hanya engkau lakukan untuk menghilangkan kesepianmu,” ujar Embun. 

Sesungguhnya berteman dengan cara yang sedemikian tidak akan membantu mengisi kekosongan hati yang mengalami kesepian. Bahkan aneka hiburan juga tidak akan banyak membantu, selama hidup masih terlepas dari sebuah kenyataan. 

Sobat, untuk itu kembalilah ke dalam hidupmu sendiri terlebih dahulu. Jangan biarkan anganmu menguasai hidupmu, supaya engkau cepat sadar akan realita yang harus kau hadapi. Apabila kau berusaha untuk selalu sadar akan realita yang ada dalam hidupmu, maka hidup akan menjadi sebuah kerinduan yang tidak akan menghadirkan banyak tuntutan yang menjerat.

Singkawang, Awal Desember 2015


Image by Google



WE LIVE, WE LEARN, AND WE UPGRADE (DAPATKAH AKU TAHU KEHENDAK TUHAN DALAM HIDUP KU?)

WE LIVE, WE LEARN, AND WE UPGRADE
 (DAPATKAH AKU TAHU KEHENDAK TUHAN DALAM HIDUP KU?)

Image by Google

Seseorang mungkin pernah merasa bahwa tanggung jawab dunia itu ada di pundaknya. Merasa bahwa ada beban yang menekan bahunya dengan sangat kuat hingga menghimpit paru-parunya. Dan akhirnya, orang itu jadi susah bernapas. Bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung mungkin harus berhati-hati.

Lamanunanku terantuk pada hal itu ketika aku duduk terpaku bak orang yang putus cinta di halaman gereja “Damai Bagimu”. Angin sepoi yang membelai wajahku mampu mengajakku masuk jauh lebih dalam menggali memori beberapa waktu ke belakang. Meskipun tidak ada lagi kabut asap yang menghalangi pandangan, namun sepertinya banyak sekali asap yang masih berputar-putar di dalam kepala ini, waktu itu. 

Aku teringat seseorang yang memiliki romantisme dengan masalah. Seperti masalah itu adalah bulan madu baginya. Atau seseorang yang merasa banyak hal yang harus dikerjakannya sehingga cara hidupnya harus berjalan monoton. Tidak pandai cara menikmati kesenangan selain tumpukan tugas dan misi pribadi yang harus diselesaikan. Aku harap ia masih ingat cara untuk tersenyum. 

Ya, tersenyum saat gembira itu biasa tapi tersenyum saat ujian menyapa itu luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukannya. Kalau kata Aristoteles, dibutuhkan kecerdasan secara emosional untuk dapat melakukannya. Sebagai manusia yang penuh dengan berjuta kelemahan, kita tidak bisa menafikan hal itu. Terkadang masalah pribadi datang bertubi-tubi, belum lagi pekerjaan yang membuat jengkel, tumpukan pekerjaan rumah yang tiada habisnya, serta semua hal yang sangat mempengaruhi kredibilitas serta image kita di mata orang lain. Percayalah, hidup ini tak sekejam sinetron Indonesia tapi juga tak seindah drama Korea.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu (Mat 11:28). Terkadang kita lupa dengan itu. Seperti bahwa dalam hidup ini kita menanggung masalah kita sendiri. Tidak jarang masalah itu memengaruhi cara bergaul kita dengan orang lain dan cara kita berserah pada Tuhan. Dengan masalahnya menganggap kalau mereka adalah prioritas. Ada keangkuhan pribadi ingin terlihat lebih besar daripada yang lain dengan masalah itu.

Ini bukan ajang pengadilan sebagai bentuk pembenaran atau menghakimi. Hanya menilik sedikit ke dalam kalbu ini. Untuk beberapa kasus, kita mungkin bisa bergembira dengan dengan siapa saja namun kita tidak bahagia. Semua pasti setuju jika dikatakan uang tidak bisa memberikan kebahagiaan. Tapi bagaimana dengan uang dalam jumlah besar dan masuk rekening secara rutin?
Marilah kepada-Ku, itu artinya sebuah undangan. Tuhan menawarkan bahu-Nya untuk kita bersandar. Dia sendiri yang mewarkan, lalu kenapa kita menolak? Undangan untuk meletakkan beban kita, tidak menanggungnya sendiri dan berserah pada-Nya. Lalu bagaimana cara kita menerima undangan itu?

Milikilah keintiman dengan Tuhan. Memberikan waktu teduh untuk kita berbicara dengan-Nya. Ketuk rumah Tuhan dan katakan kita merasa lelah dan ingin istirahat sejenak. Kita datang dengan hati yang benar-benar mau berubah, rindu akan Dia dan hadirat-Nya. Bagian kita hanya melakukan apa yang bisa kita lakukan dengan usaha terbaik kita dan biarkan sisanya menjadi pekerjaan Tuhan. Percayakan pada Tuhan hal-hal yang tidak bisa kita kerjakan atau kendalikan.

Memuji Tuhan dengan segenap hati. Puji Dia dengan segenap hati bukan hanya di mulut saja. Apa yang kita rasakan sampaikan kepada-Nya. Karena nyanyian itu adalah doa hadirat Tuhan yang dituangkan dalam lantunan lirik dan not balok.

Baca firman-Nya. Carilah firman itu, renungkan, hafalkan dan klain janji -Nya. Ia sendiri telah memikul dosaku dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya aku, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya aku telah sembuh (1 Petrus 2:24). Percaya akan firman-Nya sebab Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.

Lalu apa itu letih lesu dan berbeban berat? Itu adalah keadaan tanpa semangat, tidak ada pengharapan, khawatiran. Sebuah keadaan yang dapat membuat kita menjadi tokoh antagonis. Kita letih lesu oleh persoalah hidup dan beban dosa kita.

Ya, pada akhirnya aku menulis bukan untuk membuktikan siapa aku. Menunjukkan setinggi apa ilmu yang aku miliki, seluas apa kebijaksaan ku atau sebesar apa pengakuan yang ku harapkan. Aku ingin menunjukkan betapa kurangnya diri ini dengan lamunan yang sedikit mengupas  kulit pembungkus kerapuhan yang ditutupi. Terkadang tidak ada salahnya kita menyempatkan diri untuk berbicara dengan diri sendiri. Mengukur bagaimana kita mengukir jalan untuk bisa digunakan oleh orang lain, memperbaiki setiap langkah yang mungkin memengaruhi jalan orang lain, menjadi jembatan bagi jalan yang lebih baik dan mengorbankan beberapa bagian dalam diri kita meski yang didapat tidak lebih besar dari pengorbanan. 

Sebab kehidupan tidak diukur dari goresan tinta yang telah dibubuhkan pada kertas. Tapi pada aksi yang memberikan makna bagi orang lain. Hidup tidak diukur dari banyaknya udara yang kita hirup, tapi dari momen-momen yang membuat kita sulit bernapas. Beban salib dalam hidup akan selalu ada karena itu adalah ujian bagi setiap yang hidup untuk semakin dekat dengan-Nya. Tidak ada salahnya meletakkan beban itu sejenak dan melegakan diri. You live, you learn and you upgrade!

Tuhan……
Jika aku terlalu kecil untuk melihat kebesaran kasih-Mu
Berikan aku kesempatan untuk menapaki puncak Kalvari-Mu
Demi melihat keagungan karunia-Mu

(Sabar Panggabean)