MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri media katolik. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri media katolik. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

16 Mar 2016

OMK: Sumber Daya Manusia yang Perlu Dibimbing dan Dikembangkan Melalui Kegiatan yang Menarik dan Bermanfaat

OMK: Sumber Daya Manusia yang Perlu Dibimbing dan Dikembangkan Melalui Kegiatan yang Menarik dan Bermanfaat

Oleh: Gabriel Fileas, S.IP

OMK atau Orang Muda Katolik merupakan sebuah komunitas yang menjadi wadah bagi kaum muda Katolik agar dapat mengembangkan diri mereka melalui pengaderan, pelatihan, kompetisi dan pelayanan. Komunitas ini memiliki peran yang sangat vital karena kaum muda Katolik merupakan calon penerus gereja. Mereka juga memiliki tenaga yang prima dan tingkat kreativitas yang tinggi. Oleh karena itu, kaum muda Katolik merupakan sumber daya manusia yang sangat penting untuk dikembangkan demi masa depan gereja.

Di sisi lain, kaum muda Katolik juga memberikan sebuah tantangan besar bagi gereja. Masa-masa pencarian jati diri dan perkembangan zaman yang sangat pesat menjadi ancaman yang tidak bisa dipandang remeh. Pengawasan dan bimbingan melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat merupakan salah satu solusi jitu agar kaum muda Katolik tidak terjerumus ke dalam lubang kegelapan seperti narkoba, minuman keras, sex bebas, dan hal lainnya yang bertentangan dengan nilai-nilai gereja.

Kegiatan tersebut dapat berupa pelatihan, retret, kemah rohani, olah raga, dan berbagai macam kegiatan lain yang harus dikemas dengan menarik agar menarik minat kaum muda Katolik. Materi-materi yang membantu penelusuran minat dan bakat, pengetahuan tentang kitab suci, pendidikan tentang pentingnya hidup di dalam komunitas dan persaudaraan, serta pengenalan tentang keadaan lingkungan sekitar amat sangat diperlukan untuk mempersiapkan kaum muda Katolik agar dapat menjadi Laskar Kristus yang peka, proaktif dan berwawasan.


Dalam awal tahun 2016 ini sudah dua kali terlaksana kegiatan akbar yang melibatkan OMK. Kegiatan yang pertama adalah HOMKKAP (Hari Orang Muda Katolik Keuskupan Agung  Pontianak). Acara yang dilaksanakan di Nyarumkop pada 3−5 Januari 2016 tersebut mengusung ide tentang perlunya bimbingan dan pembinaan untuk kaum muda Katolik agar iman mereka tetap terpelihara dan berbuah. Ide tersebut kemudian diimplementasikan dengan mewujudkan iman Katolik melalui kehidupan sehari-hari, menjalin relasi dengan kaum muda Katolik dari daerah lain, dan perutusan kaum muda Katolik untuk mewartakan pengalaman dan pengetahuan yang didapat selama acara itu berlangsung.

Secara garis besar, kegiatan HOMKKAP 2016 lebih berfokus kepada peningkatan kapasistas kaum muda Katolik dalam hal pengetahuan. Acara yang diberikan lebih banyak berupa seminar dan workshop. Salah satu yang menarik adalah seminar tentang beriman secara radikal. Seminar yang dibawakan pada malam pertama tersebut menjelaskan bahwa kata radikal seringkali disalahartikan oleh masyarakat sebagai sesuatu yang keras, kasar dan destruktif. Radikal sendiri berbeda dengan fanatik. Beriman secara radikal berarti mau menghayati iman secara penuh dan total. Semakin radikal seseorang dengan imannya, maka ia akan semakin damai dan penuh kasih seturut ajaran Kristus. Sedangkan beriman secara fanatik memiliki arti yang berlawanan di mana seseorang yang hanya memiliki pengetahuan agama yang dangkal namun merasa paham akan segalanya dan menganggap kepercayaan orang lain sebagai sesuatu yang sesat. Melalui seminar tersebut kaum muda Katolik dipanggil untuk mau menghayati imannya secara radikal agar menjadi insan yang rela berkorban demi kemuliaan Tuhan dan penuh cinta kasih.

Pada hari berikutnya, seluruh kontingen peserta HOMKKAP 2016 dilebur dan dipecah menjadi tujuh kelompok. Setiap kelompok akan mengikuti satu dari tujuh workshop yang telah disediakan oleh panitia. Workshop-workshop tersebut antara lain tentang “Masa Depan Tanah Borneo Lingkungan Hidup dan Sosial”, “Tanggung Jawab OMK”, “Media Sosial dan Digipreneursip”, “Panggilan Hidup Berkeluarga”, “Ajaran Sosial Gereja”, “Radikalisme dalam Dunia Politik”, dan “Perdamaian dalam Multikultural”. Sistem ini sangat cerdas karena selain menambah pengetahuan dan wawasan, kaum muda Katolik juga dituntut untuk saling sharing kepada teman-teman kontingennya tentang materi yang didapatnya melalui workshop tersebut.

Kegiatan yang kedua adalah Capuchin’s Camp 2 yang diadakan di Pontianak pada 28-31 Januari 2016. Temu OMK yang dilaksanakan di Tirta Ria tersebut juga mengusung ide tentang perlunya bimbingan dan pendampingan untuk kaum muda Katolik. Melalui kegiatan tersebut, Ordo Kapusin Pontianak berusaha untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai spiritual kristiani kepada kaum muda Katolik secara komunal maupun personal. Ide tersebut berusaha dicapai melalui pembinaan iman, mental dan spiritual kaum muda, pembangunan kreativitas, penumbuhan kepekaan social dan semangat persaudaraan dengan semua ciptaan Tuhan.

Acara di dalam kegiatan Capuchin’s Camp 2 lebih banyak berfokus pada jalinan keakraban kaum muda Katolik dari berbagai daerah, peningkatan kreativitas dalam menciptakan lagu rohani, gerakan lagu rohani dan ice breaking yang dapat digunakan di dalam berbagai kegiatan OMK, serta peningkatan rasa cinta terhadap alam melalui outbound. Sejak hari pertama, peserta yang mengikuti Capuchin’s Camp tidak lagi berkumpul bersama teman-teman dari kontingen yang sama, melainkan dilebur ke dalam sebuah kelompok kecil yang disebut dengan komunitas. Semua kegiatan mulai dari makan, workshop, latihan, penampilan dan outbound dilakukan di dalam komunitas yang telah dibentuk. Metode ini terbilang sangat baik karena dapat meningkatkan tali persaudaraan antar kaum muda dari berbagai macam daerah.

Peningkatan kreativitas kaum muda di Capuchin’s Camp juga terbilang baik. Sebelum ditugaskan untuk membuat lagu rohani, gerakan lagu rohani dan ice breaking, para peserta diberikan materi tentang cara membuatnya oleh orang-orang yang berpengalaman di bidang tersebut dengan cara yang menyenangkan. Untuk dapat menciptakan lagu rohani yang baik penciptanya harus menggunakan hati, perasaan dan kreativitas. Inspirasi untuk lagu tersebut dapat ditemukan lewat Kitab Suci, pengalaman pribadi dan orang lain, nada-nada iklan di tv dan masih banyak lagi. Menciptakan gerakan lagu dan ice breaking juga menuntut seseorang untuk menggunakan hati, perasaan dan kreativitasnya. Para peserta dapat membuat sesuatu yang baru atau melakukan inovasi melalui sebuah metode unik yaitu ATM atau kepanjangan dari amati, tiru dan modifikasi yang bertujuan untuk menjaga orisinalitas. Peningkatan kreativitas seperti ini merupakan langkah yang sangat penting di dalam pendampingan kaum muda agar tenaga, talenta, waktu, dan kreativitasnya dapat disalurkan ke arah yang positif.



Acara yang paling ditunggu-tunggu dari HOMKKAP dan Capuchin’s Camp adalah outbound. Mengapa tidak? Di dalam nyaterdapat permainan-permainan yang menyenangkan serta kompetisi antarkelompok yang memacu semangat muda para peserta. Tujuan dari outbound sendiri adalah untuk meningkatkan jiwa kepemimpinan, kerjasama dan sportifitas. Banyak hal yang bisa diambil dari kegiatan ini seperti rasa peka terhadap sesama di mana di dalam kelompok outbound terdiri dari berbagai macam orang dengan kemampuan dan keterbatasan yang berbeda-beda. Untuk dapat memenangkan permainan, peserta di dalam kelompok hendaknya mengerti satu sama lain agar dapat membagi tugas dan bekerjasama dengan baik. Hal-hal seperti ini sangat dibutuhkan di dalam masyarakat yang heterogen di mana terdapat berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kaum muda Katolik hendaknya dapat menyesuaikan diri dengan baik di dalam masyarakat dengan mengerti dan peka akan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.

Dari kedua kegiatan di atas kita mengetahui bahwa, pengembangan OMK sebagai sumber daya manusia yang penting bagi gereja merupakan sebuah proses tanpa henti. Proses tersebut menuntut peran serta semua elemen gereja. Tentunya sangat diharapkan agar kegiatan-kegiatan tersebut terus berlangsung atau bahkan bertambah banyak agar dapat melahirkan kaum muda Katolik yang berwawasan, kreatif, peka dan mau melayani.

28 Nov 2016

BKSN Paroki Singkawang: Outbond Ajang Olahraga, Rekreasi Rohani, dan Pendalaman Iman

BKSN Paroki Singkawang:

Outbond Ajang Olahraga, Rekreasi Rohani, dan Pendalaman Iman

 


Semangat umat Katolik mengucur di Gunung  Sari Singkawang,  Minggu 25/9/2016 dalam kegiatan outbond yang diselengarakan oleh Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang sebagai salah satu rangkaian lomba Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2016. 

Semarak BKSN Paroki tahun ini sungguh menyita perhatian umat Paroki Singkawang dan tentunya mengalami peningkatan peminat yang begitu drastis dari tahun sebelumnya secara khusus pada lomba outbond Rohani. Luar biasa! Peserta Outbond kali ini diikuti oleh 35 tim yang berasal dari stasi, kring, OMK, Misdinar Paroki Singkawang, Biarawati, Asrama Katolik, dan dewan guru serta siswa/i  SMP hingga SMA Katolik yang berada di Kota Singkawang. 

Outbond sendiri merupakan salah satu agenda baru bagi Paroki Singkawang sebagai rangkaian acara BKSN. Banyak makna positif yang dapat diperoleh dalam kegiatan ini. Selain sebagai ajang olahraga juga sekaligus sebagai media rekreasi rohani  dan sarana pendalaman iman bagi umat Katolik khususnya di Paroki Singkawang.

Kegiatan lomba outbond diawali dengan Misa di Gereja Paroki Singkawang yang dipimpin oleh Romo Agus S. OFM.Cap. Dalam homilinya tak lupa beliau memberi semangat kepada para peserta lomba yang terlihat sumringah menyesaki setiap sudut gereja. Seusainya Misa seluruh peserta diarahkan menuju lokasi kegiatan yang berpusat di Persekolahan SMP St. Tarsisius Singkawang.


Selang setengah jam halaman SMP St Tarsisius langsung dipenuhi puluhan peserta. Peserta yang tergabung dalam tim terlihat tak sabar untuk  unjuk kebolehan dan kekompakkan mereka dalam menyelesaikan tiap tantanggan yang sudah menanti. Tentu saja panitia yang sejak pagi sudah stand by menyambut hangat kedatangan mereka. 

Tiap tim mengantri giliran berdasarkan nomor urutnya lalu mendapatkan pengarahan umum sebelum menuju pos-pos outbond agar nantinya setiap kelompok dapat melaksanakan kegiatan dengan aman dan lancar. Selain diberikan pengarahan tiap kelompok dibekali kudapan dan air mineral oleh panitia karena medan yang akan ditempuh cukup menantang. Tak kalah penting, tiap tim juga menerima tanggung jawab yang harus dijaga  dengan baik hingga berakhirnya kegiatan, yaitu berupa sebutir telur mentah yang diserahkan langsung oleh Suster Monika, SFIC.  

Satu per satu tiap tim bergerak menuju pos-pos yang disiapkan panitia. Adapun rute perjalanan dimulai dari persekolahan St Tarsisius, SMKN 1 (STM) kemudian menuju RS Alverno, Gunung Sari, RS Alverno, dan kembali lagi menuju Persekolahan St Tarsisius melalui jalur Gang Bambu yang berada tepat di sebelahnya.  Para peserta harus melewati berbagai tantangan seperti melewati jalan setapak, menyusuri hutan, mendaki gunung, berjalan di medan yang cukup curam, dan menembus pemukiman penduduk sekitaran Gunung Sari Singkawang. Tak hanya itu, setiap jalur yang dilewati dengan jarak bervariasi para peserta akan menyelesaikan tantanggan berupa kuis dan permainan di pos-pos outbond. 

Setidaknya  sembilan pos outbond yang harus dilalui para peserta. Pos pertama yaitu pos tebak gerak berdasarkan kalimat yang tertulis, pos kedua yakni pos merayap melewati rintangan, pos ketiga dengan permaian sambung menyambung menjangkau lilin, pos keempat meniup bola, pos kelima yang dinamai pos mengapai cita dengan mendaki medan berbukit. Kemudian, menuju pos keenam berupa permainan membidik sararan mengunakan ketepel, dilanjutkan pos ketujuh yang mana peserta ditantang untuk mengangkat sebuah bola plastik secara bersama menggunakan seutas tali, lalu pos kedelapan dengan tema “Air Sumber Kehidupan” sebuah permainan membawa segelas  air menggunakan selembar kain, dan pos  terakhir yaitu permainan tradisional pangkak gasing. Semua jenis permainan  tersebut tentunya memiliki makna tersendiri terutama untuk menguji kekompakan, kreativitas, pengorbanan, serta ketepatan tiap peserta dan menjadi dasar penilaian bagi panitia dalam menentukan pemenang lomba. Selain melakukan permaian, peserta juga diuji pengetahuan dan pemahamannya melalui soal-soal tes lisan terutama mengenai isi Kitab Suci, pengetahuan umum Gereja Katolik (Tata Perayaan Ekaristi), Sakramen maupun istilah-istilah dalam gereja yang menjadi intisari lomba outbond BKSN.

Pastor Paroki Singkawang Stefanus Gathot OMF.Cap. tampak hadir di antara para  peserta. Seolah tak mau kalah oleh anak-anak muda dan para umat, beliau begitu antusias mengikuti outbond BKSN. Sesekali terdengar keriuhan dan gelak tawa para peserta ketika tiba di pos permainan. Meski tampak ngos-ngosan para peserta tetap bersemangat apalagi saat mereka menyanyikan yel-yel andalan masing-masing sembari menari dan bertepuk  tangan.


Kegiatan outbond diakhiri dengan rekap nilai oleh panitia setelah seluruh peserta berhasil melewati tiap pos permaian. Hasil perhitungan memutuskan tiga pemenang di antaranya Kring Leo Agung sebagai juara I, tim Siswa SMP Pengabdi Singkawang menempati juara II, dan tim dari Kring Santa Maria sebagai juara ke-III. Selamat kepada para pemenag lomba maupun kepada peserta yang belum berhasil semoga semakin giat meneladani dan mewartakan sabda Tuhan lewat Kitab Suci. Salam jumpa di kegiatan outbond BKSN Paroki Singkawang tahun depan! Tuhan memberkati. 
(Yudistira, S.Pd.)

3 Jun 2015

AKSI SOSIAL OLEH POSKO NATAL

AKSI SOSIAL OLEH POSKO NATAL




              Singkawang, Selasa, 9 Desember 2014. Gelak tawa terdengar berderai ketika saya memasuki ruang  tengah  gedung Pastoran  Gereja Santo Fransiskus Assisi dari pintu sayap kanan, begitu semarak suasana di sini, semua asyik bekerja, semua wajah terlihat riang gembira. Tujuan saya satu, hendak mengambil gambar serta sedikit berbicang-bincang dengan sang koordinator posko natal yang pada tahun ini dipercayakan kepada Ibu Helena Halijah. Ketika saya jumpai, saya begitu terkesan pada sosoknya yang ramah serta berparas keibuan, seolah menerima dengan tangan terbuka dan menyilakan saya memuaskan kedahagaan meraup berbagai informasi berkenaan dengan aksi sosial yang dimotorinya. Jabat tangan hangat dan erat lantas saya ulurkan, memperkenalkan diri kepada beliau yang sore itu terlihat bersimbah keringat demi merampungkan pekerjaannya menyortir pakaian pantas yang akan disalurkan ke 16 stasi di bawah naungan Gereja Katolik Paroki Singkawang. Saat itu beliau tidak sendiri, ditemani beberapa ibu anggota Persatuan Warakawuri Katolik Santa Monika dan seorang Frater, beliau begitu sabar melayani berbagai pertanyaan saya dengan suara dan wajahnya yang begitu ekspresif.
               Sembari beranjak dari tempat penyortiran pakaian pantas, kami berjalan perlahan menyusuri ruang pastoran yang sore itu terlihat semarak oleh aktivitas mengemas sembako oleh ibu-ibu Wanita Katolik (WK) bersama beberapa anggota OMK. Tiada raut lelah terpancar dari  wajahnya meskipun saya paham beliau bersama rekan-rekan lain, setiap hari harus siap berada di tempat (pastoran) sedari pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB. Beliau justru tampak begitu antusias memaparkan kepada saya berbagai informasi mengenai kegiatan seksi sosial yang dimulai sejak 29 November lalu dan berakhir pada 14 Desember 2014.   Menurut beliau, aksi sosial yang digagas oleh pastor paroki Singkawang  dan akhirnya menjadi “menu khusus” bagi panitia Natal setiap tahun sebenarnya telah dilakukan sejak Natal setahun yang lalu, hanya saja  tahun lalu kegiatan ini menyasar pada korban bencana alam banjir yang melanda hampir setiap kabupaten di Kalimantan Barat.
              Berbagai cara dilancarkan demi memuluskan jalan kegiatan “perpanjangan tangan Tuhan” ini,  di antaranya  melalui pengumuman tentang kegiatan terkait di gereja, surat edaran ke sekolah-sekolah hingga memanfaatkan media sosial semacam Facebook, Broadcast Messanger pada aplikasi BBM, SMS, telepon maupun ajakan secara lisan untuk ikut mengambil bagian dalam kesempatan berbagi dan peduli pada sesama. Hasilnya sungguh luar biasa, ratusan kardus berisi pakaian pantas, 800-an paket sembako, buku-buku layak baca dan sejumlah uang terkumpul serta siap didistribusikan pada 15 Desember 2014 dan dipusatkan di Capkala. 
              Di akhir obrolan yang menyenangkan itu, beliau mencebarkan asanya yang penuh-penuh berharap agar kegiatan serupa dapat selalu diejahwantahkan pada tahun-tahun yang akan datang, lebih banyak pihak yang berpartisipasi dan bantuan yang dihimpun dapat menjangkau segala kalangan. Pada pemungkas sapa beliau tak lupa menghaturkan jabat erat dan terima kasih kepada berbagai pihak yang ikut menyukseskan kegiatan ini antara lain Wanita Katolik (WK), Persatuan Warakawuri Katolik (PWK) Santa Monika, Legio Maria, OMK serta pihak lain yang tak bisa disebutkan satu persatu. Semoga berkat Tuhan selalu mengiringi langkah kita. (Hes)       

19 Mar 2016

Ia di Antara Biola, Kamera dan Komuni untuk Lansia

Ia di Antara Biola, Kamera dan Komuni untuk Lansia


“Tahun-tahun yang memutih di kepala menandai tinggi batang usia kiranya bukan penghalang baginya yang sering terlihat masyuk dengan kamera. Di umur rambang senja, ia bahkan menjadi daya tarik tersendiri mengingat sosok lain yang seusia umumnya tak lagi menggubris perkembangan teknologi yang setia bergulir di dunia.”



Pastor Marius, OFMCap, gembala yang selalu tampil formal, berkemeja lengan panjang, dimasukkan rapi, bersemat salib kecil di kerah kiri, dan selalu beralas kaki hitam ini bukan sosok asing di lingkungan Gereja Katolik Santo Fransiskus Assisi. Putra kelima dari pasangan bapak Mateus Chen dan ibu Yohana Lay ini begitu tak terganggu manakala ratusan pasang mata memandang aksinya kala mengabadikan berbagai peristiwa yang berlangsung di gereja maupun hal lain yang sanggup menarik perhatiannya. Meskipun bersifat pribadi, betapa aktivitasnya sangat membantu gereja dalam mengabadikan setiap rangka masa. Entah telah menghabiskan berapa giga bahkan tera kapasitas hardisk guna membingkai laman waktu dalam gambar bergerak maupun slide-slide bisu. Tak berhenti sampai di situ, suaranya terdengar begitu ringan menandakan sama sekali tiada berkeberatan ketika hasil bidikan kameranya diunduh orang guna memenuhi berbagai kepentingan. 

Terlahir dengan nama Chen, semenjak kecil ia telah begitu terpesona pada kehidupan membiara. Chen kecil yang menunjukkan ketertarikannya pada kaum berjubah menggiring langkah remajanya menekuni panggilan iman hingga ke Holand. Pada 1947, dua tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, ia telah melanglang buana ke negeri Belanda. Zaman dulu menempuh pendidikan menjadi imam kesempatannya tidak seluas sekarang. Ia harus berjibaku dengan teologi dan filsafat ilmu hingga ditahbiskan sebagai imam di negeri kembang tulip itu pada 1961. 

Empat belas tahun di benua Eropa, begitu banyak hal dipelajarinya. Selain kian mematangkan pendidikannya menjadi gembala, ia mulai akrab dengan biola. Secara otodidak ia mempelajari cara memainkan alat musik yang tak sekadar menggesek dawai belaka, namun juga mengandalkan kehalusan jiwa untuk mampu sampai ke hati penikmatnya. Kepiawaiannya mengalunkan nada melalui biola bak gayung bersambut manakala ia kembali ke negeri asalnya. Sempat menggembala umat selama setahun di Nyarumkop pada 1962 sebelum akhirnya di tahun  1963 ia kembali berkarya di Katedral, di jantung Khatulistiwa. 

Pada tarikh 1963−1997 penempatan tugas pastoral membuatnya mengabdikan diri di Gembala Baik. Di sinilah ia berkolaborasi dengan ketua Yayasan Persekolahan Gembala Baik yang sepaham dengannya mengenai pembelajaran ekstra bagi siswa. Ia seiya sekata dengan Bapak Yan Fredrik yang menggagas mengenai pembelajaran biola untuk menghaluskan jiwa para peserta didiknya. Dengan telaten dan sabar, ia menularkan kebisaannya memainkan biola pada siswa-siswinya. “Pak Yan mewariskan satu hal tidak diduga, ia mengajar musik terutama biola kepada murid karena ia mau muda-mudi kita tetap peka terhadap sesuatu yang indah. Contohnya jika ada berita orang yang mengalami musibah di sekitar kita dan kita melihatnya sebagai sesuatu yang biasa, hal ini terjadi karena tidak ada kepekaan terhadap yang indah. Mulanya saya tidak mengerti, tetapi akhirnya saya memahami dan sesuatu yang paling indah adalah yang dilakukan oleh Yesus di kayu salib, wafat bagi orang lain. Hal ini dapat terjadi karena jiwa yang peka. Karena sesuatu yang indah dapat memengaruhi kepekaan sikap jiwa. Sehingga dia merasa indah juga bisa menolong orang, malahan bila perlu berkorban untuk orang lain. Saya ambil warisan itu. Saya melanjutkan itu. Biarlah kelihatan atau tidak, berhasil atau tidak, tapi pasti tidak rugi jikalau dari anak-anak itu masih dapat kesempatan untuk mematangkan rasa mereka terhadap keindahan. Karena otomatis akan mempengaruhi mereka punya jiwa,” urainya. Hingga usianya hampir menginjak 87 tahun, ia tetap setia melatih bermain biola. Dan satu hal yang sungguh luar biasa, ia melatih tanpa memungut sepeserpun biaya dari para didikannya. “Saya melanjutkan semua itu bukan sebagai hobi saja, tapi dengan harapan dasar supaya muda mudi kita menyebarkan keindahan yang mereka rasa, yang secara otomatis meningkatkan sikap jiwanya.” 

Hal unik lain dari sosoknya, di tahun 1947 dimana bangsa ini baru mengecap haru biru hawa kemerdekaan bahkan mungkin saja masih latah terhadap perputaran zaman, ia telah selangkah lebih maju. Ia akrab dan paham dengan peralatan media rekam. Sungguh berada di luar duga bahwa ia memang mesra dengan kamera semenjak dulu kala. Di samping itu, ia juga memanfaatkan media sosial untuk berbagi banyak hal yang direkamnya. Bukan tanpa maksud, namun  aktivitas tersebut berkiblat pada manfaat berbagi dan menarik esensi dari berbagai hal baik yang sanggup menginspirasi. “Ya memang hobi, dengan arti, itu adalah media yang bisa menyampaikan sesuatu. Hasil rekamnan saya banyak simpan di Facebook dan Youtube. Dari yang dibagikan di Facebook dapat dibaca juga notes berisi keterangan di bawahnya. Di situ saya banyak menulis hasil-hasil pembicaraan, menjawab pertanyaan orang tentang berbagai hal, tentang perkawinan, tentang hidup, tentang kematian.” Ia tak gagap teknologi, bahkan sukses memanfaatkannya menjadi media untuk menggembala umatnya. 

Usianya memang tak lagi muda, namun ia tampak tak pernah menyerah begitu saja pada deret angka penanda masa hidup manusia. Ia masih selalu bersemangat melakukan berbagai aktivitasnya sendiri. Menyetir, bersepeda, berjalan kemana pun tugas gembala mengharuskan langkahnya berada, semua dijalaninya dengan suatu kesadaran bahwa kemandirian berdampak penuh terhadap kondisi kesehatan. Hingga kini, ia masih melayani, mengantar sendiri komuni suci bagi para lansia, baik di dalam maupun di luar kota. Jumlahnya pun tidak sedikit, terdapat dua putaran dalam hantaran yang totalnya berada di kisaran angka enampuluhan.
  
Meski menyadari sepenuhnya terhadap berbagai hal yang berpengaruh besar pada kesehatan, Pastor Marius bukan insan yang menyangkal kematian. Pernah dalam satu kurun waktu ia bolak-balik melewati jalan yang sama menuju kompleks pekuburan. Aktivitasnya itu disadari oleh seorang umat yang serta merta menanyakan alasannya. Dengan nada berkelakar ia mengungkap alasannya menjalani aktivitas yang tergolong tidak biasa itu dengan harapan ketika kematian menjemput, jiwanya bisa mandiri, berjalan sendiri karena sudah hafal jalan dari pastoran menuju kompleks pekuburan.

Pria yang terlahir pada 1 Agustus 1929 ini pernah mengalami mujizat dalam hidupnya. Dikisahkannya pada wawancara dengan tatapan bersungguh-sungguh pada tahun 2002 ia berada dalam perjalanan dari Pontianak menuju Singkawang. Kala itu di daerah Sungai Limau nasib tak mujur menghampirinya, ia terlibat dalam kecelakaan di jalan raya. Namun suatu hal yang benar-benar dirasanya adalah terdapat tangan seseorang yang memegangnya, menahannya agar tak terlalu kuat menghantam setir maupun dashboard mobil yang dikemudikannya. Saat kecelakaan terjadi ia bersama dengan dua orang lain yang duduk jauh di belakang setir yang dikendalikannya. Suatu kondisi dimana dua orang di belakangnya tidak mungkin melakukan hal yang dirasakannya sebagai ‘pegangan tangan seseorang’. Saat dievakuasi, tim medis yang menanganinya merasa tipis harapan nyawanya dapat diselamatkan mengingat kondisinya yang sangat memprihatinkan. Di luar dugaan, ketika Pastor Marius siuman dan satu hal yang langsung ia ingat saat itu ia harus memimpin misa berbahasa Tionghoa. Dengan kondisi luka dalam yang jika orang awam hanya bisa bertahan selama tiga jam, Pastor Marius merasa menerima sentuhan kekuatan hingga ia dapat bertahan selama delapan jam sebelum akhirnya mendapat perawatan lanjutan. Dalam kondisi itu ia menguatkan diri untuk pulang ke Singkawang. Tim medis di Singkawang hanya menggeleng-geleng takjub menyaksikan betapa mujizat Tuhan bekerja atas diri pastor ini. Usai merasakan kuasa keajaiban pada tahun 2002, Pastor Marius semakin meyakini segala keselamatan yang dialaminya tak lain karena campur tangan Bunda Maria. 

Hal lain yang juga menjadi kisah tersendiri dari diri pastor yang satu ini adalah dalam kurun masa tertentu, beliau pernah menggunakan peti mati sebagai fasilitas tidurnya. Tentunya hal ini menjadi kondisi tak biasa bagi orang kebanyakan yang secara general memandang segala hal yang berkaitan dengan kematian adalah sesuatu yang masih begitu menakutkan. Ya, pastor Marius memang sudah memesan sebuah peti kepada sahabatnya yang berprofesi sebagai pembuat peti demi kepentingannya sendiri di kemudian hari. Serta merta peti pesanannya dititipkan kepada si pembuat karena untuk membawa peti jenazah ke pastoran bukan hal yang mudah. Selain akan memakan banyak tempat, adalah tak lazim meletakkan peti dalam ruangan yang sebenarnya bukan tempatnya. Suatu waktu ketika sang sahabat pembuat peti berpulang ke penciptanya, peti jenazah pesanannya harus dibawanya ke kediamannya, ke pastoran. Ia lantas meletakkan peti pesanannya di dalam kamarnya dan menjadikannya sebagai tempat beristirahat. Ia tidur di dalam peti jenazah. Cukup lama keadaan itu dijalaninya hingga suatu ketika ia tak dapat bertahan lagi karena hawa panas yang menyelimuti ketika ia tidur di dalam peti. Suatu pengalaman jenaka yang tidak disangka terjadi atas dirinya. Meski kini peti itu tetap berada di kamarnya, kondisinya saat ini kokoh berdiri dan telah beralih fungsi menjadi almari. 

Pada akhirnya sekelumit kisah hidup yang terajut menjadi sisi lain bagi kita memandang sang gembala. Selamat berkarya, Pastor. Semoga selalu sehat dan dilindungi dalam setiap langkah. (Hes)      
NB: Bagi umat yang ingin berinteraksi dengan beliau dapat mengunjungi laman
Facebook: Mar Chen (Marius) dan Youtube: mari2chen.                    


2 Mar 2017

Menghargai Perbedaan di Tengah Karut Marut Kehidupan

Menghargai Perbedaan di Tengah Karut Marut Kehidupan



Sejak beberapa tahun silam melalui lembaga riset Setara Institute, Kota Singkawang  tercatat sebagai kota paling toleran di posisi ketiga di seluruh Indonesia setelah Pematang Siantar dan Salatiga. Hal ini menunjukkan tingginya kesadaran warga Singkawang terhadap perbedaan yang memang menjadi corak dasar kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Menyikapi perbedaan yang tak terhindarkan ini berbagai cara ditempuh oleh pemerintah maupun lembaga yang terdapat di dalamnya untuk memupuk kebersamaan meskipun berlatar perbedaan antarumat beragama.  Salah satunya seperti yang diselenggarakan oleh Departemen Agama. Sabtu, 14 Januari 2017 merupakan hari yang dipilih oleh Departemen Agama Kota Singkawang untuk melaksanakan kegiatan jalan santai bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari enam agama yang diakui oleh pemerintah. Kegiatan jalan santai ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kerukunan Nasional dan Hari Amal Bakti ke 71 Kantor Kementrian Agama Kota Singkawang. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 Wib ini memusatkan kantor Departemen Agama  yang beralamat di Jalan Alianyang sebagai tempat  start maupun finish kegiatan jalan santai. Rute yang dipilih dalam kegiatan ini adalah melewati berbagai tempat ibadah yang ada di kota Singkawang yang jaraknya berdekatan satu sama lain. 

Respon masyarakat sangat baik. Hal ini terbukti dari jumlah peserta yang ikut andil di dalamnya  lebih dari 1500 peserta. Seluruh pegawai dan karyawan Depag terlibat dalam gawe yang setiap tahun digelar ini. Perwakilan berbagai  sekolah dengan latar belakang negeri maupun swasta dilibatkan guna memeriahkan acara yang digelar tahunan ini. Ditemui terpisah, Baharuddin selaku Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Singkawang menjabarkan kegiatan ini merupakan salah satu ajang hiburan masyarakat dan sebagai upaya membangun  semangat kekeluargaan akibat dari reformasi politik Indonesia yang berdampak timbulnya kegalauan sebagian rakyat yang berakibat dari dampak berita di media sosial yang bersifat hoax, terkadang provokatif serta adanya pemimpin di segala tingkatan yang sulit diteladani. Hal senada juga diungkap ketua panitia, Drs. Marhola yang menggarisbawahi digelarnya acara ini demi mempererat dan merekatkan hubungan harmonisasi dalam toleransi umat beragama di Kota Singkawang. Masih dalam wacana yang sama Robertus selaku penyuluh Katolik mengungkap tujuan diselenggarakannya giat ini adalah agar rasa persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama dalam membangun kebersamaan dan kebhinekaan agar kota Singkawang semakin dewasa, semakin berkualitas, dan harmonis hingga tak berlebihan rasanya sebuah harapan untuk Kota Singkawang meraih predikat sebagai kota paling toleran nomor satu di Indonesia dapat diwujudkan.  

Melalui giat yang sukses digelar dengan tertib dan lancar semakin mengukuhkan bahwa Kota Singkawang  sama sekali tidak terpengaruh kondisi karut marut yang belakangan melanda berbagai kota lain di Indonesia. (Hes)

15 Jan 2016

SETAPAK TAK BERJARAK DENGANNYA, SANG MUTIARA PENEBAR CERIA

SETAPAK TAK BERJARAK DENGANNYA, SANG MUTIARA PENEBAR CERIA

“Mahkota apa yang saya cari selain satu tujuan, mencerdaskan generasi bangsa. Sudah terlalu tua bagi saya untuk mencari sensasi. #renungan”



Tersentak saya kala membaca status media sosial pada aplikasi pesan instan biarawan periang nan enerjik itu. Status itu pula yang semakin menyadarkan dan menguatkan paradigma saya bahwa sosoknya berbeda, ia begitu istimewa. 

Bruder Valensius Ngardi, S.Pd, MTB, atau lebih sering disapa Bruder Flavi. Pria kelahiran Manggarai, Flores, 4 Juli 1975 itu pertama kali saya jumpai pada 3 September 2014 lalu. Kala itu dalam suasana formal sebuah pertemuan yang digagas oleh dinas yang menaungi  tempat keseharian kami berkarya tengah getol-getolnya menyasar tiap sekolah guna menyosialisasikan kurikulum baru. Pada saat itu saya sempat mengamati dari kejauhan, beliau yang baru menduduki jabatan sebagai pucuk pimpinan salah satu Sekolah Menengah Pertama di Singkawang terkesan sedikit canggung ketika harus berbaur dengan pimpinan dari sekolah lain. Saya sempat menanyakan perihal wajahnya yang rasanya begitu asing bagi saya kepada salah satu pimpinan sekolah yang saya kenal. Jawaban yang lantas mampu menuntaskan keingintahuan saya terima, “Beliau Kepala Sekolah SMP Tarsisius yang baru.” Pada saat itu yang terlintas dalam pikiran saya, “Ow, ini rupanya sosok yang kemarin-kemarin sempat diceritakan rekan sesama pengajar di sekolah tempat saya mengabdi dulu.” Sadar jika diperhatikan, beliau lantas melempar senyum ke arah saya yang saya balas dengan anggukan.

Pertemuan kedua kami terjadi pada medio Desember 2014. Kali ini jabat tangan dan perkenalan diri dapat kami lakukan secara langsung dalam suasana yang lebih santai dan akrab. Saya ingat betul kalimat yang lantas dilontarkan beliau pada saat berjabat tangan, 

“Rasanya sering lihat, Mbak.,” 
“Ya, Der, kita pernah bertemu di sosialisasi Kurikulum 2013, saya salah satu instruktur yang ada di situ, mungkin Bruder juga pernah lihat foto saya di Tarsi, saya dulu mengajar di Tarsi (SMP Santo Tarsisius.red).”  

“Ow, ya, ya, kita sekarang satu tim.” 
Ya, saat ini kami satu tim dalam meramu buletin gereja. Pertemuan kali itu berlangsung begitu singkat. Tidak banyak yang dapat saya tangkap dalam kesan pada pertemuan kali itu selain nada bicaranya yang ringan dan terasa begitu bersahabat. 

Perkenalan selanjutnya hanya berjalan searah, prosesnya terjadi melalui kebiasaan saya yang sering berusaha mengenali pribadi orang lain dengan cara mengamati ekspresi wajah dan gaya melalui  foto-foto. Ada rasa takjub manakala saya disodori foto sesosok lelaki dengan dandanan dan kostum lengkap sebagai badut dengan latar belakang persawahan ditambah keterangan dari sang juru foto, “Mbak, tahu ini siapa? Ini Bruder Flavi, lho!” Mengernyit dahi saya kala itu, mencoba menelisik detil foto di hadapan saya sembari perlahan mengurai pola pikir yang rasanya bersimpul-simpul, menyeimbangkan antara kenyataan beliau adalah pucuk pimpinan di sekolah dan begitu berwibawa dengan kontradiktif sikapnya yang membumi menjadi penghibur, pembawa ceria bagi sesama yang dijumpainya dalam balutan kostum dan dandanan badut. Ya, kala itu beliau berdandan ala badut guna menghibur umat di salah satu stasi dalam rangka perayaan natal bersama.     

Kesan ketiga yang juga benar-benar lekat dalam ingatan saya adalah ketika suatu sore di bulan  Juni 2015, usai gerimis tipis mengguyur kota Singkawang, langkah kaki saya digiring ‘pulang’ ke tempat saya pernah mengabdikan diri. Saat itu saya sengaja ‘pulang’ ke sekolah tempat dimana sang badut yang sekaligus pucuk pimpinan mempersembahkan segenap waktu, tenaga, dan pikirannya dalam berkarya, SMP Santo Tarsisius. Sambutan hangat seolah menyambut kerabat dekat pun segera saya dapat. Banyak hal kami perbincangkan, beliau begitu antusias membahas rencana-rencana dalam membangun sekolah ke arah kemajuan. Yang membuat sangat terkesan adalah keterbukaannya menerima berbagai masukan yang saya berikan. Padahal seringkali dalam keseharian, saya merasa dianggap ‘anak bawang’, suara dan pendapat saya lebih sering dikesampingkan, namun di hadapan beliau pendapat saya diperhitungkan. Satu lagi kesan yang saya dapatkan, beliau adalah tipikal pemimpin yang menghargai dan mendengarkan. 

Usai kunjungan ‘pulang’ saya ke SMP Santo Tarsisius sore itu, komunikasi kami lebih banyak dilakukan via pesan instan maupun surat elektronik. Pernah dalam kurun suatu masa, anak keempat dari enam bersaudara ini bertubi-tubi mengirimkan artikel melalui surat elektronik untuk dimuat di Buletin Likes. Saya begitu takjub dengan kesanggupannya meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menulis berita di sela-sela kesibukannya sebagai pimpinan yang saya yakini sudah terlampau sarat tugas dan kewajiban. 

Kiranya keberuntungan untuk lebih mengenal dekat sosoknya selalu menyertai saya. Pada suatu kesempatan, tepatnya pada perayaan 110 tahun Kapusin berkarya di Singkawang, kami digadang dalam sebuah tim yang menangani sektor pameran. Entah mengapa kala membaca namanya sebagai koordinator seksi pameran, tidak ada kepanikan yang saya rasakan meski mengetahui pameran ini akan dikunjungi minimal dengan skala regional Kalimantan Barat. Dan benar saja, dalam beberapa kesempatan rapat persiapan juga saat eksekusi ide yang sudah dirancang, sosoknya yang periang kembali menimbulkan kejutan-kejutan. Pada umumnya, orang yang sifatnya periang dan enerjik yang selalu saya jumpai bukanlah tipikal orang yang detil dalam menghadapi apapun, namun ternyata pengecualian berlaku pada putera Bapak Ignasius Gentor dan Ibu Elisabet Ahul ini. Beberapa kali saya terperangah ketika  beliau begitu rinci meneliti satu persatu kesiapan kegiatan. Tidak berhenti sampai di situ, lagi-lagi sikapnya yang membumi seolah melucuti rasa malu saya satu per satu. Di tengah persiapan kegiatan, saya yang saat itu tengah memasang proyektor untuk menampilkan slide-slide foto di ruang pameran sempat mematung demi menyaksikan sosoknya yang dengan cekatan mengepel ruangan pameran. Kembali logika saya dibenturkan pada kenyataan antara sosoknya yang seorang pimpinan dengan keikhlasannya melakoni berbagai pekerjaan.

Siang itu, di sela kesibukannya mengurus rumah tangga persekolahan yang dipimpinnya saya melakukan temu janji. Ketika saya menyambanginya, tak seperti pemimpin yang pada umumnya berkutat di ruang kerja, dari jauh ia terlihat duduk santai di pinggir lapangan basket. Membaur, tak menjarak dengan peserta didiknya. Tak perlu heran jika suatu kali Anda akan menjumpainya duduk lesehan di lantai saat jam istirahat sekolah, bergabung dengan para murid, karena memang demikianlah dalam kesehariannya. 

Manakala ditelisik alasannya memilih kehidupan membiara, dengan antusias ia mengisahkan ketertarikannya diawali ketika masih duduk di sekolah dasar, ia telah bergelut dengan aktivitas sebagai misdinar. Berlatar orang tua sebagai ketua kring pun ternyata menjadi salah satu hal yang semakin menguatkannya untuk mengenal lebih dekat kehidupan ‘kaum berjubah’. “Dulu kami tinggal di pedalaman, dikunjungi pastor sekali sebulan, dan bisa dipilih menjadi misdinar rasanya senang sekali,” uangkapnya bernostalgia.

Di balik penampilan cerianya, ternyata ia menyimpan penggalan kisah mengharu biru. Flavi kecil pernah hampir putus sekolah. Disebabkan latar ekonomi keluarga yang agak terseret karena ayahnya harus membiayai kakak-kakak lainnya yang juga bersekolah, ia lantas diajak untuk tinggal di pastoran sebagai karyawan semacam koster. Membaca tekadnya yang gigih untuk beroleh pendidikan, sang pastor baik hati yang mengajaknya tinggal di pastoran itu lantas memberikan lampu hijau padanya untuk dapat melanjutkan pendidikan, dengan catatan setiap Sabtu, Flavi kecil harus izin sekolah dan tetap membantu pastor untuk mengunjungi stasi.

Berbagai pergulatan dalam menempuh kehidupan dan pendidikan akhirnya mengantar langkah Flavi pada Kongergasi MTB. Ia paham betul bahwa dunia pendidikan menjadi salah satu konsentrasi dalam kehidupan religiusnya sebagai biarawan. Sebenarnya tak ada hal muluk yang ia harapkan dalam kehidupan karyanya, namun ternyata pimpinan kongergasi membaca kemampuannya dalam memanajemen lembaga. Sepanjang lima tahun belakangan, telah dua sekolah berada di bawah kepemimpinannya, SMA Santo Paulus Pontianak (2010−2014), dan SMP Santo Tarsisius Singkawang (2014−sekarang). Manakala disoal tentang keinginannya yang belum terwujud, masih dengan nada antusias ia berujar, “Saya ingin menulis buku yang isinya tentang humaniora, dan hal lain yang sangat saya inginkan adalah melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Saya hanya ingin melayani dalam dunia pendidikan tetapi jangan posisi sebagai pemimpin, berat bagi saya,” ungkapnya disertai derai tawa. 

Pada akhirnya, banyak hal yang dapat diserap menjadi suri teladan dari sosok pehobi voli dan basket ini; menjadi  pemimpin yang mendengarkan, menghargai, memotivasi, membumi, menebar damai dan sukacita bagi sesama. Selamat berkarya, Der. Semoga selalu dianugerahi kondisi sehat dan penuh dengan berkat. (Hes)   


Riwayat Pendidikan dan Kekaryaan
SD Swasta Katolik (1982-1988)
SMP Swasta Katolik St. Stefanus (1989-1992)
SMA Don Bosco, Ruteng (1992-1995)
KPA St. Paulus, Mataloko, Flores (1995-1996)
Bekerja di Jakarta dan Semarang (1997)
Biara di Jateng (1998-2000)
Pengurus rumah tangga dan guru SD Bruder Kanisius, Siantan Pontianak (2000-2002)
Kuliah di IPAK, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta (2002-2006)
Asisten Magister Postulan di Pati, Jateng (2006-2007)
Pengurus dan Pembina Asrama dan dosen di Merauke (2007-2010)
Kepala Sekolah SMA St. Paulus, Pontianak (2010-2014)
Kepala Sekolah SMP St. Tarsisius, Singkawang (2014-sekarang)