MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Tampilkan postingan dengan label Cakrawala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cakrawala. Tampilkan semua postingan

7 Jun 2017

Sejarah Doa Perlindungan ‘SATOR AREPO TENET OPERA ROTAS’

Sejarah Doa Perlindungan ‘SATOR AREPO TENET OPERA ROTAS’


Doa ini semacam palindrom (sebuah kata, frasa, angka maupun susunan lainnya yang dapat dibaca dengan sama baik dari depan maupun belakang). 

Kata ‘palindrom berasal dari bahasa Yunani: palin (‘balik’) dan dromos (‘pacuan kuda’).
Menurut buku Mother Tongue: English & How It Got That Way (hal. 227): “Palindrom berumur setidaknya 2.000 tahun."

Palindrom Latin Sator Arepo Tenet Opera Rotas sangat unik karena ia akan mengulang kalimatnya lagi jika kita membentuk kata dari huruf pertama setiap kata kemudian disambung dengan huruf kedua setiap kata, dan seterusnya. Karena itu ia juga dapat disusun dalam sebuah kotak yang dapat dibaca secara vertikal maupun horisontal:

Palindrom ada dalam banyak bahasa-bahasa Barat, terutamanya di bahasa Inggris. Meskipun begitu, gelar ‘bahasa palindrom’ jatuh pada bahasa Finlandia.
Selain itu, palindrom juga ada dalam bahasa-bahasa non-Barat, contohnya bahasa Jepang, bahasa Tionghoa dan bahasa Korea.

Lebih lanjut, doa ini mulai dikenal luas dengan berlatar belakang peristiwa Perang Dunia I, di mana terdapat seorang pemuda atheis yang mengikuti wajib militer sedang diliputi rasa takut yang luar biasa ketika ia akan diberangkatkan menuju medan perang. 

Di tengah gejolak rasa takutnya, ia bertemu dengan seorang pastor yang memberikan nasihat kepadanya agar ia tidak risau dan takut, seraya mengajarkan suatu doa singkat yang mudah untuk diingat dan dihafalkan apabila diucapkan secara berulang-ulang. Pastor tersebut berpesan kepada pemuda itu agar selalu melafalkan doa tersebut setiap saat dalam bahasa aslinya (Latin) supaya ia dapat selamat dari segala mara bahaya. 

Pemuda itu meyakini apa yang dinasehatkan oleh pastor tersebut serta mendoakannya berulang-ulang sekalipun tidak mengerti akan arti doa tersebut. Dalam suatu pertempuran yang besar, seluruh anggota pasukan pemuda tersebut gugur dalam pertempuran, namun hanya pemuda atheis itu sendiri yang selamat dari gempuran pasukan musuhnya. Karena doa ini, pemuda tersebut bertobat, dan menyebarkannya sebagai doa perlindungan.

Arti Doa
Sator: Bapa.
Arepo: Tempat perlindungan.
Tenet: Memelihara.
Opera: Mempersembahkan sepenuh hati.
Rotas: Nasib / Perputaran Hidup.
Apa makna dari doa tersebut?

 Dari pihak Tuhan, bermakna:
"Bapa tempat perlindunganku, yang memelihara hidupku dengan segenap hati-Nya"
Dari pihak manusia, bermakna:
"Aku mempersembahkan seluruh hidupku dengan sepenuh hatiku kepada Bapa yang menjadi tempat perlindunganku" 

Bagaimana cara menggunakan doa tersebut?
Doa ini adalah doa yang tak kunjung putus, karena doa ini dapat dibaca dari segala penjuru dengan makna yang sama (baca dari kanan ke kiri; atas ke bawah; kiri ke kanan; bawah ke atas).
Ini adalah doa sederhana yang mempunyai kekuatan besar. Doa ini biasanya diucapkan secara berulang-ulang/terus-menerus hingga dirasakan cukup (dapat diucapkan secara bersuara ataupun hanya bersuara dalam batin), melafalkan doa versi latin ataupun versi Indonesia, yang penting menyentuh kedalaman makna yang dipanjatkan kepada Tuhan. Doa ini juga boleh dilakukan dengan ataupun tanpa memegang medali doa atau salib di dada, maka Allah Bapa akan berperan serta secara penuh dalam hidup kita. (Disadur dari berbagai sumber (Google)


.

3 Mar 2017

AIR YANG SETIA DENGAN WADAHNYA

AIR YANG SETIA DENGAN WADAHNYA



Pada liburan yang lalu, saya bersama siswa kelas XII MIA 1 mengisinya dengan berwisata ke sebuah pegunungan,  di sana terbentang pemandangan yang indah,  telaga warna. Di daerah yang berhawa dingin tersebut banyak budidaya tanaman sayur mayur khas wilayah daerah pegunungan seperti kubis, wortel, tomat maupun jenis sayuran yang lain tumbuh subur,dan kami kami membuat perkemahan di dekat telaga tersebut.

Perkemahan berlangsung akrab dan sangat menyenangkan. 
Para siswa banyak belajar tentang kehidupan masyarakat petani sayur mayur di sana, kegotong-royongan, toleransi maupun cara budidaya sayur mayur maupun tata airnya. 

Setelah acara perkemahan selesai para siswa bersepakat pergi ke sungai bersama-sama untuk mencuci tenda di sungai yang mengalir tidak jauh dari wilayah telaga. Mereka sangat senang melihat kebersihan dan kejernihan air yang mengalir di sungai tersebut yang berasal dari telaga itu.
Si Wawan salah seorang siswa, kelihatan merenung dan memperhatikan aliran air sungai tersebut. Dia berpikir dan heran melihat sifat air.

Di sungai, air mengalir mengikuti bentuk lekukan sungai, lalu di telaga tadi air juga juga berbentuk mengikuti bentuk telaga. Kemudian dia mengambil botol minumannya yang telah kosong dan mengisinya dengan air dari sungai tersebut dan ternyata air pun berubah bentuknya mengikuti bentuk botol.

“Oh air, aku betul-betul sangat mengagumi keberadaanmu, segala makhluk mengakui akan perananmu dalam menopang kehidupan makhluk hidup di dunia ini. Namun di lain pihak, aku sangat  kecewa denganmu karena kau tidak memiliki jati diri yang teguh,” kata Wawan. Rupanya air di sungai tersebut mendengar ucapan Wawan. Lalu dia bertanya.

“Lalu di mana kelemahanku itu, wahai manusia. Oh ya, namamu siapa? Kita belum berkenalan,”  air dalam sungai tersebut bertanya.

Lalu Wawan menjawab, “Namaku Wawan, seorang murid SMA di kota ini. Jadi begini, di tempurung, bentukmu menyerupai tempurung. Di botol, bentukmu seperti botol lalu di telaga di atas sana bentukmu pun menyerupai telaga dan di sini, di sungai ini engkau mengalir seperti kelokan sungai. Apa ini bukan bukti yang nyata bahwa engkau plin-plan, tidak teguh dengan pendirian.

“Karena aku sering berubah bentuk dengan tempatku itu yang kau anggap aku lemah dan tidak mempunyai jati diri, maksudmu?” air bertanya minta penjelasan.

“Benar, itulah buktinya kamu lemah dan tidak mempunyai  pendirian,”  jawab Wawan.

“Wan, justru di situlah kelebihanku dibandingkan dengan kehidupanmu. Coba bayangkan, bagaimana jadinya kalau aku tetap ngotot bersiteguh dengan salah satu bentuk,  sungai ini misalnya, maka kamu dan manusia akan kesulitan membawaku. 

Aku berubah bentuk sesuai dengan wadahku bukan berarti aku tidak punya pendirian, tidak punya jati diri, tetapi sebaliknya, karena dengan bersifat seperti ini, aku mudah menyesuaikan diri dengan lingkunganku dan itulah kehebatanku.

Aku tidak pernah menuntut suatu di luar wadahku,” air melanjutkan bicaranya. 
“Sebab aku tahu mana hakku. Di antara kalian, seringkali timbul pertengkaran karena kalian sering menuntut hak yang bukan haknya. Bahkan kalian sering menuntut orang lain untuk bisa berubah sesuai dengan kemauanmu, sesuai dengan kehendakmu.”

“Jadi menurutmu, manusia itu akan bahagia kalau tidak merubah lingkungannya?” tanya Wawan.
“Tidak juga, sebab kalian itu makhluk yang selalu berkembang, sehingga tidak mungkin tidak berubah bentuknya, baik secara fisik maupun rohaninya. Kebijaksanaan manusia itu sesungguhnya terletak pada kepandaiannya dalam melihat sesuatu yaitu mana yang dapat diubah dan mana yang dapat berubah. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering berdiam diri tatkala ia dituntut untu membawa perubahan yang lebih baik bagi lingkungannya.

Bahkan manusia sering kecewa karena ingin selalu mengubah hal-hal yang tak mungkin diubah. Coba camkan itu,” air mengakhiri pelajarannya.

Wawan sangat memahami dan merasa puas dengan penjelasan air dan dia segera menyusul teman-teman yang lain untuk berkemas dan kembali ke kotanya dengan membawa sebuah tekad dan penyegaran yang menyenangkan untuk membuat lingkungannya menjadi lebih baik. Ada yang bisa diubah dan ada yang tidak perlu diubah.

Singkawang, awal Februari 2017.



2 Mar 2017

Saint Tarsi Festival 2017

Saint Tarsi Festival 2017

“Tarsisius hebat....”
Ungkapan ini sebagai bentuk syukur atas keberhasilan SMP Santo Tarsisius dalam menyelenggarakan event “Saint Tarsi Festival 2017“ dari tanggal 18 - 21 Januari 2017 lalu, yang sebelumnya event ini dikenal dengan nama “Sosial Day“. Dipelopori oleh Br.Valensius Ngardi, S.Pd, MTB event ini adalah event tahunan SMP Santo Tarsisius dan menjadi event terbesar sekolah karena melibatkan peserta dari semua Sekolah Dasar baik negeri maupun swasta se-kota Singkawang.

Melalui kegiatan ini, SMP Santo Tarsisius menjadi wadah dan ajang kreativitas siswa yang pada dasarnya diarahkan untuk menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis, apresiatif dan kreatif pada diri siswa secara menyeluruh. Sikap ini hanya akan tumbuh jika dilakukan serangkaian proses kegiatan dalam “Saint Tarsi Festival 2017” kepada siswa yang meliputi pengamatan, penilaian serta penumbuhan rasa memiliki keterlibatan siswa dalam segala aktivitas seni dan pengetahuan di luar sekolah, khususnya bagi siswa Sekolah Dasar yang memiliki bakat dan kreativitas.

Dan hasilnya..., “sangat luar biasa”... di luar dugaan, antusiasme dan proaktif dari para peserta Saint Tarsi Festival 2017 mengejutkan pihak panitia. Hal ini dibuktikan dengan hasil perlombaan dan jumlah peserta yang mencapai target sesuai dengan yang diharapkan. Kemampuan, bakat dan kreativitas peserta lomba juga membuat kagum dewan juri pada saat perlombaan, mengingat peserta event ini adalah siswa/i Sekolah Dasar se-kota Singkawang. Keberanian untuk tampil di depan tanpa rasa gugup sedikitpun yang membuat penonton bergemuruh memberikan sorak sorainya. Bagi mereka peserta lomba, menang atau kalah dalam sebuah perlombaan adalah hal biasa, yang terpenting mereka bisa menampilkan yang terbaik dari bakat dan kreativitas yang dimilikinya, begitu ungkap salah satu peserta.

Menurut Bapak Agus, salah satu dari guru pendamping SDN 24 Singkawang Barat sekaligus pelatih untuk lomba modern dan musikalisai puisi, beliau mengapresiasi SMP Santo Tarsisius yang berani mengadakan gebrakan baru melalui event “Saint Tarsi Festival 2017” sebagai wadah bagi siswa Sekolah Dasar dalam berapresiasi dalam bidang seni dan olah raga. Lanjutnya lagi SMP Santo Tarsisius merupakan SMP Swasta berlatarkan sekolah Katolik yang mengadakan kegiatan event seperti ini sehingga beliau berpesan untuk tetap eksis dan menginovasi ide-ide kreatif bagi SMP Santo Tarsisius dalam event berikutnya di tahun mendatang.

Beberapa kegiatan dan perlombaan dalam event “Saint Tarsi Festival 2017“ kami sajikan melalui foto-foto berikut ini :


1 Des 2016

HIDUP HANYA SEKALI - BERARTI - SETELAH ITU MATI

HIDUP HANYA SEKALI - BERARTI - SETELAH ITU MATI

 

Angin semilir lembut di pagi hari yang masih dingin, padahal jarum jam sudah menunjuk angka sembilan pagi. Pak Tegar masih asyik dengan kegiatannya, yaitu menebangi pohon-pohon pisang yang semakin banyak, yang mengganggu aliran air  menuju sawahnya. Ada enam - tujuh batang pisang yang ditebangnya. Setelah itu diharapkan aliran air yang menuju sawahnya menjadi lancar dan tanaman-tanamannya tidak akan kekeringan lagi.

Pak Tegar beristirahat sebentar, karena mendengar teriakkan isterinya, “Kang, istirahat dulu. Ini saya bawakan sarapan.” Dia melangkah mendekati isterinya di ujung pematang sana dan setelah dekat, mereka saling menuju gubug yang dibangun di kebun mereka sekadar untuk berteduh dan melepaskan lelah sejenak. Setelah suaminya duduk di lantai gubug tersebut, isterinya membuka bungkusan yang diambilnya dari bakul yang dibawa dan diulurkannya kepada suaminya. Pak Tegar mencium aromanya, sesuatu yang yang berbentuk bulat panjang, dibungkus daun pisang. Pak Tegar  membukanya dan ternyata sebuah gethuk pisang kepok (pisang nipah) kesukaannya.

Isterinya meraih ceret yang dibawanya lalu menuang ke dalam gelas dan meletakkan di hadapan suaminya. Segelas kopi yang masih mengepulkan asap, mengeluarkan aroma yang sedap. Pak Tegar mengambil gelas kopi dan meneguknya. Terdengar bunyi sruputannya. “Woah, nikmat sekali,” kata Pak Tegar sambil menyeruput lagi kopinya.” “Gethuk pisang, kopi hangat, didampingi isteri yang cantik dan setia, alangkah bahagianya aku ini,” Pak Tegar melanjutkan.

“ Ah,booapak …… kita ini wis tuwek, Isiiiin (malu.red) kedengaran wong (orang.red),” sahut Mak Tegar  basa-basi, walaupun didalam hatinya berbunga-bunga. Walau sudah punya empat orang anak yang sudah dewasa, suaminya masih selalu memujinya.

Keesokan harinya Pak Tegar kembali ke kebunnya untuk mulai mengerjakan yang lain. Dia melihat sepintas, dia heran melihat batang pohon pisang yang kemarin ditebangnya.  Di tengah batangnya sudah mulai muncul tunas kembali. Tetapi dia tak peduli lalu terus mulai bekerja membersihkan kebunnya dari tetumbuhan pengganggu. 

Dan tidak terasa hari semakin siang, keringat mulai bercucuran namun sebelum mandi di pancuran, Pak Tegar masih menyempatkan diri untuk menebas sekali lagi batang pisang yang kemarin ditebasnya dan mulai tumbuh lagi itu. Lalu dia meninggalkan kebunnya dan menuju ke pancuran sebagaimana biasanya untuk membersihkan diri dan selalu dia bertemu dengan teman sejawat tuanya, Pak Petrus Subhan, tetua desa mereka yang juga ingin membersihkan diri di pancuran umum tersebut.

“ Kang, aku nih heran. Kemarin saya tebangi pisang-pisang di pematang itu, tetapi sekarang sudah tumbuh lagi,”  Pak Tegar menyampaikan kekesalannya.

“ Ndak usah heran, memang pohon pisang itu ya begitu. Sekarang kamu tebang, besok juga akan tumbuh lagi,” sahut Pak Petrus.

“ Mosok sih kang, ini pun baru saja saya tebas lagi,” sambung Pak Tegar.

“ Iyaaaa…, itulah falsafah pohon pisang, dia tak mau mati sebelum berarti. Dia ulet dan pantang menyerah.”
 
“ Maksudnya gimana?” tanya Pak Tegar ingin tahu.
 
“ Gini lho, pohon pisang itu memiliki banyak falsafah yang patut kita teladani.

Pertama: coba lihat batangnya, terdiri dari lapisan-lapisan yang disebut gedebok, dan gedebok ini terdiri dari serat serat kecil yang lemah, namun karena persatuan mereka menjadi batang yang kokoh dan tidak gampang roboh walau dilanda angin kencang

Kedua: bagian-bagian dari pohon pisang itu semuanya bermanfaat.
Dari gedeboknya yang untuk membungkus tembakau, lalu daunnya untuk membungkus makanan, kemudian buahnya yang tersusun rapi di tandannya, terasa manis bisa dijadikan berbagai jenis penganan,” Pak Petrus terus menjelaskan.

“Iya, Kang. Tadi pagi isteri saya juga mengantarkan gethuk pisang kapok yang dibungus dengan daun pisang, kesukaanku,” sela Pak Tegar.” “Lalu apalagi, Kang?” sambungnya.

“Lalu jantung pisang kan juga bisa dibuat sayur, dan kalau sudah berbuah dan mati sekalipun bonggol batangnya, kalau dilubangi bisa mengeluarkan air yang bisa dipakai untuk menyuburkan dan menghitamkan rambut kita. Cobalah.

Ketiga:  sebelum menghasilkan buah, kalau Pak Tegar memotongnya, besok pasti tumbuh lagi. Pantang bagi pohon pisang untuk mati sebelum menghasilkan buah.

Keempat: Pohon pisang itu adalah tipe pemimpin yang baik. Dia akan membuat kader penerus sebelum dia lengser atau mati. Itulah, pisang pasti sudah mempersiapkan anak-anaknya sebelum dia berbuah dan mati. Itulah beberapa falsafah dari pohon pisang yang patut kita teladani.”

“ Oh, gitu ya, Kang, jadi rupanya pohon pisang itu bisa menjadi guru kita,” sambung Pak Tegar.

“Iya…. Itulah. Kita bisa belajar banyak dari pohon pisang. Dia bermanfaat secara total selama kehidupannya. Dia tipe maklhluk yang tidak egois dan selalu membuat dirinya selalu bermanfaat bagi orang lain. Selesai mandi mereka pulang beriringan, sampai berpisah di tikungan jalan menuju rumah masing-masing.


                                 Singkawang, awal November 2016








Hitam Putih di Balik Kerudung Misa

Hitam Putih di Balik Kerudung Misa


Sudah sejak tanggal 10 Juli 2016, Putri Altar Paroki Singkawang mengenakan mantilla setiap kali melayani di altar dan dalam perayaan liturgi lainnya demi menyadarkan umat betapa kudusnya misa yang kita rayakan. Ada berbagai banyak kalangan yang sangat mendukung ini karena ada alasan historis, teologis dan psikologis dalam penggunaan mantilla. Namun, tak sedikit yang menentang dan mempertanyakan devosi tradisional ini. Kami merasa bahwa, mereka yang menentang ini bukan bermaksud untuk berniat jahat, melainkan karena minimnya katekese (pengajaran) mengenai devosi yang satu ini. Kali ini kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan kepada kami supaya tidak ada hitam-putih dibalik mantilla serta memberi pertanggungjawaban atas pengharapan yang ada pada kami (bdk 1 Petrus 3:15) 

1. Siapa yang memberi izin kepada kalian untuk menggunakan mantilla?

Kami meminta izin ‘langsung’ kepada Mgr. Agustinus Agus setelah pulang dari tugas pelayanan altar dari upacara pemberkatan gedung Gereja St. Mikhael yang baru di Pangmilang pada hari Sabtu, 18 Juni 2016. Beliau sangat mengharapkan dengan adanya mantilla, umat Paroki Singkawang bisa semakin khusyuk, menghormati dan menghargai misa, serta lebih militan (setia) kepada Yesus dan Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.

2. Apa dasar kalian untuk membangkitkan mantilla?


Mantilla adalah tradisi tua gereja kita. Dasar kami untuk membangkitkan mantilla adalah dari 1 Korintus 11:1-16 di mana St. Paulus meminta perempuan untuk berkerudung saat menghadap Tuhan. Jika kita lebih meneliti dari setiap ayat pada perikop tersebut, St. Paulus mengatakan bahwa rambut panjang yang diberikan kepada perempuan itu untuk menjadi penudung bagi dirinya. Namun jika demikian, mengapa St. Paulus meminta perempuan untuk berkerudung padahal ia mengatakan bahwa rambut diberikan oleh Tuhan sebagai penudung? Alasannya sama dengan alasan mengapa pasangan menikah menggunakan cincin kawin, padahal Sakramen Perkawinan sah-sah saja tanpa cincin. Ini karena manusia membutuhkan tanda kelihatan dari realita yang tidak kelihatan. Manusia adalah makhluk jasmaniah yang sangat merespon terhadap simbol-simbol yang terlihat. Menggunakan mantilla saat misa, menunjukan bahwa Allah sungguh hadir dalam Misa Kudus, di mana surga turun ke bumi demi menghormati Tuhan dalam rupa roti dan anggur. Inilah tanda bahwa kerudung mantilla menunjukan kenyataan dari realita yang tidak kelihatan. Selain itu juga berdasarkan Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1262 “…akan tetapi, wanita harus menudungi kepalanya dan harus berbusana santun, terutama ketika mereka mendekati Altar Tuhan.” Putri Altar mempunyai tugas yang sama dengan Putra Altar. Karena itu ketika Putri Altar mendekati apalagi melayani di Altar, mereka senantiasa menudungi diri dengan mantilla, walaupun hal tersebut bukanlah lagi suatu kewajiban setelah berlakunya KHK 1983. 

3.Nah, kalau bukan kewajiban kenapa harus memakainya?
 
    Iman Katolik memiliki aturan-aturan dasar dan dogma-dogma fundamental yang wajib diimani oleh siapapun yang merasa diri sebagai Katolik. Namun, ada lebih banyak lagi hal-hal yang tidak diwajibkan namun sangat baik untuk dilaksanakan. Misalnya berpuasa satu jam saja sebelum menerima Komuni Kudus atau melakukan puasa dan pantang di luar masa prapaskah. Semenjak diberlakukannya KHK 1983, mantilla berada di nasib yang sama seperti kedua contoh diatas. Memang bukan kewajiban, namun bukan berarti dikesampingkan begitu saja. Lantas, apa yang menjadi dasar pemakaian mantilla? Kasih yang dalam kepada Yesus! Kasih yang sejati tidak akan melakukan hal yang minimal, melainkan ia akan melakukannya lebih dan lebih lagi. Bermantilla di hadapan Sakramen Mahakudus adalah salah satu cara untuk mencintai Kristus dengan cara “ekstra”, melampaui batas-batas minimal yang ditetapkan gereja.

4.Ngapain bermantilla? Lagian Tuhan memandang hati dan saya sudah mencintai-Nya dengan hati saya!


Argumen “Yang penting Allah melihat hati (bdk 1 Samuel 16:7)” selalu terngiang-ngiang saat membahas ungkapan-ungkapan iman yang bersifat jasmaniah. Mempelajari iman Katolik? Ah iman tak perlu diperdebatkan yang penting hatinya. Berusaha menjalankan liturgi dengan benar? Ah Tuhan melihat hati, buat apa berliturgi tapi hatinya jahat. Bermantilla? Ndak usah aneh-anehlah! Macam orang Islam! Yang penting Tuhan melihat hati. Kita harus berhati-hati dalam mengutip atau menggunakan ayat-ayat suci sebagai pembenaran atas kemalasan pribadi atau ketidaksukaan dengan praktik ini. Saat akan mengutip, perhatikan juga ayat selanjutnya. Seloroh yang “penting hatinya” seolah mengatakan kalau jiwa dan tubuh manusia tidak berjalan berbarengan. ‘yang penting hati’ ini bisa jadi betul, asalkan hati tersebut sudah dimurnikan oleh Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat dan hidup kudus.
 
Tuhan telah bersabda “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesama mu manusia seperti dirimu sendiri” (bdk Mat 22:37). Ia menuntut kita untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi. Gelora kasih yang sungguh sejati dan bukan gombal tentu akan mendorong tubuh untuk melakukan segala sesuatu demi yang terkasih. Mengenakan Mantilla hanyalah salah satu usaha kecil dan sederhana untuk memenuhi tuntutan kasih yang tinggi itu.

5. Putri Altar kita mengenakan semacam ‘hijab’! Apakah mantilla hanya dipakai oleh anak PPA yang putri?

Ini adalah keberatan yang mereduksi tradisi berkerudung sebagai kebiasaan Islami saja, tanpa berpikir bahwa berkerudung dalam ibadah merupakan praktik yang umum dilakukan oleh komunitas-komunitas Yahudi, Kristen Ortodoks, Hindu dan lain-lain. Sebagai devosi Ekaristis, wanita Katolik hanya mengenakannya di hadapan Sakramen Mahakudus, entah itu saat Misa, adorasi, pengakuan dosa, dan lain-lain. Selain itu, sangat jelas kalau bentuk mantilla sangat berbeda dengan hijab Muslim. Mantilla tidak hanya dipakai oleh Putri Altar, namun dapat digunakan oleh semua wanita Katolik tanpa terkecuali. Putri Altar mengenakan mantilla ingin menegaskan bahwa misa yang kita rayakan itu kudus adanya. Oleh sebab itu, sebagai umat beriman, hendaknya menaruh hormat yang besar kepada Yesus yang hadir dalam perayaan Ekaristi sehingga Misa tidak menjadi suatu ajang pertemuan sosial dengan kenalan kita.

6. Gereja selalu memperbaharui diri. Mantilla itu tradisi kuno!
   
Memang benar zaman telah berubah dan terus berkembang. Bahkan dalam kehidupan realitas di negara kita, banyak orang tetap mempertahankan kebudayaan mereka tanpa mesti hanyut dalam perkembangan zaman. Begitu juga dengan mantilla. Mantilla mempunyai nilai-nilai  Katolik yang mencangkup penghormatan yang pantas kepada Allah, kemurnian, perjuangan menuju kekudusan, kerendahan hati dan martabat perempuan. Apabila itu semua terdengar asing, kuno dan radikal dan mantilla dianggap melawan arus modern, itu bukan karena nilai-nilainya yang salah melainkan karena budaya zaman ini yang banyak menyeleweng.
 
7.Busana apa yang cocok saat dipadukan dengan Mantilla? Apakah kerudung misa harus mantilla? Apakah Mantillanya harus diberkati terlebih dahulu?

Dari sudut pandang fashion, mantilla tidak cocok dipadukan dengan baju yang terlalu santai, terlalu ramai, terbuka, atau terlalu ketat. Maka coba luangkan waktu untuk memikirkan pakaian apa yang pantas untuk menghadiri misa kudus. Kalau bisa, kenakan rok yang santun dan tidak ketat dengan panjang di bawah lutut. Memang memilih pakaian untuk misa sudah seharusnya sedikit merepotkan. Jika kita sendiri sering ribet dengan pakaian untuk pesta buatan manusia, mengapa kita sendiri tidak mau repot untuk menghadiri pesta perkawinan kita sendiri dengan Kristus?
 
Bagi Anda yang sudah tergerak untuk memuliakan Kristus secara khusus dengan bermantilla namun tidak bisa beli secara online maupun tidak sempat membuat sendiri, kerudungnya tidak harus mantilla. Anda dapat menggunakan kain-kain lainnya seperti syal, pashmina, atau bandana besar. Tidak ada keharusan untuk meminta berkat imam atas mantilla yang akan dikenakan, tetapi tentu hal tersebut sangat baik. Perlu diingat bahwa mantilla yang sudah diberkati tentu harus diperlakukan dengan hati-hati.

8. Bukankah tradisi berkerudung hanya dipakai di Misa Latin saja?
 
Betul, kebiasaan berkerudung merupakan warisan dari Misa Latin Tradisional/Traditional Latin Mass (TLM), yang kini banyak dikenal sebagai Misa Forma Ekstraordinaria. Namun Yesus yang kita sembah, baik dalam TLM maupun Misa Novus Ordo (tata cara misa yang sekarang) adalah Yesus yang sama dan seharusnya kita mengenakannya dalam bentuk misa apapun, tidak terbatas dalam TLM 

9.Apabila kebiasaan berkerudung, terutama dalam lingkup peribadatan, sudah lama menjadi tradisi Katolik, apalagi didukung oleh landasan bibliah (1 Korintus 11:1-16) dan tulisan  para Bapa Gereja, bahkan pernah disuratkan secara eksplisit dalam KHK 1262, mengapa Hukum Kanonik yang baru (KHK 1983) tidak lagi mencantumkannya? Bukankah Gereja Katolik menghormati tradisi para rasul? Bukankah hal tersebut seolah-olah terputusnya sebuah warisan tradisi yang sudah berjalan hampir 2000 tahun, nyaris setua usia gereja itu sendiri? Adakah kaitannya dengan menurunnya rasa hormat kepada Ekaristi?
 
Pertanyaan-pertanyaan di atas sungguh tidak mudah dijawab. Banyak yang mengaitkannya dengan fenomena revolusi seksual yang terjadi tahun 1960-1970an di belahan bumi barat di mana lahirnya ideologi feminisme radikal, serta normalisasi kontrasepsi, aborsi dan seks bebas. Ada juga yang mengkaitkan dengan “hanya” pergeseran budaya akibat moderenisasi di segala bidang, terutama dalam hal keagamaan. 

Sampai sekarang, pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menjadi bahan permenungan bagi kita. Jika kita sudah mengerti bahwa Allah sendiri yang mengkehendaki wanita untuk berkerudung (bdk 1 Korintus 11:2-16) mengapa kita yang sudah mengetahuinya tidak mau melakukan kehendak Allah? Mantilla adalah sarana devosi pribadi bukan sebuah aksesoris yang menunjukan rasa rendah hati dan kesederhanaan di hadapan Tuhan. Namun hanya mengenakan mantilla saja tanpa dibarengi kedisiplinan rohani lainnya, maka mantilla tersebut tidak ada artinya lagi.

Meskipun kini praktik berkerudung dalam misa bukan lagi kewajiban secara kanonik, namun mengingat sejarah ajaran dan penggunaannya yang begitu panjang serta bukan tanpa alasan, maka praktik ini sangatlah baik untuk dihidupkan kembali sebagai devosi pribadi seperti halnya Saudara Seiman kita di Korea Selatan dan Negara Eropa lainnya yang mempertahankan tradisi ini. Mari mengungkapkan iman kita dengan bermantilla dan cintailah tradisi! (PPA St. Tarsisius Paroki Singkawang)


8 Okt 2016

Setulus Bumi Menerima Biji

 Setulus Bumi Menerima Biji                                                              

                                             

Melihat Pak Petrus, si juru taman yang sedang marah besar. Gumpalan awan mendung menutup langit, burung-burung terdiam bersembunyi dalam sarangnya, bunga di taman kini tertunduk layu menyembunyikan rasa wanginya.

Jantung si juru taman itu berdetak keras dan sangat cepat dan membuat darahnya menjadi semakin panas, dia amat marah, darah yang terpompa ke wajahnya menjadi merah kebiru-biruan.

Pohon mangga yang sedang berbuah lebat dan sudah saatnya untuk dipetik itu mencoba membujuk Pak Petrus, dia menjatuhkan buahnya yang sudah masak di dekat kaki Pak Petrus untuk meredakan amarahnya. Ternyata suasana malah semakin panas, biji mangga yang jatuh ternyata mengagetkan pandangan matanya yang sedang menatap jauh tanpa tujuan. Buah mangga itu ditendangnya hingga melesat jatuh di dekat kubangan.

Dan akhirnya kemarahan si juru taman yang karena kritikan dari seorang tamu yang mengatakan dia tidak mempunyai jiwa seni dalam memelihara taman, jiwanya hanyalah seorang tukang kebun biasa, itu menjadi reda setelah majikannya memintakan maaf atas perlakuan tamunya tersebut dan Pak Petrus mulai bekerja kembali dengan rajin, apalagi setelah mendapatkan kenaikan gaji karena kesetiaannya.

Waktu terus berjalan dan tanpa disadari Pak Petrus menemukan biji mangga yang tergeletak di kubangan, yang kini tumbuh menjadi bibit yang subur. Setelah ia amati dengan teliti, ia teringat akan biji mangga yang dulu mengagetkannya lalu ditendangnya ketika emosi sedang melanda dirinya. Kemudian dia duduk termenung menatap  bibit pohon mangga yang kini tumbuh subur itu, seakan dia sedang berdialog dengan tanah yang selama ini menghidupi biji mangga tersebut.

“Kawan, engkau menciptakan sesuatu yang sungguh hebat!” kata Pak Petrus kepada tanah yang dipijaknya. Si Tanah kebingungan, kok orang itu ngomong sendiri, tetapi setelah diperhatikannya, tanah tahu bahwa orang itu bicara dengannya. Buktinya tangan kanan orang itu mengorek-ngorek dirinya dengan sebatang patahan kayu kering.

“Oh…. ada apa gerangan, hingga engkau mau memujiku seperti itu kawan!” jawab si tanah.

“Kenalkan, namaku Petrus,” kata pak Petrus memperkenalkan namanya. “Begini kawan….” Pak Petrus melanjutkan keingintahuannya. “Biji mangga ini dulu kutendang ketika aku sedang marah. Tetapi engkau tetap menerimanya dengan baik, kawan!” Pak Petrus melanjutkan jawabannya. “Engkau menerimanya dengan ketulusan hatimu, bahkan dia kau hidupi sampai biji mangga itu menjadi sebatang bibit mangga yang subur. Kau begitu setia dengan panggilanmu untuk menyuburkan bumi ini, kawan.”

“Ah, tidak begitu Pak Petrus, saya hanyalah menjalankan apa yang menjadi tugasku saja!” jawab tanah merendah.

“Yang hebatnya lagi kawan, kau tak pernah membedakan antara buah yang pahit atau buah yang manis, buah yang beracun maupun buah yang lezat dan enak untuk dimakan, semuanya itu kau layani dan kau suburkan dengan cara yang sama!”

Si tanah hanya diam saja mendengarkan pujian yang sangat tidak dibutuhkan itu, walau dalam hati kecilnya si tanah bangga juga dengan pujian yang memang mendasar tersebut.

“Lalu bagaimana ya kawan,” lanjut Pak Petrus masih dengan wajah kekagumannya, “Agar aku juga dapat melakukan seperti itu dan akupun mampu setia dengan panggilanku!” 

Si tanah masih diam saja, dia bingung harus menjawab apa. Dia diam beberapa saat.
“Hayo dong, kawan bagaimana saya harus bersikap!” Pak Petrus mengulangi.

“Pak Petrus, suatu saat Pak Petrus akan dijunjung begitu tinggi, dipuji, dihormati dan merasakan kehangatannya, tetapi dalam waktu sekejap Pak Petrus juga akan berjumpa apa yang namanya duka cita, kritikan, serangan, penghinaan, caci maki bahkan kesepian.

Nah, kalau Pak Petrus berhasil memperlakukan kesemuanya itu dengan cara yang sama, memperlakukan dengan sikap yang sama, Pak Petrus akan mempunyai harapan dan setia terhadap panggilan hidupmu.

Pak Petrus diam termangu, mencerna apa yang dikatakan tanah itu.

“Masuk di akal juga. Baik, mulai hari ini saya akan mendengar apa yang dikatakan orang dan memperlakukan semuanya itu secara adil dan bijak.”  Lalu Pak Petrus pergi melanjutkan pekerjaannya merawat taman di rumah majikannya dengan ikhlas dan setia.

Singkawang, Media Agustus 2016


16 Sep 2016

WISATA ROHANI BERSAMA PWK SANTA MONIKA

WISATA ROHANI BERSAMA PWK SANTA MONIKA

Dalam rangka memperingati hari ulang tahun PWK Santa Monika yang ke-3 dan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi 2016, PWK Santa Monika Singkawang telah mengadakan wisata Rohani ke Yogyakarta dan sekitarnya. Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 15-18 juni 2016 tersebut diikuti oleh 28 orang peserta, termasuk Pastor Agustinus Subagio OFM.Cap, dan Br.Gregorius Boedisapto MTB yang berperan sebagai pendamping.    

Kegiatan wisata Rohani yang sudah direncanakan satu tahun yang lalu tersebut, dapat terselenggara berkat niat dan usaha serta semangat para anggotanya. Selain menabung, mereka juga mengumpulkan dana dari hasil berjualan (bazar) makanan, minuman dan barang-barang devosional. Selain itu beberapa ibu-ibu membuat rosario dan mencetak kalender untuk dijual.

Setelah dipastikan tanggal dan tempat pelaksanaan maka dibentuklah panitia kecil yang berfungsi untuk membantu kelancaran persiapan dan pelaksanaannya. Mulai pendaftaran peserta, pesan tiket pesawat terbang pp, mencari penginapan, carter bus wisata dan bus Damri, mencari informasi tempat-tempat ziarah dan wisata serta membuat jadwal perjalanan secara rinci dsb.

Bagi kami, ini merupakan pengalaman pertama dan bukan suatu pekerjaan yang mudah dan sederhana. Namun berkat kerjasama, kesabaran dan doa dari teman-teman semua, akhirnya kegiatan wisata rohani 2016 dapat terlaksana. Tempat ziarah tahun kerahiman ilahi yang kami kunjungi adalah candi hati kudus yesus di Bantul, dan gua Maria Jatiningsih di Klepu, gua maria Kerep di Ambarawa.

Selain itu tempat wisata yang kami kunjungi adalah Pantai Depok, Candi Borobudur, Malioboro dan Taman Sari Komplek Keraton Yogyakarta. Dikota Ambarawa kami juga mengunjungi tempat bersejarah di monumen palagan dan museum kereta Api Tua. Satu tempat lagi yang kami singgahi adalah seminari yang terbesar dan cukup terkenal di jawa.

Suasana kusuk, hening, dan sakral sangat dirasakan para peserta di tempat-tempat ziarah. Kami juga mengadakan perayaan ekaristi di gua maria sendang sono dan gua maria kerep Ambarawa. Demikian pula ketika di tempat-tempat wisata peserta pun tampak gembira ,senang dan puas.

Empat hari sudah berlalu. Tinggal kesan dan kenangan dari para peserta. Semoga pengalaman pertama wisata rohani Santa Monika memberi makna dan arti bagi para peserta khususnya membawa pencerahan dan peneguhan dalam hidup menggereja.(Greg Boedi Sapto)

Kaum Berkerudung di Sekitar Altar Tuhan

Kaum Berkerudung di Sekitar Altar Tuhan

“Mari ber-mantilla bagi Tuhan!” Begitulah seruan kami anak-anak Misdinar St. Tarsisius Paroki Singkwang demi mengajak Anda terutama para wanita Katolik untuk berpakaian sopan dan sederhana serta memakai atau membangkitkan kembali ‘tradisi tua’ dalam Gereja Katolik ini. Usaha sosialisasi ini kami awali dengan menghadap Bapa Uskup untuk mendapatkan izin, lalu dilanjutkan dengan membuat foto dan video project yang kami unggah ke laman Instagram kami @ppasttarsisiusskw dan laman youtube kami, Misdinar St. Tarsisius Singkawang. Tentu ini mendapat respon yang menyenangkan, baik dari umat Paroki Singkawang maupun umat dari berbagai pulau seberang. Sering sekali kami melihat baik wanita maupun pria Katolik ketika menghadiri misa menggunakan pakaian yang tidak pantas. Hal ini sangat perlu untuk diperhatikan karena secara khusus apa yang kita kenakan ketika menghadap Allah, tidak lagi memberikan kesan bahwa Allah hadir di tengah-tengah kita. Namun, ada juga umat yang pergi misa walaupun memakai pakaian yang pantas, tetapi hati dan pikirannya melayang jauh dari misa kudus. Misa akhirnya tampak tidak lagi berbeda seperti acara-acara sosial lainnya. Akibatnya, perayaan Ekaristi menjadi kehilangan maknanya sebagai misteri yang kudus dan agung.

Mungkin kebanyakan orang tidak mengetahui apa itu mantilla atau mungkin ada tanggapan dari orang “Ngapain sih ikut-ikutan agama sebelah pakai kerudung segala?” Ups, jangan berpikiran sempit! Mantilla adalah kerudung atau tudung kepala yang dipakai oleh wanita Katolik saat akan menghadiri perayaan Ekaristi kudus yang terbuat dari bahan brokat yang ringan. Tradisi ini sudah cukup lama ada dalam gereja kita dan mempunyai julukan “Kerudung mempelai Kristus” dimana kita memakainya hanya saat Misa. Jadi, kerudung tidak hanya milik saudara-saudara kita umat Muslim, tetapi di dalam gereja kita cukup mengenal dekat dengan tudung kepala yang satu ini. Kerudung Misa merupakan salah satu bahkan mungkin satu-satunya devosi yang sangat spesifik untuk perempuan. Berkerudung Misa adalah sebuah kehormatan bagi para perempuan dan ini memampukan mereka untuk  memuliakan Allah dengan seluruh keperempuanan mereka serta dengan cara-cara yang khas dan feminin. Kerudung Misa adalah tradisi tua, tradisi kuno yang indah, dan ia menunjukkan nilai dan pentingnya wanita. Itu bukan alat untuk merendahkan wanita atau mengecilkan mereka; itu adalah sebuah kehormatan.

Pemakaian mantilla sendiri pernah diwajibkan oleh Gereja Katolik dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK tahun 1262).Namun setelah direvisi dalam Konsili Vatikan ke II, mantilla pun akhirnya tidak diwajibkan pemakaiannya namun tidak melarang bagi umat yang hendak memakainya (dianjurkan). Sehingga masih ada umat di beberapa belahan dunia  yang masih memegang dan mempertahankan tradisi ini. Kerudung Misa adalah alat devosi pribadi yang dapat membantu kita lebih dekat dengan Yesus dan sebagai tanda ketaatan dan tanda memuliakan TUHAN.Wanita yang memakai kerudung Misa, mengingatkan kita semua bahwa Ekaristi bukanlah pertemuan sosial biasa, bukan acara untuk ramah tamah terhadap sesama kenalan kita. Mantilla tidak hanya dipakai oleh Putri Altar saat bertugas, tetapi juga bisa dipakai oleh wanita Katolik lainnya.
 
Penggunaan mantilla terus berkembang seiring masuknya perayaan Misa Formaekstraordinaria (Misa Latin) di tanah air. Dalam misa tersebut, para wanita diharuskan memakai mantilla, sedangkan dalam misa yang sering kita rayakan ini, tidak ada kewajiban penggunaannya namun sangat dianjurkan bagi kaum hawa. Karena tradisi ini dipandang sangat baik dan tidak bertentangan dengan nilai iman sejati, maka tradisi ini pun mulai dibangkitkan kembali kepada umat Katolik di Indonesia. Namun Yesus adalah Yesus yang sama, maka mantilla bisa dipakai dalam misa apapun, tidak terbatas dalam misa latin saja melainkan bisa juga di dalam misa biasa yang sering kita rayakan di gereja. Wanita yang menudungi kepalanya, secara simbolis menyampaikan pesan berharga kepada para lelaki: ‘tubuhku adalah bait Allah yang kudus, karenanya perlakukanlah tubuhku dengan rasa hormat yang besar. Tubuh dan kecantikanku bukanlah objek yang bertujuan memuaskan hasrat yang tidak teratur yang ada pada dirimu. Aku adalah citra Allah, oleh karena itu hormatilah dan hargailah aku.’ Kerudung Misa mengingatkan pria akan perannya sebagai penjaga kesucian, seperti St Yosef yang selalu melindungi dan menjaga Bunda kita, Perawan Maria. Dengan demikian, Allah dapat kita muliakan dengan cara menghormati dan melindungi keindahan dan keagungan martabat wanita. 

Menggunakan kerudung juga merupakan suatu cara untuk meneladani Maria, dialah yang menjadi role model (panutan) bagi seluruh wanita. Bunda Maria, Sang Bejana Kehidupan, yang menyetujui untuk membawa kehidupan Kristus ke dunia, selalu digambarkan dengan sebuah kerudung di kepalanya. Seperti Bunda Maria, wanita telah diberikan keistimewaan yang kudus dengan menjadi bejana kehidupan bagi kehidupan-kehidupan baru di dunia. Oleh karena itu, wanita mengerudungi dirinya sendiri dalam Misa, sebagai cara untuk menunjukkan kehormatan mereka karena keistimewaan mereka yang kudus dan unik tersebut.

Pemakaian mantilla memiliki dasar bibliah yaitu terdapat di dalam 1 Korintus 11:3-16;“Pertimbangkanlah sendiri: patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya” “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.”Ayat inilah yang menjadi salah satu dasar sosialisasi penggunaan kembali mantilla juga alasan dari umat yang mempertahankan tradisi ini. Paulus dalam suratnya tersebut sebenarnya ingin menegur cara berpakaian Jemaat di Korintus mengenai pakaian saat di gereja dan budaya yang sedang berkembang di sana pada saat itu, dimana wanita yang tidak menudungi kepalanya akan dicap sebagai ‘wanita nakal’ dan ‘orang-orang yang tidak ber-Tuhan.’ Namun, tidak ada salahnya bukan jika tradisi kuno yang indah ini kita gunakan kembali dalam Perayaan Ekaristi?

Seorang wanita yang berkerudung Misa pada dasarnya sedang menunjukan eksistensi Allah. Sebuah tanda kerendahan hati seorang wanita, yang ingin menudungi mahkotanya (rambut) di hadapan Allah. Karena ia tidak berkerudung di tempat lain, ia hanya berkerudung di hadirat Sakramen Maha Kudus. Seperti halnya Tabernakel (Kemah Roti/lemari yang berisi Hosti Kudus) yang menjadi pusat di dalam gereja kita. Jika di dalam Tabernakel tersebut berisi Hosti yang sudah dikonsekrasi, tentu akan diselubungi dengan kain. Selain itu, jika Sibori yang di dalamnya terdapat hosti kudus, akan selalu diselubungi dengan kain yang menandakan bahwa ada Tubuh Tuhan di dalamnya. Piala yang berisi Darah Kristus, akan ditudungi dengan kain. Meja Altar ditutupi kain (kecuali saat perayaan Jumat Agung, dimana Hosti Kudus tidak ditempatkan dalam Tabernakel di gereja). Begitu juga bagi perempuan yang menudungi dirinya dengan tudung kepala saat Misa. Ia menunjukan hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, yang hadir dalam Perayaan Ekaristi. Jadi kerudung Misa adalah tanda yang paling jelas bahwa ada sesuatu yang spesial, indah, dan kudus yang sedang terjadi di tempat itu, yaitu tanda bahwa Allah sungguh-sungguh hadir!



Sebenarnya, menudungi hati dan kepala dengan mantilla tidaklah menyembunyikan kecantikan seorang perempuan, melainkan memancarkannya dengan cara yang istimewa dan penuh kerendahan hati, seperti halnya dengan para ciptaan kudus lainnya dari Allah yang menudungi kepala mereka (St Perawan Maria, St Bernadete, St Theresia dari Lisieux, Bunda Theresa, biarawati yang menjadi Santa, dll). Tetapi, bermantilla merupakan ekspresi iman bukan sekedar fashion kekinian.

Banyak wanita yang benar-benar telah menudungi hati, pikiran dan kepala mereka saat misa, merasakan damai, beban duniawi terasa pergi menjauh, ketenangan dan cinta yang lebih besar dan lebih mendalam kepada Tuhan. Mereka merasakan suatu kebebasan dimana mereka bisa menghayati dan lebih fokus pada Perayaan Ekaristi. Memang terkadang pikiran kita saat misa suka melenceng kemana-mana: apakah saya harus pergi ke supermarket, jemuran sudah kering atau belum, menu apa yang ingin saya masak saat makan siang? Tetapi, ketika Anda masuk ke gereja dengan berkerudung, itu bagaikan suatu petunjuk untuk berhenti. Semua pikiran itu harus disingkirkan dan Anda harus memberikan seluruh perhatian Anda kepada Tuhan. Ada sebuah keheningan dalam jiwa saat kita mengenakan kerudung Misa. Kerudung itu menarik kita kepada Yesus. Kerudung menarik kita ke dalam suasana doa. Ia membuat kita ingin menjadi kudus. Ia menarik kita kepada apa yang berada jauh di dalam diri kita, sebuah inti feminim yang dimiliki oleh para wanita.

Jika seandainya Anda adalah seorang wanita yang memakai mantillamu saat misa, dan Anda menjadi takut dan malu karena dilihat, dicibir bahkan ditegur oleh orang banyak di dalam gereja karena dianggap ikut-ikutan agama lain, INGATLAH! Bahwa apa yang mereka katakan bukanlah tujuanmu sama sekali. Kamu harus tahu, siapa yang ingin kamu lihat di gereja. Kamu datang bukan untuk melihat orang-orang itu. Tetapi kamu datang untuk melihat Tuhan! Anda tidak perlu peduli dengan apa yang orang pikirkan, tetapi Anda harus peduli pada apa yang Tuhan pikirkan tentang dirimu. Tetaplah fokus pada cinta dan keimananmu kepada Tuhan. Ini bukan tentang, “Hei, lihat saya! Saya lebih suci daripada kamu!” Tidak!. Ini adalah tentang saya menunjukkan penghormatan, ketundukan, dan cinta kepada Yesus. Itulah tujuannya!

Memang benar, memakai mantilla saat Misa memerlukan pertimbangan dan  kesiapan batin yang begitu mendalam. Tetapi, hal itu merupakan langkah awal yang bagus dengan memaknai maksud dan arti dari mantilla itu sendiri. Kami Misdinar St Tarsisius mendoakan Anda semua semoga suatu saat dapat menemukan keberanian untuk memakainya dan menikmati kasih Tuhan lebih mendalam lagi. Dan terus ikuti perkembangan sosialisasi ini dengan mem-follow laman instagram kami di @ppasttarsisiusskw. Ayo bermantilla bagi Tuhan! (Nicolas Gratia Gagasi)
 

Berkenalan Lebih Dekat dengan PWK Santa Monika Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

Berkenalan Lebih Dekat dengan PWK Santa Monika

 Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang


Perkumpulan Warakawauri Katolik (PWK) Santa Monika Singkawang adalah wadah organisasi bagi ibu-ibu janda katolik (single parent) yang bernaung di bawah Dewan Paroki St Fransiskus Assisi Singkawang.

Wadah yang resmi berdiri pada tanggal 11 Agustus 2013 diresmikan oleh pastor paroki yang pada saat itu dijabat oleh Pastor Amandus Ambot OFM.Cap, dalam perayaan ekaristi bersama umat di gereja Santo Fransiskus Assisi Singkawang. Susunan Pengurus untuk periode pertama Tahun 2013-2016 adalah sbb :
 
    Pelindung - Pastor Paroki St Fransiskus Assisi Singkawang
    Penasehat - Ibu RR.T. Sutarti Istiarti
    Pembina - Br. Gregorius Boedi, MTB.
    Ketua - Ibu Emmiliana Karsiyah
    Sekretaris - Ibu Brigida Yusri Ida
    Bendahara - Ibu Yuliana
    Seksi Liturgi - Ibu Suryati
    Seksi Usaha Dana - Ibu Elisabeth
    Seksi Sosial - Ibu Katno

Jumlah yang terdaftar kurang lebih 30 orang. PWK Santa Monika mempunyai Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) sebagai arah dasar dan tujuan. Program kerja PWK Santa Monika antara lain meliputi bidang rohani, sosial kemasyarakatan, sosial ekonomi, pendidikan dalam keluarga. Dalam kurun waktu 3 tahun, PWK santa Monika Singkawang sudah mengadakan beberapa kegiatan, antara lain bakti sosial donor darah, lomba mewarnai gambar untuk tingkat TK dan SD, basar, rekoleksi, seminar keluarga dan ziarah.

Dengan semangat kekeluargaan dan iman Katolik, PWK Santa Monika Singkawang berusaha turut berperan aktif dalam kehidupan menggereja. Semangat tersebut tidak lepas dari spiritualitas Santa Monika yang menjadi pelindungnya. Semoga di usia yang masih relatif muda PWK Santa Monika Singkawang tetap konsern dan semangat dalam pelayanan di gereja dan tetap memelihara kebersamaan di antara anggotanya. (Greg Boedi  Sapto)


Kerudung Mantilla: Satu Dari Sejuta Tradisi Iman Katolik

Kerudung Mantilla: Satu Dari Sejuta Tradisi Iman Katolik


Kerudung adalah   kain yang berfungsi untuk menutupi kepala seorang perempuan. Pada gambar di atas, ada banyak kerudung yang dipakai oleh para wanita dengan tujuan dan maksud  yang mulia. Mantilla adalah kerudung yang dipakai oleh Wanita Katolik setiap akan menghadiri Adorasi maupun Misa Kudus. Pemakaian Mantilla pernah diwajibkan pada praKonsili Vatikan II kemudian direvisi dan diganti menjadi anjuran sehingga tidak ada salahnya jika ada umat yang memakainya di gereja saat misa atau pun melayani di altar. Dasar Kitab Suci mengenai penggunaan kerudung dalam liturgi terdapat dalam 1 Korintus 11:2-16 dimana dikatakan “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat… Pertimbangkanlah sendiri: patutkah seorang perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” Walaupun dalam suratnya tersebut, St Paulus  ingin menegur jemaat di Korintus tapi tidak ada salahnya bukan jika tradisi ini dibangkitkan kembali.

Tak bisa dimungkiri bahwa tradisi pemakaian Mantilla pernah hidup dalam Gereja Katolik dan pernah menjadi kewajiban. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi ini mulai terlupakan. Akhirnya kebanyakan mindset atau pola pikir seseorang beranggapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan kerudung, pasti berkaitan dengan Wanita Muslim. Bahkan ada celotehan yang mengatakan Mantilla itu Jilbab dan mirip nenek-nenek. Padahal wanita-wanita Yahudi, wanita Katolik di Korea Selatan dan Amerika Latin, para biarawati, wanita Hindu-India dan dari banyak Negara juga memakai penudung kepala sehingga tidak ada istilah “ikut-ikutan” di antara semuanya ini. Bahkan, Bunda Maria sering digambarkan dengan memakai kerudung dan jika kita memperhatikan pada lukisan Dewi Kwan Im dalam agama Buddha Ia pun digambarkan mengenakan kerudung. Maka, sesungguhnya kerudung adalah hal yang lumrah yang sudah begitu lama dikenal di peradaban manusia.

Berdasarkan kegunaannya antara Mantilla dan  Jilbab memang sangat berbeda. Secara umum, jilbab dipakai dengan menutupi kepala, leher sampai dada dan penggunaannya untuk setiap hari. Sedangkan mantilla hanya dipakai untuk menutupi kepala seorang perempuan Katolik saat di hadapan Sakramen Maha kudus dimana ia (yang memakai Mantilla) menekankan feminimitas dan keindahan dirinya, namun ia secara bersamaan juga menunjukan dengan cara yang sedemikian rupa sehingga membangkitkan kesadaran bahwa Allah yang ada di atas Altar jauh lebih indah dari pada dirinya. Suatu sikap kerendahan hati yang ingin memperlihatkan Allah. Kerudung Misa menjadi sebuah tanda bagi orang lain, karena kerudung itu menyatakan bahwa ada sesuatu yang berbeda yaitu: bahwa Allah sungguh hadir di tengah kita. Dan apapun yang dapat kita lakukan untuk membantu memusatkan perhatian kepada-Nya, untuk menunjukkan bahwa Misa itu spesial, bahwa Misa itu khidmat, bahwa Misa itu sesuatu yang harus kita perlakukan dengan serius, dan bahwa kita perlu mempersiapkan seluruh diri kita untuk Misa Kudus. Kemudian  memakai kerudung misa dapat mengajak umat lainnya untuk berpakaian yang pantas saat akan pergi ke gereja. Selain itu, kerudung misa dapat membuat Anda untuk lebih focus dalam Perayaan Ekaristi dan membantu Anda untuk melepas sejenak beban duniawi untuk menikmati kasihTuhan dalam perayaan Ekaristi.

Mantilla menyerupai kerudung pengantin, karena yang memakainya adalah para mempelai Kristus yang sungguh merasakan kehadiran-Nya yang penuh mesra; dimana Ia menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya bagi dunia. Ah, betapa beruntungnya para biarawati yang seumur hidup menggunakan gaun dan kerudung pengantin mereka.
 
Di paroki kita, selain Putri Altar pertama yang memakai Mantilla di Kalimantan, ternyata Tuhan juga telah mengetuk hati seorang wanita yang baru setahun menjadi Katolik; dimana Tuhan memanggilnya untuk lebih dekat, lebih mendalami kasihNya dan lebih militant dalam gereja-Nya. Dia akrab disapa dengan nama Maria Venny. Ia merasa terpanggil untuk memakai Mantilla setelah ia melihat postingan foto dimana dua orang idolanya memakai Mantilla untuk lebih menghormati Tuhan saat Misa dan panggilan tersebut semakin kuat saat ia melihat Putri Altar memakainya saat bertugas. Saat memakai Mantilla untuk pertama kalinya di MisaPertama, ia tidak merasa malu, karena ia sudah siap di dalam hatinya dan terbukti baginya bahwa Mantilla membantunya untuk lebih focus saat misa. Dan ini sudah menjadi minggu ke-lima ia bermantilla bagi Tuhan. Ia tidak peduli dengan keadaan orang sekitarnya, dimana mungkin banyak yang melihat atau mungkin mencibirnya karena memakai semacam ‘jilbab’ di kepalanya karena tujuan awalnya untuk datang ke gereja yaitu hanya untuk bertemu dan mendengarkan Tuhan; bukan untuk mendengarkan apa kata orang, sehingga dia enjoy saat memakainya.
 
Mantilla adalah simbol ketaatan, kemurnian dan kesederhanaan. Hal tersebut itu harus dimengerti dan dihayati, tidak sekadar dipakai. Selain itu juga harus tercermin dalam ucapan dan tindakan dalam membangun persaudaraan sejati dan perdamaian dengan sesama. Ketika simbol hanya menjadi simbol dan tidak berbicara dalam hidup, maka ia menjadi simbol yang mati. Bagi Anda yang sudah siap bermantilla, Anda bias mendapatkannya di Instagram @twideemantilla atau kunjungi website  twideemantilla.blogspot.co.id. Semoga dengan hadirnya kembali mantilla dalam p perayaan Ekaristi di paroki kita, makna Misa sebagai misteri yang kudus tetap terjaga. Tuhan menunggu mempelai-Nya dalam Misa Kudus. Ayo bermantilla bagi Tuhan!
(Putri Altar St Tarsisius Paroki Singkawang)

29 Mei 2016

24 Karat, Tanpa Syarat

24 Karat, Tanpa Syarat


“Urusan hati, soal rasa, kadang tak terjangkau dengan logika.”

“Anda pernah jatuh cinta?” Atau jika saya sedikit menaikkan kadar keisengan pertanyaan saya, maka saya akan menanyakan, “Seberapa sering Anda jatuh cinta?” Jatuh cinta atau mengagumi apa yang memikat dari objek yang membuat kita akhirnya merasa jatuh cinta, terkadang menimbulkan kesulitan untuk  sekadar membedakan gradasi rasa yang tercipta. Apakah rasa itu timbul murni bukan berdasar suatu kondisi atau semata-mata tercipta karena tendensi. 

Kebanyakan dari kita punya seribu satu alasan untuk mendeskripsikan ketertarikan terhadap seseorang yang hendak, atau bahkan sudah menjadi pasangan. Mulai dari hal yang kasat mata, ketampanan, kecantikan, bentuk badan, serta jutaan keindahan yang rasanya diciptakan Tuhan khusus untuk memikat alam bawah sadar. Tidak berhenti sampai di situ, ketertarikan tak ayal merambat, menjangkau segala sifat yang menyentuh perasaan. Mulai dari sifat tenang, keibuan, kebapakan, bijaksana, atau ragam pilihan lain yang pada intinya menyuguhkan bergumpal-gumpal karakter positif orang yang kepadanyalah kita bertekad bulat menjatuhkan pilihan. Pendeknya, segala kelebihan menjadi hal mutlak untuk bahan perbandingan, tanpa mau menerima segenap kekurangan pribadi yang bersangkutan. Belum lagi jika rasa tercipta karena berbagai bentuk tuntutan  kehidupan. Jika disederhanakan maka akan timbul pernyataan, “Saya mau dengan kamu karena kamu punya ini, punya itu,” atau “Karena kamu anak si ini, si itu,” “Karena kamu pendidikannya ilmu ini, ilmu itu,” dan berbagai hal yang melatari timbulnya ungkapan ‘mau’. Sungguh penuh syarat, bahkan terkadang rasanya terlampau sarat dan berat.   

Suatu malam, pada ingar bingar derai tawa dalam pesta pertambahan usia seorang sahabat, Pastor Paroki  yang juga hadir, melontarkan undangan lisan kepada saya untuk menghadiri sebuah pesta. Pesta pernikahan. Pada awal ajakannya serasa tak ada yang istimewa. Puluhan, bahkan ratusan pesta pernikahan telah lewat begitu saja dalam laman hidup saya. Kadang saya menjadi bagian dari sukses jalannya pesta pernikahan, entah sebagai pengabadi gambar, pembaca kutipan ayat suci dalam pemberkatan pernikahan, dan lebih sering saya  datang hanya sebagai tamu undangan. Biasa pula saya melewati prosesi pernikahan yang menjadi momen paling sakral bagi kedua pasangan dengan rasa yang datar, tanpa embel-embel perasaan rawan yang mangkus menyita keharuan. 

Bayangan tentang pesta pernikahan pada umumnya lantas silang semburat dalam buncahan pikiran saya, namun segera dipadamkan oleh kalimat susulan Pastor Paroki, “Yang menikah pasien rumah sakit kusta, Mbak, dengan orang luar.”  Saat itu saya tak banyak bertanya, namun di dada dan di kepala seperti ada yang berlomba-lomba, bergegas hendak menyaksikan perhelatan untuk menuntaskan segala dahaga akan berbagai keingintahuan.

22 April 2016. Suatu sore yang teduh di Jumat  yang penuh berkat. Di hadapan saya berdiri sepasang muda-mudi, berbusana pengantin lengkap dengan buket bunga di tangan calon pengantin wanita. Sekilas tak ada yang sumbang dalam pandangan mata. Jika pun wajah mereka terlihat tegang, segala kemakluman boleh disematkan. Siapa yang tak tegang jika sebentar lagi akan mengalami perubahan status dalam kehidupan. Semisal yang awalnya sendirian lantas berpasangan, atau manakala pasangan menantikan kelahiran buah hati penerus keturunan. Ya, ketegangan yang wajar dari sebuah fase penting perubahan dalam kehidupan perorangan. Yang pria bernama Roni, yang wanita adalah Ida. 


Melihat ketegangan di wajah keduanya, saya yang ikut mengabadikan dalam slide diam momen penting keduanya lantas berkelakar, “Roni, mukanya tegang amat, wajah senang, Roni, wajah senang! Idaaa…, senyum!” Namun usaha saya tak sepenuhnya berhasil, keduanya tetap memandang tegang ke arah saya, sebaliknya tamu-tamu lain malah semakin bersemangat menggoda keduanya. 

Beberapa menit berselang, tiba saat keduanya beriringan memasuki kapel di lingkup Rumah Sakit Kusta, Alverno. Sedikitpun tak ada yang lepas dari pengamatan saya di balik lensa kamera. Dari balik lensa pulalah pancaran keharuan mulai meradang dan berpendar dalam dada saya. Jika pemandangan pernikahan pada umumnya pengantin wanita melangkah lancar dengan buket bunga tetap di tangan, Ida mengalami sedikit kerepotan karena gaun pengantin yang panjang menghalangi langkah kakinya yang kurang sempurna disebabkan oleh penyakit kusta. Serta-merta Ida menyerahkan buket bunga pada ibunya dan menjinjing gaun pengantin putihnya, berjalan terseok, namun tanpa kehilangan keanggunan sebagai perempuan. Menghadapi pemandangan ini, usai menekan rana pada kamera, saya bergegas membalikkan badan, secepatnya memasuki kapel. Tak tega, hati saya kehilangan kuasa, mata saya mulai berkaca-kaca.

Misa pemberkatan pernikahan yang sedianya dipimpin oleh pastor lain ternyata sengaja diambil alih oleh Pastor Paroki. Beliau rupanya tak ingin kehilangan momen spesial mempersatukan dua insan yang telah dipilih dan dipertemukan Tuhan dalam ikatan pernikahan. 

Prosesi pemberkatan pernikahan berjalan lancar. Sedikit yang berbeda adalah pada bagian saat pasangan meminta restu dari orang tua untuk memulai  babak baru kehidupan. Jika pada umumnya kedua pasangan memohon restu dengan cara sungkem, maka disebabkan keterbatasan fungsi organ tubuh pengantin perempuan, proses sungkem tak dilakukan, melainkan diganti dengan penumpangan  tangan orang tua pengantin di pundak keduanya. Pada bagian ini keharuan masih melingkupi atmosfer kapel. 

Ketegangan hilang manakala janji pernikahan usai diikrarkan, penyematan cincin pengikat telah dilakukan, prosesi dilanjutkan dengan pembukaan cadar pengantin perempuan yang disusul pendaratan ciuman oleh sang pasangan. Sorak-sorai dan tepuk tangan 70-an hadirin yang didominasi rekan-rekan pasien kusta lainnya membahana dalam kapel nan sederhana. Semua sungguh bergembira, semua larut dalam tawa, semua membaur dalam suka cita.

Ida, masih dari balik lensa, manakala saya temukan rona bahagia memancar dari pribadimu yang sederhana. Cinta dan kemenangan telah kau genggam dalam sematan cincin pernikahan. Ya, dalam cinta 24 karat dari Roni yang memilih dan mencintaimu, tanpa syarat. (Hes) 


23 Mar 2016

“Mentari Pembawa Cahaya”

“Mentari Pembawa Cahaya”

Google Images.Jpg


“Tak peduli dari mana asalmu, lahir di pelosok perdesaan ataupun perkotaan dan dari rahim orang tua manakah kamu berasal itu bukan menjadi persoalan. Yang terpenting adalah kebaikan hatimu. Hati yang membawa seberkas cahaya bagi dirimu sendiri dan dunia sekitarmu.”

Pesan itu jelas teringat kembali di benak Mentari. Pesan yang sangat kuat menyatu dalam hatinya. Tetua Dusun Paratisara yang bernama Pak Tua Sastranarendra selalu memberikan petuah-petuah bijak kepada putri angkat kesayangannya. Pak Tua selalu berkata kepada Mentari, tidak perlu malu dan merasa rendah diri tentang siapa diri kita. Kita yang berasal dari rumah pondok beralaskan tanah dengan memiliki niat mulia bagi kehidupan suatu saat akan berjodoh dengan nasib baik yang akan merubah keadaan dan dunia sekitarmu.

Mentari, gadis remaja yang berusia 13 tahun. Hidup di sebuah dusun pedalaman hutan karet, ladang dan sawah yang menghijau. Kedua orang tuanya telah lama tiada sejak kebakaran hutan yang membakar habis rumah beserta ladang dan merenggut nyawa kedua orang tua yang amat ia cintai. Sejak berumur 5 tahun, Mentari sudah dititipkan dengan Pak Tua “Ketua Adat” di dusun itu. Beliau hidup sangat sederhana bersama istrinya bernama “Mak Tua Amora”. Sejak kecil ia dididik untuk selalu dekat dengan alam semesta sumber kehidupan bagi umat manusia. 

Selepas bangun pagi, Mentari selalu diajak Pak Tua menuju sungai kecil di sekitar sawah padi milik tetangga mereka. Di tempat itulah mereka biasanya melakukan rutinitas keheningan. Berterima kasih kepada alam semesta. Konon, kata Pak Tua jika kita selalu berbakti kepada alam semesta maka kita akan dilindungi dan diberkati senantiasa. Sambil meminum aliran air sungai kecil di pancuran bambu, mereka bersama-sama mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Berterima kasih pada gunung, sawah, hutan, sungai, langit, tanah, udara, angin, air, hujan, matahari, pelangi, hewan, tumbuhan dan segala semesta seisinya. Sejak kecil Pak Tua mengajari Mentari agar bersahabat bersama alam dan selalu menyapa mereka di mana pun ia berada.

Mentari merasakan kedekatan dengan alam semesta. Banyak bahasa semesta yang dapat ia dengar dan rasakan, seolah-olah mereka dapat berkata dan mengajari Mentari dalam bahasa heningnya. Tanah mengajarkan ia cara untuk bercocok tanam, air mengajarkan ia agar selalu tenang dan rendah hati,  dari matahari ia belajar menjadi ikhlas dan adil kepada semua makhluk ciptaan Tuhan. Karena matahari memiliki peran kebaikan sinar yang tak terbatas tanpa membeda-bedakan.  Mungkin, karena inilah kedua orang tuanya memberikan nama  “Mentari” dan menambahkan nama  baptis pelindung di depannya yaitu “Theresia Mentari”. Sosok matahari yang akan menginspirasi dan menjadi pedoman hidup anaknya agar kelak dapat bersinar terang penuh dengan kebaikan kepada semuanya. Itulah sedikit cerita peninggalan orang tua Mentari ketika ia lahir di Dusun Paratisara.

Daun-daun pohon bergoyang indah, seakan melambaikan tangan mengiringi langkah Mentari kemanapun ia pergi. Kehadiran semesta tampak nyata di dalam hidup Mentari mulai dari angin sepoi-sepoi yang menghiburnya kala ia kelelahan bekerja di ladang dan burung pipit yang bertengger di kepalanya bersiul-siul kecil. Mentari paling suka memandang langit biru, bersamanya ia menjadi semangat dan optimis memandang masa depan. Langit biru dengan keceriaannya selalu memberi pesan agar ia selalu giat dalam bekerja dan belajar. Terlebih lagi langit biru akan selalu menjaga ketika ia berjalan menuju sekolah di kaki bukit Hijau Permai. Di sanalah 6 tahun lamanya Mentari bersekolah hingga mendapatkan ijazah Sekolah Dasar Negeri 1 Dusun Paratisara, Kecamatan Permata, Kabupaten Mutiara. 

Sejak kecil Mentari terbiasa bekerja membantu Pak Tua dan Mak Tuanya. Sepulang sekolah. ia dengan tertib menyimpan tas, sepatu sekolah dan menganti baju seragamnya. Sambil berdendang riang kecil, ia berlari pergi menuju ladang dan sawah garapan orang tua angkatnya. Ia mencabut rumput, membersihkan daun-daun  kering dan gulma yang menyerang tanaman dan padi mereka. Sesekali ia beristirahat menikmati bekal makan siang yang dibawakan Mak Tua Amora. Kadang pula ia mengangkut air sungai sumber mata air pegunungan di dusun tersebut untuk persediaan air bersih di rumahnya. Semuanya Mentari lakukan dengan senang dan gembira. Mentari terkenal sangat ringan tangan, sering membantu teman sebayanya dalam bercocok tanam dan menjual hasil ladangnya di pengumpulan hasil panen rumah saudagar “Pak Tony” di dusun seberang. Hal itulah yang membuat semua orang di Dusun Paratisara mencintai dan menyayangi Mentari. 

Kesibukan Mentari di malam hari adalah membuat kelompok belajar bersama anak-anak tetangga sekitarnya. Mentari yang lebih tua mengajari anak yang lebih muda, belajar membaca dan menulis. Terkadang ia memberikan pertanyaan-pertanyaan pengetahuan umum pada teman-temannya yang ia peroleh dari siaran favoritnya yaitu acara kuis di televisi ataupun buku yang telah dipelajarinya. Mereka sangat senang akan kebaikan hati si ‘guru cilik’ Mentari. Sesuatu yang sederhana dapat menjadi sangat luar biasa bagi yang mengamati dan melihat cara Mentari memberikan pengetahuan dan pengajaran bagi anak-anak lainnya.  Mentari merasa bahagia dapat membagikan ilmu yang dimilikinya. Baginya berbagi ilmu adalah kebaikan tertinggi, kelak ia akan lebih mendapatkan banyak pengetahuan tak terbatas ketika ia mau berbagi kepada yang lain. Itu merupakan  motto hidupnya.

Suatu hari yang cerah, burung mengangkasa membubung tinggi ke langit biru, angin semilir sepoi-sepoi bertiup seakan melodi yang berirama mengalunkan nada semesta. Kediaman Pak Tua Sastranarendra kedatangan sebuah mobil jeep merah tua. Seorang pria separuh baya memakai jubah coklat bersama seorang pemuda gagah datang mengunjungi pondok itu. Tak disangka, ternyata beliau adalah seorang Pastor Paroki yang ada di Gereja Santa Maria di Kabupaten Mutiara. Pastor Paroki itu bernama Ignatius Raymond. Sedangkan pria yang bersamanya adalah seorang pemuda yang berasal dari Jakarta yang bernama Raden Bagus Jayadiningrat. Maksud kedatangan mereka adalah ingin memberikan bantuan beasiswa bagi siswa yang berprestasi. Pastor Ignatius Raymond mengetahui bahwa selama Ia tourney ke Dusun Paratisara, ia melihat Mentari merupakan anak berbakat yang putus sekolah. Selain itu, ia juga melihat kebaikan murni yang ada di diri Mentari. Pastor Raymond yakin Mentari akan dapat menjadi seorang yang memiliki manfaat lebih bagi sesamanya. 

Pemuda Raden Bagus Jayadiningrat merupakan seorang donatur yang peduli akan pendidikan anak bangsa. Ia juga memiliki sekolah yayasan SD, SMP, SMA, dan Universitas yang Ia bangun bersama donatur-donatur yang peduli akan pendidikan di Indonesia. Mendengar hal ini, Mentari berderai air mata terharu dan bahagia. Mimpinya yang semula hanya ingin menjadi guru baca dan tulis bagi teman sebayanya, ia menemukan “pintu ajaib” yang akan membawanya menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Mentari pun menyanggupi untuk bersekolah di SMP, SMA dan Universitas Yayasan “Indonesia Bangkit” milik kumpulan para donatur yang berhati malaikat itu. Dengan berat hati Pak Tua dan Mak Tua nya melepas kepergian Mentari. Pesan terakhir Mak Tua Amora kepada Mentari adalah : “Jika kamu menjadi orang besar nanti, jangan lupa kedudukan, jabatan, kekayaan, kepandaian adalah sebuah jembatan untuk menghubungkan kebaikan Tuhan yang ada di dirimu. Kamulah Mentari, bawalah cahaya itu bersama hatimu. Lakukanlah banyak kebaikan yang dapat memberikan kehidupan bagi sesama.”

Petuah-petuah bijak Pak Tua dan Mak Tua akan selalu Mentari ingat dan laksanakan dalam perjalanan hidupnya. Mentari dengan ikhlas dan penuh hormat berpamitan dengan kedua orang tua angkatnya yang sudah a anggap sebagai Ayah dan Ibu kandungnya. Ia memiliki cita-cita yang luhur, jika telah lulus nanti ia akan kembali pulang ke kampung halamannya untuk menjadi jembatan bagi anak-anak lainnya. Mentari ingin memberikan hidup bagi sesamanya yang membutuhkan dan berkekurangan. 

Seseorang yang sangat menghormati alam semesta dan memiliki kebaikan murni yang berasal dari hatinya, selalu diberikan kebaikan-kebaikan oleh tangan-tangan yang tak terduga. Tetaplah memiliki kebaikan hati layaknya Mentari. Kebaikan hati itulah yang akan menjadi cahaya penuntun perjalanan hidup kita selanjutnya. (SHe)


JALAN SALIB PERHENTIAN 1-14

Memasuki masa Prapaska tiada salahnya kita hening dalam permenungan yang menjadikan kita setapak tak berjarak dengan-Nya dan Sang Putera yang atas darah-Nya janji keselamatan sungguh tidak terbantahkan.    

JALAN SALIB PERHENTIAN 1-14

Perhentian pertama: Yesus Dihukum Mati.



Maka berteriaklah mereka, “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia! 

Dia tidak melawan dengan kata maupun perbuatan atas segala sesah, maki dan fitnah, yang bagai berkekuatan ribuan godam dihantamkan pada dahi-Nya, pada wajah-Nya, pada tubuh-Nya. Dia diputus mati oleh pengadilan manusia-manusia pendosa,  Dia memilih bungkam untuk semua hal yang tak dilakukan namun ditimpakan atas raga-Nya yang berwujud manusia.  Ribuan bilur luka yang sengaja ditorehkan manusia pendosa pada tubuh-Nya, diterima-Nya dengan mata memincing menahan perih tanpa sedikitpun mengaduh walau dalam lirih. Air mata-Nya tak lagi bening, sudah berupa darah dan nanah mengalir menjadi anak-anak sungai keselamatan abadi  bagi umat yang dimaterai-Nya. 

Seringkali dalam hidup kita tak pernah bisa terima ketika mendapat sedikit saja perlakuan yang dirasa tidak adil bagi diri kita, keluarga kita atau sanak saudara kita. Kita lantas tak memilih bungkam atas perlakuan tak adil itu, kita berpikir, memutar otak bagaimana cara termangkus membalas perlakuan tak adil tersebut, minimal memprotes keras, tanpa berusaha introspeksi diri mengapa sampai kita menerima perlakuan tak adil. Ketika terjerembab dalam situasi itu, ingatlah bahwa dua ribu tahun yang lalu, Yesus telah mengajarkan kita untuk berusaha diam, menahan diri, dan melihat lebih jauh maksud dari penyelenggaraan Bapa. Dia yang kita sebut Anak Allah rela membiarkan tubuh-Nya tergantung di kayu Salib demi apa yang tak pernah diperbuat-Nya, layakkah kita yang hanya disesah sedikit saja permasalahan dari dunia manusia yang fana selalu mencari pembenaran diri?

Perhentian kedua: Yesus Memanggul Salib.


Sambil memikul salib-Nya Ia pergi keluar ke tempat yang bernama tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.

Disesah, diludahi, dipukul, dihina untuk sesuatu yang sama sekali tak diperbuat-Nya. Dia diam, Dia tetap berjalan memanggul ratusan kilo kayu yang nanti menjadi singgasana terakhir-Nya dalam dunia fana, singgasana yang sebelum pengkultusan-Nya adalah simbol bagi yang paling hina, yang paling jahat, yang paling biadab. Dalam diam, tak hanya tubuh-Nya yang rusak oleh pembantaian, ada yang  lebih menyiksa dari itu, batin-Nya remuk redam. Umat yang dicintai-Nya, umat yang kepada mereka seringkali diberkahi-Nya dengan mujizat, umat yang seminggu sebelumnya mengelu-elukan nama-Nya dengan daun palma kini berbalik menghujat-Nya. Penderitaan macam apa yang lebih menyakitkan selain dikhianati? Selain tidak diakui, selain ditolak? Dia mengalami itu semua, Dia mengalaminya dalam satu kurun masa, namun Dia tetap membungkam mulut-Nya meneruskan perjalanan dengan beban salib pada pundak-Nya. 

Seringkali dalam kehidupan kita mengalami serupa yang dialami-Nya, merasa memanggul salib dalam kehidupan kita.  Salib yang membebani pundak kita tak dapat kita bandingkan dengan salib yang berada di pundak-Nya. Salib di pundak-Nya adalah salib dosa miliaran umat manusia, lebih berat, lebih kasar, lebih menyiksa. Salib yang kita panggul adalah salib pribadi kita sendiri. Namun meski ringan seringkali kita mengeluh, merasa menjadi manusia paling menderita di dunia, merasa paling mengalami nasib sial padahal jika sedikit saja kita mau membuka mata kita, kita akan melihat di sekitar kita ada salib lebih berat yang dipanggul sesama kita. Masih layakkah kita mengeluh?

Perhentian ketiga: Yesus Jatuh Pertama Kali




Begitu berat beban salib kasar yang dipanggul-Nya, dalam langkah tertatih, Ia terjerembab pertama kalinya.

Perlahan namun pasti Dia melangkah pada tanah kerontang, darah dari luka-Nya tak kunjung berhenti menetes. Ia dipukul, dicambuk, dipaksa kuat menanggung beban salib begitu berat. Sampai pada suatu tempat, langkah-Nya terhenti, kaki-Nya tak kuat menyangga tubuh perih penuh luka cambuk dari para algojo belum lagi sang beban yang semakin menapak seolah semakin berat. Saat itu, dalam kekuatan-Nya yang hanya berwujud manusia biasa, Ia roboh mencium tanah Bapa-Nya. 

Pertama dari ketiga kali, Ia yang saat itu hanya berkekuatan dan berwujud manusia biasa jatuh dalam perjalanan-Nya menuju bukit Golgota. Ia terjerembab di tanah kerontang, tanah para pendosa. Kejatuhan-Nya pertama kali seperti halnya ketika kita melalui fase dalam hidup. Ketika masih berwujud kanak-kanak, sering dalam perjalanan menuju kedewasaan kita mengalami kejatuhan. Saat itu segala asa seolah bertaruh dalam jiwa kanak-kanak kita. Ketika jatuh pertama kali dalam perjalanan menuju Golgota, tanpa berselang lama, Yesus kembali berdiri, Dia mengumpulkan segala kekuatan-Nya untuk meneruskan perjalanan-Nya, Dia kembali menapaki jalan luka-Nya. Dia memberikan suri teladan bagi kita, yang ketika kanak-kanak mungkin pernah mengalami keterpurukan, trauma dan kesakitan dalam khas dunia kanak-kanak.  Dia bangkit berdiri, lantas, apa alasan kita untuk tak mengikut  jejak-Nya? 

Perhentian keempat: Yesus Berjumpa dengan Ibu-Nya.



Tiada lagi semarak pada wajah-Nya, ketampanan-Nya sirna oleh darah yang mengucur dari dahi-Nya yang bermahkota semak duri tajam. Ia berhenti dalam perjalanan-Nya, dijumpai-Nya bunda-Nya dalam perjalanan luka-Nya.

Dalam perjalanan luka-Nya, tertegun ia menatap wajah ibu-Nya. Ibu yang mengandung-Nya dalam rahim yang suci, ibu yang mengusap peluh-Nya saat nyali-Nya tak sengaja runtuh, ibu yang selalu membasuh hati-Nya dengan pandangan penuh cinta. Mereka beradu pandang, namun keduanya diam, sama menangis, sama menyelami luka, sama menyelami derita. Dalam bungkam, dalam diam, jiwa-Nya saling berselam, batin-Nya saling mengobati. Tanpa harus diucapkan, ibu paling memahami arti air mata-Nya, ibu paling tersiksa melihat bilur-bilur luka sang belahan jiwa.  

Ibu, sosok wanita terhebat dalam setiap hidup manusia. Ibu yang lemah lembut, sabar sekaligus tegar menghadapi segala permasalahan dalam kerasnya percaturan hidup. Namun seringkali ketangguhan dan kasih sayang ibu tergeser ketika kita mulai mengenal lawan jenis yang mampu menggetarkan hati kita, menjadi pasangan kita. Ketika mengalami kesenangan, yang sering kali kita cari adalah pasangan,  ketika  mengalami kesedihan, kepada ibu kita selalu berkeluh kesah menceritakan , saat sukses kita ceritakan pada pasangan,  saat gagal, kita hanya bercerita pada ibu sebagai sandaran. Saat bahagia kita memeluk erat pasangan, saat sedih kita peluk erat ibu, kita selalu total saat mengingat pasangan, sementara, selalu hanya ibu yang mengingat semua hal tentang kita. Ibu selalu memberikan sepenuh hidupnya untuk anak-anaknya, namun berapa banyak yang sanggup mengelap muntahan ibunya? Berapa banyak yang sanggup mengganti lampin ibunya ketika ibu menjadi tua? Berapa banyak yang sanggup membersihkan kotoran ibunya? Berapa banyak yang  sanggup membuang ulat dan membersihkan luka kudis ibunya? Berapa banyak yang sanggup berhenti bekerja untuk  menjaga ibunya? Dan akhir sekali: Berapa banyak yang memanggul jenazah ibunya? Kalau ibu sudah tiada, kita hanya sanggup berkata “Ibu, aku rindu, aku sangat rindu, aku ingin berada dalam peluk hangatmu!”

Tak perlu kita menggeliat, berjalan jauh mencari, memburu  cinta sejati, karena cinta sejati itu ada di dekatmu, cinta sejati itu, ibu!

Perhentian kelima: Yesus Ditolong Simon dari Kirene



Dalam perjalanan luka-Nya, Ia terhuyung memikul beban salib pada pundak-Nya. Hati-Nya cemas tak sanggup tuntas berjalan menuju bukit tengkorak. Dalam kecemasan-Nya, Bapa menggerakkan hati seorang dari antara manusia-manusia pendosa untuk membantu memanggul salib-Nya ke Golgota. 

Adalah Simon yang berasal dari Kirene mengikuti perjalanan Anak Manusia memanggul salib menuju Golgota. Perjalanan yang mungkin jika ditempuh dalam kondisi tubuh normal tak akan seberat ketika dijalani oleh tubuh dengan luka meluruh, dengan darah yang mengucur basah, dengan perih yang teramat pedih. Yesus yang sekujur tubuh-Nya telah dipenuhi luka sesah para algojo hampir roboh ketika itu. Bapa lantas menggerakkan hati  seorang dari antara mereka, nama Simon dari Kirene yang dipilih-Nya menjadi salah satu yang memenuhi kitab dalam kisah perjalanan sengsara.

Dalam hidup seringkali kita berkeluh kesah “Ya Tuhan, mengapa harus aku yang menjalani kisah ini, nasib ini, derita ini. Mengapa bukan orang lain saja yang Kaupilih untuk Kau coba?!” mungkin saja Simon dari Kirene yang juga adalah manusia biasa saat itu memiliki pemikiran serupa dengan kita saat dipilih Tuhan dalam menjalani pencobaan kehidupan, namun, yang terjadi ribuan tahun kemudian, nama Simon dari Kirene memenuhi kitab dalam perjanjian. Kita manusia biasa, hidup kita hanya mengenal untung dan malang, suka dan duka. Kita sering alpa pada maksud di balik segala apa yang mejadi penyelenggaraan-Nya. Dia memilih sekaligus memberikan masing-masing kisah dalam setiap hidup manusia bukan tanpa tujuan, pun dengan segala bumbu dan rahasia hidup yang jika saja kita menyadarinya akan berubah menjadi  jalan menuju bahagia.  Masih layakkah kita bertanya, Tuhan, mengapa harus aku yang menjadi pilihan-Mu?

Perhentian keenam: Wajah Yesus Diusap oleh Veronika



Mahkota duri yang dikenakan pada kepala-Nya membuat  wajah-Nya  bersimbah darah. Ia tak lagi tampan, semarak-Nya pun hilang. 

Dalam langkah gontai-Nya memanggul salib agung, di hadapan-Nya lantas bersujud seorang perempuan lembut penuh kasih, Veronika. Awalnya Veronika berniat memberikan air pelepas dahaga bagi Putra Bapa, namun para algojo menepis cawan yang digenggam Veronika, tinggallah kain berada di tangannya, dengan segala cinta dan sisa keberanian yang ada, Veronika mengusap wajah Yesus yang telah dipenuhi peluh  dan darah. Sebagai balasannya, Yesus meninggalkan lukisan wajah-Nya di kain yang dibawa oleh Veronika.

Pernahkah dalam hidup di zaman yang serba tega ini kita memiliki sejumput keberanian untuk membantu sesama seperti Veronika? Jika pun ada, pernahkah kita berpikir bahwa yang kita lakukan itu tanpa tendensi apa-apa? Kebanyakan dari kita memilih bersikap acuh terhadap apa yang dialami sesama, atau minimal memiliki tendensi pada setiap apa yang kita perbuat untuk sesama. Mungkin demi dikenal, mungkin demi mendapat balasan, mungkin kita berharap satu ketika kita pun akan diperlakukan serupa seperti orang yang telah menerima bantuan dari kita. Lupakah kita pada hukum cinta kasih yang diajarkan Bapa melalui Dia yang adalah jalan kebenaran dan hidup.  Ingatlah bahwa Dia pernah berpesan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.”  Maka dari itu perbuatlah segala kebaikan karna kau melihat rupa Allah dalam diri sesamamu.  

Perhentian ketujuh:  Yesus Jatuh Kedua Kali


Perjalanan semakin menapak, tubuhnya semakin layu. Dalam batas kekuatan-Nya sebagai manusia,Ia hampir tak berdaya.

Betapa berat salib kasar dan besar yang masih setia menjadi beban pundak-Nya. Tubuh-Nya semakin layu, ia dihinggapi keletihan dan kesakitan yang amat sangat. Ia kehilangan satu per satu suara-suara penyemangat. Ia sampai pada batas kekuatan-Nya, tubuh-Nya yang dipenuhi luka roboh untuk kedua kalinya. Ketika jatuh pun salib itu setia menindih-Nya. Tiada ada lagi manusia membantu mengangkat kayu salib agung dari atas tubuh-Nya. Disertai bakti-Nya pada Bapa, ia bangkit meneruskan perjalanan  sengsara-Nya.

Dalam metamorfosa hidup, fase kedua manusia setelah kanak-kanak adalah menjadi dewasa. Segala problematika hidup manusia seolah berkumpul padu pada masa itu. Banyak manusia gagal menjadi dewasa dalam hidupnya. Mengalami kajatuhan, keterpurukan, kekacauan, kehancuran. Betapa dalam kisah sengsara-Nya, Yesus yang telah remuk redam disesah luka menganga dan darah yang mengalir begitu rupa  masih berusaha bangkit untuk meneruskan perjalan-Nya memenuhi janji pada Bapa. Haruskah kita yang hanya manusia biasa dangan beban hidup yang juga tergolong biasa lantas menyerah begitu saja pada cobaan yang menghampiri kita? Dalam iman Katolik, kita pun ditempa dalam perjalanan sengsara dalam memenuhi janji kodrat kehidupan  kita pada Bapa.


Perhentian kedelapan: Yesus Menghibur Wanita-wanita yang Menangis



Ia berhenti di hadapan wanita-wanita yang meratapi kisah sengsara-Nya.

Ujung perjalanan belum tampak di hadapan. Ia masih setia memanggul salib kasar dan besar itu di pundak-Nya. Di tengah gontai langkah-Nya, ia menemukan sekumpulan wanita yang menangis meratapi perjalanan sengsara-Nya. Ia lantas berhenti  dan menatap wanita-wanita itu. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada pada tubuh-Nya, ia berupaya menenangkan wanita-wanita itu. Betapa agung jiwa-Nya. Di tengah penderitaan yang ditimpakan pada-Nya,  mental-Nya tak roboh total. 

Betapa Tuhan memberikan teladan bagi kita. Dalam segala derita yang dirasakan-Nya, Dia tak lantas egois, Dia tak lantas terpuruk, Dia malah menjadi sumber penghiburan bagi hati-hati yang tengah dilanda kerawanan. Ya Tuhan, betapa dalam kehidupan kami sehari-hari kami lebih sering menganggap bahwa dengan kondisi yang kesulitan kami hadapi, kami tak memiliki kesempatan dan kekuatan untuk menguatkan orang lain. Betapa egoisnya kami sebagai manusia-manusia pendosa. 
Permampukan kami, Tuhan untuk menjadi garam dan terang dunia, seturut teladan Tuhan kami Yesus Kristus.

Perhentian kesembilan: Yesus Jatuh Ketiga Kali




Golgota di depan mata, kekuatan hampir habis, kesanggupan berjalan semakin menipis. Anak Domba Allah, jatuh untuk ketiga kalinya.

Matahari semakin tinggi, sinarnya menyengat terik membakar peluh dari semangat yang semakin runtuh. Janji-Nya pada Bapa tak hendak dikhianati-Nya. Dengan tenaga yang tersisa, diseret-Nya langkah kaki-Nya. Namun beban terlampau berat, tubuh-Nya pun tak lagi sanggup menahan sakit dan penat. Ia roboh untuk ketiga kalinya.  

Fase hidup yang ketiga, menjadi tua dengan tubuh yang semakin renta. Ketika Yesus dalam perjalanan sengsara mengalami jatuh kali ke tiga, betapa dalam hal ini Bapa mengingatkan kita dalam tujuan hidup kita ke arah kekal, seringkali kita pun mengalami jatuh di masa tua. Bukanlah kegagalan di masa muda penyebabnya, namun sikap hidup kita yang acapkali merasa sudah renta, tak lagi berguna bagi sesama dan gereja, padahal  justru ketika usia kita semakin menapaki senja, kita semakin berpeluang besar berbuat banyak hal bagi sesama. Tubuh renta bukan alasan, usia senja tak menjadi sekat dalam pengasingan diri menebar kasih pada sesama.

    
Perhentian kesepuluh: Pakaian Yesus Ditanggalkan




Maka genaplah yang tertulis dalam kitab suci setelah pakaian-Nya ditanggalkan, “Mereka membagi-bagi pakaianKu di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku.”

Tiada lagi yang bersisa dari Anak Domba Allah, kekuatannya habis, kehormatan-Nya di hadapan manusia-manusia pendosa habis-habisan dikikis. Bahkan untuk pakaian penutup tubuh-Nya pun telah mereka rampas. “Mereka mengambil  pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian - dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatkannya.”

Sekali lagi Allah Bapa menegur kita melalui perantara putera-Nya dalam rentetan kejadian di kisah sengsara. Anak Domba bungkam meski pakaian-Nya ditanggalkan, pakaian penutup tubuh yang menjadi dasar kehormatan seorang manusia. Ia dihinakan di hadapan manusia-manusia pendosa meski Ia tiada bercacat, cela dan dosa. Seringkali dalam kehidupan kita pun mengalami hal serupa, ketika kita merasa kehormatan kita sebagai manusia diinjak-injak, kita dengan sekuat tenaga melawan, mencari keadilan atau  lebih dari itu, ketika kita berperan ibarat serdadu yang menanggalkan pakaian serta kehormatan sesama kita. Kita seringkali berlaku culas dan gembira atas kehinaan sesama kita. Di manakah hati nurani berada? Masih pantaskah kita bergembira di atas kehinaan sesama kita?  


Perhentian kesebelas: Yesus Disalibkan


Ia menuntaskan perjalanan-Nya memanggul salib menuju  Golgota. Salib kasar tanda dosa besar, Ia dibaringkan di situ, kemudian paku besar  ditumbukkan dengan martil tanpa ampun menembus telapak tangan dan kaki-Nya, darah mengucur deras, mengalir pada salib. Ia disalibkan di antara orang berdosa, dan pada salib-Nya tertulis: “ Yesus Orang Nazaret, Raja Orang Yahudi.”

Dalam diri-Nya yang berwujud  manusia biasa, penderitaan yang ditimpakan pada-Nya melebihi ambang batas kekuatan normal manusia. Ia diperlakukan dan dihukum seperti seorang penjahat tak terampuni namun segalanya tetap Ia jalani. Tubuh-Nya dipaksa mangangkat salib yang akhirnya digunakan untuk merenggut nyawa-Nya sendiri. Dalam kepasrahan yang luar biasa Dia memenuhi janji pada Bapa-Nya, Dia mengorbankan tubuh dan darah-Nya untuk menjadi  materai keselamatan umat manusia yang mengimani-Nya. 

Ia hidup sebagai manusia biasa, namun bedanya Ia tidak berdosa, tidak bercacat cela. Ia menerima perlakuan tak adil dari manusia-manusia pendosa, namun Ia bungkam. Ia membiarkan cawan yang diberikan Bapa, tak berlalu dari hadapan-Nya. Yesus memberikan teladan bagi kita untuk menuntaskan segala apa yang telah dipercayakan kepada kita untuk kita selesaikan.  Mengerjakan dan memberikan segenap cinta dan penuh kasih pada apa yang menjadi tanggung jawab pribadi kita. Iman Katolik mengajarkan ketaatan pada tanggung jawab yang penuh cinta kasih. 


Perhentian kedua belas: Yesus Wafat di Kayu Salib




Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Gempa bumi terjadi di mana-mana, dan tabir bait suci terbelah dua.  

“Sesudah itu, Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci - ; “Aku haus!” Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu , Kuserahkan nyawa-Ku” Lalu ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”

Ia anak Allah, Ia manusia tanpa dosa, Ia memegang teguh janji-Nya pada Bapa meski  sebagai manusia Ia sempat merasakan kegentaran saat mengetahui isi cawan yang dihadirkan Bapa di hadapan-Nya. Ia taat sampai wafat, bahkan wafat disalib. Sekali lagi, dalam wujud manusia, putera Bapa mengajarkan pada kita tentang ketaatan dan penerimaan demi kemuliaan hidup yang kekal.  


Perhentian ketiga belas: Yesus Diturunkan dari Salib



“Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan  segera mengalir keluar darah dan air. Sesudah itu Yusuf dari Arimatea - ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi  - meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus.”

Malam menjelang, Maria bersama beberapa wanita dan murid kesayangan Yesus dibantu oleh Yusuf dari Arimatea menurunkan tubuh Yesus yang tak lagi bernyawa. Maria berada di bawah kayu salib, menyambut jenazah sang putera. Betapa hancur dan remuk redam hatinya. Putera kesayangan, yang dikandungnya, yang dibesarkannya, yang dikasihinya dengan segenap kekuatan yang dimilikinya diperlakukan tak adil, dihukum mati dan disalibkan. 

Hingga jenazah diturunkan dan kembali ke dalam pelukan ibu-Nya banyak hal menjadi teladan bagi kita. Kepasrahan dan ketaatan yang terkadang rasa sakitnya melebihi kekuatan yang kita punya sebagai manusia. Namun tetaplah berpegang pada janji Tuhan, janji akan keselamatan dan kehidupan kekal, janji yang tak akan pernah Ia ingkari. 

Perhentian keempat belas: Yesus Dimakamkan



Mereka mengambil mayat Yesus, mengafaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. Di tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. 

Genaplah yang tertulis dalam kitab suci, makam-Nya berada di tengah -tengah makam orang berdosa. Tubuh-Nya yang rusak karna disesah para serdadu dan algojo telah dibersihkan dan diurapi rempah-rempah sesuai adat Yahudi. 

Penderitaan-Nya di dunia telah usai, Ia kembali pada Bapa-Nya, Ia kembali pada pemilik-Nya. Namun tetap dengan satu janji keselamatandan kehidupan kekal bagi umat yang mengimani-Nya. Dialah jalan kebenaran dan hidup, Dialah garam dan terang dunia, tiada yang sampai kepada Bapa tanpa melalui Dia. Dialah awal dan akhir, Alpa dan Omega. Masihkah kita mengingkari-Nya? (Hes)