MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri gereja baru. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri gereja baru. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

7 Jun 2017

Baju Baru Nayla

Baju Baru Nayla

“Nayla....!” panggil ibu dari dapur, bergegas ia keluar dari kamarnya menuju dapur. ”Belikan ibu garam di warung ya, itu uangnya” ucap ibu. Nayla segera mengambil uang itu lalu pergi ke warung. Setelah membeli garam ia berjalan sangat lambat sambil memikirkan percakapannya dengan teman-temannya tadi di sekolah. Semua temannya sudah membeli baju baru untuk hari raya Paskah sedangkan dia masih belum memilikinya. Ia tahu bahwa ibunya sedang sibuk sekali karena pada hari Paskah ini semua keluarga besar akan berkumpul di rumahnya.

Sesampainya di rumah Nayla langsung menuju ke dapur, sambil meletakkan garam di meja Nayla pun bertanya “Bu... aku mau beli baju baru. Teman-temanku saja sudah membeli baju baru,” sambil melihat Nayla ibu berkata ”Nay, maaf ibu belum sempat setiap pagi ibu harus merapikan rumah, kamu tahukan nanti keluarga besar kita akan berkumpul di sini, jadi tunda dulu ya beli bajunya,” ucap ibu Nayla. 

Nayla pun kembali ke kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang tapi masih saja Nayla memikirkan baju barunya, perkataan teman-temannya masih saja bergema di kepala Nayla. Tiba-tiba telepon rumah berdering, kring...kring... segeralah Nayla beranjak dari kamarnya menuju telepon rumah yang berada di ruang keluarga. Segera Nayla mengangkat telepon itu. 

“Selamat siang” ucap si penelpon dengan ramah. Nayla pun menjawab “Selamat siang ini siapa ya?” 

”Ini Ibu Rika, ibu guru Sekolah Minggu” ucap si penelpon lagi, 

“Ooo... Ibu Rika mau bicara dengan siapa, Bu” ucap Nayla ramah. 

Maka si penelpon menjawab ”Saya mau bicara sama nak Nayla” 

”Iya ini saya sendiri, ada apa, Bu ada yang bisa saya bantu?” 

Maka si penelpon pun menjelaskan maksud menelpon Nayla. 

”Begini nak Nayla ibu perlu bantuan mu. Untuk menjadi MC di acara Paskah anak-anak nanti, maukah Nayla membantu Ibu?”

”Tentu, Bu, kapan latihannya?” tanya Nayla lagi. 

Bu Rika menjawab ”sore ini nak pukul 15.00 di gereja ya. Nanti kamu akan menjadi MC bersama Tata”

”Ooo....siap, Bu”, ucap Nayla mantap. 

”Baiklah, Nak itu saja yang ingin ibu sampaikan. Sudah dulu ya. Sampai bertemu di gereja.” 

“Iya, Bu” ucap Nayla mengakhiri telepon.

Nayla seakan-akan lupa tentang baju baru. Sekarang sudah menunjukan pukul 14.00, aku harus siap-siap ujar Nayla dalam hati. Dia segera berganti pakaian lalu menyiapkan bekal minum yang akan dia bawa. Setelah itu dia langsung menuju ke dapur tempat di mana ibu dari tadi  sibuk mengiris sayur dan daging. Nayla pun berkata,

”Bu... tadi, Bu Rika telepon, beliau meminta bantuanku untuk menjadi mc di acara paskah anak-anak nanti. Antar aku latihan ya Bu, di Gereja” ujar Nayla. Ibu pun menjawab ”Nay..., bukan ibu tak mau mengantarmu tapi lihatlah ibu masih harus berkemas-kemas, jadi kamu naik sepeda aja ya, kan dekat” ujar ibu menjawab. Nayla pun berkata ”Ya, sudah kalau begitu Nayla pamit, ya Bu” sambil menyalami ibu. Nayla pun segera berangkat ke gereja dengan mengayuh sepedanya.

Sesampainya di gereja dia langsung di sambut oleh Bu Rika dan juga Suster pembimbing Sekolah Minggu, serta teman-teman Sekolah Minggu yang lain. Mereka tidak membuang waktu. Mereka langsung latihan. Waktu terus berjalan, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 maka berakhirlah latihan menjadi mc untuk hari ini. Tata teman sekolah minggu Nayla memperlihatkan baju barunya lewat foto yang ada di smartphone-nya dengan bangga.  Tata pun dijemput maka sekarang Nayla lah yang harus pulang. Tapi ternyata ia masih duduk melamun di bawah pohon rindang di halaman gereja. Pastor yang bingung melihat tingkah Nayla yang tak seperti biasa pun menyapa Nayla 

”Selamat sore Nayla, kenapa kok murung gak kayak biasanya?” ucap pastor dengan ramah. 

Nayla yang baru menyadari bahwa sedari tadi ada pastor yang menyapanya pun terkejut 

”Eeeh pastor...maaf, tapi Nayla gk ada mikir apa-apa kok” ucap Nayla menyangkal 

”Ayo jangan bohong keliatan tahu kalau anak Tuhan sedang bohong. Ayo cerita, siapa tau pastor bisa membantu” ucap pastor sambil bercanda dan mencairkan suasana.

Nayla pun menjawab 

”Begini Pastor, sebentar lagikan hari raya Paskah, apalagi besok sudah memasuki Tri Hari Suci, tapi Nayla belum membeli baju baru sedangkan teman-teman saja sudah pada beli. Mama sedang sibuk beres-beres rumah sedangkan papa sibuk bekerja, yah bagaimana dengan baju baruku?” ucap Nayla sambil menghela napas panjang. 

Sekarang pastor mengerti kenapa Nayla murung. Maka pastor pun berkata,
”Tidak semua orang bisa bahagia seperti Nayla mereka tidak mungkin punya baju baru, bahkan untuk makan sehari-hari pun susah. Tapi lihatlah mereka bahkan bisa tertawa bahagia, karna apa? karna mereka tahu Tuhan selalu mendampingi mereka dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Tuhan rela mengorbankan nyawanya untuk menebus semua dosa manusia. Jadi syukurilah apa yang sudah kamu miliki Nayla” ucap pastor dengan lembut.

Segera Nayla berpamitan dengan pastor lalu pulang kerumahnya ia merasakan bahwa dia sudah benar-benar puas akan apa yang sudah dia miliki. Sesampainya di rumah Nayla langsung mandi dan belajar di kamar, tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamar Nayla. 

”Ya” ucap Nayla.  

”Boleh ibu masuk, Nak?”

”Tentu, Bu” Nayla menjawab 

“Nak maaf ya ibu belum sempat membelikanmu baju baru, ibu sangat sibuk jadi susah cari waktu untuk belanja,” ucap ibu mengawali pembicaraan 

”Tak mengapa, Bu, bukan baju baru yang penting untuk menyambut hari Paskah tapi hati yang penuh suka cita karena Tuhan Yesus bangkit di antara orang-orang yang mati untuk menyelamatkan kita semua” ucap Nayla mantap. 

Ibu sangat bangga mendengar jawaban Nayla, ibu pun memeluk Nayla dengan bahagia.

By. Georgia Laura Viwanda.

30 Jun 2015

PEMBANGUNAN GEREJA PANGMILANG UNTUK KEHIDUPAN MENGGEREJA YANG LEBIH GEMILANG

PEMBANGUNAN GEREJA PANGMILANG  UNTUK KEHIDUPAN MENGGEREJA YANG LEBIH GEMILANG





 


Mendung menggelayut  dan samar-samar gerimis tipis menghujam perjalanan saya menuju barat kota. Kira-kira berjarak sepuluh  dari nol kilometer kota, tepatnya di dusun Pangmilang, perjalanan santai saya yang memakan waktu 30 menit sampai pada tempat tujuan. Sempat mengernyitkan dahi manakala saya mendapati gereja kecil yang tengah dibangun, arsitekturnya menyerupai masjid. Ragu-ragu saya berbelok masuk ke pekarangan bangunan setengah jadi tersebut. Ketika itu saya disambut hangat oleh  lelaki paruh baya yang ternyata merupakan narasumber yang sempat saya hubungi untuk sesi wawancara, sekaligus sebagai ketua umat gereja stasi Pangmilang, Bapak Hariyanto. Saya juga cukup beruntung bertemu dan dapat berbincang pula dengan penasehat gereja stasi Pangmilang, Bapak Ajanius. A. Md.Kep.

Sore itu seperti biasa mereka datang untuk memantau kinerja tukang bangunan yang lazim  dilakukan setiap hari. Saya diajak berkeliling melihat-lihat kondisi gereja yang sudah terbangun kira-kira mencapai 65% pengerjaan. Material bangunan masih terserak di sana sini, lantai gereja masih beralas tanah merah, namun di dalamnya sudah terdapat beberapa bangku khas gereja yang tidak permanen. Ternyata di bangunan setengah jadi ini juga umat tetap menggelar misa atau ibadat sabda setiap minggunya.

Mereka begitu antusias kala menjabarkan berbagai hal yang berkenaan dengan pembangunan ‘rumah Tuhan’ yang dimulai sejak peletakan batu pertama pada Januari 2015 lalu. Seolah menuntaskan dahaga, saya menanyakan perihal bangunan gereja yang sekilas mirip masjid tersebut. Dengan gamblang mereka menjabarkan mengenai bentuk bangunan yang kiranya memang disengaja dibentuk dalam fisik yang unik dan bukanlah menjadi soal yang esensial apapun bentuknya, yang terpenting fungsinya dan simbol yang terdapat di bubungan atap gereja yang mengusung salib, tanda kemenangan kita. Di samping itu, pembangunan gereja dengan arsitektur demikian, ditambah perluasan ukuran dari yang awalnya 6 x 10m menjadi berukuran 14 x 16m, diharapkan lebih representatif bagi umat dalam menjalankan segala kegiatan bernafas gerejawinya.

Berawal dari niat, kegiatan pemugaran gereja ini dilakukan karena kondisi gereja yang sudah tidak lagi memungkinkan, jika hujan maka air akan menggenang memasuki dan membanjiri lantai gereja, di samping itu semakin hari, antusiasme umat untuk beribadah telah melebihi kapasitas. Pada tahun lalu saja telah mengalami penambahan umat baru dengan dibabtisnya 43 orang yang terdiri dari 28 pria dan 15 wanita. Menghadapi kondisi itu, ketua umat bersama beberapa penasehat gereja menggelar pertemuan bersama membahas mengenai  rencana memugar gereja agar lebih layak dijadikan tempat ibadah. Sebagai gong pembuka jalan mewujudkan niat pemugaran ‘rumah Tuhan’, dilakukan aksi swadaya pengumpulan dana warga dari pintu ke pintu. Besaran yang dipatok saat itu berkisar pada angka Rp50.000,- per kepala keluarga. Di samping itu, beberapa tokoh masyarakat serta beberapa perusahaan dan pengusaha setempat secara sukarela memberikan sumbangan lebih, yang kebanyakan berbentuk material bangunan.

Ada yang istimewa dari pembangunan gereja sederhana yang dimulai pembangunannya pada Januari 2015 ini. Ketua umat beserta para penasehat tidak mengandalkan pembangunan dari dana yang secara utuh dibebankan pada paroki, namun lebih pada usaha mengetuk hati umat dan para donatur dalam proses pembangunannya. Hal ini diharapkan agar jika gereja sudah berdiri maka akan timbul rasa memiliki. Seperti lazimnya, jika sudah muncul rasa memiliki, maka secara otomatis umat akan menjaga dan memelihara gerejanya dengan lebih maksimal. 

Meski masih jauh dari harapan, namun semangat menyempurnakan pembangunan fisik gereja yang ditafsir jika selesai hingga benar-benar sempurna berkisar di angka tujuh ratus juta tetap menyala. Gereja yang diharapkan dapat diresmikan oleh uskup pada Desember 2015 ini masih membutuhkan uluran tangan dari umat dan donatur dalam bentuk material bangunan maupun dana segar yang akan dialokasikan untuk membayar kerja para tukang bangunan. “Untuk urusan dana memang sifatnya sangat sensitif, terkadang sulit menanamkan kepercayaan penyumbang, namun kami berharap buanglah segala pemikiran negatif, kami selalu terbuka terhadap penggunaan dana, dapat dilihat dari pengerjaan bangunan yang telah dilakukan dan tujuan kita memang hanya untuk membangun gereja,” ujar Hardiyanto.     
     
Di akhir obrolan, Hardiyanto selaku ketua stasi Pangmilang sempat menyematkan harapannya, “Mudah-mudahan keteguhan umat dalam berbagi untuk membangun gereja fisik lebih bersemangat, mari kita saling rangkul, kita berpegangan tangan agar tujuan gereja fisik Kristus selalu berkembang, dan secara psikis semoga dengan terbangunnya gereja yang lebih besar, iman umat di manapun, khususnya Pangmilang semakin  teguh untuk beribadah ke gereja,” pungkasnya.

Bagi para donatur yang ingin memberikan bantuan dalam bentuk material bangunan maupun dana, dapat langsung disampaikan kepada ketua umat Stasi Pangmilang maupun menghubungi pastor Paroki Singkawang. (Hes)  
    
 

3 Sep 2018

SEMINAR KITAB SUCI OLEH DOKTOR PAULUS TONI DI FRANSISKUS ASSISI

SEMINAR KITAB SUCI OLEH DOKTOR PAULUS TONI DI FRANSISKUS ASSISI




Senin, 3 September 2018 pukul 18.00 WIB, bertempat di Gereja Katolik St Fransiskus Assisi Singkawang digelar seminar kitab suci. Kegiatan yang mendatangkan narasumber ahli kitab suci, Pastor Dr. Paulus Toni Tantiono, OFM.Cap ini digelar masih dalam rangkaian acara Bulan Kitab Suci Nasional 2018.

Seminar yang mendapuk doktor lulusan Universitas Gregoriana Roma ini digelar di dalam gereja dan mendapat perhatian cukup antusias dari umat Paroki Singkawang. Hal ini dibuktikan dengan terisinya bangku-bangku hingga sepertiga kapasitas tampung gereja yang berada di jalur utama Kota Singkawang.

Dalam seminarnya kali ini Pastor Toni menjabarkan dengan gamblang berbagai hal yang berkaitan dengan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2018
yang merupakan kelanjutan dari rangkaian tema besar tentang Mewartakan Kabar Gembira. "Berbagai tema besar ini dimulai sejak tahun 2017, dengan tema: Mewartakan Kabar Gembira (MKG) dalam Arus Zaman Masa Kini, dilanjutkan tahun 2018 dengan tema: MKG dalam Kemajemukan, disambung tahun 2019 dengan tema MKG dalam Krisis Lingkungan Hidup dan ditutup tahun 2020 dengan MKG di tengah Krisis Iman dan Identitas Diri.

"Tema 'MKG dalam Kemajemukan' tahun ini mengangkat bagaimana tugas mewartakan Injil yang diberikan Yesus kepada para rasul ke seluruh dunia berhadapan dengan aneka kekayaan dan keunikan budaya non-Yahudi. Karena itu sejak dari awal para rasul harus aktif ke luar dari daerah Israel/Palestina sambil mencari metode-metode baru berhadapan dengan situasi tempat dan budaya-religiositas baru di tempat-tempat baru. Rasul Paulus bersama para rasul gereja perdana berjuang membumikan dan mengejawantahkan nilai dan pesan Injil Yesus secara konkret dan bermakna di bawah bimbingan Roh Kudus," paparnya.

Di samping itu, gembala yang juga bagian dari persaudaraan dina Kapusin ini juga menitikberatkan seminarnya pada poin-poin tugas mewartakan Kabar Gembira gereja Katolik dewasa ini di Indonesia yang menggarisbawahi empat tema/situasi yg dapat dibahas, yaitu; 1) Dialog dengan Kaum Miskin 2) Dialog dengan Budaya 3) Dialog dengan Agama lain 4) Dialog dengan Gereja-gereja Protestan. Keempat tema ini dibahas satu persatu dalam tiap minggu selama empat minggu pertemuan, dengan contoh perikop Kitab Sucinya masing-masing.

Di akhir seminar, beliau memberikan simpulan bawasanya gereja Katolik Indonesia mempunyai kesempatan sekaligus tugas mewartakan Kabar Gembira dalam aneka kemajemukan, ber-Bhinneka Tunggal Ika. Ada banyak peluang, sekaligus tantangan bagaimana menyapa masyarakat Indonesia yang sangat pluralistis (majemuk) dengan agama, budaya, adat-kebiasaan masing-masing. Diperlukan usaha keras untuk ke luar dari dinding gereja dan keberanian untuk menyapa dan berkontak dengan semua orang yang memerlukan sapaan Kabar Gembira. Selain itu, kerendahan hati dan kreativitas yang tinggi juga diperlukan supaya pesan Injil dapat masuk dan diterima orang-orang dalam budayanya masing-masing," ungkapnya.

Masih di kesempatan yang sama dan tidak kalah menarik, beliau juga menekankan bahwasanya gereja Katolik Indonesia sudah ditebus oleh Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu dan sekarang meneruskan karya penyelamatan, dan penebusan tersebut kepada semua orang yang dijumpai. Tugas yang tidak mudah, namun indah dan luhur sesuai dengan amanat agung Tuhan Yesus di bawah bimbingan Roh Kudus dalam perlindungan dari Allah Bapa. (Nat)



29 Mei 2016

Selalu Bersyukur

Selalu Bersyukur

Bagi sebagian besar umat Katolik di stasi-stasi yang ada di wilayah  paroki Singkawang, perayaan Paskah memiliki arti ganda. Selain sebagai perayaan syukur atas  kebangkitan Tuhan Yesus,  peristiwa Paskah juga menjadi sarana untuk menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan atas panen padi yang baru saja mereka lewati. Ucapan syukur ini juga disertai dengan permohonan berkat dari Tuhan agar di musim tanam berikut mereka mendapatkan hasil yang lebih baik. Itu sebabnya momen Paskah selalu dinanti-nantikan. Bahkan beberapa stasi lewat pengurusnya sudah memesan jauh-jauh hari, agar dirayakan misa paskah di stasinya. Sekiranya tidak bisa bertepatan dengan hari Paskah, mereka masih berharap agar bisa merayakan misa seminggu atau dua minggu setelah Paskah.

Harapan itu jugalah yang hendak  disampaikan oleh Pak Erna, seorang umat dari Stasi Parit Baru.  Hari itu tanggal 3 April, bertepatan dengan hari Minggu Paskah II , Sejak pagi Pak Erna sudah menunggu kedatangan saya yang mau merayakan Misa Paskah di kampungnya. Begitu tiba di depan gereja dan baru saja mesin sepeda motor saya matikan, dia langsung menghambur dan mendatangi saya.

 “Selamat datang, Pastor,” sapanya ramah sambil mengulurkan tangan kanannya kepada saya.

 “Selamat pagi, Pak Erna. Sudah lama menunggu?” tanya saya kepadanya sambil menerima uluran      tangan kanannya.

“Sudah dari tadi pagi, Pastor. Kan kami mau meminta berkat untuk padi yang mau kami tanam,” katanya lagi sambil menunjukkan benih padi yang dipegang di tangan kirinya. Saya pun tersenyum kepadanya dan meminta supaya benih padi diletakkan di bawah altar. Tanpa menunggu komando umat yang lain pun segera masuk gereja dengan membawa benih-benih padi dan meletakkannya di bawah altar.

Rupanya umat di Stasi Parit Baru pun tidak mau melewatkan momen yang sangat istimewa tersebut. Hampir semua umat yang hadir membawa “bekal” berupa benih padi dan bungkusan plastik lain yang belakangan saya tahu itu adalah padi baru. Benih padi yang mereka bawa akan mereka tanam pada musim tanam berikut. Dengan membawanya ke Gereja, mereka mengharapkan berkat dari Tuhan agar di musim tanam berikut mereka bisa menuai panen yang lebih baik. Sedangkan padi baru yang mereka bawa akan dipersembahkan kepada saya sebagai wujud syukur mereka kepada Tuhan seraya mau berbagi dengan pastor-pastor yang melayani mereka. 

Begitu misa selesai Pak Erna kembali lagi mendatangi saya sambil membawa bungkusan plastik berwarna hitam.

“Maaf, Pastor, padi baru ini tidak seberapa karena hasil panen tahun lalu kurang bagus. Banyak diserang hama. Ini ya, Pastor, supaya Pastor tetap bisa makan padi baru bah,” kata Pak Erna lagi sambil memberikan bungkusannya kepada saya.

“Wah terima kasih, terima kasih banyak. Saya sangat suka makan padi baru. Sehat dan enak,” jawaban saya kepada Pak Erna yang terus menggenggam tangan kanan saya.

Peristiwa sepele yang sarat makna itulah yang saya bawa pulang ke Singkawang sebagai “oleh-oleh”. Bagaimana tidak? Seorang Pak Erna “hanyalah” seorang petani sederhana. Tetapi dia mengajari saya apa artinya selalu bersyukur. Meskipun hasil panen di tahun lalu kurang menggembirakan, Pak Erna tetap bisa bersyukur kepada Tuhan. Dia sama sekali tidak menyalahkan Yang Mahakuasa atas hasil panen yang hanya sedikit. Dia menerima pemberian dari Yang Di Atas tanpa mengeluh dan menuntut lebih.  Malah dalam sedikitnya hasil panen itu dia masih mau berbagi padi baru kepada saya. Lebih dari itu Pak Erna masih tetap menggantungkan harapannya kepada Tuhan agar di musim tanam berikut Yang Mahakuasa mau memberkati segala jerih payah yang akan dimulai dengan mengolah sawahnya. Harapan itu dimulai dengan memohon berkat untuk padi yang akan dia tanam. Semoga demikian adanya. (Gathot)

12 Sep 2016

Harapan Mengharu Biru Warnai Sambut Baru

Harapan Mengharu Biru Warnai Sambut Baru


Telah menjadi agenda tahunan Gereja Katolik di seluruh dunia untuk menerimakan Sakramen Ekaristi perdana (sambut baru/komuni pertama) bagi anak-anak maupun remaja yang sudah mengikuti proses pembelajaran dan pendalaman iman Katolik. Tak terkecuali dengan Gereja Katolik Santo Fransiskus Assisi Singkawang yang pada Minggu, 29 Mei 2016 menerimakan Sakramen Ekaristi perdana pada 67 anak dan remaja. 

Rona gembira dan antusias terpancar tak hanya dari calon penerima Sakramen Ekaristi namun hal serupa juga menghiasi wajah para pembina Sekolah Minggu beserta orang tua yang selama setahun telah mempersiapkan sekaligus menanti salah satu momen paling berharga dalam nafas gereja dan keluarga Katolik ini. 


Misa pagi itu dipimpin oleh Pastor Paroki Singkawang, Stephanus Gathot Purtomo, OFM.Cap. Dalam homilinya, Pastor Gathot memaparkan hal-hal yang sangat esensial. Melalui kalimat-kalimat yang menyejukkan, beliau mengingatkan bahwa Allah melalui Yesus Kristus telah memberikan diri menjadi santapan rohani. Dalam kesempatan yang sama pula beliau mengajak seluruh yang hadir dalam perayaan Ekaristi tidak hanya sekadar merayakan Ekaristi namun menjadi Ekaristi itu sendiri melalui tindakan konkrit menolong orang lain dan tidak lari tanggung jawab. Beliau mengutip langsung pernyataan Sri Paus yang mengingatkan perihal tanggung jawab sebagai sesama manusia yang seyogyanya dapat berangkat dari hal sederhana namun sangat mendasar dengan tidak membuang makanan. Dengan membuang makanan berarti kita telah merampas hak orang miskin. Dari hal kecil tersebut dapat ditarik dua kesimpulan, kita diajak untuk peduli, kita juga diajak untuk menghargai makanan dan minuman, sekaligus memeriksa batin hal apa yang telah kita perbuat guna meringankan beban saudara-saudari kita yang kekurangan.

Usai merangkul umat yang hadir melalui khotbah sejuknya, pastor lantas memulai prosesi pemberkatan hosti. Syahdan, satu persatu calon penerima Tubuh dan Darah Kristus yang didampingi oleh orang tua maupun wali  masing-masing, maju menghampiri Pastor Gathot yang dengan tenang memegang piala berisi hosti dan memberikannya kepada putra-putri berjubah putih, pakaian khas sambut baru disusul kemudian oleh umat yang hadir. 

Usai menerima Tubuh dan Darah Kristus, penerima komuni pertama kembali menempati bangku-bangku di sayap kiri gereja berusia sembilan dasawarsa tersebut. Masing-masing larut dalam doa usai menjalani pengalaman pertamanya menerima salah satu dari tujuh sakramen dalam gereja Katolik.

Usai perayaan Ekaristi, semua penerima Sakramen Ekaristi perdana bersama orang tua dan wali diundang dalam acara ramah tamah yang bertempat di Gua Maria samping gereja. Dijumpai di sela-sela acara ramah tamah, Dionisius Liau, ayah dari Ignatius Widiawan Liau, salah satu penerima Sakramen Ekaristi asal SDS Cahaya Kebenaran ini mengungkap harapan yang mengharu biru,

“Semoga dengan sambut baru ini menjadikannya tumbuh lebih agamis, dekat dengan gereja, dijauhkan dari hal-hal buruk, dan kalau bisa saya sangat berharap ada panggilan sebagai imam atas dirinya,” pungkasnya mengakhiri wawancara singkat. (Hes)    


2 Jul 2015

ADA YANG SERU SAAT SAMBUT BARU

ADA YANG SERU SAAT SAMBUT BARU




Minggu, 7 Juni 2015. Pagi itu seperti hari Minggu pada umumnya, pukul 07.45 Wib, lonceng gereja bergema, mengundang segenap umat Gereja Katolik St. Fransiskus Assisi hadir dalam perayaan Ekaristi. Namun ternyata ada yang berbeda, ada yang istimewa. Di halaman gereja, ada kesibukan tak biasa. Wajah-wajah mungil  begitu bersemangat, tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Pakaiannya putih, bersih dengan tali mengikat di pinggang seperti pakaian para biarawan. Bedanya, di dada mereka tersemat bunga kecil nan manis khusus bagi bocah pria, dan rangkaian bunga membentuk mahkota sederhana bagi yang wanita. Beberapa orang dewasa pun membantu menertibkan mereka membentuk barisan dalam perarakan. Ah, betapa serunya suasana pagi itu. Ya, jangankan para bocah siswa Sekolah Minggu yang begitu gembira dalam penyambutan baru, umat dewasa pun seperti terciprat bahagia demi memandang senyum dan tingkah polos mereka.

Tepat pukul 08.00 Wib, prosesi misa yang dipersembahkan untuk penyambutan baru atau  penerimaan Sakramen Ekaristi  berjalan. Perlahan bocah-bocah yang awalnya seperti tak bisa diam itu satu persatu memasuki gereja, mereka begitu tenang menuju deretan bangku khusus yang telah disediakan.

Misa berjalan lancar. Dalam khotbahnya, Pastor Gathot yang pagi itu terlihat begitu segar menggarisbawahi makna penyelamatan dan pengorbanan Yesus Kristus yang memberikan nyawanya demi keselamatan manusia. Pada akhir homilinya, sekali lagi Pastor Gathot mengajak setiap umat yang hadir untuk menjadi Ekaristi bagi sesama agar sesama memperoleh hidup dan keselamatan.
Tiba pada tahap yang paling dinantikan oleh para penyambut baru tubuh dan darah Kristus yang menurut salah satu guru Sekolah Minggu, Elisabet Suraviyani, kali ini berjumlah 65 orang. Satu persatu mereka maju dan mengelilingi altar serta mengikuti rangkaian kegiatan yang diatur sedemikian rupa. Dengan didampingi oleh orang tua masing-masing, mereka begitu antusias menerima Sakramen Ekaristi untuk pertama kali.

Selepas misa, acara ramah tamah digelar di Gua Maria di sayap kanan gereja. Semua yang hadir tampak larut dalam suka cita. Di kesempatan yang sama,  Christoforus Putra Septoripesi, salah satu penerima sakramen Ekaristi putra dari Bapak Tobias dan Ibu Ludwina Rita, menuturkan perasaannya. “Rasanya seru, senang, dulu penasaran hosti itu rasanya seperti apa. Rasanya gembira. Kalau sudah komuni akan lebih rajin ke gereja, mau jadi putra altar, dan tidak mau berbuat dosa lagi.”, ujarnya polos.  Harapan positif juga disampaikan oleh ibunda dari Christoforus, “Semoga anak-anak penerima komuni pertama lebih baik, bisa tetap lebih mendalami iman Katolik, dan lebih aktif di kegiatan gereja.”, tandasnya. (Hes)                            

23 Jun 2015

SAGKI

SAGKI


SIDANG

AGUNG

GEREJA

KATOLIK

INDONESIA 

Kapan dan di mana SAGKI 2015 diadakan?
SAGKI 2015 diadakan tgl. 2-6 November di Via Renata, Cimacan − Bogor.

Siapa peserta SAGKI 2015?
Peserta SAGKI 2015 adalah:
a.    Para USkup dan Uskup Emeritus seluruh Indonesia
b.    Umat Katolik yang mewakili/menjadi utusan dari masing-masing Keuskupan di Indonesia
c.    Wakil KOPTARI dan UNIO, Kelompok Kategorial Keluarga Para Sekretaris Komisi, Lembaga,    Sekretariat dan Departemen KWI

Apa Tema SAGKI 2015?
Tema SAGKI 2015 ialah Keluarga Katolik: Sukacita Injil Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk.

Apa kekhasan SAGKI 2015 yang membedakannya  dengan SAGKI sebelumnya?  

o    SAGKI ke IV tahun 2015 ini merupakan kesinambungan dari SAGKI 2000, 2005, dan 2010. SAGKI 2000 diarahkan pada perwujudan serta pemberdayaan Komunitas Basis menuju Indonesia baru. Sedangkan SAGKI 2005 mengajak Gereja Indonesia untuk bangkit dan bergerak mengupayakan keadaban publik bangsa; dan SAGKI 2010 menegaskan kembali panggilan perutusan Gereja, dengan tema: Ia Datang Supaya Semua Memperoleh Hidup dalam Kelimpahan (bdk. Yoh 10:10).

o    SAGKI 2015 merupakan tahun rahmat bagi Keluarga, karena secara khusus Para Bapa Uskup memberikan perhatian kepada panggilan dan perutusan keluarga sebagai Gereja kecil yang diutus. Hal ini seiring dengan perhatian Paus dan Gereja Universal yang mengajak semua umat untuk merefleksikan kehidupan keluarga melalui Sinode luar biasa tahun 2014 yang bertema: Tantangan-Tantangan Pastoral Keluarga dalam Konteks Evangelisasi dan Sinode biasa tahun 2015 yang mengambil tema: Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Dewasa Ini. Kekhasan dari SAGKI 2015 adalah merenungkan sejauh mana sukacita Injil itu dialami oleh keluarga dan bagaimana perjuangan keluarga dalam mewujudkan sukacita Injil.

Apa yang menjadi fokus perhatian SAGKI 2015 dalam pelaksanaan tugas perutusan Gereja Indonesia?

Berkaitan dengan tugas perutusan Gereja Indonesia, fokus perhatian SAGKI 2015 adalah keluarga Katolik mengalami sukacita Injil dengan semakin menghayati jati diri, spiritualitas, panggilan dan perutusannya dalam Gereja dan masyarakat dan memancarkan Sukacita Injil dalam kehidupan sehari-hari.

Apa tujuan SAGKI 2015?

Tujuan SAGKI 2015 adalah
a.    Keluarga Katolik semakin menghayati jati diri, identitas, spiritualitas, panggilan, dan perutusannya di dalam Gereja dan di tengah masyarakat
b.    Keluarga Katolik semakin menyadari tantangan-tantangan konkret yang dialami dan dihadapi keluarga dewasa ini
c.    Keluarga Katolik semakin misioner di tengah masyarakat

Suasana apa yang diharapkan tercipta dalam SAGKI 2015?

Suasana yang diharapkan tercipta dalam SAGKI 2015 ialah suasana sukacita dan persaudaraan dalam menegaskan bersama jalan baru bagi panggilan dan perutusan keluarga melalui refleksi bersama, diskusi, gerak bersama yang akan diambil.

Kegiatan SAGKI 2015 meliputi apa saja?

Kegiatan SAGKI 2015 meliputi ibadat, sharing tentang sukacita Injil yang dihayati oleh keluarga-keluarga Katolik, perjuangan keluarga dalam mewujudkan sukacita Injil, refleksi teologis dan launching film 7 Sakramen yang diproduksi KWI. Keempat kegiatan ini berkaitan satu sama lain dan dalam pelaksanaan hariannya disesuaikan dengan sub tema tertentu.

Metode apa yang dipergunakan SAGKI 2015?

Metode yang dipergunakan adalah metode sharing, diskusi dan penegasan sebagai buah dari refleksi bersama.

Mengapa SAGKI 2015 menggunakan metode sharing, diskusi, dan penegasan?

SAGKI 2015 menggunakan metode sharing, diskusi, dan penegasan karena:
a.    Tujuan dari SAGKI adalah saat di mana gereja mendengarkan
b.   Terjadinya gerak bersama setelah mendengarkan apa yang dialami, didiskusikan dan penegasan bersama

Bagaimana gambaran pertemuan SAGKI 2015?

Pertemuan SAGKI 2015 sebagai berikut:
Tanggal        :  2   November
Materi          :  Ekaristi Pembuka dan Acara Pembuka

Tanggal        :  3   November
Materi          :  Keluarga bersukacita: buah-buah penghayatan Panggilan dan Perutusannya (dimensi spiritual, relasional    
                             dan sosial)

Tanggal        :  4   November
Materi          :   Keluarga Katolik memperjuangkan sukacita Injil : Tantangan-tantangan Keluarga Dewasa ini

Tanggal       :   5 November
Materi         :  Gerak Bersama : Membangun Wajah “Ecclesia Domestica di Indonesia” – Sukacita Injil        

Tanggal       : 6 November
Materi         : Rumusan Akhir dan Misa Penutupan





Logo SAGKI 2015 merupakan visualisasai semangat dasar SAGKI 2015, yakni Keluarga Katolik: Sukacita Injil. Sukacita Injil dalam keluarga dialami ketika mereka memandang dan menjumpai Kristus (bdk. EG 1) yang menjadi Jalan, Kebenaran dan Hidup dan visualisasi itu diwujudkan dalam gambar Salib yang dipandang bapak,iIbu dan ketiga anak mereka.
Pengalaman sukacita itu dialami ketika keluarga-keluarga mendasarkan nilai kehidupan mereka pada Injil sebagaimana dinampakkan dalam gambar buku. Ketika keluarga berpijak pada Injil dan menghidupi nilai-nilai perkawinan sebagaimana yang diwahyukan Allah dalam Injil, sukacita itu dialami. Ekspresi sukacita itu tampak dalam sikap anggota keluarga yang semuanya berdiri (setengah melompat) dalam kebersamaan dan kasih.
Dalam logo, persatuan bapak dan ibu (warna orange dan merah marun) membentuk simbol hati yang berarti bahwa kesatuan keluarga didasarkan atas kasih. Dengan warna dasar putih menunjukkan kesucian, warna merah marun seperti gambar hati menunjukkan kasih dan warna orange menggambarkan terang atau cahaya yang berarti: keluarga yang dibentuk berdasarkan kasih membawa terang dan kesucian bagi keluarga lain.
Tulisan SAGKI 2015 dengan tema Keluarga Katolik: Sukacita Injil, adalah fokus atau tema yang diharapkan menjadi semangat bagi keluarga-keluarga agar selalu mengalami dan menampakkan sukacita Injil itu secara tegas. Warna merah marun, orange, silver, dan putih, biru, juga menunjukkan kemajemukan dan ke-Indonesiaan yang menjadi konteks SAGKI ke IV tahun  2015 ini.



DOA PERSIAPAN MENYAMBUT
SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA
TAHUN 2015

Allah dan Bapa kami,
Engkau telah mengutus
Yesus Putera-Mu terkasih
untuk mewartakan Sukacita Injil kepada kami
dan mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu
serta menyatukan kami
dalam satu Keluarga Illahi-Mu.

Putera-Mu hadir di tengah Keluarga Nazareth
untuk menguduskan keluarga manusiawi itu.
Ia tinggal di dalam keluarga itu
untuk mengajarkan kasih,
mendengarkan kehendak Illahi-Mu,
mengajarkan sikap saling hormat menghormati
dan bekerjasama,
serta menyalakan lilin pengharapan
dalam kegelapan dunia ini.
Ia menetapkan keluarga kami
menjadi Gereja rumah tangga,
dan menjadi Injil yang hidup bagi dunia
dalam semangat cinta dan sukacita.

Curahkanlah Roh Kudus-Mu
untuk membimbing SAGKI 2015 ini,
agar melalui Sidang Agung ini,
mampu mendorong keluarga-keluarga Katolik
semakin menghayati panggilan
dan perutusan
dalam hidup perkawinan
yang telah mereka ikrarkan
dan semakin mengalami
keindahan hidup berkeluarga itu.
Ajarilah kami bersikap bijak
dalam menghadapi
setiap tantangan dan situasi zaman ini.
Buatlah kami semakin mampu
menjadi saksi hidup Injil-Mu
dan tempat pengungsian
bagi mereka yang membutuhkan.
Biarlah keluarga kami
semakin memancarkan sukacita Injil
bagi keluarga dan masyarakat.
Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.

Yesus, Maria, dan Yosef,
doakanlah kami!



17 Feb 2017

PERAYAAN PENTAHBISAN IMAM DI GEREJA KATOLIK SINGKAWANG

PERAYAAN PENTAHBISAN IMAM DI GEREJA KATOLIK SINGKAWANG


Tahun 1998 silam terakhir Gereja Katolik St Fransiskus Assisi Singkawang menggelar pesta perayaan pentahbisan imam. Kala itu euforia tergambar jelas dari antusias umat menyambut gembala baru yang akan memimpin kehidupan imannya.Berduyun-duyun umat memadati gereja yang beralamat di Jalan P. Diponegoro No 1 itu guna mengikuti misa pentahbisan imam. Kini 19 tahun kemudian, gereja Katolik Singkawang kembali bersuka cita dan siap meggelar pesta perayaan pentahbisan imam. Tidak tanggung-tanggung, tiga orang calon imam baru akan menjawab ‘panggilan Tuhan’ pada 23 Februari 2017 mendatang. Tiga calon imam baru yang akan ditahbiskan oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak itu antara lain Josua Boston Sitinjak, OFMCap, Jeneripitus, OFMCap, dan Aloysius Anong, OFMCap. Sebanyak 3000 ribu umat digadang-gadang akan menghadiri gawe akbar ini. Dalam Ekaristi yang akan digelar pada Kamis, 23 Februari 2017 Pukul 09.00 Wib ini Mgr Agustinus Agus akan bertindak sebagai selebran utama, dan dihadiri 50-an pastor lain yang didominasi oleh imam-imam dari Ordo Kapusin.  
Pentahbisan imam kali ini terasa begitu istimewa manakala mengingat hampir menginjak kurun waktu dua dasawarsa Gereja Katolik Singkawang mengalami paceklik pentahbisan gembala. Mempertimbangkan hal tersebut, umat yang begitu rindu pada sosok pemimpin imannya lantas bahu membahu menggelar pesta pentahbisan sekaligus penyambutan imam baru. Panggung hiburan yang bertempat di  halaman Gereja Katolik St Fransiskus Assisi Singkawang  digadang dipersiapkan untuk melepas masa bebas tiga calon imam menuju kehidupan pastoralnya. 
Berbagai keceriaan siap dikemas oleh panitia dari seksi acara dalam bentuk hiburan yang diberi tajuk Coffee Night dan Golden Memories Night. Acara hiburan yang rencananya akan dimulai pada pukul 19.00 Wib ini menampilkan kaum muda di garda depan sebagai pengisi acara. Selain itu giat panggung hiburan ini juga terbuka untuk dihadiri khalayak ramai. Dalam dua malam berturut-turut pada 21-22 Februari 2017, berbagai musisi di antaranya The Igna’s, E.B team, Vantak, One Goal, Jamlock, Abstrak, Crusty Crub, dan Crabie Petty akan menyuguhkan sajian musik dengan bermacam aliran ditambah performa tarian berbasis etnikkustik akan menggenapi perayaan malam menjelang pentabisan imam. Akhirnya, selamat berpesta menyambut para calon gembala. (Hes)



14 Sep 2016

Berbelas Kasih Seperti Bapa

Berbelas Kasih Seperti Bapa

 

Siang itu selesai melayani sakramen perminyakan orang sakit saya langsung kembali ke pastoran. Terik matahari yang tak kenal kompromi, membuat saya mempercepat langkah supaya segera tiba di rumah. Di halaman pastoran saya melihat rekan pastor sekomunitas baru saja memarkir mobilnya. 

“Ah kebetulan”, pikir saya dalam hati. “Saya harus menyampaikan berita ini kepada beliau karena yang baru saja saya layani adalah ‘pasien’nya”.  Saya membuat istilah pasien untuk menyebut orang sakit yang setiap bulan mendapat kunjungan dari saudara saya ini dan menerima komuni suci dari tangannya.

“Selamat siang, Pater”, sapa saya begitu sampai di dekatnya.

“Hei, selamat siang juga. Pastor dari mana?” tanyanya ramah kepada saya.

“Dari rumah sakit. Tadi ada permintaan pelayanan sakramen minyak suci. Oh ya Pater, barusan saya menerimakan sakramen orang sakit  kepada ‘pasien’ yang Pater layani dalam komuni suci,” kata saya sambil memberikan informasi kepadanya.

“Oh. Siapa kira-kira ya? Tahu namanya? Sekarang dia masih bisa menyambut komuni apa tidak? Di ruang apa dan nomor berapa ya?” deretan pertanyaan yang begitu banyak langsung ditujukan kepada saya.

“Mohon maaf Pater saya gak tanya namanya.  Saya pun gak ingat di ruang apa dan nomor berapa. Tapi dia pasti bisa menyambut komuni karena tadi masih bisa diajak bicara. Saya pun lupa mengantarkan komuni suci kepadanya.”

“Oh gak papa. Terimakasih informasinya ya,” jawabnya singkat.

Saya pun menjawabnya dengan anggukan kepala. Dengan langkah cepat, saudaraku ini langsung menuju kamarnya. Tak sampai hitungan menit, dia pun sudah keluar lagi dengan membawa piksis (sibori kecil tempat hosti kudus) di tangannya. Dan dia terus melangkah. Saya tahu arah yang akan ditujunya. Pasti akan segera ke rumah sakit untuk mengunjungi ‘pasien’nya dan menerimakan komuni suci kepadanya.

“Harus secepat itukah?” pikir saya penuh rasa heran dan kaget. “Bukankah beliau baru saja kembali dari stasi yang cukup jauh? Harusnya kan istirahat dan makan siang dulu (maklumlah beliau  hanya mau makan kalau di pastoran). Lagipula menerimakan komuni suci kan bisa ditunda sampai nanti sore atau besok”. Terbersit rasa bersalah juga dalam diri saya karena waktu yang tidak tepat menyampaikan berita ini kepadanya. Tetapi saya pun hanya diam dan terpaku. Tiba-tiba rasa haru membuncah dalam hati saya melihat saudaraku yang selalu siap melayani. Bahkan pelayanannya tidak setengah-setengah. Dia melayani sampai tuntas, walaupun tanpa ada pemintaan. Dia tahu apa yang harus dilakukannya.

Dalam ketenangan dan kesendirian saya mencoba merenungkan dan memaknai apa yang telah dilakukan oleh saudaraku ini. Sikap tanggapnya dan tanpa menunda-nunda waktu mengingatkan saya akan motto Tahun Kerahiman Ilahi yang sedang  dirayakan oleh dunia, Berbelas Kasih seperti Bapa. Dengan tindakannya yang sangat sederhana saudaraku ini telah menghidupi apa yang disampaikan oleh Bapa Suci, Paus Fransiskus dalam ajaran-ajarannya. Sikapnya yang selalu mau melayani menjadi bukti bagaimana dia mengambil tindakan nyata untuk memperlihatkan wajah Allah yang berbalas kasih itu kepada sesama.

Berulang kali Paus Fransiskus selalu mengingatkan agar Gereja berani meninggalkan ‘zona aman’ untuk pergi dan menjumpai manusia, terutama mereka yang lemah dan sakit. Gereja tidak boleh berdiam diri melihat penderitaan umat manusia. Mau tidak mau, Gereja harus hadir dan terlibat secara aktif dalam setiap kegembiraan dan kesedihan umat manusia. Dan siapa Gereja itu sebenarnya? Tidak lain adalah kita semua yang berhimpun dan percaya akan Yesus Kristus.

Inspirasi dari tindakan berbelas kasih ini adalah tindakan Allah sendiri. Dia yang tidak bisa berdiam diri untuk selalu mencintai umat manusia. Dialah Allah yang tidak tahan untuk tidak mencintai manusia. Meskipun berulang kali ditolak oleh manusia,  Dia tetap mendekati dan memanggil manusia untuk datang kepada-Nya. Keterbukaan hati Allah yang selalu siap menerima disimbolkan dengan pintu suci yang juga ada di paroki kita. Dan wajah belas kasih Bapa itu menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus. Dialah penampakan wajah Allah Bapa yang tidak kelihatan. Dia datang kepada umat manusia bukan untuk menghukum dan mengadili. Tetapi untuk merangkul dan menerima manusia, terlebih mereka yang sedang menderita sakit dan disingkirkan.

Seiring dengan sikap Allah yang berbelas kasih itulah, Bapa Suci mengajak Gereja untuk memperlihatkan wajah belas kasih Allah ini sehingga sebanyak mungkin orang bisa mengalami belas kasih-Nya. Sudah bukan zamannya lagi Gereja menghakimi dan menghukum orang lain. Tetapi Gereja harus berani membuka diri, menerima setiap orang yang datang sehingga Gereja sungguh-sungguh menjadi tempat di mana belas kasih Allah ini sungguh dialami. Dan sikap itu sudah dipraktekkan oleh saudara sekomunitasku. Dengan cara yang sangat sederhana tetapi sarat makna, dia sudah memberikan teladan bagaimana menerima manusia. Tanpa diminta dia telah menghantar “Tuhan Yesus” kepada ‘pasien’nya yang sedang menderita.

Terimakasih, Saudara. Anda telah menjadi inspirasi bagi kami bagaimana mewujudnyatakan belas kasih Allah dalam pelayanan konkrit tanpa mengenal waktu. Kapanpun dan dimanapun selalu siap melayani mereka yang menderita.(Gathot)


12 Sep 2016

Misdinar Singkawang Goes To Pontianak!

Misdinar Singkawang Goes To Pontianak!


(Minggu, 1 Mei 2016) Rombongan yang terdiri dari 65 peserta dan diikuti oleh beberapa pendamping dan orang tua berangkat ke Pontianak pada pukul 04.00 pagi dengan menggunakan bus. Sebelum pukul 04.00 peserta sudah berkumpul di gereja lengkap dengan peralatan yang mereka bawa seperti Rosario  dan peralatan pribadi lainnya. Saat itu sedang mati lampu dan hujan turun dengan lebatnya. Namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk pergi ke Pontianak demi memperingati Perayaan Ulang Tahun Misdinar Paroki Singkawang.

Acara ulang tahun ini merupakan acara tahunan dari Misdinar Paroki Singkawang dimana perayaannya sering dilaksanakan di pantai maupun di gereja dengan agenda rekreasi dan pemilihan kepengurusan yang baru. Namun tahun ini, perayaannya berbeda. Demi mencari suasana yang baru, Pengurus Misdinar 2015/2016 ingin merayakannya dengan berkunjung ke Katedral Pontianak, membuka Bulan Maria dengan berdoa Rosario bersama dan berkunjung ke Rumah Radakng. Tentunya tidak melewatkan tradisi wajib yaitu pemilihan pengurus baru 2016/2017.

Puji Tuhan, perjalanan sangat diberkati walaupun sempat diguyur hujan. Rombongan sampai di Katedral St Yosef Pontianak pada pukul 08.10 Wib dan mengikuti Perayaan Misa Kudus. Para anggota dan pendamping sangat antusias saat perayaan misa. Mereka terpukau dengan arsitektur Katedral dan ornamen-ornamen yang mewah. Hal yang sangat ditunggu-tunggu yaitu melihat para Misdinar yang bertugas saat itu. Setelah misa, para peserta tak ingin melewatkan momen untuk berfoto bersama di sekitaran altar maupun di sisi lain Katedral Pontianak. Kami tidak sempat untuk bertemu dengan Misdinar Katedral karena mereka mungkin sedang ada pertemuan rutin dan tentu kami tidak ingin mengganggu.

Setelah itu rombongan menuju ke Plaza Maria yang terletak di samping Katedral. Rombongan berdoa Rosario bersama yang dipimpin oleh Nicolas selaku Ketua Misdinar periode 2015/2016. Setelah berdoa Rosario, rombongan menuju ke took devosionalia Katedral dan membeli beberapa barang di sana.

Setelah mengunjungi Katedral dan membuka Bulan Maria bersama, rombongan langsung menuju ke Rumah Radakng. Di sinilah acara inti dilaksanakan. Sebelum memulai acara inti, para rombongan diijinkan untuk bersantai, berkeliling dan berfoto di sekitaran Rumah Radakng tersebut. Setelah itu acara dimulai dengan pemilihan King and Queen Misdinar yang dipilih oleh para peserta. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemilihan Pengurus Baru periode 2016/2017. Semua anggota Misdinar Singkawang, baik yang ikut ke Pontianak maupun yang tidak tetap harus memberikan suaranya. Hasil pemilihannya yaitu :

· Skolastika Winda Sinaga (60 Suara) (Ketua)
· Bonifacius Ivan Wiranata (14 Suara) (Wakil Ketua)
· Cinda Leo Morgan (11 Suara) (Sekretaris)

Setelah menerima hasil jumlah suara, para pengurus baru mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka. Setelah itu, ketua yang lama, Nicolas Gratia Gagasi tak lupa mengucapkan maaf dan terima kasih atas dukungan dan kerjasama dari semua anggota misdinar yang membantunya dan para penguruslainnya demi mewujudkan visi dan misi yang pernah disampaikan hingga semua tercapai. Jumlah pemilihan suara untuk ketua periode 2016/2017 meningkat pesat bila dibandingkan dengan pemilihan suara untuk ketua periode 2015/2016, hal ini menandakan bahwa terjadi peningkatan jumlah anggota di dalam Misdinar Paroki Singkawang.



Setelah pemilihan pengurus baru, acara dilanjutkan dengan bernyanyi dan bermain bersama. Begitu asyiknya, tak terasa waktu berjalan cepat. Acara dilanjutkan dengan tiup lilin ulang tahun misdinar dan pemberian penghargaan nominasi-nominasi kepada anggota yang terpilih.

· Nominasi Misdinar Paling Rajin diterima oleh Mechtildis, Bonifacius dan Georgia
· Nominasi King and Queen Misdinar diterima oleh Nicolas dan Skolastika
· Nominasi Misdinar Pemberi contoh diterima oleh Albert, Christoforus dan Georgia.

Untuk nominasi Misdinar paling rajin, pemilihannya berdasarkan pengamatan oleh para pengurus.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 17.00 sore. Sebelum berangkat pulang, rombongan masih sempat untuk mengambil foto bersama di depan Rumah Radakng. Terima kasih atas kerja keras para pengurus misdinar periode 2015/2016 dan sukses bagi para pengurus baru periode 2016/2017. Semoga dengan pengurus yang baru, Misdinar St Tarsisius Paroki Singkawang semakin giat dalam melayani gereja dan Tuhan, terus maju dan selalu memberi contoh yang baik bagi umat. Serve Him With Joyful Heart! Bergembira, layani Tuhan! (Nicolas Gratia Gagasi)


2 Jun 2015

NATAL PENUH WARNA BERSAMA USKUP DAN WALIKOTA

NATAL PENUH WARNA BERSAMA 
USKUP DAN WALIKOTA


            Suasana semarak dan hangat pagi itu benar-benar dirasakan warga paroki Singkawang, khususnya  di Gereja Santo Fransiskus Assisi. Wajar kiranya ketika Sang gembala umat yang baru diangkat sebagai Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Monsignor Agustinus Agus, berkenan memimpin misa perayaan natal di gereja yang beralamat di Jalan Diponegoro tersebut.  Sedari pagi warga telah menunjukkan antusiasnya. Hal ini tampak ketika lautan umat seperti tak terbendung memenuhi seluruh bangku baik yang tersedia di dalam gereja maupun bangku-bangku tambahan di luar gereja yang disiapkan oleh panitia. Dalam misa perdananya di Paroki Singkawang sebagai uskup, Monsignor Agus mengetengahkan homili bertema “Membina iman dalam keluarga.” Secara gamblang, beliau menggarisbawahi peran penting keluarga dalam tumbuh kembang iman Katolik yang akan berdampak bagi gereja. Di samping itu, Monsignor Agus juga mengingatkan kepada warga gereja agar tidak alergi terhadap pemerintah. Hal tersebut kiranya menjadi salah satu tolok kemajemukan umat Kristiani dalam bermasyarakat.
                Pada kesempatan yang sama, berselang beberapa saat setelah misa perdana sang uskup baru digelar, walikota Singkawang, Drs. H. Awang Ishak, M.Si  berkenan hadir memenuhi undangan gereja Katolik yang menggelar open house di lingkungan gereja. Dalam sambutannya yang disampaikan di mimbar , Awang Ishak mengucapkan selamat Natal dan tahun baru bagi seluruh warga Katolik di kota Singkawang. Beliau juga membahas beberapa hal yang esensial di antaranya perdamaian di tengah perbedaan keyakinan yang tidak perlu dijadikan  jurang pemisah karena kita semua berasal dari nenek moyang yang sama, Adam dan Hawa. Masih dalam sambutannya, beliau juga mengetengahkan tentang pembangunan infrastruktur kota Singkawang yang dapat dinikmati oleh seluruh warga kota Singkawang tanpa terkecuali. (Hes)            

9 Jun 2017

Dengan Iman Kristiani, Cermat dalam Mengolah Isu Sara

Dengan Iman Kristiani, Cermat dalam Mengolah Isu Sara


Palu hakim telah diketuk dengan vonis 2 tahun penjara untuk Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Namun drama itu belum berakhir. Di berbagai kota di Indonesia muncul aksi lanjutan sebagai bentuk ekspresi masyarakat terhadap putusan atas Ahok. Kekhawatiran munculnya efek domino negatif di berbagai daerah seperti bom waktu yang siap meledak kapan pun. Akar rumput yang tidak kasat mata sudah mulai menimbulkan riak dan benih-benih konflik yang tidak bisa dianggap sepele. Apalagi dengan mudahnya akses media sosial dan informasi rawan untuk dijadikan alat provokasi. Tidak terkecuali di Kota Singkawang.

Lalu bagaimana pandangan Kristiani akan hal ini? Tanpa kita sadari ternyata kasus Ahok yang keberadaannya ribuan kilometer dari sini secara perlahan namun pasti mengangkat sentimen kita. Membuat kita ingin berpendapat dan tanpa disadari kita melakukannya. Bahkan kita mengadopsinya dalam lingkungan gereja. Apa yang dirasakan oleh Ahok seperti mewakili perasaan umat Kristiani di Indonesia. Dianggap kafir, minoritas dan menistakan agama yang notabene mayoritas. Tuduhan berlabel Suku Agama Ras dan Antorgolongan (SARA) disematkan padanya. Lalu perlukah dukungan gereja dan umat Kristen terhadap Ahok? 

Ketika kata ‘kafir’ yang memang ada di dalam kitab suci agama Islam diangkat di ranah publik kemudian diucapkan berkali-kali dan terus menerus, tentu saja melukai perasaan umat dengan agama yang berbeda. Begitu pula dengan kata ‘minoritas’ dan ‘mayoritas’. Saya sendiri merasa tidak ada kata ‘minoritas’ dan ‘mayoritas’ di negara ini. Sebab sejak dahulu sampai sekarang negara Indonesia terbentuk karena keberagaman, bukan karena ‘siapa yang lebih banyak’. Setiap orang dilindungi hak-hak hidup dan berpolitiknya. 

Semua orang mungkin tahu kalau Pilkada DKI telah dieksploitasi menjadi isu SARA demi keuntungan segelintir orang. Berdampak pada Gerakan Bela Islam hingga berjilid-jilid meminta Ahok dihukum. Lalu muncul pertanyaan perlukah ada dukungan khusus  buat Ahok sebagai penyeimbang Gerakan Bela Islam tersebut dari umat Kristiani?

Menurut saya, Gereja tidak perlu terpancing dalam polarisasi dukung mendukung. Tidak perlu melakukan aksi dan mengeluarkan pernyataan yang justru akan memunculkan masalah baru dan berakibat pada perpecahan di Singkawang. Mungkin kita perlu membuka lagi Tri Kerukunan Umat Beragama yang telah lama terlupakan dan menghayatinya kembali.

Sentimen-sentimen balasan akan aksi lilin yang marak diberbagai kota mulai sedikit terasa. Tentu saja pada akhirnya sayup terdengar kalimat minor yang dapat berubah menjadi pemicu aksi provokasi. Saat ini bangsa kita seperti sedang dirongrong menjelang seabad berdirinya Negeri Rayuan Pulau Kelapa. Terorisme dan aksi separatis tidak ada habisnya, korupsi merajarela dan narkoba menyebabkan kondisi negara darurat. Kenapa tidak berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat untuk semua daripada hanya mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan. Kalau kita ingat bagaimana negeri kita didirikan dengan darah nenek moyang kita sendiri, lalu apa harus kita hancurkan dengan perang saudara yang juga meneteskan darah kita dan keturunan kita? 

Seharusnya kita sudahi segala aksi tolak menolak dan dukung mendukung dengan kekerasan. Kita dapat menyelesaikan semuanya dengan musyawarah. Saling mendinginkan satu dengan yang lain. Palu telah diketuk, putusan telah dibacakan dan lilin-lilin sebagai gambaran ekspresi telah dinyalakan. Saatnya bersih-bersih dan kembali jaga keutuhan dan keberagaman.    

Gereja memandang bahwa bisa saja sikap dukung mendukung akan mudah dipolitisasi pihak lain dengan kekuatan media sosial lalu dibelokkan sesuai kepentingan kelompok tertentu yang tidak ingin Indonesia maju. Gereja harus lebih tenang, objektif, dan perbanyak jaringan dengan kelompok agama lain dan komunitas lain yang memiliki visi misi sama dalam menguatkan keutuhan NKRI.

Kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Tidak menjadi kelompok atau pribadi eksklusif yang tertutup dengan orang lain yang berbeda, tapi jadilah inklusif dan membangun jejaring sebanyak mungkin. Umat Kristen tidak perlu ikut-ikutan ke jalan, cukuplah kita berdoa. Kalau berdoa masuklah dalam kamar. Sejenak kita perlu diam dan hening supaya dapat menemukan yang sejati, pokok, inti dalam hidup dengan kepedulian dan kesederhanaan.

Menilik ke belakang, dalam beberapa kasus Gereja sering terbawa arus, terbawa isu SARA. Sebab itu Gereja sebaiknya tidak menghangatkan isu SARA, apalagi ikut merespon atau membalas media sosial yang tujuannya tidak baik dan melakukan aksi-aksi yang provokatif. Sebagai umat Gereja yang diajarkan untuk mengasihi dan mengampuni sesama, penting bagi kita menjaga netralitas ke-nabi-an Gereja bagi perkembangan demokrasi nasional. 

Semoga dengan netralitas Gereja kita tidak perlu masuk dalam ranah politik praktis dan mencampurnya dengan kehidupan gerejawi. Mari bersama kita jaga keutuhan dan kesatuan NKRI dengan kebhinekaan yang menjadi ciri khas kita dan toleransi antar umat beragama dalam iman Kristiani. (Sabar Panggabean)

30 Jun 2015

TENDA CINTA OMK DALAM KEMPING ROHANI

TENDA CINTA OMK DALAM KEMPING ROHANI

 


Momen pertama 13 Mei 2015, langkah kaki kompak penuh semangat menuju gereja Paroki St. Fransiskus Asisi Singkawang dengan penuh suka cita. Tepat pukul 15.00 Wib, semua anggota Orang Muda Katolik (OMK) yang hadir untuk mengikuti  Kemping Rohani bersiap-siap untuk berangkat ke Pantai Cemara (Fa Jie Land). Suasana menjadi sunyi ketika Pastor Gathot  memimpin doa sebelum keberangkatan, namun di balik kesunyian tersebut tersemat senyum semangat dan hati penuh harapan dari setiap titik aura yang berdoa. Setelah berdoa kami pun berkonvoi menuju ‘pantai OMK penuh harapan’, ucap salah satu anggota OMK yang antusias untuk segera sampai ke tempat tujuan.

Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 45 menit dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam, maka tiba saatnya rombongan OMK menderai tawa dan semangat untuk menikmati suasana pantai. Banyak acara yang telah disiapkan oleh panitia, setelah bersenang-senang dengan beberapa permainan yang digagas oleh panitia. Tepat pukul 18.00 Wib teman-teman OMK bergegas untuk mandi dan makan bersama. Seusai makan, tiba saatnya a melanjutkan permainan yang dipandu oleh Bruder Flavianus MTB, Frater Ferdinand OFMCap, Trifonia Tili, Yudhistira dan Santo Satriawan.

Acara Kemping Rohani tersebut membuka cakrawala OMK untuk tersenyum hangat melihat gereja-Nya penuh sukacita karena Kasih Persaudaraan, terbukti malam itu cuaca sangat mendukung dan bersahabat. Senyum dan kehangatan melawat setiap pribadi yang mengikuti permainan tersebut. Tawa suka-cita terpancar saat mata saling bertatapan menyapa antara satu dan lainnya dalam permainan ‘Mengungkapkan Cinta’ dan masih banyak lagi permainan yang tidak kalah serunya. Memang perlu kita sadari bahwa begitu besar dan kuat peran semangat  OMK untuk membangun Gereja yang pasif menjadi aktif. Kekompakan dan semangat tersebut dapat kita lihat dari peran OMK dalam liturgi gereja maupun kegiatan-kegiatan lain yang mendukung aktifnya gereja. Kini OMK bukan hanya membangun semangat  dalam gereja (bangunan secara fisik) tapi di luar dan lapangan terbuka pun OMK membuktikan bisa membangun gereja (anak Allah/umat Allah) yang aktif. Setelah acara permainan selesai, tepat pukul 24.00 WIB semua diwajibkan masuk ke dalam tenda untuk istirahat.

Momen kedua 14 Mei 2015 juga menjadi sejarah bagi OMK karena hari ini akan ada pemilihan ketua OMK yang baru. Pukul 04.00 WIB semua OMK membuka mata dan hatinya untuk bersiap-siap mandi dan merayakan Misa Ekaristi Kenaikan Yesus Kristus yang di pimpin oleh Pastor Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap. Dalam suasana misa di alam terbuka tepatnya di pinggir pantai, OMK dapat melihat dan merasakan sosok seorang pastor paroki yang familiar dan penuh hangat kedamaian yang kerap disapa Pastor Gathot dan seorang frater yang tidak asing lagi dengan penampilan dan gaya kocaknya, Frater Ferdinand OFMCap serta Bruder Flavianus MTB yang selalu tampak ceria menjadi inspirator dan motivator bagi kaum muda untuk selalu semangat dalam berkarya dan bertindak demi gereja tercinta.

Mudah-mudahan ada OMK yang terpanggil mengikuti jejak dalam kehidupan membiara. Selesai misa dan makan pagi tampak kegembiraan OMK muncul ketika sesi permainan dimulai kembali, “Saat itulah kami mulai saling mengenal antara satu dan yang lainnya dan membangun keakraban,” komentar salah satu anggota OMK dari Stasi Sagatani saat diwawancarai.

Sekitar 40’an OMK menggegapgempitakan semangat muda untuk bersama-sama saling menyemangati dan mengenal saudara seiman yang dihadiri oleh beberapa OMK dari berbagai Kring dan Stasi antara lain Stasi Sagatani, Sijangkung, Roban serta OMK dari pusat Paroki St. Fransiskus Asisi Singkawang sendiri. Setelah bersenang-senang, kini saatnya dilangsungkan pemilihan Ketua OMK Paroki St. Fransiskus Asisi Singkawang yang baru, menggantikan Saudari Tili. Pemilihan dimulai dengan kandidat yang telah dipilih menjadi calon ketua OMK dan akhirnya nama Ayu terpilih menjadi pemenang dalam pemilihan demokrasi OMK. Terima kasih kepada Trifonia Tili yang sudah berkarya baik untuk membangun organisasi OMK selama tiga tahun silam. Sungguh momen dan sejarah yang tak bisa dilupakan. Semoga semangat dan persatuan persaudaraan dan Cinta Orang Muda Katolik selalu hidup dan menjadi citra yang baik untuk gereja dan lingkungan masyarakat. Amin. Selamat kepada Ayu. Selamat berkarya. Salam OMK! (SS)

4 Jun 2017

Pelantikan Pengurus PWK Santa Monika Singkawang Periode 2017-2020

Pelantikan Pengurus PWK Santa Monika Singkawang Periode 2017-2020



Minggu, 2 April 2017. Misa di Gereja Katolik St Fransiskus Assisi Singkawang digelar seperti biasa, dua kali, misa pertama pada pukul 6 dan misa ke dua pukul 8. Namun ada yang berbeda pada misa ke dua. Dalam prosesi misa diselipkan pelantikan para pengurus baru Warakawuri Santa Monica yang berdiri sejak 2014. 

Pergantian kepengurusan kali ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan para penggagasnya pada awal terbentuk perkumpulan single parent region Singkawang yang dapat dikatakan mengabdikan paruh waktunya bagi pelayanan terhadap gereja. Berikut adalah jajaran pengurusnya yang baru: 

Ketua: Emiliana Karsiyah
Wakil ketua: Agustina Swarni
Sekretaris: Marsiana
Bendahara: Veronika Agustina
Seksi Kerohanian: Suryati
Seksi sosial: Maria Yohana
Akomodasi: Yuliana Fan
Moderator: Pastor Stephanus Gathot Purtomo, OFM.Cap.
Pendamping: Bruder Gregorius Petrus Boedi Sapto Noegrogo, MTB.
Penasihat: Teresia Istiarti

Pergantian dan pelantikan kepengurusan ini dilakukan dan dipimpin oleh Herkulana Louis Blaise, S.H., selaku Ketua PWK Katolik Santa Monika Keuskupan Agung Pontianak. Dalam rangkaian acara pelantikan ini para pengurus mengucapkan janji untuk bersedia mengambil bagian berkarya dalam rumah Tuhan di bawah payung PWK Santa Monika, usai janji diucapkan dan seluruh berkas ditandatangan, maka segenap pengurus diberkati oleh pastor paroki Singkawang. 

Ditemui usai misa dalam acara ramah tamah, wanita cantik paruh baya Ketua PWK Keuskupan Agung Pontianak ini  mengapresiasi jalannya pelantikan yang berlangsung lancar. Beliau juga menuturkan harapannya berkenaan dengan para pengurus PWK Singkawang yang baru, “Semoga kepengurusan yang baru ini dapat melayani umat terutama sesama anggota Santa Monika di wilayah Kota Singkawang sendiri dan mengedepankan pelayanan untuk gereja,” pungkasnya.

Senada dengan pernyataan Ketua PWK Keuskupan Agung Pontianak, ketua PWK Singkawang yang baru dilantik pun menggarisbawahi hal serupa, “Program kerja kami sederhana, tidak muluk-muluk, yang terpenting doa, rekoleksi, dan berbuat apa yang kami sanggup lakukan yang terbaik untuk gereja, melayani dengan membantu kegiatan-kegiatan sosial yang bersentuhan langsung dengan gereja.”   

Adapun pergantian kepengurusan ini menjabat hingga tiga tahun ke depan yakni periode 2017-2020. Akhirnya selamat bekerja dan berkarya bagi pengurus PWK Santa Monika Singkawang yang baru. Berkat Tuhan selalu menyertai. (Hes)

 

31 Mei 2017

SEJARAH BULAN MEI DAN OKTOBER SEBAGAI BULAN MARIA

SEJARAH BULAN MEI DAN OKTOBER SEBAGAI BULAN MARIA

Bulan Mei

Secara tradisi, Gereja Katolik mendedikasikan bulan- bulan tertentu untuk devosi tertentu. Bulan Mei yang sering dikaitkan dengan permulaan kehidupan, karena pada bulan Mei di negara- negara empat musim mengalami musim semi atau musim kembang. Maka bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi Hawa yang Baru. Hawa sendiri artinya adalah ibu dari semua yang hidup, “mother of all the living” (Kej 3:20). Devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktek ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian menyebar ke seluruh Gereja.
Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Demikianlah devosi kepada Bunda Maria semakin dikenal, dan ketika Paus Pius IX mengumumkan dogma “Immaculate Conception/ Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda” pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja universal.
Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, the Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1)

Bulan Oktober

Sedangkan penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan peristiwa yang terjadi 3 abad sebelumnya, yaitu ketika terjadi pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen. Terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto (teluk Korintus). Dalam pertempuran ini pada awalnya tentara Kristen sempat kalah. Tetapi kemudian mereka berhasil membalikkan keadaan hingga akhirnya berhasil‎ menang.. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemenangan ini memiliki arti penting karena sejak kekalahan Turki di Lepanto, pasukan Turki tidak melanjutkan usaha menguasai Eropa. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.
Demikianlah sekilas mengenai mengapa bulan Mei dan Oktober dikhususkan sebagai bulan Maria. Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman.
Amanat dari Peristiwa Lepanto Battle
Bunda Maria, "terbukti" telah menyertai Gereja dan umat beriman melalui doa Sang Bunda kepada Tuhan Yesus untuk menyertai kita yang berziarah di dunia ini. Tuhan Yesus Kristus telah menyerahkan Bunda Maria, ibuNya yang amat terberkati kepada Santo Yohanes, dan Santo Yohanes menjadi "anak" Sang Bunda (Yoh 19 : 26 - 27 , Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu !" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.). Tentu pesan Tuhan Yesus ini, yang memberikan ibuNya kepada Santo Yohanes, tidak terbatas kepada Santo Yohanes, tentu juga Tuhan Yesus menyerahkan ibuNya bagi kita semua, untuk mendampingi, menyertai, dan mendoakan kita. Bunda Maria memainkan peranan penting sebagai "agen" karya keselamatan Yesus Kristus.
Sumber: www.katolisitas.org




16 Sep 2016

Kaum Berkerudung di Sekitar Altar Tuhan

Kaum Berkerudung di Sekitar Altar Tuhan

“Mari ber-mantilla bagi Tuhan!” Begitulah seruan kami anak-anak Misdinar St. Tarsisius Paroki Singkwang demi mengajak Anda terutama para wanita Katolik untuk berpakaian sopan dan sederhana serta memakai atau membangkitkan kembali ‘tradisi tua’ dalam Gereja Katolik ini. Usaha sosialisasi ini kami awali dengan menghadap Bapa Uskup untuk mendapatkan izin, lalu dilanjutkan dengan membuat foto dan video project yang kami unggah ke laman Instagram kami @ppasttarsisiusskw dan laman youtube kami, Misdinar St. Tarsisius Singkawang. Tentu ini mendapat respon yang menyenangkan, baik dari umat Paroki Singkawang maupun umat dari berbagai pulau seberang. Sering sekali kami melihat baik wanita maupun pria Katolik ketika menghadiri misa menggunakan pakaian yang tidak pantas. Hal ini sangat perlu untuk diperhatikan karena secara khusus apa yang kita kenakan ketika menghadap Allah, tidak lagi memberikan kesan bahwa Allah hadir di tengah-tengah kita. Namun, ada juga umat yang pergi misa walaupun memakai pakaian yang pantas, tetapi hati dan pikirannya melayang jauh dari misa kudus. Misa akhirnya tampak tidak lagi berbeda seperti acara-acara sosial lainnya. Akibatnya, perayaan Ekaristi menjadi kehilangan maknanya sebagai misteri yang kudus dan agung.

Mungkin kebanyakan orang tidak mengetahui apa itu mantilla atau mungkin ada tanggapan dari orang “Ngapain sih ikut-ikutan agama sebelah pakai kerudung segala?” Ups, jangan berpikiran sempit! Mantilla adalah kerudung atau tudung kepala yang dipakai oleh wanita Katolik saat akan menghadiri perayaan Ekaristi kudus yang terbuat dari bahan brokat yang ringan. Tradisi ini sudah cukup lama ada dalam gereja kita dan mempunyai julukan “Kerudung mempelai Kristus” dimana kita memakainya hanya saat Misa. Jadi, kerudung tidak hanya milik saudara-saudara kita umat Muslim, tetapi di dalam gereja kita cukup mengenal dekat dengan tudung kepala yang satu ini. Kerudung Misa merupakan salah satu bahkan mungkin satu-satunya devosi yang sangat spesifik untuk perempuan. Berkerudung Misa adalah sebuah kehormatan bagi para perempuan dan ini memampukan mereka untuk  memuliakan Allah dengan seluruh keperempuanan mereka serta dengan cara-cara yang khas dan feminin. Kerudung Misa adalah tradisi tua, tradisi kuno yang indah, dan ia menunjukkan nilai dan pentingnya wanita. Itu bukan alat untuk merendahkan wanita atau mengecilkan mereka; itu adalah sebuah kehormatan.

Pemakaian mantilla sendiri pernah diwajibkan oleh Gereja Katolik dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK tahun 1262).Namun setelah direvisi dalam Konsili Vatikan ke II, mantilla pun akhirnya tidak diwajibkan pemakaiannya namun tidak melarang bagi umat yang hendak memakainya (dianjurkan). Sehingga masih ada umat di beberapa belahan dunia  yang masih memegang dan mempertahankan tradisi ini. Kerudung Misa adalah alat devosi pribadi yang dapat membantu kita lebih dekat dengan Yesus dan sebagai tanda ketaatan dan tanda memuliakan TUHAN.Wanita yang memakai kerudung Misa, mengingatkan kita semua bahwa Ekaristi bukanlah pertemuan sosial biasa, bukan acara untuk ramah tamah terhadap sesama kenalan kita. Mantilla tidak hanya dipakai oleh Putri Altar saat bertugas, tetapi juga bisa dipakai oleh wanita Katolik lainnya.
 
Penggunaan mantilla terus berkembang seiring masuknya perayaan Misa Formaekstraordinaria (Misa Latin) di tanah air. Dalam misa tersebut, para wanita diharuskan memakai mantilla, sedangkan dalam misa yang sering kita rayakan ini, tidak ada kewajiban penggunaannya namun sangat dianjurkan bagi kaum hawa. Karena tradisi ini dipandang sangat baik dan tidak bertentangan dengan nilai iman sejati, maka tradisi ini pun mulai dibangkitkan kembali kepada umat Katolik di Indonesia. Namun Yesus adalah Yesus yang sama, maka mantilla bisa dipakai dalam misa apapun, tidak terbatas dalam misa latin saja melainkan bisa juga di dalam misa biasa yang sering kita rayakan di gereja. Wanita yang menudungi kepalanya, secara simbolis menyampaikan pesan berharga kepada para lelaki: ‘tubuhku adalah bait Allah yang kudus, karenanya perlakukanlah tubuhku dengan rasa hormat yang besar. Tubuh dan kecantikanku bukanlah objek yang bertujuan memuaskan hasrat yang tidak teratur yang ada pada dirimu. Aku adalah citra Allah, oleh karena itu hormatilah dan hargailah aku.’ Kerudung Misa mengingatkan pria akan perannya sebagai penjaga kesucian, seperti St Yosef yang selalu melindungi dan menjaga Bunda kita, Perawan Maria. Dengan demikian, Allah dapat kita muliakan dengan cara menghormati dan melindungi keindahan dan keagungan martabat wanita. 

Menggunakan kerudung juga merupakan suatu cara untuk meneladani Maria, dialah yang menjadi role model (panutan) bagi seluruh wanita. Bunda Maria, Sang Bejana Kehidupan, yang menyetujui untuk membawa kehidupan Kristus ke dunia, selalu digambarkan dengan sebuah kerudung di kepalanya. Seperti Bunda Maria, wanita telah diberikan keistimewaan yang kudus dengan menjadi bejana kehidupan bagi kehidupan-kehidupan baru di dunia. Oleh karena itu, wanita mengerudungi dirinya sendiri dalam Misa, sebagai cara untuk menunjukkan kehormatan mereka karena keistimewaan mereka yang kudus dan unik tersebut.

Pemakaian mantilla memiliki dasar bibliah yaitu terdapat di dalam 1 Korintus 11:3-16;“Pertimbangkanlah sendiri: patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya” “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.”Ayat inilah yang menjadi salah satu dasar sosialisasi penggunaan kembali mantilla juga alasan dari umat yang mempertahankan tradisi ini. Paulus dalam suratnya tersebut sebenarnya ingin menegur cara berpakaian Jemaat di Korintus mengenai pakaian saat di gereja dan budaya yang sedang berkembang di sana pada saat itu, dimana wanita yang tidak menudungi kepalanya akan dicap sebagai ‘wanita nakal’ dan ‘orang-orang yang tidak ber-Tuhan.’ Namun, tidak ada salahnya bukan jika tradisi kuno yang indah ini kita gunakan kembali dalam Perayaan Ekaristi?

Seorang wanita yang berkerudung Misa pada dasarnya sedang menunjukan eksistensi Allah. Sebuah tanda kerendahan hati seorang wanita, yang ingin menudungi mahkotanya (rambut) di hadapan Allah. Karena ia tidak berkerudung di tempat lain, ia hanya berkerudung di hadirat Sakramen Maha Kudus. Seperti halnya Tabernakel (Kemah Roti/lemari yang berisi Hosti Kudus) yang menjadi pusat di dalam gereja kita. Jika di dalam Tabernakel tersebut berisi Hosti yang sudah dikonsekrasi, tentu akan diselubungi dengan kain. Selain itu, jika Sibori yang di dalamnya terdapat hosti kudus, akan selalu diselubungi dengan kain yang menandakan bahwa ada Tubuh Tuhan di dalamnya. Piala yang berisi Darah Kristus, akan ditudungi dengan kain. Meja Altar ditutupi kain (kecuali saat perayaan Jumat Agung, dimana Hosti Kudus tidak ditempatkan dalam Tabernakel di gereja). Begitu juga bagi perempuan yang menudungi dirinya dengan tudung kepala saat Misa. Ia menunjukan hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, yang hadir dalam Perayaan Ekaristi. Jadi kerudung Misa adalah tanda yang paling jelas bahwa ada sesuatu yang spesial, indah, dan kudus yang sedang terjadi di tempat itu, yaitu tanda bahwa Allah sungguh-sungguh hadir!



Sebenarnya, menudungi hati dan kepala dengan mantilla tidaklah menyembunyikan kecantikan seorang perempuan, melainkan memancarkannya dengan cara yang istimewa dan penuh kerendahan hati, seperti halnya dengan para ciptaan kudus lainnya dari Allah yang menudungi kepala mereka (St Perawan Maria, St Bernadete, St Theresia dari Lisieux, Bunda Theresa, biarawati yang menjadi Santa, dll). Tetapi, bermantilla merupakan ekspresi iman bukan sekedar fashion kekinian.

Banyak wanita yang benar-benar telah menudungi hati, pikiran dan kepala mereka saat misa, merasakan damai, beban duniawi terasa pergi menjauh, ketenangan dan cinta yang lebih besar dan lebih mendalam kepada Tuhan. Mereka merasakan suatu kebebasan dimana mereka bisa menghayati dan lebih fokus pada Perayaan Ekaristi. Memang terkadang pikiran kita saat misa suka melenceng kemana-mana: apakah saya harus pergi ke supermarket, jemuran sudah kering atau belum, menu apa yang ingin saya masak saat makan siang? Tetapi, ketika Anda masuk ke gereja dengan berkerudung, itu bagaikan suatu petunjuk untuk berhenti. Semua pikiran itu harus disingkirkan dan Anda harus memberikan seluruh perhatian Anda kepada Tuhan. Ada sebuah keheningan dalam jiwa saat kita mengenakan kerudung Misa. Kerudung itu menarik kita kepada Yesus. Kerudung menarik kita ke dalam suasana doa. Ia membuat kita ingin menjadi kudus. Ia menarik kita kepada apa yang berada jauh di dalam diri kita, sebuah inti feminim yang dimiliki oleh para wanita.

Jika seandainya Anda adalah seorang wanita yang memakai mantillamu saat misa, dan Anda menjadi takut dan malu karena dilihat, dicibir bahkan ditegur oleh orang banyak di dalam gereja karena dianggap ikut-ikutan agama lain, INGATLAH! Bahwa apa yang mereka katakan bukanlah tujuanmu sama sekali. Kamu harus tahu, siapa yang ingin kamu lihat di gereja. Kamu datang bukan untuk melihat orang-orang itu. Tetapi kamu datang untuk melihat Tuhan! Anda tidak perlu peduli dengan apa yang orang pikirkan, tetapi Anda harus peduli pada apa yang Tuhan pikirkan tentang dirimu. Tetaplah fokus pada cinta dan keimananmu kepada Tuhan. Ini bukan tentang, “Hei, lihat saya! Saya lebih suci daripada kamu!” Tidak!. Ini adalah tentang saya menunjukkan penghormatan, ketundukan, dan cinta kepada Yesus. Itulah tujuannya!

Memang benar, memakai mantilla saat Misa memerlukan pertimbangan dan  kesiapan batin yang begitu mendalam. Tetapi, hal itu merupakan langkah awal yang bagus dengan memaknai maksud dan arti dari mantilla itu sendiri. Kami Misdinar St Tarsisius mendoakan Anda semua semoga suatu saat dapat menemukan keberanian untuk memakainya dan menikmati kasih Tuhan lebih mendalam lagi. Dan terus ikuti perkembangan sosialisasi ini dengan mem-follow laman instagram kami di @ppasttarsisiusskw. Ayo bermantilla bagi Tuhan! (Nicolas Gratia Gagasi)