Selamat Datang Di Website Resmi Paroki Singkawang - Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

7 Jul 2015

MENJADI EKARISTI BAGI SESAMA

MENJADI EKARISTI BAGI SESAMA

 

 


Kepada setiap anak sekolah yang hadir dalam pesta perpisahan kelas, dibagikan nasi kotak untuk santap siang bersama. Begitu selesai doa makan, setiap anak langsung ‘sibuk’ dengan nasi kotaknya. Masing-masing mulai menyantap nasi yang sudah ada di tangannya. Tetapi tidak demikian halnya dengan seorang bocah yang dari tadi hanya memegang nasi kotaknya dan memandangi teman-temannya. Tatapannya kosong. Seorang ibu guru mendekatinya dan bertanya, “Mengapa Putri tidak makan? Putri sudah kenyang ya?”. Anak yang dipanggil Putri itu hanya menggelengkan kepala.

“Lalu kenapa nasi kotaknya tidak dibuka? Atau jangan-jangan Putri gak suka dengan menunya?” tanya ibu guru sekali lagi.

Sambil terbata-bata Putri pun menjawab, “Tadi sebelum berangkat ke sekolah, mama terbaring karena sakit. Nasi kotak ini mau Putri berikan pada mama supaya mama cepat sembuh”. Putri, seorang bocah kecil, mau berbagi dengan mamanya yang sedang sakit.

Kerelaan untuk berbagi. Itulah salah satu pesan yang sangat kuat dari perayaan Ekaristi yang diwariskan oleh Tuhan Yesus kepada kita.  Kalau kita renungkan seluruh hidup Yesus sendiri sebenarnya merupakan ungkapan hidup Allah yang mau dibagikan kepada manusia. Pemberian diri Allah itu mencapai puncaknya dalam peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya. Kita menyebutnya sebagai peristiwa Paskah. Pesta Paskah inilah yang selalu kita rayakan dalam Ekaristi. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, sebenarnya kita mengenangkan dan menghadirkan kembali pemberian diri Allah. Memang yang kita hadirkan bukan lagi peristiwa di Golgota di mana Yesus disalibkan kembali sebab wafat Yesus berlaku satu kali untuk selamanya. Tetapi kita menghadirkan pemberian diri Allah secara simbolis sebagaimana nampak dalam rupa roti dan anggur.

Pemberian diri Allah ini ditegaskan oleh Yesus dengan kata-kata-Nya sendiri. ‘Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagimu.’ Kata tubuh dan darah bukanlah dimengerti dalam pemahaman sehari-hari. Bukan merupakan salah satu organ dari anggota badan manusia, seperti tulang, otot, rambut, kuku dsb. Yang Yesus maksudkan dengan kata tubuh dan darah adalah diri-Nya yang utuh, yang mau dibagikan kepada kita. Yesus mau membagikan hidup ilahi-Nya supaya kita mengambil bagian dalam hidup Allah sehingga kita pun memperoleh kehidupan. Secara simbolis pemberian diri Tuhan itu juga nampak dalam ritus roti yang dipecah-pecah dan anggur yang dicurah.

Nah, pemberian diri Allah yang terjadi dalam Ekaristi menjadi undangan bagi kita untuk juga memberikan diri kepada sesama dalam arti yang luas. Setelah menerima anugerah dari Allah sendiri, logikanya kita pun hendaknya menjadi berkat bagi sesama. Allah dan berkat-Nya yang kita terima bukan kita simpan untuk diri sendiri. Kita tidak boleh egois. Seturut teladan Yesus, kita juga diundang untuk saling berbagi supaya orang lain pun mengalami hidup. Dalam ritus perayaan Ekaristi tugas ini disampaikan oleh imam setelah memberikan berkat: Marilah pergi! Kita diutus! Diutus untuk apa? Untuk membagikan berkat kepada sesama.

Dengan demikian perayaan Ekaristi bukan hanya kesalehan individual. Juga bukan hanya sekedar acara ritual yang berhenti di gereja. Ekaristi harus bersambung dalam hidup sehari-hari. Ekaristi mendorong kita untuk membagikan diri dalam kasih kepada orang lain. Bila kita menghayati demikian maka kita bukan hanya sekedar merayakan Ekaristi. Tetapi kita sudah menjadi Ekaristi itu sendiri. Selamat menjadi Ekaristi bagi sesama. (Gathot)

MADAH SURGA DARI KOOR CAECILIA

MADAH SURGA DARI KOOR CAECILIA

 


Minggu, 5 Juli 2015

Pagi itu wajah-wajah asing namun terkesan menyejukkan dari dua puluh lima orang muda berkostum kuning cerah memenuhi bangku-bangku terdepan di sayap kanan  Gereja katolik St. Fransiskus Asissi Singkawang. Kehadiran mereka sempat menculik perhatian umat yang hadir serta menimbulkan tanya dan terka siapa gerangan mereka. Namun semua lantas menjadi begitu terang saat membaca tulisan di bagian belakang seragam yang mereka kenakan. Ya, mereka adalah sekelompok orang muda dari kelompok Koor Caecilia, asal Paroki Gembala Baik, Pontianak.



Semarak kehadiran mereka ternyata membawa misi mulia, menjadi bagian pelayan misa dalam melambungkan madah surga. Kelompok orang muda yang bertalenta dalam hal tarik suara ini sukses mencengangkan umat di perayaan misa. Dengan garapan aransemen musik bernuansa oriental, mereka berhasil meremangkan rambut-rambut  tengkuk para pendengar.

Merdu dan memukau. Itulah kesan yang timbul kala pemazmur yang dengan gayanya yang khas anak muda, mangkus menyita perhatian seluruh umat di gereja kala melantunkan pujian. Lembut dan terampil ketika lentik jemari pemain organ menari di atas tuts, teliti serta teratur manakala tiga violin menggesek dawai mengikuti alur partitur, gemulai alunan tangan sang dirigen mampu memandu suara-suara merdu hingga menjadi kesatuan yang padu.

Eksistensi mereka pagi itu sungguh menghidupkan Ekaristi sehingga menjadi semakin berarti.



Di akhir misa sebelum sampai pada berkat penutup, Pastor Gathot yang pada pagi itu memimpin misa, memberikan kesempatan bagi pemimpin  koor yang dalam hal ini diwakili Sdr. Herman untuk menyampaikan sambutan.

“Kami dari Koor Caecilia, Paroki Gembala Baik, Pontianak, mengucapkan terima kasih kepada warga Paroki Singkawang, khususnya Gereja St. Fransiskus Asissi yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengiringi misa hari ini. Ayo anak muda, Tuhan memanggil kita untuk terlibat dalam kegiatan gereja.  Jangan ragu mengisi panggilan itu,” ujarnya yang lantas disambut tepuk tangan meriah dari umat yang hadir dalam  perayaan misa. (Hes)



REKREASI PUTRA PUTRI ALTAR

REKREASI PUTRA PUTRI ALTAR

Beberapa bulan yang lalu, kami, Putra-Putri Altar Paroki Singkawang mengadakan perayaan ulang tahun yang ke-30. Awalnya, kami akan merayakannya pada tanggal 12 April 2015. Tapi karena berhalangan, kami menundanya hingga tanggal 26 April 2015. Kami ingin membuat acara yang menyenangkan dan santai, jadi kami memilih lokasi Pantai Pasir Panjang. Kami pun mulai mempersiapkan segalanya. Kami mulai membentuk panitia yang menyiapkan transportasi, konsumsi, dan juga games. Tak lupa kami menyiapkan hadiah bagi tim yang terbaik, terheboh, dan yang terkompak. Berkaitan dengan pendanaan, kami sungguh berterimakasih atas bantuan dari Paroki Singkawang. Kami juga menambahnya dengan uang kas dan uang parkir, sehingga dana yang tersedia lebih dari cukup. 



Tibalah pada hari yang kami tunggu-tunggu. Jumlah peserta yang ikut ditambah dengan panitia dan pembina sekitar 75 orang. Kami berkumpul di Gereja setelah misa kedua. Setelah mengabsen dan berdoa, kami pun berangkat kira-kira pukul 10.15. Kami tibai di sana sekitar pukul 11.00. Setibanya di sana, kami makan siang dan memberi waktu bebas bagi peserta. Kami, panitia, mulai mempersiapkan mainan dan hukuman. Pukul 14.00, kami memulai permainan. Ada 4 jenis permainan yang kami siapkan. Opposite, baskom berjalan, mencari teman, dan mencari pasangan. Permainan berlangsung sangat seru dan heboh. Bagi yang kalah, kami menghukumnya dengan mengoleskan cairan warna-warni dan menyiram mereka dengan air. Kami semua sangat menikmatinya. Setelah permainan selesai, kami pun mandi dan berganti pakaian. Lalu kami pun pulang ke Singkawang. Kami tiba di Gereja pada pukul 17.30. Benar-benar hari yang menyenangkan. (Clarissa Nathania) 



6 Jul 2015

PUISI : UDARA

UDARA
 
Udara…
Kau begitu sederhana, istimewa mengagumkan dan memesonakan
Walau kau tak berupa, tak berbentuk, tak berwarna dan tak bercita rasa
Tapi…tanpa engkau, pepohonan akan merunduk layu, margasatwa dan ikan-ikan akan menggelepar mati dan manusia akan megap-megap kehabisan nafas.
Bumi akan menjadi padang kuburan masal

Udara…
Kau selalu hadir kapan saja dan di manapun
Sebagai angin sepoi-sepoi ataupun sebagai angin badai
Kau kembangkan layar-layar perahu para nelayan
Kau menghantarkan gelombang bunyi suara ombak di tepi pantai
Burung berkicauterdengar merdu indah bagaikan balada malaikat memuji Sang Pencipta.
Kau menyambung bahasa cinta yang membahagiakan
Kau membantu menguapkan air ke langit bagaikan proses kehidupan
Kau menyegarkan badan dan jiwa manusia.

Udara…
Kau mengusap wajahku di kala pagi
Menyentuh pori-pori tubuhku, masuk ke relung-relung dadaku
Kurasakan belaiannya yang lembut dan halus.
Dalam keheningan, ketenangan, dan kedamaian.
Yang membawa dan menghantar betapa menakjubkan manfaat dan daya kehidupan darimu oh…udara.


                   Buah karya Sr. Maria Magdalena OSCCap (Biara Providentia Singkawang)    

BPK BERGURU PADA KEBIJAKSANAAN ALAM "PANCURAN AIR"

BPK BERGURU PADA KEBIJAKSANAAN ALAM

PANCURAN AIR

 

Saat sang mentari muncul di ufuk timur menyambut fajar, Pak Togar sang petani, dengan langkah tegap menuju ke sawahnya. Dengan segenap tenaga, dia mengayunkan cangkul, mengolah sawah menyongsong musim tanam yang segera tiba.

Keringat mengucur membasahi sekujur tubuhnya. Dan tak terasa matahari mulai bergeser ketengah, maka Pak Togar berjalan menuju pancuran bambu yang berada di pinggir sungai  tak  jauh dari sawahnya. Sambil melepas rasa lelahnya, Pak Togar duduk di bawah pohon sambil melinting rokok yang sudah dibumbui cengkeh kesukaannya dan mulailah Pak Togar menghisap rokok kretek buatannya sendiri. Kepulan asap keluar dari mulutnya, tetapi matanya begitu tajam menatap air pancuran, seakan ada sesuatu yang istimewa yang datang dari pancuran bambu tersebut.

Pak Togar begitu terkejut ketika disapa oleh temannya Pak Iman yang juga bermaksud mandi untuk membersihkan diri dan menikmati kesegaran air pancuran tersebut.
“Hai kawan, mengapa tidak segera mandi, malah duduk melamun!”, katanya menghardik Pak Togar yang lagi asyik memandangi pancuran bambu tersebut.

 “Aku tidak melamun, kawan. Tetapi aku sedang merenungkan air yang deras mengalir dari pancuran bambu itu. Pak Iman, tahukah mengapa air itu dapat menyatu dan keluar dari bambu dengan leluasa?”, ujar Pak Togar.

 “Ah gampang itu, karena tidak ada sekat di dalam bambu itu, sehingga air dapat mengalir tanpa hambatan. Lalu apa istimewanya?”, kata pak Iman.

“Betul jawabmu, Kawan. Namun,yang menjadi masalah adalah bagaimana kita juga dapat hidup seperti bambu itu yang mengalirkan air dengan sempurna !”

“Maaf, aku kok nggak mudeng dengan pertanyaanmu itu?”, tukas pak Iman.

“Gini lho, maksudku, bagaimana dalam hidup kita ini kita juga mampu menyediakan ruang yang luas dalam hati kita sehingga saudara-saudara kita dapat keluar masuk dalam kehidupan kita sehari-hari”,  jawab Pak Togar.

Pak Iman berdiam diri mencari jawaban, karena selama ini tidak terlintas bahwa begitu besar kebijaksanaan si pancuran bambu, yang menyediakan ruang sepenuhnya untuk perjalanan si air. 

Setelah mereka saling diam tanpa dapat menemukan jawabannya, tiba-tiba si bambu berkata:
“Kawanku para petani, kalau tidak keberatan aku akan membantu kalian memecahkan persoalan ini.”

“Dengan senang hati kami akan mendengarkanmu, bambu.” kata Pak Togar dan Pak Iman serentak.

“Tetapi, jawabanku, tidaklah sempurna, karena aku hanyalah pancuran bambu. Manurutku kalian juga akan mengalami seperti diriku yang mampu mengucurkan air dengan sempurna kalau kalian juga menyediakan ruang yang cukup bagi sesamamu.”, kata pancuran bambu melanjutkan.

“Yang menjadi masalah bagaimana kami dapat menyediakan ruang bagi saudara-saudara kami?”, sahut Pak Togar dan Pak Iman serentak seperti paduan suara.

“ Begini, pertama-tama adalah sikap ramah. Sikap ramah tamah akan membuat orang lain menjadi tamu di dalam hati kita, bukan sebagai orang asing. Dengan dijadikan tamu, maka akan membuat orang lain akan merasa bebas bersahabat dengan kita karena tidak ada lagi hati yang tersekat-sekat oleh kepentingan diri sendiri. Kalau sikap ramah tamah itu sudah menjadi sikap semua orang, maka semua makluk hidup akan menjadi bahagia. Bahkan si musuhpun akan datang karena sikap yang ramah tamah itu.

Kedua, bersiaplah untuk mendengar. Berilah kesempatan seluas-luasnya untuk membuka telinga dan mendengarkan keluhan, kegembiraan, pandangan hidup yang sedang diperjuangkan orang lain. Ingatlah bahwa pembicara yang baik sebenarnya justru apabila kita mampu menjadi pendengar yang baik pula. Dengan mampu mendengarkan orang, maka kita akan dijauhkan  dari sikap yang hanya menyalahkan dan mengadili orang lain sesuai dengan ukuran kita sendiri.

Bila ada masalah pada saudaramu, berhati-hatilah dalam menyumbangkan saran. Kekeliruan sedikit saja, saran akan menjadi sumbang, bagi saudaramu. Kalau saudaramu datang kepadamu untuk memecahkan masalah yakinkan bahwa saudaramu adalah orang bijak. Sehingga dengan perjuangannya sendiri, ia akan mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Oleh sebab itu hindarilah untuk selalu membuat kalimat perintah, tetapi buatlah suatu kalimat tawaran, maka, saudaramu akan selalu datang kepadamu untuk membuka kesalahan yang telah dibuatnya, tanpa kita harus menunjukkan letak kesalahannya.
Hanya sebuah permenungan.

(Singkawang, 25 Mei  2015, FX. Arie Koeswoyo)

                                                                                                                                                   



































Keluarga Kuat, Gereja Kuat: Belajar Menjadi Orang Tua dari Maria dan Yusuf

Keluarga Kuat, Gereja Kuat:  Belajar Menjadi Orang Tua dari Maria dan Yusuf


Image by Google
Tumbuh  dan menjadi orang tua barangkali sebuah keniscayaan. Namun, menjadi orang tua yang bijaksana merupakan sebuah panggilan. Setiap pasangan suami-istri yang menikah dipanggil untuk menjadi orang tua yang bijaksana. Orang tua yang menyediakan diri mereka menjadi alat Tuhan untuk mendidik, dan mendampingi anak-anak menuju kepada kesuksesan. Walau itu tidaklah mudah. Terlebih di mana perkembangan teknologi saat ini sangat pesat, dan tantangan makin besar. Anak sejak dini telah disuguhi berbagai iklan yang cenderung merusak kesejatian manusia sebagai citra Allah. Televisi, internet dan media sosial lebih akrab dengan anak dibanding dengan orang tuanya. Kenyataan ini membuat anak-anak terasing dari dunianya, “Masyarakat yang  kehilangan identitas” kata Henri J.M. Nouwen. Padahal kita tahu keluarga yang kuat menjadi prasyarat terbentuknya gereja dan negara yang kuat.

Kita dipanggil Allah untuk membangun keluarga yang kuat, mendidik anak-anak dengan pola cinta kasih Kristiani. Dari Maria dan Yusuf kita bisa belajar menjadi orang tua dalam mengasuh anak-anak secara benar sesuai dengan rencana Allah. Kita akan belajar bagaimana mereka mendidik dan membesarkan Yesus. Keteladanan Maria dan Yusuf dapat kita lihat dari Lukas 2 :41-52 “Yesus pada umur dua belas tahun dalam Bait Allah”

Konsep diri positif
. Maria dan Yusuf memiliki konsep positif mengenai penciptaan. Bagi mereka Yesus adalah citra Allah (bdk.1:26-28). Allah memberkati setiap anak dengan berkat ilahi (bdk. Kej 1:27-28). Persepsi ini sangat menentukan pola asuh. Jika orang tua memiliki persepsi yang keliru mengenai anak, maka pola asuh pun akan keliru juga. Setiap anak apapun keadaannya, ia adalah gambar Allah. Mereka adalah citra Allah yang diutus ke dalam keluarga kita masing-masing dengan misi tertentu.

Mengajak vs memerintah/menyuruh. Maria danYusuf adalah tipe orang tua yang mengajak anak, bukan tipe orang yang suka memerintah tanpa melaksanakan. “Ketika Yesus telah berumur 12 tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti lazimnya pada hari raya Paskah” (bdk Luk 2:41-42). Ajakan menjadi model efektif karena mengandung peneguhan dan penguatan yang besar. Pola ini mau mengkritik kecenderungan orang tua zaman sekarang yang lebih cenderung menyuruh atau memerintah.

Memberi ruang demokrasi vs otoriter.
  Maria dan Yusuf adalah contoh orang tua demokratis. Mereka selalu memberi kesempatan  kepada Yesus untuk menjelaskan apa yang dilakukan, dan dengan sabar mendengarkan Yesus, “Ibu, tidakkah Engkau tahu bahwa aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku”. Kesabaran Maria dan Yusuf pantas kita acungi jempol.  Dengan memberi ruang demokrasi anak akan terbiasa bertanggung jawab atas apa yang dikerjakan. Anak akan menjadi pribadi yang tahu mengapa dia melakukan dan mengapa dia tidak melakukan. Inilah kemandirian diri. Otoritas diri anak sangat dihargai oleh Maria dan Yusuf.  Dengan pola ini, anak merasa nyaman, aman, dan dihargai. Anak tidak merasa direndahkan. Perasaan ini menjadi pengalaman eksistensial anak dalam membangun konsep diri positif.

Memberi kebebasan yang tetap dikontrol.
Maria dan Yusuf sadar betul makna penting kebebasan dalam perkembangan pribadi Yesus. Mengekang seorang anak dengan berbagai peraturan dan larangan tidak lebih memperlakukan anak sebagai objek. Maria dan Yusuf memberikan kepada Yesus kebebasan yang tetap dikontrol dan diawasi. Peristiwa ketika mereka pergi ke Yerusalem saat Yesus berumur 12 tahun di mana Maria dan Yusuf membiarkan Yesus berada di antara para kerabatnya merupakan bukti bahwa mereka memberi kebebasan. Sikap kontrol yang dilakukan Maria danYusuf ditunjukan dengan mencari Yesus kembali ke bait Allah. Banyak di antara orang tua sekarang, memberikan kebebasan kepada anak dengan sebebas-bebasnya, hingga orang tua tidak mengetahui lingkungan pergaulan si anak. Dan bahkan orang tua tidak “mencari” anak walau anak belum pulang ke rumah hingga larut malam. Kebebasan seperti ini identik dengan pembiaran. Hal ekstrem  lainnya adalah mengekang anak dengan berbagai larangan dan aturan hingga anak tidak memiliki kesempatan belajar dari dunia “luar” diri dan keluarganya.

Mengikuti anak secara bijak
. Sikap ini ditunjukkan oleh Maria dengan sangat baik, bahkan sampai ia mengikuti Yesus di jalan salib sampai di puncak Golgota. Dalam konteks pendampingan anak, mengikuti ini diartikan menemani anak. Memberikan waktu untuk menemani aktivitas anak, terutama ketika anak melakukan aktivitas terpenting dalam hidupnya, seperti ketika anak  pertama kali tampil dalam acara tertentu di sekolah, menemani ke gereja, saat anak ulang tahun, saat ia sakit  dan seterusnya. Ini akan memberikan kekuatan moral yang luar biasa besar kepada anak.

Tidak mendebat anak
. Mendebat di sini diartikan sebagai bentuk perlawanan terhadap gagasan atau argumentasi anak. Kita tahu dan sadar bahwa tidak setiap gagasan dan argumentasi anak itu benar, tetapi bukan berarti benar juga ketika kita langsung mendebatnya pada saat itu. Memberikan ruang kepada anak berdemokrasi juga berarti mendengarkan argumentasi dan gagasan anak ketika dia berusaha menjelaskan kepada kita mengapa dia melakukan tindakan tertentu. Jika gagasan itu kurang benar, akan lebih baik jika kita menyampaikan kekeliruan atas gagasan itu pada kesempatan setelah itu. Maria prototype dari sikap ini “Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” ( Bdk. Luk 2:19,51) 

Membawa dalam doa.
Sikap Maria yang selalu menyimpan semua perkara yang tidak dia pahami di dalam hatinya dan merenungkannya merupakan sikap doa yang sangat mendalam. Banyak hal tidak dipahami selama  membesarkan Yesus. Maria membawanya dalam doa. Bagi Maria, doa menjadi satu-satunya cara yang ampuh dalam pendampingan anak. Kekuatannya untuk tetap setia mendengarkan kehendak Allah dan melaksanakan terletak pada doa. Kita tahu setiap anak memiliki kelemahan dan kekurangan. Seringkali anak tidak mampu mengungkapkan keterbatasan dan keterbelengguan itu. Doa orang tua untuk anak adalah doa yang sangat ampuh. Yesus sendiri menyatakan kekuatan doa dan puasa mampu mengalahkan kekuatan roh jahat yang paling jahat (bdk. Mrk 9:29) Pernahkan kita sebagai orang tua melakukan doa dan puasa untuk anak kita?

Setiap orang barangkali bisa menjadi orang tua, tetapi tidak setiap orang tua mampu menjadi mitra Allah dalam mendidik anak sesuai dengan citra-Nya. Belajar dari keluarga Yusuf dan Maria serta parcaya akan penyertaan Allah, kita akan mampu melakukan misi itu. Membangun keluarga yang kuat berarti membangun gereja yang kuat. Dengan begitu kita telah ambil bagian dalam perwujudan Kerajaan Allah di dunia ini. Itulah misi kita sebagai pengikut Yesus. (Agustinus Purwanto, Katekis/Pengajar tinggal di Paroki Trinitas, Cengkareng Jakarta Barat)

2 Jul 2015

‘BULAN MADU’ SANG IMAM BARU

                                  ‘BULAN MADU’ SANG IMAM BARU

 


“Lebih susah bikin janji wawancara dengan Pastor ya, dari pada dengan Walikota.”

Demikian seloroh saya pada imam yang baru saja ditahbiskan pada akhir Januari 2015 itu. Sebenarnya hal ini cukup bisa dimaklumi mengingat para imam yang baru ditahbiskan biasanya mengalami masa ‘bulan madu’ dengan tugas imamatnya . Unik memang istilah bulan madu, seolah pengantin baru yang baru saja mengikat janji pernikahan dan disibukkan dengan aktivitas yang beraroma memetik sari manis kehidupan awal berumah tangga, demikian pula para imam yang baru ditahbiskan. Mereka menjalani aktivitas sebagai imam seusai mengucap kaul kekal untuk panggilan awal kegembalaan. 

Ada kisah menarik di balik wawancara saya dengan profil  imam yang pada edisi Likes kali ini diangkat menghiasi rubrik sosok. Pada awal penugasan, saya hanya diberitahu nama imam yang harus saya wawancarai. Sosok imam tersebut bernama Andreas Harmoko, OFMCap. Dari namanya, segera yang terlintas dalam benak saya adalah ingatan tentang seorang berkulit sawo matang, dengan sisiran rambut klimis, dan suaranya menggema  melalui TVRI atau RRI membacakan harga sembako, bawang merah serta cabe keriting dengan logat Jawa kental. Ya, yang terlintas saat itu adalah sosok menteri penerangan era Suharto. Otomatis paradigma saya yang terbentuk saat itu, saya akan dihadapkan pada sosok imam dari pulau seberang. Namun, di luar dugaan, ketika pertama kali saya menghubungi  via telepon imam yang harus saya angkat profilnya, suara beliau jauh dari kesan logat Jawa yang biasanya meskipun dipaksakan untuk terdengar normal tetap mengalami ‘keseleo’ pada pengucapan kata-kata tertentu. Untuk pertama, janji wawancara urung dilakukan karena pastor Harmoko memiliki mobilitas yang sangat tinggi dalam mempersembahkan misa perdana dari paroki satu ke paroki lain berkait tugas ‘bulan madu’ kegembalaan yang beliau emban. Lebih dari sebulan saya menunggu kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan beliau. Akhirnya pada suatu malam di bulan Mei, saya berkesempatan menjumpai  pastor yang terlahir di Seringkong pada 30 Oktober 1984 itu di pastoran Paroki Singkawang, itu pun setelah dibantu temu janji oleh Pastor Gathot selaku pastor paroki.

Wajah beliau tersenyum hangat saat pertama kali tangannya saya jabat. Perbincangan santai lantas bergulir ditemani oleh pastor paroki dan seorang bruder yang saat itu sedang tidak bertugas melayani umat. Pada saat yang sama, saya mengutarakan kesan yang sebelumnya terlintas dalam pemikiran saya mengenai nama beliau. Jawaban yang cukup menggelitik lantas saya dapatkan. Dengan ringan beliau memaparkan sejarah nama yang disematkan pada dirinya memang ada kaitannya dengan sosok Harmoko yang pada era ’90-an menjabat sebagai menteri penerangan. Ya, kedua orang tua Pastor Harmoko, Bapak Petrus Tam dan Ibu Susana Serawati ini dulunya memang kader partai berbendera kuning tersebut. Jika oleh khalayak nama Harmoko seringkali diplesetkan sebagai akronim dari ‘Hari-hari omong kosong’, maka kita boleh berbangga bahwasanya gembala baru kita juga memiliki penjabaran akronim sendiri atas namanya yakni,  Harmoko; ‘Hari-hari omong kemuliaan ordo.’

Ketertarikan pastor yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara terhadap kehidupan membiara diawali saat SMA. Ia dibuat terpesona pada kesederhanaan Salib Tau yang dikenakan oleh para biarawan. “Salib itu dipakai dengan tali yang bersimpul-simpul, bukan dengan rantai,” ujarnya. Masih tentang awal ketertarikannya terhadap kehidupan membiara alasan lain yang cukup unik pun dilontarkannya, “Saya tertarik dengan orang-orang yang berjubah coklat itu. Penasaran bagaimana rasanya memakai jubah. Bayangkan saat jubah dipakai pastor dan berkibar-kibar ditiup angin, menimbulkan kesan dramatis,” ujarnya bersemangat. Diakuinya, ketika  memasuki  kehidupan membiara penuh dengan pertimbangan yang matang. “Selama setahun  setelah lulus SMA saya benar-benar berusaha mengenali arah yang saya tuju, pada akhirnya  dengan bantuan seorang bruder MTB saya disarankan menemui pastor paroki, pada saat itu Pastor Amandus Ambot. Oleh Pastor Ambot, saya dibimbing untuk menulis surat lamaran sebagai imam kepada Propinsial. Saya lantas  memberanikan diri mengirim surat lamaran, memantapkan pilihan memenuhi panggilan.  Puji syukur kepada Tuhan, surat lamaran saya dibalas dan saya terima tepat pada hari raya Pantekosta, 29 Mei 2003. Saat itu sangat luar biasa rasanya.”

Setelah menjadi bagian dari Ordo Kapusin, pastor yang memiliki hobi mengoleksi dan membaca buku-buku filsafat serta teologi ini menuturkan di setiap fase baik ketika menempuh pendidikan maupun saat bergelut dengan kehidupan dan komunitas membiara  penuh dengan tantangan. Ketakseragaman pola pikir antar individu sesama kapusin, mundurnya beberapa teman calon biarawan yang seangkatan karena satu dan lain hal, serta keberagaman budaya geografis tempat tinggal, menjadi sekian dari beberapa alasan mendasar yang dianggap tantangan. Berbagai tantangan tersebut lantas disikapi dengan kedewasaan. Memantapkan hati terhadap pilihan menjadi biarawan, menolerir berbagai hal dengan berusaha menempatkan juga membawa diri dalam komunitas, menyamakan persepsi serta mengesampingkan idealisme.  “Kami dituntut harus mampu mengerem diri. Apa yang kami kerjakan tidak hanya cukup berdasarkan teori yang diterima saat sekolah, kami dituntut hidup dan ‘hadir’ bersama komunitas namun tetap menjadi diri sendiri. Kami harus lebih banyak belajar dari yang tua, mendengar mereka karena para pembimbing dalam komunitas  sudah lama hidup dalam ordo, sudah langsung menjalani  kehidupan membiara dan karena pembimbing dalam komunitas tugasnya berat dalam membimbing kami.”, ujar  imam yang dulu sempat menjadi pembina pramuka itu penuh bijaksana.

Suaranya sempat menjadi lebih pelan, dan pandangannya sedikit menerawang  saat mengisahkan terdapat teman lama serta umat yang memandang dirinya secara berbeda karena label imam yang telah melekat pada dirinya. Ia berharap tak dipandang secara ekslusif dan bisa menjalani hari-hari selayaknya, tak  ‘berjarak’ dengan umat.

Masih di kesempatan yang sama, ketika ingatannya seolah diajak pulang ke masa pentahbisan, sinar matanya berpendar. “Saya harus berterima kasih pada warga Paroki Kuala Dua. Dengan kerja keras umat yang meskipun di kampung, namun mereka mengusahakan prosesi pentahbisan imam dengan sangat meriah. Saat itu saya dan kedua orang tua saya diarak menggunakan mobil yang dibentuk menjadi miniatur gereja.”, kenangnya.

Di akhir obrolan yang cukup menyenangkan, pastor yang memiliki motto ‘Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati,’ ini menuturkan harapannya. “Semoga panggilan imamat ini tetap dan kekal, semoga umat selalu mendoakan para imamnya dalam menjalankan karya kegembalaan, dan semoga umat dengan rela hati memberikan diri ataupun putera dan puterinya menjadi biarawan dan biarawati,” pungkasnya. (Hes) 

Riwayat pendidikan dan kegembalaan.
SDN Kuala Dua (1990-1996)
SMPK Kuala Dua (1996-1999)
SMUN 1 Kembayan (1999-2002)
Tahun Orientasi Panggilan (Nyarumkop, 2003-2004)
Postulat (St. Leopold Mandic - Sanggau Kapuas, 2004-2005)
Novisiat (St. Padre Pio, Gunung Poteng - Singkawang, 2005-2006)
Kaul Perdana (26 Juli 2006)
Post Novisiat (Tirta Ria - Pontianak, 2006-2007)
Sekolah Filsafat (STFT St. Yohanes - Pematang Siantar, 2007-2011)
Pelantikan Lektor dan Akolit (Biara Kapusin St. Fransiskus Assisi, 2010)
Tahun Orientasi Pastoral (Paroki Pusat Damai, 2011-2012)
Sekolah Teologi (STT Pastor Bonus, 2012-2014)
Kaul Kekal (Novisiat St. Padre Pio, 2 Agustus 2013)
Tahbisan Diakon (Sanggau Ledo, 24 Juli 2014)
Masa Diakonat (Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop)
Tahbisan Imam (Kuala Dua, 31 Januari 2015)
Tugas saat ini (Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop)