MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

16 Sep 2015

JELAJAH WAKTU, SINGKAWANG ‘TEMPO DOELOE’

JELAJAH WAKTU, SINGKAWANG ‘TEMPO DOELOE’

Kemudian, atas nama rindu, kutelusuri bayangan pada cerita yang pernah menggiringku menyusuri sudut-sudut kota itu. Di antara pecinan tua, bangunan serta gereja bergaya Belanda, kuil-kuil bersahaja dengan semarak aroma dupa yang mesra bertetangga dengan Masjid Raya. Ingatkah kau tentang tower PDAM kota kita yang menjulang gemilang serta kokoh melegenda. Taman Burung yang sudah ditinggalkan seluruh penghuninya, hingga keruhnya sungai yang tetap setia dan mesra membelah jantung kota. Bukankah setiap langkah dari kaki sanggup membawa pergi ke tempat manapun yang kita ingini, tapi bagaimana halnya dengan hati yang terlanjur tertinggal di kota ini? Masih atas nama rindu, karena jika kau mencintai sesuatu, setiap kali bayangannya sirna dan berlalu, kau akan kehilangan sebagian dari dirimu.   

Apa yang istimewa dari sebuah kota selain eksotisme budayanya, selain denyar keramahan penduduknya, selain cita rasa kuliner khasnya yang pantang enyah karena terlanjur lengket di lidah. Tak lain tak bukan jawabannya berkisar pada kenangan. Sebuah sejarah berlabel kenangan menjadi sesuatu yang mutlak tak tertawar dan mangkus menyita sebagian besar memori  hidup setiap manusia. Keberadaan suatu kota yang sanggup melestarikan cagar budayanya  seolah menjadi jawaban untuk menaungi kenangan  masa silam setiap orang yang sempat terlibat secara emosional. 

Edisi Likes kali ini bermaksud memanjakan mata dan ingatan pembaca dengan mengajak bernostalgia, menjelajah waktu, kembali ke masa lalu. Menelusuri sudut-sudut Kota Amoi, yang dari sumber utama yakni Pastor Yerry maupun Kearsipan Perpustakaan Daerah Singkawang, gambar-gambar pengingat masa lalu yang terserak itu didapatkan. Foto-foto yang didapat dari Pastor Yerry bersumber dari buku yang beliau miliki. Sekadar informasi, objek gambar  lebih banyak mengetengahkan hal yang berkaitan dengan kegiatan misi di kota ini.  Tak lupa di beberapa objek foto terdahulu yang masih dapat ditelusuri keberadaannya kami sertakan sebagai pembanding sekaligus sebagai pemutar kenangan masa silam.    
























Hidup ini penuh warna jika dalam ingatan, kita berhasil merekam begitu banyak kenangan. Hidup ini sarat arti jika kita menilainya dari sudut pandang hati. Hidup ini indah jika kita sanggup menertawakan segala keluh kesah tanpa melupakan sejarah. Kita seringkali terus menerus melihat ke luar, namun lupa menengok ke dalam diri karena menganggap terlalu hambar. Kita berulang kali lebih peduli dengan sejarah sesuatu yang asing dan justru abai pada kisah bumi kelahiran yang sebenarnya sanggup jadi pembanding. Kita acapkali sukses menancapkan cerita tentang tanah seberang di dalam kepala, sementara kisah tanah berpijak kita seolah dimaklumkan untuk terlupa.

Sejarah kita bukan produk karbitan, ia lahir karena tempaan zaman. Jika dapat bertahan di tengah perubahan adalah sesuatu yang mengagumkan dan pasti penuh dengan perjuangan. Dinamika kehidupan menghasilkan transformasi kebudayaan, dapatkah dipertahankan, setidaknya bisakah kita menjaganya tetap utuh dalam kotak-kotak bernama ingatan yang pada akhirnya akan kita abadikan dalam sesuatu yang kita sebut sebagai kenangan. Karena apa yang kita anggap sebagai kenangan sejarah masa lalu, demikian halnya akan dianggapkan oleh anak cucu kita saat memandang wajah kita sekarang di masa depan. Ya, kita juga adalah cikal bakal sejarah yang mungkin saja abadi dan lestari dalam kenangan, atau bahkan lindap dari ingatan masa depan. (Hes)

14 Sep 2015

www.parokisingkawang.org : TELAGA BERITA PENAWAR DAHAGA

www.parokisingkawang.org : TELAGA BERITA PENAWAR DAHAGA


Zaman yang serba mudah, cepat, dan virtual, rasanya jarak tak lagi menjadi kendala dalam komunikasi dan penyebaran informasi. Sekali klik setelah mengetik kata kunci, segala apa yang hendak diketahui otomatis tersaji. Eksistensi dunia virtual sungguh meretas jarak sekaligus melapangkan ruang gerak.  Menuntaskan keingintahuan tentang  perihal yang mungkin saja sempat menyita perhatian, atau sekadar ingin mengikuti perkembangan suatu keadaan dengan cara instan.

Menyadari keadaan ini, tim Buletin Likes tak berdiam diri. Pelebaran sayap guna menjangkau segala kalangan dan mengatasi alasan geografis dilakukan di sela pembenahan diri. Meski rasanya dalam bentuk cetakan fisik saja masih penuh kekurangan yang belepotan di sana-sini, namun segala daya diupayakan demi tersebarnya warta yang  dapat diakses warga meski tengah berada di luar paroki.

Adalah Pastor Paroki, Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap sebagai penggagas utama terbentuknya  web paroki. Tujuannya jelas, seperti tertera di bagian awal artikel ini, menjangkau umat yang berada di luar paroki agar tetap dapat mengakses informasi terkini berkait segala kegiatan maupun perkembangan paroki. Gagasan yang sebenarnya sudah digulirkan sejak awal terbentuknya tim Buletin Likes pada Desember 2014 lalu, baru terwujud lima bulan kemudian. Dijembatani Pastor Fransiskus Cahyo Widiyanto, OFMCap, yang juga merupakan Magister Novis  di Novisiat Poteng, tim Buletin Likes dipertemukan dengan sosok pria teduh, cerdas, berkacamata, Eko Heru Nugroho. Melalui tangan dinginnya mimpi Paroki Singkawang untuk dapat memiliki portal berita dapat diwujudkan. 

Tak butuh waktu lama, berselang tiga hari setelah maksud memiliki web diutarakan, maka laman penyiar informasi seputaran paroki dapat terealisasi. Tak muluk memang impian memiliki portal paroki, setelah mengingat dan menimbang keberadaan warga Paroki Singkawang yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia maupun mancanegara dan masih selalu merasa dahaga terhadap informasi seputar paroki tercinta. Hal ini dibuktikan ketika portal paroki baru berumur beberapa hari dan belum memuat  informasi apapun yang dapat diakses, pengunjung laman telah mencapai  angka 300-an. Keadaaan ini tentunya menjadi angin segar yang semakin memompa semangat redaksi buletin untuk terus-menerus membenahi diri dalam bentuk cetak maupun virtual, melengkapi sajian warta melalui telaga berita. Dalam perkembangannya, web paroki  tak hanya berisi berita-berita yang dimuat di buletin versi cetak saja, namun juga berbagai hal yang berkisar pada liturgi, doa, atau komunitas gereja. Bukan bermaksud menganaktirikan pembaca buletin versi cetak, namun keterbatasan kapasitas dalam versi cetak yang memaksa adanya pembatasan konten bacaan. 

Sejak diluncurkan pada akhir Mei 2015 lalu, boleh dikata laman yang mendapuk Sesilia Hernadia sebagai admin ini sukses menyedot perhatian pembaca. Hal ini tampak pada statistik angka yang tertera di pojok kanan atas laman yang terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hingga artikel ini ditulis, sudah mendekati angka 7.000 peselancar ranah maya yang meluangkan waktu untuk menyinggahinya. Suatu jumlah yang fantastik bukan untuk sebuah laman yang baru berusia tiga bulan? 

Layaknya wanita yang kandungannya menginjak usia tiga bulan dan tengah mengidamkan banyak hal, demikian juga telaga berita paroki. Banyak ide berkait isi yang ingin dimuat dan dibagi guna menjadi penuntas dahaga informasi. Pada akhirnya konsistensi semangat tim redaksi, dibarengi  kerja keras dan kerja cerdas sungguh menjadi modal dasar dalam menghasilkan pusat informasi paroki yang bernas. (Hes)      

RUMPUN BAMBU "GERAK LEMBUT YANG MENYEJUKKAN"

BERGURU PADA KEBIJAKSANAAN ALAM (BPKA)  

RUMPUN BAMBU "GERAK LEMBUT YANG MENYEJUKKAN"

Di pagi hari itu, ayam jantan berkokok saling bersahutan, pertanda hari baru telah tiba. Dan Pak Tegar, si petani itu sedang duduk beralaskan jerami kering di dalam gubuk yang beratapkan ilalang, di sawahnya. Dikeluarkannya ‘slepen’ tempat rokoknya, dia mengeluarkan isinya, lalu mulai menggulung tembakau yang diletakkannya di atas kulit jagung, lalu dibubuhinya dengan klembak (seperti kemenyan) kesukaanya lalu mulai menghisapnya. Dia sangat menikmati kepulan demi kepulan asap rokonya, namun ini bukan berarti Pak Tegar adalah petani yang malas, tetapi dia tahu, karena kepekaannya dengan tanda-tanda alam bahwa pagi ini akan turun hujan lebat disertai angin yang bertiup kencang. Awan tebal yang menggelantung di langit disertai tiupan angin yang kencang serta bunyi petir yang menyambar-nyambar seakan tidak mau bersahabat dengan kampungnya.

Tak lama kemudian hujan memang turun dengan deras disertai angin kencang mengoyak pepohonan. Dari dalam gubugnya, Pak Tegar melihat amukan angin kencang menumbangkan pohon besar di pinggiran sungai. Matanya tidak berkedip menyaksikan hal itu. Sudah dua batang pohon besar yang tumbang, tetapi si pohon bambu masih tegak berdiri padahal  dua batang pohon besar di sebelahnya yang telah mengakar kuat puluhan tahun tumbang berserakan di pinggir sungai.

Sambil menunggu hujan reda Pak Tegar mengamati lebih serius gerik-gerik bambu di pinggir sungai, di dekat sawahnya. Pucuknya senantiasa bergoyang-goyang mengikuti tiupan angin yang mengamuk, meniup kencang.

Akhirnya hujanpun berhenti dan angin mereda dari amarahnya. Sebelum melangkah menuju petak-petak sawahnya untuk memulai pekerjaannya, Pak Tegar menyempatkan diri berjalan ke tepi sungai untuk bertanya kepada si bambu yang perkasa.

“Kawan, Anda adalah pohon yang hebat. Anda dapat bertahan mengahadapi terpaan angin kencang padahal pohon-pohon besar itu tumbang tak berdaya tergeletak di pinggiran  sungai!” kata Pak Tegar kepada si rumpun bambu.

“Terima kasih atas pujianmu, Pak Tegar. Pujianmu itu akan kukenang dan menguatkanku agar tetap bertahan menghadapi angin kencang yang sering datang dikampung kita ini !” sahut bambu.

“Aku sangat heran kawan, tubuhmu kurus, panjang menjulang tinggi ke atas dan akarmu pun kecil-kecil. Engkau pantas digolongkan pada pohon yang lemah, namun ternyata engkau perkasa. Dalam menghadapi ancaman angin kencang langganan desa kita, engkau dan kawan-kawanmu ternyata termasuk ciptaan yang paling kuat. Apakah engkau mempunyai rahasia tertentu sehingga menjadi kuat menghadapi amukan angin yang dahsyat itu?” tanya Pak Tegar kepada rumpun bambu dengan penuh keheranan.

“Pak Tegar, kalau Bapak ingin tahu rahasia kekuatanku, janganlah melihat batang atau akarku, tetapi lihatlah rahasia itu ada pada pucukku!” kata si bambu.

“Kawan, bukankah pucuk rantingmu itu malah bagian yang paling kecil dan mestinya yang paling lemah pula dari yang kau miliki?” sambung Pak Tegar

“Bukan, Pak Tegar. Tetapi malah sebaliknya. Berkat pucukku yang selalu bergerak lembut maka kekerasan angin dapat kuhadapi. Pucukku selalu bergerak kemana arah angin itu bergerak. Sebab aku sadar, bahwa aku adalah pohon yang lemah, yang tak mungkin melawan arus angin yang begitu dahsyat itu. Apabila aku melawan angin itu, mungkin dalam waktu sekejap saja  aku juga akan tumbang seperti pohon-pohon besar itu. Mereka tumbang karena tidak mau menggerakkan pucuknya secara lembut. Dengan gerakan itulah batangku menjadi lentur dan akarku pun kuat menyangga beban tubuhku. Begitu juga dengan engkau, Pak Tegar, aku yakin, ancaman akan sangat kecil kemungkinannya untuk menumbangkan kehidupanmu, asal Pak Tegar mau bersikap lemah lembut kepada sesamamu. Ingatlah bahwa kelembutan dalam tindakan atau ucapan, bukan berarti orang itu lemah, tetapi sebaliknya justru dengan kelembutannya menunjukkan bahwa orang tersebut telah menemukan kepribadiannya. Bukankah semua kebijaksanaan selalu mengandung kelembutan? Sifat keras atau kekakuan itu hanya dimiliki oleh orang mati. Maka orang yang bersikap kaku sama dengan orang yang sudah mendekati kematiannya. Aku yakin semua manusia yang senang akan kehidupan selalu merindukan kelembutan. Karena dari kelembutan itulah hati akan mengalirkan sikap sopan santun, welas asih, suka mengampuni bila terjadi kesalahan!”

Mendengar uraian si bambu, Pak Tegar tertegun. Setelah mengucapkan terima kasih, dia mohon diri untuk kembali melajutkan pekerjaannya di sawah. Dia bekerja penuh semangat, matahari seolah berjalan begitu cepat sehingga tak terasa mentari sudah di atas kepala. Dia menghentikan pekerjaannya dan berjalan menuju pancuran bambu, tempat yang selalu didatangi untuk membersihkan dirinya. 

Di sini, seperti biasanya dia ketemu dengan sahabatnya Pak Iman, dan pak Tegar menceriterakan pengalaman yang dialaminya kepada sahabatnya itu.

“Benar, kawan. Rumpun bambu yang tumbuh tinggi itu, selalu berkembang seruas demi seruas. Melalui sebuah proses. Dan dia bambu selalu tumbuh lurus ke atas, dan hidup kita ini memang selalu melewati proses demi proses. Kemudian selalu diharapkan menuju ke atas artinya selalu jujur dan lurus. Lewat pengalaman itulah, kita dituntut agar mempunyai sikap sabar tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain maupun kepada keluarga kita sendiri agar mereka tumbuh lurus ke atas, kepada Sang Pencipta yang merupakan asal dan tujuan dari hidup kita ini,” sambung pak Iman, sebelum akhirnya mereka bersama-sama pulang menuju rumahnya masing-masing.

Singkawang, Agustus 2015

13 Sep 2015

APOGRAF APEL

APOGRAF APEL

                                                                                                              Sitok Srengenge

Apel itu tak enyah mereka kunyah
Adam melempar bijinya keluar surga
tumbuh sebagai pohon hayat tak sempurna

Hawa terkesiap ketika buah itu tanggal dari tangkai
 jatuh tepat di ubun-ubun seorang lelaki yang tertegun
lalu mendadak sorak “Eureka! Semesta ini puisi.”

Di langit yang masih belia lelaki itu menulis nubuat
tentang bunga apel yang lena dalam mimpi,
terlambat membentang kelopak-kelopaknya  sampai matahari benam,
dan menjelma kupu-kupu malam dengan sepasang sayap muram

Aku tidur, pekik perempuan itu, bukan berarti aku tak peduli.
Aku bahagia ketika tidur,
sebab mimpi tak mencurahkan hujan hujatan para pecundang
yang tak paham derita orang terbuang.
Aku merasai perih kuntum urung semerbak atau buah busuk sebelum masak.
Tuhan menjadikanku ibu

Lelaki itu tahu, perlu waktu cukup lama untuk bisa tidur bersama seperti dulu.
Ia juga tahu, perempuan itutak senang dibangunkan.
Tapi ia tak tahu, apa yang mesti ia lakukan tiap kali rasa bersalah
berkesiur
membuatnya resah meski sedang tidur



Lebih baik aku bermimpi, tekadnya dalam hati,
tapi ia sangsi bisakah mimpi dikehendaki.
Surga juga impian bukan?
Berlintasan iklan panduan jalan ke surga,
tapi ia cuma butuh plesir, kunjungan singkat sebelum waktunya berakhir,
cukup ke pesuk pesisir di mana ia bebas bermain pasir
sembari asyik mencari batuan yang diukir air
atau serpih selendang peri yang tersangkut di cangkang kerang pelangi.
Ia iangin kembali menjadi bocah yang terpesona pada hal-hal kecil,
demi memahami tamsil tentang lautan rahasia yang mustahil terjangkau tangan mungil

Sesuatu jatuh ke ubun-ubun, membuatnya terbangun
Ia saksikan belantara lambang, lapis-lapis anasir mewakili yang tak hadir,
seperti puisi - kata-kata
pucat pasi di mana ia bebas menanam dan menuai arti
Ruang terhampar, waktu bergerak.
Ia sadar bisa bertindak
Melihat lautan, ia berniat membuat kolam,
memandang hutan ia bertekad mencipta taman

Biji apel ini akan tumbuh sebagai pohon pertama di tamanku, pikirnya.
Kelak, jika berbuah, kupersembahkan untukmu
Silakan petik dan makan, tak perlu khawatir,
kau tak akan diusir


 2014        

WISATA KRISTIANI SHOW DI GEREJA SINGKAWANG

WISATA KRISTIANI SHOW DI GEREJA SINGKAWANG


Hatiku mengagungkan Tuhan, jiwaku memuliakan Tuhan, mata batinku tercengang menyaksikan Injil yang hidup di gereja kebangganku Singkawang. Taman jiwa-jiwa kesayangan Tuhan. Torehan Buletin Likes edisi 2-3 dengan bahasa gaul anak muda yang lincah mengalir bening tenang menyejukkan rasa penuh makna. Anak-anak kecil lincah sehat penuh gerak namun diam hening tanda sudah mengerti pada suasana perayaan Liturgi/Ekaristi, sudah tampak biasa pada mereka berbaris ke depan menyongsong komuni (berkat) lalu kembali dengan wajah-wajah berseri gembira tanda mereka kembali membagikan berkat dengan siapa yang dijumpainya. Semoga pengalaman sederhana itu membekas penuh makna dan mengembang dalam hidup berimannya. Sudah selayaknya ini kita syukuri bersama.

Oh ya, kehadiran foto dan berita Sherlyn dengan kasus atresia billiar, betapa berat deritamu, Sherlyn, tapi Anda sudah dimampukan menanggung derita ini dengan damai dan tenang melebihi anak-anak seusiamu. Ah, Sherlyn, dengan keadaanmu ini  ambil bagian untuk mengajarku menyadari serta mensyukuri akan fisikku yang diberi normal ini, semoga dengan berbekal fisik normal ini dapat lebih mampu patuh kepada Yesus. Trims juga atas mukzizat Tuhan bagimu, semoga lekas sembuh.

Hem…. Siapa dia? Yang berlenggang lenggok dengan wajah berbinar di antara tebaran huruf, memacuku untuk tahu apa yang terjadi di situ. O…., Diva dapat hadiah baju cantik berlabelkan harga kemurahan hati dari saudarinya, Rp2000,- cukup untuk sayang teman. Ah, memang kasih itu murah meriah namun menghidupkan dan membahagiakan. Juga spesial wajah-wajah gembira penuh daya khas ABG (Anak Baru Gede) beracara EKM. Whow…! Jangan kira siapa kita, bukan sekadar anak-anak orang biasa, atau anak presiden lho! Kita ini sungguh anak Allah, Raja yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa, dan bukan pula sekadar penguasa sistem kontrak lima tahunan, tapi Bapa kita juga penguasa cinta sepanjang segala masa. Itulah sebabnya kita masing-masing perlu menghargai martabat hidup kita yang luhur ini dengan penuh percaya diri, memperlakukan diri dan saudara/i-nya dengan penuh hormat dan tawakal. Sungguh luar biasa ajaib, bahwa kita benar-benar satu saudara dalam roh pembabtisan. Nama babtis bukan sekadar atribut untuk KTP tapi untuk dihidupi antara lain seperti kalian dalam kesatuan merayakan Ekaristi dilanjutkan kumpul penuh bangga dan percaya diri unjuk kebolehan untuk menyelenggarakan pesta dari hasil panen sendiri dengan sajian meriah, bersama menikmati betapa renyahnya rebung muda, segarnya daun ubi, dan gurihnya ikan teri. 
Hehe…, semuanya menyehatkan dan membuat stamina tubuh mejadi terjaga. Bagiku adalah suatu yang amat mengagumkan, betapa tidak, karena di zaman ada sejuta tawaran sajian kuliner, Anda berani tampil seadanya ala Kristiani show dan di mana apapun yang dibumbui dengan kasih akan terasa nikmat. Profisiat dan terima kasih. Ini oleh-oleh pangon kita menjemput bola di lapangan di taman-taman jiwa yang sudah mulai mekar nan elok. Harum semerbak aroma kebaikan membangkitkan rasa kagum dan bangga. Karena kita memiliki benih-benih orang Samaria yang baik hati, sumber daya manusia potensial semua memiliki benih batu karang rohani yang perlu digali, diolah, dihidupi, dikembangkan, dan dibagikan satu sama lain, dan  sudah dimulai sekarang, di lingkungan dan masyarakat.

Beranjak ke pertunjukan peragaan doa Jalan Salib, memperjelas bagaimana ekspresi wajah dan gerak tubuh Yesus hamba Yahwe yang tidak melawan pun tidak mundur, tidak memalingkan wajah-Nya dari cercaan dan hinaan. Tidak goncang menghadapi perendahan, penghinaan, penyiksaan sampai disalib mati, karena berpegang teguh pada opsi fundamental-Nya yaitu karena kasih setia-Nya untuk menyelamatkan semua manusia, termasuk Anda dan saya. Dengan pola pikir, pola bicara, pola bertindak secara konsisten. Mekanisme-mekanisme, cara beradu gerak dan langkah Yesus kali ini membangunkan kesadaranku dari kebiasaan-kebiasaan yang suam-suam kuku atau sikap ya dan tidak sekaligus (dualisme) Saudara/i, trims ya, jerih lelahmu untuk mewartakan kebenaran Yesus sampai di hatiku, sekaligus maafkan daku yang tidak memberi teladan baik. Itulah sebabnya saya perlu belajar sampai mati, untuk menapaki jalan yang makin terjal berbatu. Doakan, ya!

Lanjut menyusur laman jiwa kepunyaan-Nya, beraneka eksistensi kehidupan, ah…! Betapa mata batinku terpukau memandang dari kejauhan cakrawala kehidupan para pangon yang berjajar rapat menyatu bagai keperkasaan gunung es muncul di permukaan laut sebagai wujud kasih Bapa di surga yang siap menjadi alat belas kasih kerahiman-Nya, meski di balik figur-figur sederhana, bersahaja dan biasa-biasa saja. Mari lihat dan perhatikan, siapa tidak terinspirasi mengikuti jejak itu, menjadi pahlawan surgawi, dengan gagah berani berdiri tegak di garda depan demi jalan kebenaran dan hidup sejati dalam Allah.

Itulah tawaran Allah yang menunggu jawaban bebas dari kawula muda yang siap sedia menjadi alat-Nya. “Semua perlu persiapan jangka panjang dan jangka pendek.”
Seperti kita lahir kembali oleh gereja dan terus dibesarkan oleh sabda dan sakramen-sakramen dalam rahim gereja, berarti menjadi dewasa secara Kristiani tidak dengan meninggalkan rahim gereja, tapi justru dengan masuk semakin dalam dari waktu ke waktu, bahkan kita tetap menyatu dengan pribadi-pribadi yang sudah sampai ke pangkuan Bapa di surga. 

Persekutuan keluarga besar Katolik pangon domba, laki-laki dan perempuan semua umur selalu berkumpul bersama merayakan liturgi/Ekaristi memperoleh berkat lalu pergi menyebar untuk diutus secara holistik dalam keberadaan dan sepak terjang kehidupan harian masing-masing di masyarakat dengan kunci dasar, Yesus.  

Setiap saat Anda dan saya diundang untuk menyadari makna hidup dengan pikiran, mata, telinga, hati yang bening lalu mengambil pilihan dan tindakan walau sekecil apapun yang sesuai dengan opsi fundamental Yesus yaitu kasih dan keselamatan diri dan sesama. Di sanalah rahasia kebahagiaan sejati ditemukan apapun dan status yang bagaimanapun. Dengan demikian kita sudah berada dalam cakupan kerajaan Allah walau masih berjuang, nanti lama-kelamaan kita akan mampu berdiri tegak menginjak ular dengan damai seperti Ibu kita Maria yang penuh rahmat dan cinta, corak hidup cinta dan pengampunan tanpa syarat member peluang dan harapan pada manusia untuk kembali bangkit dari dosanya. Berarti juga berani menanggung derita secara ksatria dan kepahlawanan surgawi.

Mari tengok dan lihatlah di seberang sana, ada romo-romo yang sudah sepuh, seperti Rm. Charles Patrick Edwartd Burrows, OMI atau lebih dikenal sebagai Rm. Carolus, OMI, Rm. B.  Kieser, SJ, Rm. Magnis, S, tapi masih berjuang gigih mendampingi domba-domba di penjara dan lain-lain perjuangan bagi kemanusiaan. Sekali lagi pertanyaannya, siapa anak muda yang tidak tertantang untuk meneruskan perjuangan-perjuangan beliau, menjadi gembala yang berani mati demi dombanya. Sudah waktunya kita bangkit dari tidur, seperti Samuel siap siaga mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan. Berani berjuang menempuh jalan kebenaran dan hidup (yang adalah Yesus sendiri).

Terima kasih yang sedalam-dalamnya atas gotong royong kita semua warga gereja untuk membagikan berkatnya masing-masing baik pada keluarga kecilnya (anak, ibu, bapak, asisten rumah tangga), lingkungan dan masyarakat. Lingkungan yang baik adalah seminari diri yang baik, yang menanam benih baik akan menuai hasil baik. Kebaikan dan kasih sejati yang diterima waktu kecil/usia dini akan menjadi warisan hidup yang melebihi harta benda apapun yang tidak luntur oleh terpaan arus zaman apapun.

Keselamatan masa depan (hidup kekal) adalah keselamatan masa kini dan keselamatan masa kini adalah tugas dan tanggung jawab yang harus kita kerjakan dalam hidup keseharian yang biasa-biasa saja tapi dilakukan dengan hati penuh cinta, bernyala, dan dengan jiwa besar, dalam kesatuan Roh Allah Tritunggal Kudus. Semoga batu karang-batu karang rohani gereja kita semakin cemerlang menyinari jagat raya. Amin.
(Sr. Pia, OSCCap)

*Pangon (berasal dari bahasa Jawa) artinya gembala.  

12 Sep 2015

MEMBERI KARENA MAU

MEMBERI KARENA MAU

 

Hampir setiap hari Minggu sekitar pukul 8 pagi Marieta sudah berdiri di depan pintu gereja. Gadis cilik yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar itu dipercayai untuk menjadi pengajar Sekolah Minggu di Stasi Trans SP2, stasi terjauh dari pusat Paroki Singkawang.  Satu demi satu anak-anak mulai berdatangan. Tanpa dikomando mereka pun langsung masuk gereja dan duduk di bangku paling depan. Seperti layaknya seorang guru Marieta langsung mengambil posisi. Dia berdiri menghadap anak-anak yang sudah  duduk rapi dan mulai memberi aba-aba untuk segera bernyanyi lagu-lagu rohani.  Dengan panduan  Marieta mengalunlah lagu-lagu rohani dari mulut anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Senandung lagu rohani itu terasa makin lengkap karena disertai dengan tarian. Hampir setiap lagu ada gerakannya. Anak-anak menari mengikuti  gerakan gurunya. Kadang disertai  derai tawa karena lebih sering anak-anak menari dan menyanyi semaunya sendiri.  Lagu yang terdengar lebih sering lari dari notasinya. Tarian mereka pun kadang tidak harmonis dan tidak serasi. Sifatnya lebih spontan. Tetapi tidak tergambar suasana kaku yang menakutkan. Justru dengan bebas dan polos anak-anak bernyanyi dan menari memuji Tuhan.

Meski jauh dari kisi-kisi pelajaran agama Sekolah Minggu yang disusun oleh Komisi Liturgi, tetapi Marieta sudah bisa mengajak anak-anak bergembira memuji Tuhan. Dalam pelajaran Sekolah Minggu yang diberikannya tidak ada yang namanya bacaan Kitab Suci. Tidak ada yang namanya merenungkan sabda Tuhan. Tidak ada doa pembukaan dan doa penutup yang tersusun rapi.  Marieta hanya sekedar mengajak anak-anak untuk bernyanyi dan menari bagi Tuhan.  Menuntut yang lebih jelas tidak mungkin dari seorang anak kecil yang baru duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 6. Modal Marieta hanyalah kemauan yang kuat. Yang penting anak-anak bisa bergembira dan sudah dibiasakan untuk memuji Tuhan pada hari Minggu.

Beberapa waktu lalu ketika saya turne ke Trans SP2, sehabis pelajaran Sekolah Minggu saya lihat wajah Marieta keliatan murung. Karena penasaran saya dekati Marieta dan bertanya kepadanya. 

“Kok Marieta sedih hari ini? Marieta sakitkah?” tanya saya. Marieta hanya menggelengkan kepalanya dan tertunduk agak lesu.

“Lalu kenapa? Boleh pastor tahu?” tanya saya sekali lagi.

Sambil mengangkat kepalanya, Marieta berkata dengan suara lirih. Hampir tidak terdengar sama sekali.

“Pastor, Marieta sebentar lagi akan pindah. Mau melanjutkan sekolah ke SMP Capkala. Nanti tidak ada lagi yang mengajak adik-adik ini benyanyi dan menari di sini”. Kembali kepalanya tertunduk memandangi lantai gereja yang mulai keropos.

Mendengar jawaban polos dari bocah kecil itu saya hanya bisa melongo. Hanya bisa diam dan membisu. Tiba-tiba saja  terasa ada genangan air di mata saya yang mau  jatuh tertumpah. Kerongkongan saya pun terasa kering.  Tidak tahu saya harus berkata apa. Hanya ada rasa haru bercampur rasa syukur. Bocah seusia Marieta mempunyai  hati yang murni untuk memberikan dirinya. Padahal dia tidak mendapat imbalan apapun dari tugasnya sebagai  pengajar Sekolah Minggu. Tetapi dia bisa merasakan kesedihan. Bukan sedih karena harus pergi dari kampung halamannya. Tetapi sedih  karena harus meninggalkan adik-adiknya. Marieta bukan berpikir untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk adik-adiknya. Semangat pengorbanan tanpa pamrih, yang disertai perhatian terhadap orang lain.

Perjumpaan dan pembicaan dengan Marieta yang sangat singkat waktu itu memberi banyak pelajaran kepada saya. Marieta mengajari saya bahwa untuk bisa memberikan diri tidak harus kaya dan mempunyai banyak. Tidak sama sekali. Marieta baru kelas 6 Sekolah Dasar. Dia tidak mempunyai pemahaman bagaimana seharusnya menjadi guru. Dia juga tidak pernah ikut kursus menjadi guru Sekolah Minggu. Modal yang dia punyai hanyalah kemauan yang tulus. Dan ini sudah lebih dari cukup. Buktinya Marieta bisa mengajak adik-adiknya bernyanyi memuji Tuhan pada hari Minggu. Ketika dia harus pergi karena melanjutkan sekolahnya, perhatiannya masih tertuju untuk adik-adiknya. Terimakasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan saya dengan gadis cilik yang tahu apa artinya memberikan diri. Bukan karena mampu, tetapi karena mau. Terimakasih Marieta,  engkau juga mengajari saya bagaimana itu memberikan diri. Andaikata dunia ini dipenuhi dengan orang-orang seperti kamu Marieta, pasti akan terasa sangat indah. (Gathot)


BINCANG HANGAT DENGAN CALON PENERIMA SAKRAMEN IMAMAT

BINCANG HANGAT DENGAN CALON PENERIMA SAKRAMEN IMAMAT

 

 


Sosoknya pertama kali saya lihat pada medio Desember 2014 lalu. Kala itu saya tengah ditugaskan meliput kegiatan seksi sosial panitia Natal yang tengah masyuk bekerja menyortir pakaian pantas pakai yang akan disalurkan ke 14 stasi di bawah naungan paroki. Beliau adalah salah satu dari sekian yang asyik bekerja, tak hirau dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Kesan saya ketika pertama kali melihat Kapusin yang kali ini profilnya diangkat dalam rubrik sosok adalah serius, pendiam, bahkan cenderung cuek. Bagaimana tidak, ketika saya harus mengambil gambar guna melengkapi tampilan artikel yang saya tulis, saya harus mengulang setidaknya hingga empat kali shoot agar semua objek yang ada di dalam foto memandang ke arah kamera. Itu pun akhirnya dengan bantuan lampu blitz yang mungkin menyilaukan hingga mau tidak mau, Kapusin yang satu itu merasa sedikit terganggu oleh kilatan blitz, baru kemudian memalingkan pandangan ke arah kamera.  

Fr. Ferdinand , OFMCap, lahir di Merbang, 25 Juni 1984. Pria yang sekilas memiliki paras serupa  artis peran Glenn Alinskie ini masih terkesan pelit bicara kala saya menghampirinya di Pastoran guna menjalani sesi wawancara. Ada sedikit ketegangan yang tersirat di wajahnya saat wawancara berjalan pada menit-menit awal. Hal ini rasanya sangat wajar mengingat sebelumnya kami memang belum pernah terlibat dalam obrolan dan setelah saya telusur lebih jauh, frater yang memiliki hobi bernyanyi lagu-lagu Malaysia dan mendaraskan Mazmur ini memang memiliki sedikit permasalahan dengan proses adaptasi, terutama adaptasi terhadap sosok baru di lingkungannya, namun jika sudah mengenal sosoknya lebih dalam, maka kesan hangat pun segera tersemat. “Tantangan terberat dalam diri saya adalah sosok saya yang tergolong pendiam, bagaimana saya yang pendiam ini harus bisa melayani umat yang mungkin saja nanti dalam perjalanan keimamatan saya harus seringkali mengalami mutasi. Saya dituntut harus mampu segera beradaptasi dengan lingkungan dan segala situasi,” begitu ujarnya.
Dalam perjalanan pendidikan kegembalaan, pembelajaran tentang berbicara maupun retorika diperoleh dan cukup membantu dalam mengatasi permasalahan sifatnya yang pendiam. “Saya yang pendiam ini banyak belajar untuk berbicara di depan umum pada saat menempuh pendidikan di Pematang Siantar. Kami seringkali harus presentasi pada saat perkuliahan berlangsung, dan pada tahun kedua kami diberi kesempatan mengajar, demikian juga di tahun ke tiga dan ke empat, dalam karya kerasulan, saya diminta untuk mengajar di Sekolah Minggu,” ujarnya.

Kira-kira 20 menit berselang, suasana wawancara pagi itu mulai terasa akrab kala tawanya berderai saat menceritakan pengalaman jenaka ketika menempuh pendidikan di kampus STFT Pematang Siantar. Layaknya remaja beranjak dewasa pada umumnya, Ferdi juga mengalami fase sedikit bandel dan lalai dalam belajar. Dunia hiburan di televisi sempat membuncah konsentrasi belajarnya hingga ia baru  merasa kalang kabut saat menjelang ujian akhir semester.    

Ditelisik mengenai momentum panggilan keimamatan dalam hidupnya, pria yang awalnya bercita-cita ingin menjadi guru ini perlahan mulai mengubah haluan masa depannya menjadi gembala saat duduk di bangku SMP. Kala itu seorang pamannya yang adalah seorang pastor meninggal dunia lantas sang ayah sempat berujar, “Nanti kamu menggantikan pamanmu menjadi pastor,” sejak saat itu bara kehidupan membiara perlahan tapi pasti mulai berkobar dalam dadanya. 

Ketertarikannya terhadap kehidupan membiara semakin mekar saat duduk di bangku SMA, ia tinggal di asrama di bawah naungan Kapusin. Sosok Ferdi remaja saat itu masih terlalu hijau untuk memahami berbagai ordo dalam kehidupan membiara dan baru mulai terbuka wawasannya saat memasuki tahun orientasi panggilan yang dijalaninya di Nyarumkop. Saat itu, ia mengaku begitu mengalami ketertarikan yang kuat pada Ordo Kapusin karena persaudaraannya yang sangat lekat. “Saya melihat karya mereka di kampung saya, pelayanan mereka juga sangat total. Selain itu jubahnya berwarna coklat, begitu sederhana, praktis dipakai untuk apapun juga, jubah pekerja. Hal lain mengapa saya memilih Kapusin karena adik kakek saya ada yang imam dan Kapusin juga, adik mamak saya juga suster sekarang menjadi pimpinan SFIC Pontianak.”  

Meski masih harus menempuh pendidikan lanjutan di STT Pastor Bonus, putra dari Bapak Vincentius Nyurai dan Ibu Yohana Ayu ini ternyata juga memendam hasrat mulia berkait dengan pendidikan dan keprofesiannya. “Jika diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di luar jalur keimamatan, saya sangat ingin mengambil spesialisasi keperawatan. Saya ingin merawat rekan-rekan pastor Kapusin yang sudah tua dan sakit,” ujarnya dengan nada bersungguh-sungguh. 

Kiranya perjalanan Frater Ferdi menuju tahbisan kekal sebagai imam masih harus melewati satu tahapan pendidikan. Besar harapan ditautkan agar bisa menuntaskan pendidikan tepat pada waktunya hingga impian serta cita-cita masa remajanya untuk menjadi seorang imam dapat terwujudkan. Doa kami selalu mengiringi setiap usaha dan langkahmu, wahai calon gembala baru. (Hes)     


Riwayat Pendidikan dan Kegembalaan
SDN 8 Merbang
SMPN 2 Belitang Hilir
SMA Maniamas, Ngabang
Tahun Orientasi Panggilan Nyarumkop
Postulan Sanggau Kapuas
Novisiat Gunung Poteng, Singkawang
STFT Pematang Siantar, Sumatera Utara
TOP. Er Paroki St. Fransiskus Assisi, Singkawang
STT Pastor Bonus, Pontianak     

11 Sep 2015

MALAM PERPISAHAN DENGAN FRATER FERDINAND

MALAM PERPISAHAN DENGAN FRATER FERDINAND

Sabtu, 15 Agustus 2015. Bertempat di sayap kanan gereja, di depan Gua Maria, OMK menggelar  acara sederhana perpisahan dengannya, sang calon gembala. Ada yang sulit terlukiskan kala itu, perasaan haru, sedih,  bangga, dan bahagia bercampur menjadi satu. Di satu sisi, kebanggaan  dan kebahagiaan itu muncul manakala mengingat Frater Ferdinand, OFMCap yang selama sepuluh bulan telah menjalani masa tahun orientasi panggilan di Paroki Singkawang akan segera melanjutkan studi dalam perjalanan keimamatannya,  dan itu artinya akan bertambah pula gembala di lingkup gereja. Di sisi lain, umat yang terlanjur dekat  harus merasa kehilangan sosok serta pribadinya yang akrab dan hangat.    

Dalam kurun waktu sepuluh bulan, tidak sedikit hal berkesan yang  berhasil ditorehkan oleh Frater Ferdi. Pria yang khas dengan matanya yang sipit itu begitu aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan OMK, Sekolah Minggu, maupun aktivitas pelayanan gereja lainnya. Hal ini tampak pada berbagai sambutan berisi pesan dan kesan yang disampaikan oleh perwakilan umat dalam acara malam keakraban sekaligus perpisahan dengannya. Salah satu yang mendapat kesempatan menyampaikan pesan dan kesan adalah ketua OMK. Dengan gaya khas remaja, Ayu menuturkan, “Terima kasih kepada Frater karena telah mendampingi OMK selama ini, semua hal yang kita alami bersama Frater begitu berkesan. Frater itu orangnya asyik, suka diajak jalan-jalan , murah senyum, rajin mendampingi kami latihan koor, dan frater juga orangnya manis, lucu, dan baik. Semoga Frater selalu sukses dan selalu setia pada panggilannya, dan semoga Frater tidak melupakan OMK.”  

Acara sederhana namun terkesan hangat yang juga melibatkan ibu-ibu WK, Warakawuri St. Monica, Legio maria, beberapa biarawan/biarawati, serta pengurus DPP itu diakhiri dengan penyerahan cindera mata kepada Frater Ferdinand. Akhirnya, selamat melanjutkan studi, Frater. Semoga selalu mendapat kemudahan dan kelancaran dalam setiap langkah, serta setia terhadap panggilan hidup sebagai gembala. (OMK)     



GUA MARIA: MILIK KELUARGA TERBUKA UNTUK SESAMA

GUA MARIA: MILIK KELUARGA TERBUKA UNTUK SESAMA


Senin, 6 Juli 2015. Meski telah terbiasa digunakan jasanya menjadi tempat menggelar pesta pernikahan atau acara keluarga lain yang tentu sarat kesibukan, kali ini area wisata Danau Teratai juga dipenuhitamu undangan. Yang membedakan, jika biasanya sisi sayap kanan dari pintu masuk yang penuh pengunjung, khusus pagi itu sayap kirilah yang disarati tamu undangan yang rasanya tak terhitung. 

Tumpah ruah tamu undangan memeriahkan acara peresmian Gua Maria milik keluarga namun terbuka juga untuk sesama. Peresmian area doa digelar bertepatan dengan hari pertambahan usia si empunya.  Sang tuan rumah yang pada hari istimewa tersebut genap berusia 67 tahun, Bapak Y.F. Sudjianto beserta istri dengan ramah dan senyum sumringah menyambut kehadiran tamu yang datang dari berbagai kalangan. 


Hanya meleset 5 menit dari waktu yang sudah ditentukan, pukul 9.05 Wib, misa yang dipimpin Pastor Gathot berjalan khidmat. Diawali pemberkatan 14 stasi Jalan Salib dan disusul pemberkatan Gua Maria, umat yang hadir larut dalam suasana prosesi misa. Di kesempatan yang sama saat doa ujud misa disampaikan, pihak keluarga diwakili oleh cucu-cucu, satu persatu mendapat giliran maju. Umat yang hadir dalam misa yang digelar pada peresmian gua maria ini  berjumlah di luar dugaan. Hal ini tampak saat membagi hosti, Pastor Gathot sedikit kewalahan karena umat berjumlah ratusan.

Usai misa dilangsungkan, tuan rumah menggelar acara ramah tamah. Semua yang hadir dipenuhi berkah dengan makanan yang berlimpah ruah dan terkesan mewah.  (Hes)
              

10 Sep 2015

MISA SYUKUR UNTUK INDONESIA

MISA SYUKUR UNTUK INDONESIA


Derap langkah kaki yang tegap dan ritmis diperlihatkan oleh 17 siswa-siswi  SMA Santo Ignasius Singkawang.  Mereka dipilih dan didapuk sebagai “paskibra” yang membawa 17 bendera Merah Putih. Angka 17 sengaja dipilih sebagai lambang dari tanggal 17 Agustus. Perarakan mereka memasuki gereja paroki Singkwang mengawali Misa Syukur Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Acara yang dimulai pukul 18.00 sore pada hari Minggu 16 Agustus 2015 itu dihadiri oleh kebanyakan kaum muda. Hujan yang sempat mengguyur kota Singkawang beberapa jam sebelumnya tidak menyurutkan langkah anak muda untuk mengikuti gelaran peringatan kemerdekaan RI kali itu. Sejak awal semangat nasionalis dibangkitkan oleh paduan suara Orang Muda Katolik Singkawang yang mengiringi perarakan 17  Sang Merah Putih dengan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Dengan berdiri tegak umat yang hadir di dalam gereja pun larut dalam suasana penuh khidmat.

Misa syukur HUT Kemerdekaan RI tahun ini memang dikemas secara khusus oleh Orang Muda Katolik sebagai panitianya. Diawali dengan upacara penghormatan kepada bendera Merah Putih dan pembacaan teks Proklamasi, gelaran dilanjutkan dengan misa syukur. Dalam kotbah singkatnya, Pastor Stephanus Gathot mengingatkan bahwa mengisi kemerdekaan tidak hanya sekedar mengikuti upacara bendera.  Mengutip tema nasional “Ayo Kerja”, Pastor Gathot mengajak umat untuk beraksi nyata. Mengisi kemerdekaan Republik Indonesia  adalah  dengan bekerja sesuai dengan tugas panggilan masing-masing. “Semoga dengan bekerja nyata, kita bisa menciptakan kebaikan untuk sesama sehingga kita bisa mengembalikan apa yang menjadi hak kaisar dan apa yang menjadi hak Allah,” pungkas P. Gathot dalam kotbahnya.



Lain dari biasanya, selesai kotbah Misa syukur diselingi dengan pembacaan puisi. Henri Permadi yang diberi kepercayaan, membawakannya dengan penuh ekspresif. Dalam puisinya anak muda yang gemar bermain bulutangkis ini memaparkan fakta adanya kesenjangan yang terjadi di Republik ini. Maka dia mengajak yang kuat untuk membantu yang lemah. Dengan demikian akan tercipta keseimbangan sehingga sebagai bangsa kita patut berbangga dengan Sang Merah Putih yang senantiasa berkibar.

Untuk mengiringi penerimaan komuni, jiwa patriotis dibangkitkan kembali oleh paduan suara. Kali ini mereka menyanyikan lagu-lagu populer yang bertemakan tentang Indonesia. Lagu Bendera-nya Coklat, Gebyar-Gebyar-nya Gombloh dan Jadilah Legenda-nya Superman Is Dead mengalun semarak memenuhi ruangan gereja. Pembawaan yang ditata dengan apik menyihir umat yang hadir. Tanpa dikomando mereka pun larut dalam suasana dan ikut bernyanyi bersama. Maklum lagu-lagu ini sangat akrab untuk telinga anak muda. Profisiat untuk Orang Muda Katolik yang telah mengekspresikan jiwa mudanya dalam Misa syukur HUT Kemerdekaan RI. Semoga Perayaan Misa syukur ini menjadi motivasi untuk berkarya nyata bagi Indonesia tercinta. (Steph)

KUBALAS CINTAMU TUHAN

KUBALAS CINTAMU TUHAN


Sepi dan hening. Begitulah kesan lima frater novis Kapusin Propinsi Pontianak ketika menginjakkan kakinya di Biara Kapusin St Fransiskus Assisi Singkawang. Sore itu, 23 Juli mereka mau mengikuti retret persiapan untuk kaul perdana. Dengan kaul perdana kelima novis Kapusin mau memasuki  lembaran baru dalam hidup mereka. Secara resmi mereka mau bergabung dalam persaudaraan Kapusin Pontianak dan momen itu akan terjadi dengan pengucapan kaul perdana. Sebagai sebuah perayaan, kaul perdana menjadi janji mereka di hadapan Allah secara publik bahwa mereka mau memeluk cara hidup biarawan Kapusin setelah menjalani masa novisiat selama satu tahun. Momen yang sangat indah ini dipersiapkan dengan sebuah permenungan yang cukup panjang.

Selama lima hari mengasingkan diri dari dunia ramai, para novis diajak untuk merenungkan cinta Tuhan yang telah memanggil mereka menjadi seorang saudara Kapusin. Panggilan yang diterima sebagai seorang biarawan Kapusin disadari bukan karena jasa dan kehebatan mereka. Tetapi melulu karena cinta Tuhan semata. Itulah yang menjadi bahan permenungan selama retret. Maka bahan retret kali ini diringkaskan dalam sebuah tema: Kubalas cinta-Mu Tuhan, Kapusin hidupku.

Retret kali ini terasa sangat istimewa karena mereka didampingi oleh P. Yosef Astonoaji. Selain sudah malang melintang dalam mendampingi retret, Pastor Aji juga merupakan salah satu pengajar fransiskan di Novisiat di Gunung Poteng.  Tak perlu beradaptasi teralu lama, para Novis pun langsung bisa masuk dalam suasana retret yang hening dan terbimbing. Mereka dibawa dalam pola retret bimbingan pribadi.

Lima hari dalam keheningan total, terasa begitu cepat berlalu. Para Novis merasakan indahnya bermenung secara pribadi bersama dengan Tuhan. Guratan lelah memang tergambar dalam wajah-wajah mereka. Tetapi ada rasa bahagia karena mereka telah mendapatkan bekal untuk berjanji kepada Tuhan dalam pengikraran kaul perdana.  Pada akhirnya mereka pun berani berucap dengan suara lantang, “Kubalas, cinta-Mu ya Tuhan”. Semoga kaul perdana kelima novis Kapusin menjadi persembahan yang harum mewangi di hadapan Tuhan. Semoga demikian adanya. (Frater Novis)

HUT KE-2 PWK SANTA MONIKA : BAZAR DAN AKSI DONOR DARAH

HUT KE-2 PWK SANTA MONIKA : BAZAR DAN AKSI DONOR DARAH


PWK (Perhimpunan Warakawuri Katolik) Santa Monika  merupakan paguyuban dari ibu-ibu single parent (mengasuh anak seorang diri) dan para janda yang ditinggal oleh suami mereka.  Perasaan kehilangan dan ditinggalkan oleh pasangan yang sangat dicintai, membuat hidup terasa sendiri dan diliputi kesedihan.  Dengan situasi ini, mereka terpanggil untuk berkumpul bersama-sama saling berbagi dan mendukung. Oleh karena itu, para pelopor (Ibu Emmiliana Karsiah, dkk) membentuk PWK Santa Monika. Kegiatan PWK Santa Monika ini dikhususkan dalam doa  dan devosi. Melalui doa dan devosi, serta kunjungan ke rumah para anggotanya, diharapkan menjadi sumber penguatan dan penghiburan. Doa berperan sangat penting untuk pertumbuhan rohani bagi mereka yang dilanda kesepian. Perlu saling meneguhkan dan menolong satu sama lain, terutama bagi mereka yang sedang ditimpa kesusahan.

Pada tanggal 27 Agustus 2015, PWK Santa Monika merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-2.  Dalam perayaan HUT kedua tersebut, PWK Santa Monika menggelar ‘bazar’ selama sebulan penuh. Dimulai dari Minggu pertama pada awal bulan Agustus sampai akhir bulan (30 Agustus 2015). Dalam kegiatan bazar ini, dijual beraneka ragam jajanan pasar, baju/kemeja batik, benda-benda rohani dan aksesoris lainnya. Selain itu, ada aksi donor darah (16 Agustus 2015) dan sekaligus memperingati HUT Republik Indonesia ke-70. Aksi sosial donor darah menjadi bentuk kepedulian umat paroki Singkawang yang mempunyai makna berbagi pada sesama. Setetes darah kita dapat menyelamatkan nyawa lainnya. Kita sebagai bangsa Indonesia terlebih umat Katolik, harus memiliki hati yang peduli terhadap kebutuhan sesama. Kita dapat memberikan apa yang dapat kita berikan melalui berbagai bentuk pelayanan/tindakan kasih lainnya. Mengutamakan mereka yang lemah dan terpinggirkan, menjadi bagian dari karya Kristus di tengah kehidupan bermasyarakat. Aksi donor darah merupakan pemberian diri kita dalam semangat kemerdekaan untuk mendarmabaktikan pada sesama. Sejatinya kita adalah satu. Satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa yaitu Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Ke-2 PWK Santa Monika. Semoga semakin dikuatkan dalam doa. Selalu memiliki hati yang tak jemu-jemunya melayani Tuhan dan sesama.  Selamat Ulang Tahun Indonesia ke-70 semoga semakin jaya sentosa. Merdeka! (SHe)






40 TAHUN IMAMAT PASTOR PASIFIKUS TJIU, OFMCap

40 TAHUN IMAMAT PASTOR PASIFIKUS TJIU, OFMCap


Hari Minggu 12 Juli 2015 merupakan hari yang sangat istimewa bagi Pastor Pasifikus Tjiu, OFMCap. Pada hari itu beliau merayakan 40 tahun imamatnya. P. Pasifikus berkesempatan memimpin misa syukur bersama Pastor Paulus Kota, OFMCap yang juga merayakan 40 tahun kehidupan membiaranya. Pastor Paulus Kota merupakan sahabat dan teman seangkatan beliau ketika menjalani masa pendidikan untuk menjadi calon imam. Misa syukur dipersembahkan di Gereja St. Fransisikus Assisi Paroki Singkawang.

Pastor Pasifikus Tjiu, imam kelahiran Singkawang 16 April 1944 merupakan anak laki-laki pertama dari 12 bersaudara. Sejak kecil beliau sudah dipersembahkan untuk gereja oleh kedua orang tuanya. Beliau dibabtis dengan nama Fidelis yang berarti kesetiaan. Pastor Pasifikus selalu didoakan orang tuanya agar selalu setia menjalani panggilan hidupnya.

Panggilan merupakan suatu anugerah dan misteri Allah kepada setiap manusia yang dikehendaki-Nya dengan didasari oleh iman manusia itu sendiri. Panggilan itu juga merupakan inisiatif Tuhan dengan bebas kepada seseorang yang dengan bebas juga mau menanggapi dan menjawab panggilan tersebut. Menjawab panggilan inilah, Pastor Pasifikus mengikuti pendidikan seminari di Nyarumkop ketika beliau kelas 2 SMP. Berkat doa dan keberanian serta dukungan dari orang tua, keluarga, saudara dan berbagai pihak, beliau menyelesaikan pendidikan seminarinya dan menjalani masa novisiat di STFT Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Pada 1975 beliau menyelesaikan pendidikannya dan ditahbiskan di Gereja St. Fransiskus Assisi Paroki Singkawang oleh Mgr. Herculanus Joannes Van Burgt, OFMCap dan berkarya selama 4 tahun sebagai pastor paroki di Gereja Katedral Pontianak. Kemudian pada 1979-1982, beliau diutus untuk menlanjutkan studi di Roma. Kepribadiannya yang pantang mundur mau mengikuti Yesus yang tersalib itu telah membuatnya berhasil menyelesaikan pendidikan di Roma dengan prestasi yang sangat memuaskan. Setelah menyelesaikan pendidikan di Roma, ia kembali bertugas di Kalimantan Barat, yaitu di Paroki Bengkayang.

Pada 1984-2009, beliau kembali bertugas di Paroki Singkawang, kota kelahirannya menjabat sebagai pastor paroki, hingga saat ini beliau masih bertugas sebagai pastor pembantu di Singkawang. Pastor yang hobi berkebun ini tidak main-main dengan panggilan Allah, dengan penyerahan total beliau mengabdikan dirinya hanya untuk Tuhan, mau setia sampai mati sesuai seperti nama babtisnya, Fidelis (setia) 

Kesetiaan Pastor Pasifikus dalam menjalani panggilannya terlihat jelas dalam perjalanan waktu 40 tahun sebagai imam atau gembala serta jatuh bangunnya dalam menemui kerikil-kerikil tajam semasa pengabdiannya. Beliau sadar semua itu merupakan bagian dari hidupnya atau salib-salib kecil yang harus dipanggulnya bersama Yesus. Beliau mengerti menjadi pengikut Yesus harus menyangkal diri dan memanggul salib.

Pastor Pasifikus dalam menjalankan imamatnya memegang prinsip, “Segala sesuatu hanya bergantung pada Tuhan, bekerja sama dengan rahmat Tuhan dan selalu dekat dengan Tuhan Yesus.” Tantangan bukanlah akhir suatu perjuangan, melainkan guru untuk berkomitmet guna menemukan arti panggilan itu sendiri. Mengutip pernyataan dari seseorang yang kenal baik terhadap beliau, “Pastor Pasifikus dengan penuh konsekuensi mau bekerja untuk Tuhan dengan sekuat tenaga seperti Musa memimpin bangsa Israel sampai tanah terjanji. Seperti pohon kelapa semakin tinggi dan semakin tua, maka sudah banyak buahnya.”

Pengabdian Pator Pasifikus boleh menjadi contoh teladan bagi umat amupun para religius muda di zaman sekarang. Terima kasih atas pengabdiannya di Paroki Singkawanbg dan profisiat kepada Pastor Pasifikus Tjiu, semoga beliau mendapat kesehatan yang baik agar tetap dapat menggembalakan umatnya. Berikut dilampirkan sebuah puisi singkat yang ditulis oleh Sr. Florentin, OSCCap sebagai hadiah kecil kepada Pastor Pasifikus Tjiu. (wv_na)

Hanya masa senja mulai berkunjung

daya hidup mulai kendur.

Tetapi semangat doa dan semadi,

tak pernah surut.

Tetap doakan umatmu supaya iman tetap teguh dan utuh. 


3 Sep 2015

INDAHNYA BERBAGI KEBAIKAN

INDAHNYA BERBAGI KEBAIKAN





Singkawang, 16 agustus 2015. Dalam rangka menyambut Hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, OMK Santo Fransiskus Asisi Singkawang bekerja sama dengan WK (Wanita Katolik) yang dibantu anggota PMI mengadakan Galang donor darah. Selain bertujuan untuk memperingati HUT Repoblik Indonesia yang ke-70 kegiatan ini juga merupakan wujud kepedulian OMK akan pentingnya berbagi dalam kebaikan. Dengan diselengarakannya kegiatan semacam ini merupakan bentuk kepedulian umat, dalam hal berbagi untuk meringankan beban orang lain karena dengan setetes darah yang disumbangkan adalah bentuk ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah bagi saudara kita yang membutuhkan bantuan darah, seperti Yesus meneteskan darah di kayu salib untuk menyelamatkan kita umat manusia.  

Di edisi ini OMK mengangkat tema SETETES DARAHMU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Kegiatan ini disambut baik serta mendapat respon positif oleh umat Khatolik. Hal ini dapat dilihat dari semangat dan antusiasme umat untuk mendonorkan darahnya usai perayaan misa ke-2 minggu lalu. Serentak usai perayan misa umat berbondong-bondong menuju posko donor darah, yang bertempat di Gedung Paroki Gereja Santo Fransiskus Assisi Singkawang. 

Canda dan kegembiraan tidak terlewatkan mewarnai kegiatan aksi donor darah kali ini, yang dapat dilihat dari ekspresi gembira yang terpancar melalui mimik wajah pendonor karna niat baik ini memang keluar dari dalam hati mereka masing-masing untuk menyumbangkan darah mereka secara suka rela. Keseruan lainnya juga dapat dilihat dari ramainya antrian pendaftar hingga antrian cek kesehatan yang merupakan sebagai persyaratan sebelum mendonorkan darah. Dengan melakukan pemeriksaan tensi sebelum donor, kita bisa mengetahui kondisi kesehatan sehingga kita bisa menjaga kesehatan secara lebih baik. Adapun manfaat dari donor darah itu sendiri ialah selain menjaga kesehatan jantung, dapat juga untuk meningkatkan produksi sel darah merah dan dapat menurunkan berat tubuh serta mendapatkan kesehatan pisikologi. 

Kegiatan ini merupakan wujud keiklasan dan kepedulian umat untuk saling membantu satu sama lain. Ini merupakan kali kedua OMK Santo Fransiskus Assisi mengadakan kegiatan galang donor darah, namun tidak kalah seru dengan pelaksanaan yang pertama karna dapat dibuktikan dari semangat dan antusiasme umat untuk mendonorkan darahnya. Berikut persyaratan agar seorang dapat mendonorkan darahnya: usia dari 17 sampai 60 tahun, berat badan minimal 45 kilogram, temperatur tubuh 36,6-37,5 derajat Celsius, tekanan darah sistole berkisar 70-100 mm Hg, Hb minimal 12,5 gram, tidak sedang hamil, menyusui, haid, mengidap penyakit hepatitis B&C, HIV AIDS, Sifilis, jumlah penyumbangan darah sekurang-kurangnya 3 bulan kemudian setelah donor. 

Kegiatan semacam ini merupakan agenda tahunan sejak tahun lalu, yang digelar di gedung paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang. Harapan ke depan agar kegiatan ini dapat berjalan maju serta bekerjasama dengan dukungan dari umat yang mau berbagi dalam hal kebaikan. Ujar salah satu panitia pelaksana ketika kami temui di tempat. (Adrian)

Pejuang Kehidupan Orang Muda

Pejuang Kehidupan Orang Muda 


Pemuda yang energik ini tidak menyangka hidupnya berubah total. Hidupnya kini dipenuhi segala aktivitas berkarya dalam masalah penanganan  dan penanggulangan narkoba. Berawal dari keprihatinan situasi di sekitarnya mengetuk hati untuk ambil bagian dalam menyelamatkan generasi muda. Kota Singkawang menjadi  tempatnya untuk memberi perhatian dalam lingkup generasi remaja. Pemuda yang bekerja di BNN Singkawang ini sudah masuk hampir ke seluruh sekolah menengah pertama hingga perguruan tinggi di Singkawang untuk memberi informasi tentang pencegahan penyalahangunaan narkoba, bahkah juga dari beberapa lembaga lainnya yang ingin mengetahui segala hal mengenai narkoba.
 
Sabar  itulah namanya. Cukup ringkas dan mudah diingat. Perawakanya seperti ‘pria berseragam’, membuat peserta workshop saat itu agak segan untuk bertanya mengenai identitasnya. Namun saat memberikan materi dan pada segmen tanya jawab, justru banyak remaja antusias untuk bertanya seputar narkoba. Di hadapan  peserta SMP dan SMA berjumlah 283 baik dari Asrama Puteri St. Maria Goreti Singkawang dan Asrama Putra St. Maria, si penyuka basketball ini dengan blak-blakan membuka fenomena remaja yang terjadi saat ini baik yang terjadi ditingkat nasional maupun di daerah terutama kota Singkawang.

Menurut Sabar, saat ini  data di BNN tahun 2015,  2,8 % dari  penduduk Indonesia atau sekitar  4,5 juta jiwa adalah pencandu narkoba. Di kota Singkawang dan sekitarnya kurang lebih 1.500-2.000 orang dari 245 ribu penduduk yang sudah mengonsumsi narkoba. Rata-rata usia remaja SMP, SMA dan perguruan tinggi. Bagaikan petir di siang bolong,  semua peserta begitu terperanjat mendengar informasi yang sangat riskan bagi kehidupan remaja saat ini.

Ketika Duta menyentil usia penggunanya dengan tegas dia menjawab bahwa saat ini mereka sebagai pemakai rata-rata usia 15-24 tahun. Dengan kata lain remaja awal dan dewasa. Pria yang ditugaskan khusus dari Jakarta ini tidak henti-hentinya terjun ke lapangan secara berkala. Pengalaman membagikan brosur dan pamflet  sudah dilakukan secara berkala sebagai media informasi yang aktual kepada masyarakat  dan lingkungan gereja. Sarjana Ilmu Komunikasi dari Bandung ini dengan tekun dan sesuai dengan namanya tetap sabar dalam merangkul generasi muda yang sudah bergumul dalam narkoba untuk direhabilitasi secara intensif tanpa biaya hingga sampai pada proses pemulihan atau penyembuhan.

Dalam kesempatan terpisah, pria penyuka sayur organik ini menceritakan bahwa tiap tahun hampir 18-20 ribu jiwa di Indonesia yang masuk dalam panti rehabilitasi  narkoba  dan butuh 40 tahun untuk penyembuhan dari barang haram tersebut. Dia juga sangat menyayangkan bahwa seringkali para pecandu dimasukan dalam penjara dan penanganannya dirasa sangat tidak proporsional. Pecandu narkoba lebih cocok ditempatkan di panti rehabilitasi, jika mereka ditempatkan di penjara, maka berbagai permasalahan akan timbul. Kondisi penjara bisa over capasity, kamar yang dihuni melebihi kapasitas seharusnya. Bagi sabar ini bukan cara yang tepat dalam menangani para pencandu sebab jika dalam penjara mereka akan belajar jadi pengedar atau bahkan malah menjadi bandar. Selain itu justru secara tidak langsung memberi kesempatan kepada pencandu untuk semakin profesional dalam mengedarkan bahkan membangun dan mengendalikan jaringan peredaran narkoba yang lebih luas sekaligus menjelma menjadi benteng paling aman karena dianggap tempat terisolasi dan tempat  mencuci dosa.  

Semoga banyak Sabar lain lagi yang bisa menjadi duta penyelamat bagi generasi muda lainnya, setidaknya ada sosok yang bisa merangkul mereka yang sudah terjerumus di dalamnya dan mencegah bagi yang tergoda untuk mengonsumsinya. Di akhir pertemuan dengan Duta anti narkoba, digemakan sebuah slogan, “No Drugs Yes Pro-Life.” Sungguh-sungguh pejuang hidup generasi muda.
(Fl. Ngardi, MTB)

Sudah Ada Masalah Jangan Masuk Dalam Masalah Baru

Sudah Ada Masalah Jangan Masuk Dalam Masalah Baru

Minggu, 23 Agustus 2015 pukul 10.00 Wib, sekelompok orang muda duduk ngobrol santai sambil tertawa lepas bebas di sebuah aula yang cukup megah. Dalam suasana yang spesial tersebut ternyata ada yang dinantikan oleh mereka yaitu penyuluhan tentang pencegahan penyalahgunaan narkoba yang diisi oleh tim dari BNN kota Singkawang. Para peserta yang mengikuti penyuluhan ini adalah para siswa asrama Putra Santa Maria milik Bruder MTB, dan siswi asrama St. Maria Goreti milik Suster SFIC yang sengaja bergabung untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Peserta yang berjumlah 283 orang baik tingkat SMP maupun SMA ini terlihat sangat antusias  bertanya seputar narkoba. Selama dua jam mereka mendengar penjelasan dari narasumber dengan khidmat dan serius. Lingkup materi penyuluhan ini sangat lengkap dan detail di antaranya gambaran umum tentang narkoba, pengetahuan narkoba, jenis-jenis narkoba, faktor penyalahgunaan narkoba, akibat penyalahan narkoba, hingga berbagai tips pencegahan narkoba.

Duta Anti Narkoba
 
Sr. Priska, SFIC menangapi kegiatan ini dengan antusias, “Secara pribadi saya sangat senang  dengan diadakannya penyuluhan tentang narkoba. Anak-anak yang saya bina di asrama mendapat wawasan baru dari workshop ini dan mereka harus menjaga diri dari barang haram ini. Harapannya mereka akan menjadi duta hidup sehat bagi temannya sendiri yang sudah menjadi korban atau pencandu narkoba. Maka apabila mereka tergoda dengan obat tersebut setidaknya mereka sudah kuat secara iman dan secara pengetahuan begitu luas wawasanya dalam pemahaman narkoba itu sendiri,” jabar Suster Priska dengan penuh semangat. 

Ungkapan dari Pembina asrama putri ini didukung oleh Br. Teofanus, MTB. “Kegiatan ini sangat berguna bagi kehidupan anak-anak dewasa ini. Kita berusaha supaya mereka menjadi generasi bebas dari Narkoba. Semua narkoba berbahaya dapat menimbulkan kerusakan fisik, mental, serta perkembangan emosi dan spiritual hidupnya,” papar alumni USD Jogja ini dengan mantap. Lanjut Teo, “Melalui workshop ini mereka semakin menjaga diri dan tahu secara benar-benar  akibat penyalahgunaan Narkoba.”

Pencandu Berusia Produktif
 
Agus Tedi dan Sabar yang merupakan narasumber dari BNN begitu serius dan antusias ketika menjelaskan soal faktor penyebab penyalahgunaan narkoba sesuai dengan tingkat situasi siswa SMP dan SMA saat ini. Dikatakan bahwa hingga saat ini faktor individu, sosial, lingkungan sekolah dan media lainnya membuat siswa menjadi korban pencandu narkoba. “Kita harus bekerjasama dengan keluarga, sekolah dan lembaga dinas agar menetapkan pendidikan dan pelatihan baik para guru maupun siswa tentang pencegahan dan penyalahgunaan narkoba dalam kurikulum pendidikan,” ungkap pemateri saat itu.

Data yang dihimpun oleh BNN tahun 2015, bahwa  sekitar  4,5 juta jiwa di Indonesia adalah pencandu narkoba. Di kota Singkawang sendiri  kurang lebih 1.500-2.000 orang dari 245 ribu penduduk yang sudah menjadi pencandu narkoba dengan rentang usia dari 15-24 tahun. Itu berarti para pengguna narkoba merupakan  usia produktif, baik yang sedang belajar di SMP, SMA maupun di perguruan tinggi di Kota Singkawang.

Fokus kegiatan Sekolah 
 
Ana Tamara ketua Asrama Putri St. Maria Goreti memberi pandangan lain dalam kegiatan ini. “Saya sendiri sich, sangat senang dengan workshop ini. Harapannya kami mendapat pengalaman baru yang terkadang kami tidak tahu bahwa di sekolah, barang haram itu bisa saja menyusup secara diam-diam.” Siswa kelas XII SMA Santo Ignatius Singkawang ini juga ikut sedih apabila pencandu sebagian besar adalah para pelajar, “Itu berarti kami sudah tidak menghargai lagi arti kehidupan itu sendiri. Maka saya sih akhirnya tergantung keputusan pribadi  setiap orang. Kalau mau hidup baik dan sehat jauhi diri dari mengonsumsi narkoba, dan berusaha berprestasi dalam belajar serta kegiatan ekstra yang dilakukan di sekolah menjadi fokus kegiatan saya saat ini,” tegas remaja putri dari Ngabang Kalbar ini dengan senyum merekah.

Selain itu dari asrama putra tidak ketinggalan untuk memberi komentarnya. Rafandi yang saat ini duduk di kelas XII dengan nada gembira  menyatakan, “Kami akan berusaha untuk hidup jauh dari narkoba. Kami ini adalah generasi masa depan gereja dan bangsa, tidak mau terpengaruh dengan barang yang mematikan kehidupan itu sendiri. Hancurlah masa depan kami apabila kami ikut terlibat di dalamnya,” tegas siswa SMA St. Ignatius Singkawang ini dengan mantap.

Kegiatan penyuluhan ini merupakan  kerjasama dua asrama sebagai program berkelanjutan dari angkatan sebelumnya. Bagi kedua pembina  asrama ini, meskipun mereka sudah dapat di sekolah lewat materi tertentu dan MOS setidaknya dengan digelar juga acara penyuluhan di asram, maka semakin intensif pemahaman anggota asrama terhadap bahaya narkoba. “Ingat dunia ini sangat menderita jangan menambah derita lagi. Kalian sudah ada masalah jangan masuk dalam masalah baru,” ungkap Bruder Teo, MTB saat menutup rangkaian workshop tersebut. 
(Br. Flavianus Ngardi MTB)