Selamat Datang Di Website Resmi Paroki Singkawang - Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

14 Sep 2015

RUMPUN BAMBU "GERAK LEMBUT YANG MENYEJUKKAN"

BERGURU PADA KEBIJAKSANAAN ALAM (BPKA)  

RUMPUN BAMBU "GERAK LEMBUT YANG MENYEJUKKAN"

Di pagi hari itu, ayam jantan berkokok saling bersahutan, pertanda hari baru telah tiba. Dan Pak Tegar, si petani itu sedang duduk beralaskan jerami kering di dalam gubuk yang beratapkan ilalang, di sawahnya. Dikeluarkannya ‘slepen’ tempat rokoknya, dia mengeluarkan isinya, lalu mulai menggulung tembakau yang diletakkannya di atas kulit jagung, lalu dibubuhinya dengan klembak (seperti kemenyan) kesukaanya lalu mulai menghisapnya. Dia sangat menikmati kepulan demi kepulan asap rokonya, namun ini bukan berarti Pak Tegar adalah petani yang malas, tetapi dia tahu, karena kepekaannya dengan tanda-tanda alam bahwa pagi ini akan turun hujan lebat disertai angin yang bertiup kencang. Awan tebal yang menggelantung di langit disertai tiupan angin yang kencang serta bunyi petir yang menyambar-nyambar seakan tidak mau bersahabat dengan kampungnya.

Tak lama kemudian hujan memang turun dengan deras disertai angin kencang mengoyak pepohonan. Dari dalam gubugnya, Pak Tegar melihat amukan angin kencang menumbangkan pohon besar di pinggiran sungai. Matanya tidak berkedip menyaksikan hal itu. Sudah dua batang pohon besar yang tumbang, tetapi si pohon bambu masih tegak berdiri padahal  dua batang pohon besar di sebelahnya yang telah mengakar kuat puluhan tahun tumbang berserakan di pinggir sungai.

Sambil menunggu hujan reda Pak Tegar mengamati lebih serius gerik-gerik bambu di pinggir sungai, di dekat sawahnya. Pucuknya senantiasa bergoyang-goyang mengikuti tiupan angin yang mengamuk, meniup kencang.

Akhirnya hujanpun berhenti dan angin mereda dari amarahnya. Sebelum melangkah menuju petak-petak sawahnya untuk memulai pekerjaannya, Pak Tegar menyempatkan diri berjalan ke tepi sungai untuk bertanya kepada si bambu yang perkasa.

“Kawan, Anda adalah pohon yang hebat. Anda dapat bertahan mengahadapi terpaan angin kencang padahal pohon-pohon besar itu tumbang tak berdaya tergeletak di pinggiran  sungai!” kata Pak Tegar kepada si rumpun bambu.

“Terima kasih atas pujianmu, Pak Tegar. Pujianmu itu akan kukenang dan menguatkanku agar tetap bertahan menghadapi angin kencang yang sering datang dikampung kita ini !” sahut bambu.

“Aku sangat heran kawan, tubuhmu kurus, panjang menjulang tinggi ke atas dan akarmu pun kecil-kecil. Engkau pantas digolongkan pada pohon yang lemah, namun ternyata engkau perkasa. Dalam menghadapi ancaman angin kencang langganan desa kita, engkau dan kawan-kawanmu ternyata termasuk ciptaan yang paling kuat. Apakah engkau mempunyai rahasia tertentu sehingga menjadi kuat menghadapi amukan angin yang dahsyat itu?” tanya Pak Tegar kepada rumpun bambu dengan penuh keheranan.

“Pak Tegar, kalau Bapak ingin tahu rahasia kekuatanku, janganlah melihat batang atau akarku, tetapi lihatlah rahasia itu ada pada pucukku!” kata si bambu.

“Kawan, bukankah pucuk rantingmu itu malah bagian yang paling kecil dan mestinya yang paling lemah pula dari yang kau miliki?” sambung Pak Tegar

“Bukan, Pak Tegar. Tetapi malah sebaliknya. Berkat pucukku yang selalu bergerak lembut maka kekerasan angin dapat kuhadapi. Pucukku selalu bergerak kemana arah angin itu bergerak. Sebab aku sadar, bahwa aku adalah pohon yang lemah, yang tak mungkin melawan arus angin yang begitu dahsyat itu. Apabila aku melawan angin itu, mungkin dalam waktu sekejap saja  aku juga akan tumbang seperti pohon-pohon besar itu. Mereka tumbang karena tidak mau menggerakkan pucuknya secara lembut. Dengan gerakan itulah batangku menjadi lentur dan akarku pun kuat menyangga beban tubuhku. Begitu juga dengan engkau, Pak Tegar, aku yakin, ancaman akan sangat kecil kemungkinannya untuk menumbangkan kehidupanmu, asal Pak Tegar mau bersikap lemah lembut kepada sesamamu. Ingatlah bahwa kelembutan dalam tindakan atau ucapan, bukan berarti orang itu lemah, tetapi sebaliknya justru dengan kelembutannya menunjukkan bahwa orang tersebut telah menemukan kepribadiannya. Bukankah semua kebijaksanaan selalu mengandung kelembutan? Sifat keras atau kekakuan itu hanya dimiliki oleh orang mati. Maka orang yang bersikap kaku sama dengan orang yang sudah mendekati kematiannya. Aku yakin semua manusia yang senang akan kehidupan selalu merindukan kelembutan. Karena dari kelembutan itulah hati akan mengalirkan sikap sopan santun, welas asih, suka mengampuni bila terjadi kesalahan!”

Mendengar uraian si bambu, Pak Tegar tertegun. Setelah mengucapkan terima kasih, dia mohon diri untuk kembali melajutkan pekerjaannya di sawah. Dia bekerja penuh semangat, matahari seolah berjalan begitu cepat sehingga tak terasa mentari sudah di atas kepala. Dia menghentikan pekerjaannya dan berjalan menuju pancuran bambu, tempat yang selalu didatangi untuk membersihkan dirinya. 

Di sini, seperti biasanya dia ketemu dengan sahabatnya Pak Iman, dan pak Tegar menceriterakan pengalaman yang dialaminya kepada sahabatnya itu.

“Benar, kawan. Rumpun bambu yang tumbuh tinggi itu, selalu berkembang seruas demi seruas. Melalui sebuah proses. Dan dia bambu selalu tumbuh lurus ke atas, dan hidup kita ini memang selalu melewati proses demi proses. Kemudian selalu diharapkan menuju ke atas artinya selalu jujur dan lurus. Lewat pengalaman itulah, kita dituntut agar mempunyai sikap sabar tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain maupun kepada keluarga kita sendiri agar mereka tumbuh lurus ke atas, kepada Sang Pencipta yang merupakan asal dan tujuan dari hidup kita ini,” sambung pak Iman, sebelum akhirnya mereka bersama-sama pulang menuju rumahnya masing-masing.

Singkawang, Agustus 2015

13 Sep 2015

APOGRAF APEL

APOGRAF APEL

                                                                                                              Sitok Srengenge

Apel itu tak enyah mereka kunyah
Adam melempar bijinya keluar surga
tumbuh sebagai pohon hayat tak sempurna

Hawa terkesiap ketika buah itu tanggal dari tangkai
 jatuh tepat di ubun-ubun seorang lelaki yang tertegun
lalu mendadak sorak “Eureka! Semesta ini puisi.”

Di langit yang masih belia lelaki itu menulis nubuat
tentang bunga apel yang lena dalam mimpi,
terlambat membentang kelopak-kelopaknya  sampai matahari benam,
dan menjelma kupu-kupu malam dengan sepasang sayap muram

Aku tidur, pekik perempuan itu, bukan berarti aku tak peduli.
Aku bahagia ketika tidur,
sebab mimpi tak mencurahkan hujan hujatan para pecundang
yang tak paham derita orang terbuang.
Aku merasai perih kuntum urung semerbak atau buah busuk sebelum masak.
Tuhan menjadikanku ibu

Lelaki itu tahu, perlu waktu cukup lama untuk bisa tidur bersama seperti dulu.
Ia juga tahu, perempuan itutak senang dibangunkan.
Tapi ia tak tahu, apa yang mesti ia lakukan tiap kali rasa bersalah
berkesiur
membuatnya resah meski sedang tidur



Lebih baik aku bermimpi, tekadnya dalam hati,
tapi ia sangsi bisakah mimpi dikehendaki.
Surga juga impian bukan?
Berlintasan iklan panduan jalan ke surga,
tapi ia cuma butuh plesir, kunjungan singkat sebelum waktunya berakhir,
cukup ke pesuk pesisir di mana ia bebas bermain pasir
sembari asyik mencari batuan yang diukir air
atau serpih selendang peri yang tersangkut di cangkang kerang pelangi.
Ia iangin kembali menjadi bocah yang terpesona pada hal-hal kecil,
demi memahami tamsil tentang lautan rahasia yang mustahil terjangkau tangan mungil

Sesuatu jatuh ke ubun-ubun, membuatnya terbangun
Ia saksikan belantara lambang, lapis-lapis anasir mewakili yang tak hadir,
seperti puisi - kata-kata
pucat pasi di mana ia bebas menanam dan menuai arti
Ruang terhampar, waktu bergerak.
Ia sadar bisa bertindak
Melihat lautan, ia berniat membuat kolam,
memandang hutan ia bertekad mencipta taman

Biji apel ini akan tumbuh sebagai pohon pertama di tamanku, pikirnya.
Kelak, jika berbuah, kupersembahkan untukmu
Silakan petik dan makan, tak perlu khawatir,
kau tak akan diusir


 2014        

WISATA KRISTIANI SHOW DI GEREJA SINGKAWANG

WISATA KRISTIANI SHOW DI GEREJA SINGKAWANG


Hatiku mengagungkan Tuhan, jiwaku memuliakan Tuhan, mata batinku tercengang menyaksikan Injil yang hidup di gereja kebangganku Singkawang. Taman jiwa-jiwa kesayangan Tuhan. Torehan Buletin Likes edisi 2-3 dengan bahasa gaul anak muda yang lincah mengalir bening tenang menyejukkan rasa penuh makna. Anak-anak kecil lincah sehat penuh gerak namun diam hening tanda sudah mengerti pada suasana perayaan Liturgi/Ekaristi, sudah tampak biasa pada mereka berbaris ke depan menyongsong komuni (berkat) lalu kembali dengan wajah-wajah berseri gembira tanda mereka kembali membagikan berkat dengan siapa yang dijumpainya. Semoga pengalaman sederhana itu membekas penuh makna dan mengembang dalam hidup berimannya. Sudah selayaknya ini kita syukuri bersama.

Oh ya, kehadiran foto dan berita Sherlyn dengan kasus atresia billiar, betapa berat deritamu, Sherlyn, tapi Anda sudah dimampukan menanggung derita ini dengan damai dan tenang melebihi anak-anak seusiamu. Ah, Sherlyn, dengan keadaanmu ini  ambil bagian untuk mengajarku menyadari serta mensyukuri akan fisikku yang diberi normal ini, semoga dengan berbekal fisik normal ini dapat lebih mampu patuh kepada Yesus. Trims juga atas mukzizat Tuhan bagimu, semoga lekas sembuh.

Hem…. Siapa dia? Yang berlenggang lenggok dengan wajah berbinar di antara tebaran huruf, memacuku untuk tahu apa yang terjadi di situ. O…., Diva dapat hadiah baju cantik berlabelkan harga kemurahan hati dari saudarinya, Rp2000,- cukup untuk sayang teman. Ah, memang kasih itu murah meriah namun menghidupkan dan membahagiakan. Juga spesial wajah-wajah gembira penuh daya khas ABG (Anak Baru Gede) beracara EKM. Whow…! Jangan kira siapa kita, bukan sekadar anak-anak orang biasa, atau anak presiden lho! Kita ini sungguh anak Allah, Raja yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa, dan bukan pula sekadar penguasa sistem kontrak lima tahunan, tapi Bapa kita juga penguasa cinta sepanjang segala masa. Itulah sebabnya kita masing-masing perlu menghargai martabat hidup kita yang luhur ini dengan penuh percaya diri, memperlakukan diri dan saudara/i-nya dengan penuh hormat dan tawakal. Sungguh luar biasa ajaib, bahwa kita benar-benar satu saudara dalam roh pembabtisan. Nama babtis bukan sekadar atribut untuk KTP tapi untuk dihidupi antara lain seperti kalian dalam kesatuan merayakan Ekaristi dilanjutkan kumpul penuh bangga dan percaya diri unjuk kebolehan untuk menyelenggarakan pesta dari hasil panen sendiri dengan sajian meriah, bersama menikmati betapa renyahnya rebung muda, segarnya daun ubi, dan gurihnya ikan teri. 
Hehe…, semuanya menyehatkan dan membuat stamina tubuh mejadi terjaga. Bagiku adalah suatu yang amat mengagumkan, betapa tidak, karena di zaman ada sejuta tawaran sajian kuliner, Anda berani tampil seadanya ala Kristiani show dan di mana apapun yang dibumbui dengan kasih akan terasa nikmat. Profisiat dan terima kasih. Ini oleh-oleh pangon kita menjemput bola di lapangan di taman-taman jiwa yang sudah mulai mekar nan elok. Harum semerbak aroma kebaikan membangkitkan rasa kagum dan bangga. Karena kita memiliki benih-benih orang Samaria yang baik hati, sumber daya manusia potensial semua memiliki benih batu karang rohani yang perlu digali, diolah, dihidupi, dikembangkan, dan dibagikan satu sama lain, dan  sudah dimulai sekarang, di lingkungan dan masyarakat.

Beranjak ke pertunjukan peragaan doa Jalan Salib, memperjelas bagaimana ekspresi wajah dan gerak tubuh Yesus hamba Yahwe yang tidak melawan pun tidak mundur, tidak memalingkan wajah-Nya dari cercaan dan hinaan. Tidak goncang menghadapi perendahan, penghinaan, penyiksaan sampai disalib mati, karena berpegang teguh pada opsi fundamental-Nya yaitu karena kasih setia-Nya untuk menyelamatkan semua manusia, termasuk Anda dan saya. Dengan pola pikir, pola bicara, pola bertindak secara konsisten. Mekanisme-mekanisme, cara beradu gerak dan langkah Yesus kali ini membangunkan kesadaranku dari kebiasaan-kebiasaan yang suam-suam kuku atau sikap ya dan tidak sekaligus (dualisme) Saudara/i, trims ya, jerih lelahmu untuk mewartakan kebenaran Yesus sampai di hatiku, sekaligus maafkan daku yang tidak memberi teladan baik. Itulah sebabnya saya perlu belajar sampai mati, untuk menapaki jalan yang makin terjal berbatu. Doakan, ya!

Lanjut menyusur laman jiwa kepunyaan-Nya, beraneka eksistensi kehidupan, ah…! Betapa mata batinku terpukau memandang dari kejauhan cakrawala kehidupan para pangon yang berjajar rapat menyatu bagai keperkasaan gunung es muncul di permukaan laut sebagai wujud kasih Bapa di surga yang siap menjadi alat belas kasih kerahiman-Nya, meski di balik figur-figur sederhana, bersahaja dan biasa-biasa saja. Mari lihat dan perhatikan, siapa tidak terinspirasi mengikuti jejak itu, menjadi pahlawan surgawi, dengan gagah berani berdiri tegak di garda depan demi jalan kebenaran dan hidup sejati dalam Allah.

Itulah tawaran Allah yang menunggu jawaban bebas dari kawula muda yang siap sedia menjadi alat-Nya. “Semua perlu persiapan jangka panjang dan jangka pendek.”
Seperti kita lahir kembali oleh gereja dan terus dibesarkan oleh sabda dan sakramen-sakramen dalam rahim gereja, berarti menjadi dewasa secara Kristiani tidak dengan meninggalkan rahim gereja, tapi justru dengan masuk semakin dalam dari waktu ke waktu, bahkan kita tetap menyatu dengan pribadi-pribadi yang sudah sampai ke pangkuan Bapa di surga. 

Persekutuan keluarga besar Katolik pangon domba, laki-laki dan perempuan semua umur selalu berkumpul bersama merayakan liturgi/Ekaristi memperoleh berkat lalu pergi menyebar untuk diutus secara holistik dalam keberadaan dan sepak terjang kehidupan harian masing-masing di masyarakat dengan kunci dasar, Yesus.  

Setiap saat Anda dan saya diundang untuk menyadari makna hidup dengan pikiran, mata, telinga, hati yang bening lalu mengambil pilihan dan tindakan walau sekecil apapun yang sesuai dengan opsi fundamental Yesus yaitu kasih dan keselamatan diri dan sesama. Di sanalah rahasia kebahagiaan sejati ditemukan apapun dan status yang bagaimanapun. Dengan demikian kita sudah berada dalam cakupan kerajaan Allah walau masih berjuang, nanti lama-kelamaan kita akan mampu berdiri tegak menginjak ular dengan damai seperti Ibu kita Maria yang penuh rahmat dan cinta, corak hidup cinta dan pengampunan tanpa syarat member peluang dan harapan pada manusia untuk kembali bangkit dari dosanya. Berarti juga berani menanggung derita secara ksatria dan kepahlawanan surgawi.

Mari tengok dan lihatlah di seberang sana, ada romo-romo yang sudah sepuh, seperti Rm. Charles Patrick Edwartd Burrows, OMI atau lebih dikenal sebagai Rm. Carolus, OMI, Rm. B.  Kieser, SJ, Rm. Magnis, S, tapi masih berjuang gigih mendampingi domba-domba di penjara dan lain-lain perjuangan bagi kemanusiaan. Sekali lagi pertanyaannya, siapa anak muda yang tidak tertantang untuk meneruskan perjuangan-perjuangan beliau, menjadi gembala yang berani mati demi dombanya. Sudah waktunya kita bangkit dari tidur, seperti Samuel siap siaga mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan. Berani berjuang menempuh jalan kebenaran dan hidup (yang adalah Yesus sendiri).

Terima kasih yang sedalam-dalamnya atas gotong royong kita semua warga gereja untuk membagikan berkatnya masing-masing baik pada keluarga kecilnya (anak, ibu, bapak, asisten rumah tangga), lingkungan dan masyarakat. Lingkungan yang baik adalah seminari diri yang baik, yang menanam benih baik akan menuai hasil baik. Kebaikan dan kasih sejati yang diterima waktu kecil/usia dini akan menjadi warisan hidup yang melebihi harta benda apapun yang tidak luntur oleh terpaan arus zaman apapun.

Keselamatan masa depan (hidup kekal) adalah keselamatan masa kini dan keselamatan masa kini adalah tugas dan tanggung jawab yang harus kita kerjakan dalam hidup keseharian yang biasa-biasa saja tapi dilakukan dengan hati penuh cinta, bernyala, dan dengan jiwa besar, dalam kesatuan Roh Allah Tritunggal Kudus. Semoga batu karang-batu karang rohani gereja kita semakin cemerlang menyinari jagat raya. Amin.
(Sr. Pia, OSCCap)

*Pangon (berasal dari bahasa Jawa) artinya gembala.  

12 Sep 2015

MEMBERI KARENA MAU

MEMBERI KARENA MAU

 

Hampir setiap hari Minggu sekitar pukul 8 pagi Marieta sudah berdiri di depan pintu gereja. Gadis cilik yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar itu dipercayai untuk menjadi pengajar Sekolah Minggu di Stasi Trans SP2, stasi terjauh dari pusat Paroki Singkawang.  Satu demi satu anak-anak mulai berdatangan. Tanpa dikomando mereka pun langsung masuk gereja dan duduk di bangku paling depan. Seperti layaknya seorang guru Marieta langsung mengambil posisi. Dia berdiri menghadap anak-anak yang sudah  duduk rapi dan mulai memberi aba-aba untuk segera bernyanyi lagu-lagu rohani.  Dengan panduan  Marieta mengalunlah lagu-lagu rohani dari mulut anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Senandung lagu rohani itu terasa makin lengkap karena disertai dengan tarian. Hampir setiap lagu ada gerakannya. Anak-anak menari mengikuti  gerakan gurunya. Kadang disertai  derai tawa karena lebih sering anak-anak menari dan menyanyi semaunya sendiri.  Lagu yang terdengar lebih sering lari dari notasinya. Tarian mereka pun kadang tidak harmonis dan tidak serasi. Sifatnya lebih spontan. Tetapi tidak tergambar suasana kaku yang menakutkan. Justru dengan bebas dan polos anak-anak bernyanyi dan menari memuji Tuhan.

Meski jauh dari kisi-kisi pelajaran agama Sekolah Minggu yang disusun oleh Komisi Liturgi, tetapi Marieta sudah bisa mengajak anak-anak bergembira memuji Tuhan. Dalam pelajaran Sekolah Minggu yang diberikannya tidak ada yang namanya bacaan Kitab Suci. Tidak ada yang namanya merenungkan sabda Tuhan. Tidak ada doa pembukaan dan doa penutup yang tersusun rapi.  Marieta hanya sekedar mengajak anak-anak untuk bernyanyi dan menari bagi Tuhan.  Menuntut yang lebih jelas tidak mungkin dari seorang anak kecil yang baru duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 6. Modal Marieta hanyalah kemauan yang kuat. Yang penting anak-anak bisa bergembira dan sudah dibiasakan untuk memuji Tuhan pada hari Minggu.

Beberapa waktu lalu ketika saya turne ke Trans SP2, sehabis pelajaran Sekolah Minggu saya lihat wajah Marieta keliatan murung. Karena penasaran saya dekati Marieta dan bertanya kepadanya. 

“Kok Marieta sedih hari ini? Marieta sakitkah?” tanya saya. Marieta hanya menggelengkan kepalanya dan tertunduk agak lesu.

“Lalu kenapa? Boleh pastor tahu?” tanya saya sekali lagi.

Sambil mengangkat kepalanya, Marieta berkata dengan suara lirih. Hampir tidak terdengar sama sekali.

“Pastor, Marieta sebentar lagi akan pindah. Mau melanjutkan sekolah ke SMP Capkala. Nanti tidak ada lagi yang mengajak adik-adik ini benyanyi dan menari di sini”. Kembali kepalanya tertunduk memandangi lantai gereja yang mulai keropos.

Mendengar jawaban polos dari bocah kecil itu saya hanya bisa melongo. Hanya bisa diam dan membisu. Tiba-tiba saja  terasa ada genangan air di mata saya yang mau  jatuh tertumpah. Kerongkongan saya pun terasa kering.  Tidak tahu saya harus berkata apa. Hanya ada rasa haru bercampur rasa syukur. Bocah seusia Marieta mempunyai  hati yang murni untuk memberikan dirinya. Padahal dia tidak mendapat imbalan apapun dari tugasnya sebagai  pengajar Sekolah Minggu. Tetapi dia bisa merasakan kesedihan. Bukan sedih karena harus pergi dari kampung halamannya. Tetapi sedih  karena harus meninggalkan adik-adiknya. Marieta bukan berpikir untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk adik-adiknya. Semangat pengorbanan tanpa pamrih, yang disertai perhatian terhadap orang lain.

Perjumpaan dan pembicaan dengan Marieta yang sangat singkat waktu itu memberi banyak pelajaran kepada saya. Marieta mengajari saya bahwa untuk bisa memberikan diri tidak harus kaya dan mempunyai banyak. Tidak sama sekali. Marieta baru kelas 6 Sekolah Dasar. Dia tidak mempunyai pemahaman bagaimana seharusnya menjadi guru. Dia juga tidak pernah ikut kursus menjadi guru Sekolah Minggu. Modal yang dia punyai hanyalah kemauan yang tulus. Dan ini sudah lebih dari cukup. Buktinya Marieta bisa mengajak adik-adiknya bernyanyi memuji Tuhan pada hari Minggu. Ketika dia harus pergi karena melanjutkan sekolahnya, perhatiannya masih tertuju untuk adik-adiknya. Terimakasih Tuhan, Engkau telah mempertemukan saya dengan gadis cilik yang tahu apa artinya memberikan diri. Bukan karena mampu, tetapi karena mau. Terimakasih Marieta,  engkau juga mengajari saya bagaimana itu memberikan diri. Andaikata dunia ini dipenuhi dengan orang-orang seperti kamu Marieta, pasti akan terasa sangat indah. (Gathot)


BINCANG HANGAT DENGAN CALON PENERIMA SAKRAMEN IMAMAT

BINCANG HANGAT DENGAN CALON PENERIMA SAKRAMEN IMAMAT

 

 


Sosoknya pertama kali saya lihat pada medio Desember 2014 lalu. Kala itu saya tengah ditugaskan meliput kegiatan seksi sosial panitia Natal yang tengah masyuk bekerja menyortir pakaian pantas pakai yang akan disalurkan ke 14 stasi di bawah naungan paroki. Beliau adalah salah satu dari sekian yang asyik bekerja, tak hirau dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Kesan saya ketika pertama kali melihat Kapusin yang kali ini profilnya diangkat dalam rubrik sosok adalah serius, pendiam, bahkan cenderung cuek. Bagaimana tidak, ketika saya harus mengambil gambar guna melengkapi tampilan artikel yang saya tulis, saya harus mengulang setidaknya hingga empat kali shoot agar semua objek yang ada di dalam foto memandang ke arah kamera. Itu pun akhirnya dengan bantuan lampu blitz yang mungkin menyilaukan hingga mau tidak mau, Kapusin yang satu itu merasa sedikit terganggu oleh kilatan blitz, baru kemudian memalingkan pandangan ke arah kamera.  

Fr. Ferdinand , OFMCap, lahir di Merbang, 25 Juni 1984. Pria yang sekilas memiliki paras serupa  artis peran Glenn Alinskie ini masih terkesan pelit bicara kala saya menghampirinya di Pastoran guna menjalani sesi wawancara. Ada sedikit ketegangan yang tersirat di wajahnya saat wawancara berjalan pada menit-menit awal. Hal ini rasanya sangat wajar mengingat sebelumnya kami memang belum pernah terlibat dalam obrolan dan setelah saya telusur lebih jauh, frater yang memiliki hobi bernyanyi lagu-lagu Malaysia dan mendaraskan Mazmur ini memang memiliki sedikit permasalahan dengan proses adaptasi, terutama adaptasi terhadap sosok baru di lingkungannya, namun jika sudah mengenal sosoknya lebih dalam, maka kesan hangat pun segera tersemat. “Tantangan terberat dalam diri saya adalah sosok saya yang tergolong pendiam, bagaimana saya yang pendiam ini harus bisa melayani umat yang mungkin saja nanti dalam perjalanan keimamatan saya harus seringkali mengalami mutasi. Saya dituntut harus mampu segera beradaptasi dengan lingkungan dan segala situasi,” begitu ujarnya.
Dalam perjalanan pendidikan kegembalaan, pembelajaran tentang berbicara maupun retorika diperoleh dan cukup membantu dalam mengatasi permasalahan sifatnya yang pendiam. “Saya yang pendiam ini banyak belajar untuk berbicara di depan umum pada saat menempuh pendidikan di Pematang Siantar. Kami seringkali harus presentasi pada saat perkuliahan berlangsung, dan pada tahun kedua kami diberi kesempatan mengajar, demikian juga di tahun ke tiga dan ke empat, dalam karya kerasulan, saya diminta untuk mengajar di Sekolah Minggu,” ujarnya.

Kira-kira 20 menit berselang, suasana wawancara pagi itu mulai terasa akrab kala tawanya berderai saat menceritakan pengalaman jenaka ketika menempuh pendidikan di kampus STFT Pematang Siantar. Layaknya remaja beranjak dewasa pada umumnya, Ferdi juga mengalami fase sedikit bandel dan lalai dalam belajar. Dunia hiburan di televisi sempat membuncah konsentrasi belajarnya hingga ia baru  merasa kalang kabut saat menjelang ujian akhir semester.    

Ditelisik mengenai momentum panggilan keimamatan dalam hidupnya, pria yang awalnya bercita-cita ingin menjadi guru ini perlahan mulai mengubah haluan masa depannya menjadi gembala saat duduk di bangku SMP. Kala itu seorang pamannya yang adalah seorang pastor meninggal dunia lantas sang ayah sempat berujar, “Nanti kamu menggantikan pamanmu menjadi pastor,” sejak saat itu bara kehidupan membiara perlahan tapi pasti mulai berkobar dalam dadanya. 

Ketertarikannya terhadap kehidupan membiara semakin mekar saat duduk di bangku SMA, ia tinggal di asrama di bawah naungan Kapusin. Sosok Ferdi remaja saat itu masih terlalu hijau untuk memahami berbagai ordo dalam kehidupan membiara dan baru mulai terbuka wawasannya saat memasuki tahun orientasi panggilan yang dijalaninya di Nyarumkop. Saat itu, ia mengaku begitu mengalami ketertarikan yang kuat pada Ordo Kapusin karena persaudaraannya yang sangat lekat. “Saya melihat karya mereka di kampung saya, pelayanan mereka juga sangat total. Selain itu jubahnya berwarna coklat, begitu sederhana, praktis dipakai untuk apapun juga, jubah pekerja. Hal lain mengapa saya memilih Kapusin karena adik kakek saya ada yang imam dan Kapusin juga, adik mamak saya juga suster sekarang menjadi pimpinan SFIC Pontianak.”  

Meski masih harus menempuh pendidikan lanjutan di STT Pastor Bonus, putra dari Bapak Vincentius Nyurai dan Ibu Yohana Ayu ini ternyata juga memendam hasrat mulia berkait dengan pendidikan dan keprofesiannya. “Jika diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di luar jalur keimamatan, saya sangat ingin mengambil spesialisasi keperawatan. Saya ingin merawat rekan-rekan pastor Kapusin yang sudah tua dan sakit,” ujarnya dengan nada bersungguh-sungguh. 

Kiranya perjalanan Frater Ferdi menuju tahbisan kekal sebagai imam masih harus melewati satu tahapan pendidikan. Besar harapan ditautkan agar bisa menuntaskan pendidikan tepat pada waktunya hingga impian serta cita-cita masa remajanya untuk menjadi seorang imam dapat terwujudkan. Doa kami selalu mengiringi setiap usaha dan langkahmu, wahai calon gembala baru. (Hes)     


Riwayat Pendidikan dan Kegembalaan
SDN 8 Merbang
SMPN 2 Belitang Hilir
SMA Maniamas, Ngabang
Tahun Orientasi Panggilan Nyarumkop
Postulan Sanggau Kapuas
Novisiat Gunung Poteng, Singkawang
STFT Pematang Siantar, Sumatera Utara
TOP. Er Paroki St. Fransiskus Assisi, Singkawang
STT Pastor Bonus, Pontianak     

11 Sep 2015

MALAM PERPISAHAN DENGAN FRATER FERDINAND

MALAM PERPISAHAN DENGAN FRATER FERDINAND

Sabtu, 15 Agustus 2015. Bertempat di sayap kanan gereja, di depan Gua Maria, OMK menggelar  acara sederhana perpisahan dengannya, sang calon gembala. Ada yang sulit terlukiskan kala itu, perasaan haru, sedih,  bangga, dan bahagia bercampur menjadi satu. Di satu sisi, kebanggaan  dan kebahagiaan itu muncul manakala mengingat Frater Ferdinand, OFMCap yang selama sepuluh bulan telah menjalani masa tahun orientasi panggilan di Paroki Singkawang akan segera melanjutkan studi dalam perjalanan keimamatannya,  dan itu artinya akan bertambah pula gembala di lingkup gereja. Di sisi lain, umat yang terlanjur dekat  harus merasa kehilangan sosok serta pribadinya yang akrab dan hangat.    

Dalam kurun waktu sepuluh bulan, tidak sedikit hal berkesan yang  berhasil ditorehkan oleh Frater Ferdi. Pria yang khas dengan matanya yang sipit itu begitu aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan OMK, Sekolah Minggu, maupun aktivitas pelayanan gereja lainnya. Hal ini tampak pada berbagai sambutan berisi pesan dan kesan yang disampaikan oleh perwakilan umat dalam acara malam keakraban sekaligus perpisahan dengannya. Salah satu yang mendapat kesempatan menyampaikan pesan dan kesan adalah ketua OMK. Dengan gaya khas remaja, Ayu menuturkan, “Terima kasih kepada Frater karena telah mendampingi OMK selama ini, semua hal yang kita alami bersama Frater begitu berkesan. Frater itu orangnya asyik, suka diajak jalan-jalan , murah senyum, rajin mendampingi kami latihan koor, dan frater juga orangnya manis, lucu, dan baik. Semoga Frater selalu sukses dan selalu setia pada panggilannya, dan semoga Frater tidak melupakan OMK.”  

Acara sederhana namun terkesan hangat yang juga melibatkan ibu-ibu WK, Warakawuri St. Monica, Legio maria, beberapa biarawan/biarawati, serta pengurus DPP itu diakhiri dengan penyerahan cindera mata kepada Frater Ferdinand. Akhirnya, selamat melanjutkan studi, Frater. Semoga selalu mendapat kemudahan dan kelancaran dalam setiap langkah, serta setia terhadap panggilan hidup sebagai gembala. (OMK)     



GUA MARIA: MILIK KELUARGA TERBUKA UNTUK SESAMA

GUA MARIA: MILIK KELUARGA TERBUKA UNTUK SESAMA


Senin, 6 Juli 2015. Meski telah terbiasa digunakan jasanya menjadi tempat menggelar pesta pernikahan atau acara keluarga lain yang tentu sarat kesibukan, kali ini area wisata Danau Teratai juga dipenuhitamu undangan. Yang membedakan, jika biasanya sisi sayap kanan dari pintu masuk yang penuh pengunjung, khusus pagi itu sayap kirilah yang disarati tamu undangan yang rasanya tak terhitung. 

Tumpah ruah tamu undangan memeriahkan acara peresmian Gua Maria milik keluarga namun terbuka juga untuk sesama. Peresmian area doa digelar bertepatan dengan hari pertambahan usia si empunya.  Sang tuan rumah yang pada hari istimewa tersebut genap berusia 67 tahun, Bapak Y.F. Sudjianto beserta istri dengan ramah dan senyum sumringah menyambut kehadiran tamu yang datang dari berbagai kalangan. 


Hanya meleset 5 menit dari waktu yang sudah ditentukan, pukul 9.05 Wib, misa yang dipimpin Pastor Gathot berjalan khidmat. Diawali pemberkatan 14 stasi Jalan Salib dan disusul pemberkatan Gua Maria, umat yang hadir larut dalam suasana prosesi misa. Di kesempatan yang sama saat doa ujud misa disampaikan, pihak keluarga diwakili oleh cucu-cucu, satu persatu mendapat giliran maju. Umat yang hadir dalam misa yang digelar pada peresmian gua maria ini  berjumlah di luar dugaan. Hal ini tampak saat membagi hosti, Pastor Gathot sedikit kewalahan karena umat berjumlah ratusan.

Usai misa dilangsungkan, tuan rumah menggelar acara ramah tamah. Semua yang hadir dipenuhi berkah dengan makanan yang berlimpah ruah dan terkesan mewah.  (Hes)