MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

8 Okt 2016

Setulus Bumi Menerima Biji

 Setulus Bumi Menerima Biji                                                              

                                             

Melihat Pak Petrus, si juru taman yang sedang marah besar. Gumpalan awan mendung menutup langit, burung-burung terdiam bersembunyi dalam sarangnya, bunga di taman kini tertunduk layu menyembunyikan rasa wanginya.

Jantung si juru taman itu berdetak keras dan sangat cepat dan membuat darahnya menjadi semakin panas, dia amat marah, darah yang terpompa ke wajahnya menjadi merah kebiru-biruan.

Pohon mangga yang sedang berbuah lebat dan sudah saatnya untuk dipetik itu mencoba membujuk Pak Petrus, dia menjatuhkan buahnya yang sudah masak di dekat kaki Pak Petrus untuk meredakan amarahnya. Ternyata suasana malah semakin panas, biji mangga yang jatuh ternyata mengagetkan pandangan matanya yang sedang menatap jauh tanpa tujuan. Buah mangga itu ditendangnya hingga melesat jatuh di dekat kubangan.

Dan akhirnya kemarahan si juru taman yang karena kritikan dari seorang tamu yang mengatakan dia tidak mempunyai jiwa seni dalam memelihara taman, jiwanya hanyalah seorang tukang kebun biasa, itu menjadi reda setelah majikannya memintakan maaf atas perlakuan tamunya tersebut dan Pak Petrus mulai bekerja kembali dengan rajin, apalagi setelah mendapatkan kenaikan gaji karena kesetiaannya.

Waktu terus berjalan dan tanpa disadari Pak Petrus menemukan biji mangga yang tergeletak di kubangan, yang kini tumbuh menjadi bibit yang subur. Setelah ia amati dengan teliti, ia teringat akan biji mangga yang dulu mengagetkannya lalu ditendangnya ketika emosi sedang melanda dirinya. Kemudian dia duduk termenung menatap  bibit pohon mangga yang kini tumbuh subur itu, seakan dia sedang berdialog dengan tanah yang selama ini menghidupi biji mangga tersebut.

“Kawan, engkau menciptakan sesuatu yang sungguh hebat!” kata Pak Petrus kepada tanah yang dipijaknya. Si Tanah kebingungan, kok orang itu ngomong sendiri, tetapi setelah diperhatikannya, tanah tahu bahwa orang itu bicara dengannya. Buktinya tangan kanan orang itu mengorek-ngorek dirinya dengan sebatang patahan kayu kering.

“Oh…. ada apa gerangan, hingga engkau mau memujiku seperti itu kawan!” jawab si tanah.

“Kenalkan, namaku Petrus,” kata pak Petrus memperkenalkan namanya. “Begini kawan….” Pak Petrus melanjutkan keingintahuannya. “Biji mangga ini dulu kutendang ketika aku sedang marah. Tetapi engkau tetap menerimanya dengan baik, kawan!” Pak Petrus melanjutkan jawabannya. “Engkau menerimanya dengan ketulusan hatimu, bahkan dia kau hidupi sampai biji mangga itu menjadi sebatang bibit mangga yang subur. Kau begitu setia dengan panggilanmu untuk menyuburkan bumi ini, kawan.”

“Ah, tidak begitu Pak Petrus, saya hanyalah menjalankan apa yang menjadi tugasku saja!” jawab tanah merendah.

“Yang hebatnya lagi kawan, kau tak pernah membedakan antara buah yang pahit atau buah yang manis, buah yang beracun maupun buah yang lezat dan enak untuk dimakan, semuanya itu kau layani dan kau suburkan dengan cara yang sama!”

Si tanah hanya diam saja mendengarkan pujian yang sangat tidak dibutuhkan itu, walau dalam hati kecilnya si tanah bangga juga dengan pujian yang memang mendasar tersebut.

“Lalu bagaimana ya kawan,” lanjut Pak Petrus masih dengan wajah kekagumannya, “Agar aku juga dapat melakukan seperti itu dan akupun mampu setia dengan panggilanku!” 

Si tanah masih diam saja, dia bingung harus menjawab apa. Dia diam beberapa saat.
“Hayo dong, kawan bagaimana saya harus bersikap!” Pak Petrus mengulangi.

“Pak Petrus, suatu saat Pak Petrus akan dijunjung begitu tinggi, dipuji, dihormati dan merasakan kehangatannya, tetapi dalam waktu sekejap Pak Petrus juga akan berjumpa apa yang namanya duka cita, kritikan, serangan, penghinaan, caci maki bahkan kesepian.

Nah, kalau Pak Petrus berhasil memperlakukan kesemuanya itu dengan cara yang sama, memperlakukan dengan sikap yang sama, Pak Petrus akan mempunyai harapan dan setia terhadap panggilan hidupmu.

Pak Petrus diam termangu, mencerna apa yang dikatakan tanah itu.

“Masuk di akal juga. Baik, mulai hari ini saya akan mendengar apa yang dikatakan orang dan memperlakukan semuanya itu secara adil dan bijak.”  Lalu Pak Petrus pergi melanjutkan pekerjaannya merawat taman di rumah majikannya dengan ikhlas dan setia.

Singkawang, Media Agustus 2016