MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

29 Mei 2016

24 Karat, Tanpa Syarat

24 Karat, Tanpa Syarat


“Urusan hati, soal rasa, kadang tak terjangkau dengan logika.”

“Anda pernah jatuh cinta?” Atau jika saya sedikit menaikkan kadar keisengan pertanyaan saya, maka saya akan menanyakan, “Seberapa sering Anda jatuh cinta?” Jatuh cinta atau mengagumi apa yang memikat dari objek yang membuat kita akhirnya merasa jatuh cinta, terkadang menimbulkan kesulitan untuk  sekadar membedakan gradasi rasa yang tercipta. Apakah rasa itu timbul murni bukan berdasar suatu kondisi atau semata-mata tercipta karena tendensi. 

Kebanyakan dari kita punya seribu satu alasan untuk mendeskripsikan ketertarikan terhadap seseorang yang hendak, atau bahkan sudah menjadi pasangan. Mulai dari hal yang kasat mata, ketampanan, kecantikan, bentuk badan, serta jutaan keindahan yang rasanya diciptakan Tuhan khusus untuk memikat alam bawah sadar. Tidak berhenti sampai di situ, ketertarikan tak ayal merambat, menjangkau segala sifat yang menyentuh perasaan. Mulai dari sifat tenang, keibuan, kebapakan, bijaksana, atau ragam pilihan lain yang pada intinya menyuguhkan bergumpal-gumpal karakter positif orang yang kepadanyalah kita bertekad bulat menjatuhkan pilihan. Pendeknya, segala kelebihan menjadi hal mutlak untuk bahan perbandingan, tanpa mau menerima segenap kekurangan pribadi yang bersangkutan. Belum lagi jika rasa tercipta karena berbagai bentuk tuntutan  kehidupan. Jika disederhanakan maka akan timbul pernyataan, “Saya mau dengan kamu karena kamu punya ini, punya itu,” atau “Karena kamu anak si ini, si itu,” “Karena kamu pendidikannya ilmu ini, ilmu itu,” dan berbagai hal yang melatari timbulnya ungkapan ‘mau’. Sungguh penuh syarat, bahkan terkadang rasanya terlampau sarat dan berat.   

Suatu malam, pada ingar bingar derai tawa dalam pesta pertambahan usia seorang sahabat, Pastor Paroki  yang juga hadir, melontarkan undangan lisan kepada saya untuk menghadiri sebuah pesta. Pesta pernikahan. Pada awal ajakannya serasa tak ada yang istimewa. Puluhan, bahkan ratusan pesta pernikahan telah lewat begitu saja dalam laman hidup saya. Kadang saya menjadi bagian dari sukses jalannya pesta pernikahan, entah sebagai pengabadi gambar, pembaca kutipan ayat suci dalam pemberkatan pernikahan, dan lebih sering saya  datang hanya sebagai tamu undangan. Biasa pula saya melewati prosesi pernikahan yang menjadi momen paling sakral bagi kedua pasangan dengan rasa yang datar, tanpa embel-embel perasaan rawan yang mangkus menyita keharuan. 

Bayangan tentang pesta pernikahan pada umumnya lantas silang semburat dalam buncahan pikiran saya, namun segera dipadamkan oleh kalimat susulan Pastor Paroki, “Yang menikah pasien rumah sakit kusta, Mbak, dengan orang luar.”  Saat itu saya tak banyak bertanya, namun di dada dan di kepala seperti ada yang berlomba-lomba, bergegas hendak menyaksikan perhelatan untuk menuntaskan segala dahaga akan berbagai keingintahuan.

22 April 2016. Suatu sore yang teduh di Jumat  yang penuh berkat. Di hadapan saya berdiri sepasang muda-mudi, berbusana pengantin lengkap dengan buket bunga di tangan calon pengantin wanita. Sekilas tak ada yang sumbang dalam pandangan mata. Jika pun wajah mereka terlihat tegang, segala kemakluman boleh disematkan. Siapa yang tak tegang jika sebentar lagi akan mengalami perubahan status dalam kehidupan. Semisal yang awalnya sendirian lantas berpasangan, atau manakala pasangan menantikan kelahiran buah hati penerus keturunan. Ya, ketegangan yang wajar dari sebuah fase penting perubahan dalam kehidupan perorangan. Yang pria bernama Roni, yang wanita adalah Ida. 


Melihat ketegangan di wajah keduanya, saya yang ikut mengabadikan dalam slide diam momen penting keduanya lantas berkelakar, “Roni, mukanya tegang amat, wajah senang, Roni, wajah senang! Idaaa…, senyum!” Namun usaha saya tak sepenuhnya berhasil, keduanya tetap memandang tegang ke arah saya, sebaliknya tamu-tamu lain malah semakin bersemangat menggoda keduanya. 

Beberapa menit berselang, tiba saat keduanya beriringan memasuki kapel di lingkup Rumah Sakit Kusta, Alverno. Sedikitpun tak ada yang lepas dari pengamatan saya di balik lensa kamera. Dari balik lensa pulalah pancaran keharuan mulai meradang dan berpendar dalam dada saya. Jika pemandangan pernikahan pada umumnya pengantin wanita melangkah lancar dengan buket bunga tetap di tangan, Ida mengalami sedikit kerepotan karena gaun pengantin yang panjang menghalangi langkah kakinya yang kurang sempurna disebabkan oleh penyakit kusta. Serta-merta Ida menyerahkan buket bunga pada ibunya dan menjinjing gaun pengantin putihnya, berjalan terseok, namun tanpa kehilangan keanggunan sebagai perempuan. Menghadapi pemandangan ini, usai menekan rana pada kamera, saya bergegas membalikkan badan, secepatnya memasuki kapel. Tak tega, hati saya kehilangan kuasa, mata saya mulai berkaca-kaca.

Misa pemberkatan pernikahan yang sedianya dipimpin oleh pastor lain ternyata sengaja diambil alih oleh Pastor Paroki. Beliau rupanya tak ingin kehilangan momen spesial mempersatukan dua insan yang telah dipilih dan dipertemukan Tuhan dalam ikatan pernikahan. 

Prosesi pemberkatan pernikahan berjalan lancar. Sedikit yang berbeda adalah pada bagian saat pasangan meminta restu dari orang tua untuk memulai  babak baru kehidupan. Jika pada umumnya kedua pasangan memohon restu dengan cara sungkem, maka disebabkan keterbatasan fungsi organ tubuh pengantin perempuan, proses sungkem tak dilakukan, melainkan diganti dengan penumpangan  tangan orang tua pengantin di pundak keduanya. Pada bagian ini keharuan masih melingkupi atmosfer kapel. 

Ketegangan hilang manakala janji pernikahan usai diikrarkan, penyematan cincin pengikat telah dilakukan, prosesi dilanjutkan dengan pembukaan cadar pengantin perempuan yang disusul pendaratan ciuman oleh sang pasangan. Sorak-sorai dan tepuk tangan 70-an hadirin yang didominasi rekan-rekan pasien kusta lainnya membahana dalam kapel nan sederhana. Semua sungguh bergembira, semua larut dalam tawa, semua membaur dalam suka cita.

Ida, masih dari balik lensa, manakala saya temukan rona bahagia memancar dari pribadimu yang sederhana. Cinta dan kemenangan telah kau genggam dalam sematan cincin pernikahan. Ya, dalam cinta 24 karat dari Roni yang memilih dan mencintaimu, tanpa syarat. (Hes) 


0 komentar: