MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

15 Jan 2016

MALAIKAT TANPA SAYAP ITU BERNAMA PINGKAN

MALAIKAT TANPA SAYAP ITU BERNAMA PINGKAN 




“Namun tak kaulihat… terkadang malaikat, tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan...”

Kiranya kutipan lagu berjudul Malaikat Juga Tahu yang dinyanyikan oleh Dewi Lestari begitu sesuai untuk menggambarkan sosoknya yang mungil namun sangat cekatan kala bersama ibu dan saudara perempuannya mengemasi tumpukan Madah Bhakti yang berhamburan usai dipergunakan pada saat misa. Skolastika Pingkan, atau Pingkan, begitu ia biasa disapa, ia adalah putri dari Ibu Armey Pande dan Bapak Yohanes Rusyanto. Pelajar kelas VII SMP Bruder ini cukup menyita perhatian. Jika anak seusianya pada umumnya segera beranjak pulang seusai menghadiri perayaan Ekaristi, atau memilih tinggal di gereja untuk sekedar ber-selfie, maka gadis yang mulai menginjak masa remaja ini meluangkan waktu yang ia miliki untuk mengemaskan tumpukan Madah Bhakti yang lebih sering dikembalikan sekenanya atau ditinggalkan begitu saja oleh pemakainya di bangku-bangku gereja. Belum lagi sampah bungkus permen atau makanan, hingga tissue yang tak luput terserak ditinggal para konsumennya,  pun demikian pada wadah kolekte yang kadang tergeletak begitu saja dibiarkan usai digunakan. 

Setiap Minggu usai misa ke dua, cermatilah orang-orang yang berada di gereja, maka indra penglihatan kita akan segera mendapati sosok gadis mungil ini ditemani ibu dan kakak perempuannya (Fransiska Aneke) tengah sibuk berbenah tumpukan Madah Bhakti. Kegiatan yang rutin dilakukannya ini kira-kira sudah berjalan dua tahun. Selama sekitar setengah jam setiap hari Minggu usai misa ke dua, Pingkan meluangkan waktunya untuk ‘melayani’ gereja. Ketika ditanya apa yang melatari tindakannya, dengan polos ia berujar, “Karena melayani Tuhan bisa dari tindakan kecil seperti ini.” Ya, tindakan kecil namun nyata, begitu berharga dan  dampaknya bisa dirasakan langsung oleh sesama. 

Pernahkah kita membayangkan betapa repotnya koster jika masih harus disibukkan dengan rutinitas tambahan mengemasi Madah Bhakti usai digunakan, memunguti sampah yang sengaja ditinggalkan di rumah Tuhan, hingga membereskan berbagai peralatan sederhana pendukung aktivitas gereja. Pernahkah kita membayangkan bagaimana keadaan gereja jika ketakpedulian kita atas berbagai ketidakberesan masih terus menerus kita lakukan jika tidak ada sosok ‘malaikat tanpa sayap’ seperti Pingkan? 

Untung ada Pingkan, ya, untung ada Pingkan, namun bukan berarti kita bisa semakin tidak peduli ketika merasa ada sosok lain yang dengan ikhlas membereskan ketidakteraturan yang kita timbulkan. Ada benarnya apa yang dikatakan Pingkan dengan lebih menyadari bahwa tindakan kecil namun berarti melayani Tuhan, setidaknya dengan timbul kesadaran untuk merapikan ketidakberesan, kita bisa meringankan rutinitas Pingkan. (Hes)