MARILAH MENYEBARKAN DAMAI DAN CINTA KASIH - TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

3 Sep 2015

Sudah Ada Masalah Jangan Masuk Dalam Masalah Baru

Sudah Ada Masalah Jangan Masuk Dalam Masalah Baru

Minggu, 23 Agustus 2015 pukul 10.00 Wib, sekelompok orang muda duduk ngobrol santai sambil tertawa lepas bebas di sebuah aula yang cukup megah. Dalam suasana yang spesial tersebut ternyata ada yang dinantikan oleh mereka yaitu penyuluhan tentang pencegahan penyalahgunaan narkoba yang diisi oleh tim dari BNN kota Singkawang. Para peserta yang mengikuti penyuluhan ini adalah para siswa asrama Putra Santa Maria milik Bruder MTB, dan siswi asrama St. Maria Goreti milik Suster SFIC yang sengaja bergabung untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Peserta yang berjumlah 283 orang baik tingkat SMP maupun SMA ini terlihat sangat antusias  bertanya seputar narkoba. Selama dua jam mereka mendengar penjelasan dari narasumber dengan khidmat dan serius. Lingkup materi penyuluhan ini sangat lengkap dan detail di antaranya gambaran umum tentang narkoba, pengetahuan narkoba, jenis-jenis narkoba, faktor penyalahgunaan narkoba, akibat penyalahan narkoba, hingga berbagai tips pencegahan narkoba.

Duta Anti Narkoba
 
Sr. Priska, SFIC menangapi kegiatan ini dengan antusias, “Secara pribadi saya sangat senang  dengan diadakannya penyuluhan tentang narkoba. Anak-anak yang saya bina di asrama mendapat wawasan baru dari workshop ini dan mereka harus menjaga diri dari barang haram ini. Harapannya mereka akan menjadi duta hidup sehat bagi temannya sendiri yang sudah menjadi korban atau pencandu narkoba. Maka apabila mereka tergoda dengan obat tersebut setidaknya mereka sudah kuat secara iman dan secara pengetahuan begitu luas wawasanya dalam pemahaman narkoba itu sendiri,” jabar Suster Priska dengan penuh semangat. 

Ungkapan dari Pembina asrama putri ini didukung oleh Br. Teofanus, MTB. “Kegiatan ini sangat berguna bagi kehidupan anak-anak dewasa ini. Kita berusaha supaya mereka menjadi generasi bebas dari Narkoba. Semua narkoba berbahaya dapat menimbulkan kerusakan fisik, mental, serta perkembangan emosi dan spiritual hidupnya,” papar alumni USD Jogja ini dengan mantap. Lanjut Teo, “Melalui workshop ini mereka semakin menjaga diri dan tahu secara benar-benar  akibat penyalahgunaan Narkoba.”

Pencandu Berusia Produktif
 
Agus Tedi dan Sabar yang merupakan narasumber dari BNN begitu serius dan antusias ketika menjelaskan soal faktor penyebab penyalahgunaan narkoba sesuai dengan tingkat situasi siswa SMP dan SMA saat ini. Dikatakan bahwa hingga saat ini faktor individu, sosial, lingkungan sekolah dan media lainnya membuat siswa menjadi korban pencandu narkoba. “Kita harus bekerjasama dengan keluarga, sekolah dan lembaga dinas agar menetapkan pendidikan dan pelatihan baik para guru maupun siswa tentang pencegahan dan penyalahgunaan narkoba dalam kurikulum pendidikan,” ungkap pemateri saat itu.

Data yang dihimpun oleh BNN tahun 2015, bahwa  sekitar  4,5 juta jiwa di Indonesia adalah pencandu narkoba. Di kota Singkawang sendiri  kurang lebih 1.500-2.000 orang dari 245 ribu penduduk yang sudah menjadi pencandu narkoba dengan rentang usia dari 15-24 tahun. Itu berarti para pengguna narkoba merupakan  usia produktif, baik yang sedang belajar di SMP, SMA maupun di perguruan tinggi di Kota Singkawang.

Fokus kegiatan Sekolah 
 
Ana Tamara ketua Asrama Putri St. Maria Goreti memberi pandangan lain dalam kegiatan ini. “Saya sendiri sich, sangat senang dengan workshop ini. Harapannya kami mendapat pengalaman baru yang terkadang kami tidak tahu bahwa di sekolah, barang haram itu bisa saja menyusup secara diam-diam.” Siswa kelas XII SMA Santo Ignatius Singkawang ini juga ikut sedih apabila pencandu sebagian besar adalah para pelajar, “Itu berarti kami sudah tidak menghargai lagi arti kehidupan itu sendiri. Maka saya sih akhirnya tergantung keputusan pribadi  setiap orang. Kalau mau hidup baik dan sehat jauhi diri dari mengonsumsi narkoba, dan berusaha berprestasi dalam belajar serta kegiatan ekstra yang dilakukan di sekolah menjadi fokus kegiatan saya saat ini,” tegas remaja putri dari Ngabang Kalbar ini dengan senyum merekah.

Selain itu dari asrama putra tidak ketinggalan untuk memberi komentarnya. Rafandi yang saat ini duduk di kelas XII dengan nada gembira  menyatakan, “Kami akan berusaha untuk hidup jauh dari narkoba. Kami ini adalah generasi masa depan gereja dan bangsa, tidak mau terpengaruh dengan barang yang mematikan kehidupan itu sendiri. Hancurlah masa depan kami apabila kami ikut terlibat di dalamnya,” tegas siswa SMA St. Ignatius Singkawang ini dengan mantap.

Kegiatan penyuluhan ini merupakan  kerjasama dua asrama sebagai program berkelanjutan dari angkatan sebelumnya. Bagi kedua pembina  asrama ini, meskipun mereka sudah dapat di sekolah lewat materi tertentu dan MOS setidaknya dengan digelar juga acara penyuluhan di asram, maka semakin intensif pemahaman anggota asrama terhadap bahaya narkoba. “Ingat dunia ini sangat menderita jangan menambah derita lagi. Kalian sudah ada masalah jangan masuk dalam masalah baru,” ungkap Bruder Teo, MTB saat menutup rangkaian workshop tersebut. 
(Br. Flavianus Ngardi MTB)