Sejarah
Menelusuri Jejak Perjalanan Iman Paroki Singkawang dan Sejarah Misi Katolik di Gereja Singkawang Kalimantan Barat
Benih Pertama di Singkawang
Sejarah Misi Katolik di Kalimantan Barat bermula pada tahun 1865 ketika P. de Vries SJ pertama kali mengunjungi Singkawang. Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dengan Ku Jin Kon, seorang Tionghoa penganut Katolik. Pertemuan sederhana ini menjadi awal tumbuhnya komunitas Katolik di wilayah tersebut dan menandai dimulainya karya misi yang kelak berkembang luas.
Berdirinya Gereja Kayu dan Tumbuhnya Komunitas
Pada tahun 1874, P. de Vries memulai pembangunan gereja kayu di Singkawang yang selesai setahun kemudian. Gereja ini juga menjadi tempat persinggahan pastor yang melayani umat. Pada tahun 1876, jumlah umat Katolik di Singkawang dan Monterado mencapai 61 orang, berkat pembinaan tekun dari katekis Fu Syin Tshiau. Pada masa yang sama, Yayasan Hati Kudus Yesus didirikan untuk membantu masyarakat miskin, termasuk dalam pelayanan pemakaman secara Katolik. P. de Vries kemudian dikenang sebagai perintis Stasi Singkawang, yang kini berkembang menjadi Paroki Santo Fransiskus Asisi Singkawang.
Singkawang Menjadi Pusat Misi Tetap
Perkembangan misi semakin nyata pada tahun 1882 dengan berdirinya sekolah bagi anak-anak Tionghoa. Jumlah umat pun meningkat menjadi 324 orang dari berbagai latar belakang. Singkawang kemudian ditetapkan sebagai stasi misi tetap dengan wilayah pelayanan yang mencakup Borneo Barat hingga Belitung. Pada tahun 1886–1892, P. WJ Stall SJ menjadi pastor pertama yang menetap di Singkawang, kemudian pelayanan dilanjutkan oleh P. Henricus Schrader SJ. Meskipun sempat terjadi kekosongan imam pada tahun 1896–1898, kehidupan iman umat tetap berjalan berkat ketekunan katekis Tshang A Kang dalam membina umat.
Pembentukan Prefektur Apostolik Borneo Belanda
Babak baru karya misi dimulai pada 11 Februari 1905 ketika Paus Pius X menetapkan pembentukan Prefektur Apostolik Borneo Belanda dan menyerahkan wilayah misi ini kepada Ordo Kapusin Provinsi Belanda. P. Pacificus Johannes Bos OFMCap diangkat sebagai Prefek Apostolik. Pada 16 Oktober 1905, enam misionaris Kapusin berangkat dari Tilburg menuju Borneo dan tiba di Singkawang pada 30 November 1905. Mereka mendapati gereja yang telah berdiri dan siap digunakan sebagai pusat pelayanan, melanjutkan karya yang telah dirintis sebelumnya.
Pelayanan Kasih bagi Penderita Kusta
Setibanya di Singkawang, para Kapusin memberi perhatian khusus kepada para penderita kusta di daerah Syakok yang hidup terasing dari masyarakat. Dari sekitar 30 orang yang menderita, lima di antaranya beragama Katolik. Sebuah kapel kecil didirikan agar mereka tetap dapat mengikuti perayaan Misa. Pelayanan ini menjadi wujud nyata kasih Gereja kepada mereka yang tersisih dan menderita.
Pendidikan dan Karya Para Suster
Kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kesehatan mendorong didatangkannya para suster dari Belanda. Pada 28 November 1906, lima suster pertama tiba di Singkawang. Mereka kemudian membangun rumah suster, sekolah, dan kelak rumah sakit. Tahun 1907 gereja diperluas dan menara didirikan sebagai tanda pertumbuhan iman. Pada 1 Oktober 1907 berdirilah Sekolah Dionisius untuk anak laki-laki, dan pada 4 Oktober 1907 dibuka Sekolah Santa Agnes untuk anak perempuan. Pendidikan menjadi sarana utama pembinaan iman dan pembentukan generasi muda Katolik di Singkawang.
Dari Benih Kecil Menjadi Pohon Rindang
Dari sebuah gereja kayu sederhana dan komunitas kecil, benih Injil yang ditaburkan di Singkawang perlahan bertumbuh dan berakar kuat. Sejarah ini menjadi saksi ketekunan para misionaris, katekis, suster, dan umat yang dengan iman serta pengorbanan membangun fondasi Gereja Katolik di Kalimantan Barat—sebuah warisan rohani yang terus hidup dan berkembang hingga kini