Selamat Datang Di Website Resmi Paroki Singkawang - Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

24 Mar 2020

EKARISTI ONLINE BERSAMA DENGAN TETAP MENGINDAHKAN SERUAN SOCIAL DAN PHYSICAL DISTANCING

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, menyikapi suasana pandemi yang tengah melanda bumi ini, Gereja Katolik sedunia tidak lepas merasakan imbasnya. Tentunya hal ini tak lantas membuat kita hanya meratap, bersedih, berkeluh kesah tanpa berbuat apapun. Gereja Katolik kemudian mengambil langkah melaksanakan Ekaristi atau misa online yang menjembatani kedahagaan umat bertemu langsung menghadap Bapa melalui misa.

Adanya misa online bukan berarti kita yang di rumah tinggal menonton seenaknya dan sesuka hati kita. Ada cara-cara yang harus kita lakukan dan penuhi ketika ingin mengikuti misa secara online juga ya!

Yang pertama, yang harus kita lakukan tentu kita harus mempersiapkan kuota yang mencukupi agar ketika misa sudah berlangsung tidak ada istilah eh kehabisan kuota atau lain hal. Kemudian akan lebih baik jika kita juga mempersiapkan perlengkapan misa seperti salib dengan lilin di sampingnya untuk membantu kita semakin menghayati Ekaristi walaupun secara online.

Yang kedua, seperti biasa kita mulai mempersiapkan hati dan pikiran kita agar tetap fokus kepada misa, karena kita mau menghayati Allah yang hadir saat perayaan Ekaristi walaupun kita di rumah, percayalah, sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat 18:20)

Yang terakhir, ketika kita hendak misa secara online, kita tidak seharusnya mengajak orang-orang yang ada di luar untuk mengikuti atau istilah lainnya (nobar: nonton bareng). Menapa? Karena sama saja ketika kitsa mengajak orang ramai-ramai untuk mengikuti misa kita sudah menyalahi aturan social distancing yang mengharuskan kita di rumah saja, kecuali jika dalam satu rumah kita memang satu keluarga dan ingin merayakan Ekaristi bersama dengan keluarga yang ada di rumah. Hal itu diperbolehkan tetapi ingat kita juga harus saling menjarak sejauh lebih kurang satu meter.

Ada hal yang terasa sumbang ketika kita mendengar komentar miring, ibadah kok online, misa kok online! Tenang, jangan langsung berkecil hati. Misa online adalah sarana bukan tujuan utama yang lantas bisa disimpangkan menjadi alasan untuk kita bermalas-malasan memilih untuk tidak beribadah atau malah bertindak ekstrim mengecam para gembala gereja yang telah berupaya mencari jalan tengah penyelesaian permasalahan peribadahan. Dan sebenarnya misa online bukan hanya baru terjadi saat pandemi menguasai atmosfer bumi ini, namun pada situasi krisis tertentu pun Ekaristi online seringkali dijalankan dan diperbolehkan. 

Jadi ingat ya, misa online bukan berarti kita mengajak orang untuk nonton bareng. Cukup di rumah saja kita mengikuti misa dengan khusyuk dan menghayati pesan-pesan yang disampaikan romo ketika misa berlangsung. Satu hal yang perlu kita ingat, Gereja Katolik tetap menjadi salah satu garda depan penyeru instruksi pemerintah yang telah berupaya sekuat tenaga melindungi rakyatnya dengan berbagai upaya.

Yuk kita misa dan berdoa, demi kebaikan dan kesembuhan bumi kita agar segera terhindar dari Virus Corona, dan kita semua dilindungi oleh segala marabahaya yang dapat menimpa kita.

Amin..  Tuhan memberkati kita semua!

KATEKESE MISA ONLINE




21 Mar 2020

KOMUNI BATIN DALAM SITUASI KRISIS




APA ITU KOMUNI BATIN?

1. Komuni Batin
Komuni Batin dapat digunakan, ketika umat memiliki kerinduan yang besar untuk merayakan misa (menyambut Sabda Tuhan dan Tubuh dan darah-Nya) namun tidak dapat merayakan Ekaristi karena adanya halangan-halangan tertentu. Dan tentu saja, ini bukan karena alasan yang dibuat-buat atau pembenaran diri agar tidak datang ke gereja untuk misa, tetapi adanya sesuatu yang terjadi sehingga menghalangi umat untuk pergi ke gereja.


SANTO THOMAS AQUINAS

Komuni Batin adalah sikap batin yang merindukan komuni secara
sakramental. Meski, perlu juga menerima komuni secara sakramental agar
memperoleh manfaat sepenuhnya.
(ST III, q. 80, a. 1)


SANTA TERESIA AVILA

Ketika dirimu tidak dapat menyambut komuni dan menghadiri Misa, kamu dapat melaksanakan komuni batin, yang merupakan praktik yang sungguh bermanfaat; dengan melaksanakan itu cinta Tuhan bagimu akan terasa menakjubkan.
(EL Camino de Perfeccion cap. 35)


SANTO YOHANES PAULUS II

Sungguh sangat baik untuk menanamkan kerinduan akan sakramen Ekaristi. Ini adalah asal mula dari praktik "komuni batin", yang sudah dimaklumkan gereja selama berabad-abad dan dianjurkan oleh para kudus yang adalah para guru hidup rohani.
(Ecclesia de Eucharistia art. 34)


DOA KOMUNI SPIRITUAL

Yesusku, aku percaya. Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus.
Aku mencintai-Mu lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran- Mu dalam jiwaku. Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah sekurang-kurangnya secara rohani ke dalam hatiku. Seolah-olah Engkau telah datang, aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu; Jangan biarkan aku terpisah dari pada-Mu. Amin.


MENYIKAPI PANDEMI FRANSISKUS ASSISI GELAR LIVE STREAMING EKARISTI

Shalom Aleichem, umat sekalian yang terkasih, pada Hari Minggu ini kami mempersembahkan layanan streaming (Siaran Langsung) Perayaan Ekaristi yang akan mulai ditayangkan pada Minggu Prapaskah IV.

Layanan streaming (siaran langsung) Perayaan Ekaristi untuk sementara dapat diakses langsung di Instagram Paroki Singkawang (@parokisingkawang) 
Misa akan diadakan sebanyak tiga kali yakni, Misa 1 (06.00 WIB), Misa 2 (08.00 WIB), dan Misa 3 (18.00 WIB)

Untuk panduan/Tata Cara Misa Online bisa didapatkan pada Sabtu, 21 Maret 2020 (Pukul: 16.00 WIB) di Instagram Paroki Singkawang.

Demikian Informasi yang dapat kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. 

Tuhan memberkati. 

#parokisingkawang #misaonline #livestreaming
https://www.instagram.com/p/B9-rh6XJhjY/?igshid=10w19jofkn8ei




5 Mar 2020

API PENYUCIAN; TAK TERBANTAHKAN, ACAPKALI TERABAIKAN

*Pendahuluan*

Ketika saya merenung, memikirkan tentang apa yang akan saya tulis, seketika terlintas dalam benak saya tentang sesuatu yang rasanya masih asing dan mengawang bagi pembaca. Memang sepintas dengar perihal yang akan saya bahas kali ini terkesan horor dan meremangkan rambut di tengkuk bagi awam. Namun, besar harapan saya, semoga usai membaca artikel yang saya tulis ini, kesan berbeda akan timbul dan mengubah paradigma pembaca. Pada kesempatan ini saya akan membahas tentang "Api Penyucian dalam Ajaran Gereja Katolik" 

*Tinjauan dari Etimologi Kata* 

Penyucian, bukan pencucian! Kata pertama berasal dari kata dasar suci yang mendapat awalan pe-N dan akhiran –an serta mengalami proses peluluhan kata, dan satu lagi berasal dari kata dasar cuci yang mendapat awalan pe-N dan akhiran –an. Namun dalam hal ini yang digunakan adalah kata penyucian. Meskipun mungkin dari khalayak ramai pada awalnya menyangka istilah api pencucian adalah yang benar dengan asumsi jiwa yang dalam proses perjalanan menuju keabadian harus melewati proses pencucian hingga membuahkan suatu hasil yaitu jiwa yang bersih ternyata yang benar adalah api penyucian. Esensi suci lebih tinggi dari sekadar cuci. Esensi suci adalah (1) bersih dalam arti keagamaan seperti tidak kena najis, (2) bebas dari dosa; bebas dari cela; bebas dari noda; maksum (3) keramat (4) murni (tentang hati, batin), sementara cuci sendiri memiliki arti proses membersihkan sesuatu dengan air dan sebagainya. (*sumber KBBI daring)
Sementara terjawab tentang istilah yang benar dan yang keliru selama ini. Yang benar adalah api penyucian, dan yang keliru adalah api pencucian. Sesudah membaca penjelasan di atas, semoga tidak ada lagi kekeliruan dalam penyebutannya. 

*Istilah Purgatorium*

Purgatorium atau istilah lain dalam Bahasa Indonesia yang sering kita sebut sebagai api penyucian (sekali lagi, bukan api pencucian) adalah suatu kajian pembahasan yang termasuk dalam pembahasan bidang teologi dalam ajaran Gereja Katolik.

Penggunaan kata "Purgatorium" mulai tersohor antara tahun 1160–1180 dan sempat menimbulkan pemikiran bahwa purgatorium adalah suatu tempat.
Saat kita membahas tentang Api Penyucian, kita harus mengerti terlebih dahulu konsep ketika manusia itu meninggal, setelah meninggal manusia akan dihadapkan akan tiga pilihan utama yakni, 1. masuk dalam kebahagiaan lewat api penyucian, 2. orang yang langsung masuk surga, 3. mengutuki diri sendiri untuk selama-lamanya.

*Pengertian Api Penyucian*

Neraka dalam konsep ajaran Agama Yunani dijelaskan sebagai Gehenna (api yang tidak terpadamkan), sedangkan purgatorium atau purgare berasal dari Bahasa Latin yang artinya menyucikan, (to purge).

Sebuah talk-show dari saluran EWTN di Filipina, pernah mengetengahkan sebuah topik mengenai api penyucian yang dibawakan oleh Mother Angelica. Ketika sedang membawakan acaranya, Mother Angelica menerima pertanyaan dari orang yang tidak percaya akan adanya api penyucian, karena kata itu tidak disebutkan dalam Alkitab.

Dengan senyuman dan kata-katanya yang khas Mother Angelica menjawab, bahwa memang kata "api penyucian" tidak secara eksplisit tercantum di dalam Alkitab, seperti juga kata 'trinitas', atau 'inkarnasi'. Namun kita percaya maksud dari kata-kata tersebut. Yang terpenting itu ajarannya, bukan istilahnya. "Meskipun kamu tidak percaya, itu tidak berarti api penyucian itu tidak ada," ujar Mother Angelica.

Berdasarkan konsep ajaran Gereja Katolik dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1030-1032 menyebutkan bahwa :
1. api penyucian adalah suatu Kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian;
2. pemurnian di dalam api penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka;
3. kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di api penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujub Misa Kudus bagi mereka.

Allah menginginkan kita agar kita menjadi kudus dan sempurna (Mat 5:48). Maka, jika kita belum sepenuhnya kudus, pada saat kita meninggal, kita masih harus disucikan terlebih dahulu di api penyucian, sebelum dapat bersatu dengan Tuhan di surga.

*Sejarah Purgatorium*

Menurut History of Christian Doctrines, Paus Gregory Agung adalah orang yang menetapkan ajaran api penyucian sebagai kepercayaan yang wajib dipercayai. Sementara Gereja Katolik meresmikan ajaran api penyucian ini pada beberapa konsili yang diadakan oleh Gereja Katolik. Antara lain: Konsili Lyons II (1274), Konsili Florence (1439), Konsili Trent (1547).

*Poin Penting dalam Memahami Api Penyucian*

Ada tiga poin penting tentang api penyucian yang bisa atau dapat kita pahami, antara lain: 1. hanya orang yang belum sempurna dalam rahmat yang dapat masuk ke dalam api penyucian, 2. api penyucian ada untuk memurnikan dan memperbaiki, 3. api penyucian itu hanyalah sementara.

Bicara soal api penyucian, pasti ada yang berpikir dan bertanya bolehkah kita berkomunikasi dengan jiwa-jiwa yang ada di api penyucian?

Ketika saya menulis artikel ini, saya mencari dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari berbagai macam sumber dan jawabannya adalah jika kata komunikasi di sini diartikan sebagai komunikasi dua arah, maka jawaban singkatnya tidak boleh. Lantas apa yang boleh? Yang diperbolehkan dan diajarkan oleh Gereja Katolik adalah agar kita mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian, dengan mengambil dasar utamanya (2 Makabe 12:38-45) dan ajaran tradisi suci. Sedangkan hal memohon  dukungan Doa Syafaat dari jiwa-jiwa di api penyucian, tidak diajarkan secara definitif oleh magisterium. Sehingga karena tidak/belum ditentukan, maka sebagai umat beriman, kita dapat memegang pendapat berdasarkan kesaksian Pribadi beberapa orang kudus, dan atas dasar "Common Sense".

*Mengapa Kita Harus Berdoa Bagi Jiwa-jiwa di Api Penyucian?*

Ketika kita dihadapkan dalam sebuah pertanyaan yang mungkin orang lain akan tanyakan kepada kita, kenapa Gereja Katolik mendoakan jiwa orang yang sudah meninggal?

Jawabannya sederhana, karena ketika kita berdoa bagi mereka yang telah meninggal dunia bukan saja untuk hal yang bermanfaat, tetapi juga amat penting. Hal ini diajarkan dan perlu diingat bahwa Gereja Katolik terdiri dari tiga bagian yang tak terpisahkan, antara lain :
1. Gereja Pejuang (yaitu kita yang masih hidup di dunia ini)
2. Gereja Menderita (jiwa-jiwa yang berada di api penyucian)
3. Gereja Jaya (para malaikat, martir, santo/santa serta para kudus yang di surga)
Ketiga gereja tersebut saling berpengaruh dan berkait satu sama lain membentuk tubuh mistik Kristus dalam menpertahankan pondasi gereja.

*Lantas, Bagaimana Kita Menolong Jiwa-jiwa Menderita di Api Penyucian?*

1. Misa Kudus
2. Doa Rosario bagi keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian: "Rosario Arwah"
3. Devosi Kerahiman Ilahi : Koronka
4. Perbuatan Baik, tindakan amal kasih, kurban dan silih. (Setiap kali melakukannya, ingatlah untuk mengatakan dalam hati, "Yesus, ini demi jiwa-jiwa di Api Penyucian"
5. Ibadat/Renungan Sengsara Yesus (Jalan Salib)
6. Indulgensi bagi jiwa-jiwa di purgatorium.

*Penutup*

Saudara-saudari terkasih, mengenai apa yang akan terjadi pada manusia setelah kematian dan seperti apa wujud alam setelah kematian itu sebenarnya? Hampir semua tradisi agama dalam kehidupan mengangkat pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tetapi satu hal yang pasti bahwa mereka percaya adanya kehidupan atau alam yang lain setelah kematian, seperti contoh tradisi dalam Agama Mesir, Agama Hindu, Agama Buddha, Agama Zoroaster, dan Agama tradisional Yunani.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip perkataan dari Keith Ward, filsuf, teolog, dan Pastor gereja Anglikan, "Iman Kristiani pertama-tama bukan tentang hidup setelah mati, melainkan tentang hidup dalam relasi yang penuh cinta dan penuh kesadaran dengan Allah sekarang ini. Hal ini menguatkan dan menjelaskan kepada kita bahwa api penyucian adalah sebuah harapan, harapan bagi orang-orang yang sudah meninggal dalam keadaan rahmat tetapi masih perlu disucikan karena konsep surga adalah 100% kudus!"

Oleh karena itu mari, selagi kita masih hidup di dunia ini kita perbanyak amal dan berdoa agar kita bisa diberikan rahmat dan anugerah serta pengampunan atas dosa yang telah kita perbuat sehingga kita bisa masuk kepada kerajaan-Nya di surga. Lain dari itu kiranya kita tidak abai dan selalu meluangkan waktu mendoakan jiwa-jiwa yang masih berada dalam api penyucian agar jiwa-jiwa itu dapat segera bergabung dalam Gereja Jaya bersama para kudus di surga.

Sumber :
1. Katolisitas.org
2. Riwayat Api Penyucian dalam Kitab Suci dan Tradisi oleh Albertus Purnomo, OFM
3. Katolikmedia

(Ditulis kembali oleh Cinda Leo Morgan)

1 Mar 2020

Jadwal Ibadat Lingkungan/Stasi Prapaskah 2020 Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

Jadwal Ibadat Lingkungan/Stasi Prapaskah 2020

Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang

Bergerak & Berjuanglah : "Membangun Kehidupan Ekonomi yang Bermartabat"

Shalom Aleichem, umat sekalian yang terkasih. Berikut kami membagikan Jadwal Ibadat (Lingkungan/Stasi) dalam Masa Prapaskah 2020 Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang dengan tema Bergerak dan Berjuanglah : "Membangun Kehidupan Ekonomi yang Bermartabat".
.
.
Jadwal Ibadat Minggu I

1. Lingkungan Santo Leo Agung
Pemimpin Ibadat : Fr. Imanuel, OFMCap.
Waktu : Selasa, 03 Maret (19.00 Wib)

2. Lingkungan Santo Thomas
Pemimpin Ibadat : Br. Yohanes Baptista, MTB.
Waktu : Selasa, 03 Maret (19.00 Wib)

3. Lingkungan Santa Elisabeth
Pemimpin Ibadat : Pastor Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap.
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

4. Lingkungan Santo Paulus
Pemimpin Ibadat : Sr. Seba, SFIC
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

5. Lingkungan Santo Fransiskus
Pemimpin Ibadat : Bpk. Stephanus Cahyadi
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

6. Stasi Santo Petrus, Roban.
Pemimpin Ibadat : Bpk. Fransiskus Aben
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

7. Lingkungan Santo Yoseph
Pemimpin Ibadat : Ibu Rima
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

8. Lingkungan Santa Klara
Pemimpin Ibadat : Ibu Elisabet Eli Yohanis
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

9. Lingkungan Santa Maria
Pemimpin Ibadat : Bpk. Adiran
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

10. Lingkungan Santo Yohanes
Pemimpin Ibadat : Ibu Sumarni
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

11. Lingkungan Santa Theresia
Pemimpin Ibadat : Bpk. Cangkuria
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

12. Lingkungan Santa Anna
Pemimpin Ibadat : Bpk. Matius
Waktu : Kamis, 04 Maret (19.00 Wib)

13. Lingkungan Putra Daud
Pemimpin Ibadat : Ibu Kristiany Murti
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

14. Lingkungan Santo Clements
Pemimpin Ibadat : Ibu Yorlan
Waktu : Rabu, 04 Maret (19.00 Wib)

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Tuhan memberkati.

18 Feb 2020

Fransiskus Assisi Gelar Pesta Syukur Episkopat Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak


PESTA SYUKUR 20 TAHUN EPISKOPAT MGR AGUSTINUS AGUS 

SINGKAWANG – "Instaurare Omnia in Christo," itulah moto yang digunakan Mgr Agus saat ditahbiskan menjadi Uskup Sintang 20 Tahun yang lalu yang berarti membangun kembali semua di dalam Kristus. Hal ini disampaikannya saat pesta syukur 20 tahun tahbisan episkopat yang digelar di Paroki St Fransiskus Assisi Singkawang pada Sabtu sore, 15 Februari 2020.
Acara ini dibuka dengan tarian bertajuk Pasti ke Singkawang yang disajikan dengan begitu apik oleh OMK St Fransiskus Assisi Singkawang.

Giat syukur ini dihadiri Drs. Libertus Merep, M.Si., staf ahli hukum, politik, dan pemerintahan, mewakili Walikota Singkawang yang berhalangan hadir saat itu. Di kesempatan itu tampak pula ketua DPRD Kabupaten Bengkayang, Fransiskus, M.Pd, anggota DPRD Provinsi Kalbar Bong Cin Nen, S.Pd., dan Drs. Ahyadi, M.Si., Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Singkawang.

Acara yang digelar tepat pukul 16.00 WIB itu juga dihadiri oleh lebih kurang 300 tamu undangan dari berbagai wilayah antara lain Nyarumkop, Sambas, Bengkayang, Sekura, berbagai stasi, dan perwakilan 14 lingkungan di Paroki Singkawang. Tercatat sejak pukul 15.00 WIB, para tamu sudah begitu antusias memadati area pesta syukur dua dasawarsa Tahbisan Episkopat Uskup Agung yang bertempat di halaman Gereja St Fransiskus Assisi Singkawang. 



MISA SYUKUR 20 TAHUN TAHBISAN EPISKOPAT MGR AGUS

Pesta syukur yang digelar pada Sabtu, 15 Februari 2020 berlanjut pada misa kedua, Minggu, 16 Agustus 2020. Diawali perarakan dari halaman gereja oleh misdinar, para petugas misa, para pastor konselebran, dan uskup sendiri sanggup menyita seluruh pasang mata umat yang hadir untuk mengikuti Misa perayaan syukur dengan khusyuk. Bertindak sebagai selebran utama, uskup agung, didampingi oleh imam konselebran lain yakni Pastor Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap., Pastor Yosua Boston Sitinjak, OFMCap., Pastor Felik, OFMCap., Pastor Cahyo Widyanto, OFM.Cap., Pastor William Chang, OFMCap., Pastor Sahut, Pr., Pastor Alexius Alex Mingkar, Pr., Dan juga Romo Jesuit, yakni Romo Thomas Salimun Sarjumunarsa, SJ. 


Dalam homilinya, putra kedua dari pasangan Markus Budjang dan Maria Djoi ini mengungkap berbagai tantangan yang dihadapinya saat menjadi imam maupun ketika ia telah menjabat sebagai uskup. "Banyak sekali tantangan dan rintangan, suka duka yang dihadapi saat menjadi uskup selama 20 tahun," ungkapnya. 


Tak putus ia berharap, saat bertugas dimana pun, pribadinya mampu menjadi pemersatu umat Katolik maupun menjadi sosok pembawa kesatuan antar umat beragama, karena baginya keberagaman dan toleransi adalah suatu nilai penting agar bisa tetap menjaga persatuan dan kesatuan di bumi Kalimantan ini.


Dalam senandika maupun homilinya juga, Mgr Agus sempat meluruskan berita yang terlanjut viral di media sosial akhir-akhir ini, bahwasanya Sri Paus akan mengunjungi Kalimantan Barat. Beliau menegaskan hal itu adalah suatu yang tidak mungkin terjadi disebabkan kunjungan Sri Paus di Indonesia begitu singkat, lebih kurang hanya 2 jam di ibukota dan 2 jam di Ambon. Setelah lawatan singkat itu paus akan segera meninggalkan Indonesia untuk jadwal kunjungan ke negara lain. 

Usai perayaan Misa, seluruh umat diundang untuk ikut serta dalam kegembiraan pesta syukur. Panitia bersama lingkungan telah menyediakan jamuan yang dapat dinikmati bersama. Semua bergabung dalam suka cita.


Akhirnya, selamat atas ulang tahun tahbisan episkopat ke-20, mari kita selalu mendoakan Bapa Uskup Mgr Agustinus Agus agar semakin diberkati dan dilimpahi rahmat kesehatan dan panjang usia agar dapat melayani umat se-antero Keuskupan Agung Pontianak. "Instaurare Omnia in Christo" (Cinda)



3 Feb 2020

BORNEO YOUTH DAY: BORNEO ADALAH BERKAT

"Borneo adalah Berkat" itulah tema yang digunakan dalam Kegiatan Borneo Youth Day 2020 yang akan diselenggarakan pada 26 Juni - 1 Juli 2020 di Keuskupan Agung Samarinda, Kalimantan Timur.

Berdasarkan hasil Pertemuan KOMKEP Se-Regio Kalimantan, pada tanggal 9-12 Januari 2020 di Wisma Immaculata, oleh Keuskupan Agung Samarinda, menetapkan bahwa setiap paroki diberi kesempatan untuk  melakukan Launching Borneo Youth Day dengan Orang Muda yang mereka miliki di paroki masing-masing.

Keberagaman yang Memiliki Artinya Tersendiri

Paroki Singkawang sendiri mengadakan peluncuran Borneo Youth Day 2020 pada Minggu 3 Februari 2020 dengan Perarakan masuk gereja St Fransiskus Assisi Singkawang dengan sangat meriah. Sebanyak 27 OMK dengan beragam pakaian adat antara lain pakaian adat Jawa, Dayak, China, Melayu, dan Flores. Apa makna mereka memakai baju-baju adat itu? "Ini semua ingin menunjukkan kepada kita bahwa di Bumi Kalimantan ini kita semua sama dengan berbagai keragaman yang ada tetapi ini tidak menghambat kita untuk memberikan rasa toleransi kepada semua orang di sini," ungkap Romo Gathot dalam menyampaikan khotbahnya saat Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah.

Langkah Awal Menuju Kebangkitan Orang Muda Katolik

"Sungguh sebuah makna yang baik," imbuh salah satu Orang Muda Katolik Paroki Singkawang. Hengki Tan Wijaya juga menyebutkan bahwa Acara ini sungguh bermakna dan sungguh merupakan suatu momentum yang tepat bagi orang muda untuk bersatu kembali membangkitkan semangat yang mungkin surut dalam OMK kita sehingga kita bisa sadar dan perlahan bisa bangkit untuk menjadi orang muda yang lebih baik lagi untuk paroki atau bahkan keuskupan.


Lantas pesan apa yang bisa kita dapat dari peluncuran Borneo Youth Day 2020 ini bagi diri kita sendiri?

Sebagai orang muda kita diajak untuk semakin menghayati dan merenungkan makna bahwa Borneo Adalah Berkat. Borneo adalah bumi kita. Sudah sepantasnya kita sebagai orang Borneo menjaga dan mengupayakan apapun agar Bumi Borneo ini bisa tetap utuh sebagai mana mestinya. Saya mengutip sebuah cerita ilustrasi yang saya dengar saat saya turney ke stasi bersama Frater Imanuel Chang, OFM.Cap.

Konon, orang Dayak Kalimantan dulu menganggap hutan adalah supermarket mereka sendiri. Apapun yg diinginkan bisa diambil sesuka hati dengan syarat bisa mengelolanya kembali dengan baik. Namun pada zaman sekarang hutan sudah bukan menjadi supermarket bagi mereka karena hutan sudah mulai punah dan alam pun sudah mulai tidak bisa menyediakan supermarket bagi mereka lagi.

Oleh karena itu, mari mulai sekarang kita menjaga dan merawat Bumi Kalimantan ini sehingga nantinya anak cucu kita bisa menikmati dan merasakan betapa indahnya Borneo kita ini.

Salam,
Pace E Bene.
(Cinda)